Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Setelah Minyak Kelapa, Garam, Gula dan Jamu, Akankah Tembakau Dijajah?

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 24 Agustus 2016
    A- A+

    Oleh Abdulloh Hamid

    DutaIslam.Com - "Penjajah tidak akan punah dan tidak sudi enyah dari muka bumi Indonesia ini, meskipun pada tanggal 17 Agustus 1945 telah kita proklamasikan kemerdekaan Indonesia!" (Soekarno).

    Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya (SDA), pesona keindahannya siap menyihir siapa saja yang berkunjung ke negeri zamrud katulistiwa ini. Bahkan hampir 80% orang Timur Tengah ingin tinggal dan hidup di Indonesia (Lukman, 2016). Selain pesona alam yang memukau, Indonesia dianugerahi keragaman budaya, suku, agama, tapi tetap satu (Bhinneka Tunggal Ika). Baca: 10 Manfaat Rokok Bagi Kesehatan yang Disembunyikan.

    Pada tahun 90-an, nilai produksi industri minyak kelapa mencapai 4.96 M, khusus di daerah Mandar Sulawesi Barat. Saking massifnya, produksi minyak kelapa itu menyebar hingga Kabupaten Polman dan Majene. Industri rumahan ini kala itu sukses didistribusikan melintas pulau, bahkan manca negara.  

    Sama halnya Selayar, Sulawesi. Ia adalah daerah penghasil kelapa (emas hijau) yang pernah mencapai puncak kejayaan industri pada tahun 1930-an dan kemudian terulang kembali pada tahun 1960-an sehingga diberi sebutan sebagai era "emas hijau" (Heersink: 1999). 

    Namun gonjang ganjing harga kopra di pasar dunia membuat kota ini nyaris menjadi kota mati di tahun 1980-an. Petaka bermula dari misi American Soy Association yang melancarkan kampanye tentang bahaya kolestrol dari minyak kelapa. Padahal, itu hanya strategi licik untuk melindungi produk mereka. Mereka meminta pemerintah memasang label peringatan dalam setiap produk yang mengandung minyak kelapa. 

    Pola tersebut sama dengan yang dilakukan untuk memberantas semua hasil nusantara. Dalam buku Membunuh Indonesia (Abhisam, dkk: 2011) disebutkan juga pola politik kotor kapitalisme gula. Baca juga: Ratusan Tahun Bangsa Lain Menjajah Karena Aroma Tembakau.

    Ceritanya, pada 1930-an, Indonesia menjadi produsen gula terbesar di dunia nomor dua setelah Kuba. Tapi sejak IMF datang tahun 1998, mereka memaksa pemerintah untuk melepas tata niaga MEFP yang diteken di Jakarta 15/01/1998, pada letter of intent di butir 44 yang menyebutkan pemerintah membebaskan tata niaga pertanian mulai Januari 1998 (termasuk gula). Ketika itulah gula import mulai membanjiri bahkan banyak pabrik gula gulung tikar.

    Lain gula lain pula dengan garam. Karena memiliki garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia pernah berjaya sebab garamnya. Predikat pengekspor garam pun disandangnya. Namun keadaan berbalik sejak Akzo Nobel berkampanye besar-besaran penggunaan garam beryodium di Indonesia. Sentra garam nasional berguguran bangkrut, lahan tambak terbengkalai, produksi garam nasional turun drastis, ribuan orang kehilangan mata pencaharian. Sebaliknya, impor garam beryodium merajai dengan dalih kesehatan.

    Jamu juga demikian, salah satu kekayaan nusantara ini juga dijajah habis. Dalam dokumen obat tradisional (Kotranas) 2006, tercatat ada 30.000 jenis tumbuhan yang teridentifikasi bahwa 7.500 varian diantaranya tergolong tanaman obat. 

    Saking banyaknya kekayaan herbal tumbuhan kita, survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2001 menemukan bahwa 57.7% penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri tanpa bantuan medis, 31,7% diantaranya menggunakan obat tradisional dan 9.8% memilih tata pengobatan lainnya. Penduduk Indonesia akrab dengan herbal. Kini, herbal tidak diakui. 

    Apakah rokok kretek yang berasal dari tembakau ini akan diberangus juga dengan pola yang sama? Dengan wacana pemerintah menaikkan harganya? Apakah pemerintah tidak mengetahui pola ini? Apakah sudah memikirkan petani cengkeh, buruh pabrik rokok dan produksi rokok dalam negeri?
    Saya jadi teringat sebuah kata-kata bijak bahwa yang membahayakan dari seorang perokok adalah karya dan pemikirannya. Wallahu a'lam [dutaislam.com/ ab]

    Abdulloh Hamid, SantriMenara dan Pemerhati Rokok
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: