Dutaislam.com mengapresiasi batalnya Permendikbud 23/2017 dan Mengutuk Keras Situs Adudomba Milik Kader Muhammadiyah Sangpencerah.id!

  • Merokok Itu Perang Nikotin dengan Industri Farmasi

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 24 Agustus 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Isu dibalik harga rokok naik 50 ribu rupiah sebenarnya hanya satu isu untuk membunuh industri rokok Indonesia. Kenapa harus dibunuh? Untuk tahu kenapa, kita harus melihat dulu darimana sumber kampanyenya.

    Kampanye anti rokok dimulai dari regulasi WHO dalam Framework Convention Tobbaco Control (FCTC). Ini ratifikasi internasional untuk membatasi produksi, konsumsi dan peredaran rokok di seluruh dunia.

    Rokok di propagandakan membunuh 5 juta orang setiap tahunnya (data WHO). Dan salah satu propaganda besar mereka adalah menciptakan "hari bebas tembakau sedunia". Begitu besar dana diluncurkan untuk membatasi peredaran rokok di seluruh dunia.

    Salah satu kaki tangan WHO adalah Bloomberg Philantropis, badan amal yang mengucurkan sekian juta dollar untuk mendanai institusi kesehatan, ikatan dokter, LSM seperti Komisi Anak dan banyak lagi.

    Mereka juga membayar pemda-pemda untuk membatasi ruang perokok termasuk mengeluarkan peraturan daerah. Bahkan salah satu ormas besar Islam, Muhammadiyah, pernah menerima dana dari mereka dan berujung pada fatwa bahwa merokok itu haram. Baca juga: Ketika Merokok Justru Disunnahkan oleh Hukum Fiqih.

    Kenapa mereka begitu antusias mengeluarkan dana begitu besar, termasuk ke Indonesia? Benarkah itu sekedar amal?

    Dari buku "Nicotine War" karya Wanda Hamilton, terlihat jelas bahwa semua ini adalah perang besar yang dicanangkan perusahaan farmasi multinasional untuk menghabisi industri rokok di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

    Tiga perusahaan farmasi besar Johnson & Johnson, Pharmacia & Upjohn dan Novartis, berada di balik WHO dengan mengucurkan dana jutaan dollar untuk melakukan kampanye anti rokok.

    Lalu apa tujuannya?

    Mengutip pernyataan Don Corleone dalam film Godfather, "Its just business, nothing personal", jelas semua ini murni bisnis.

    Perebutan nikotin di seluruh dunia oleh perusahaan farmasi vs perusahaan rokok memulai pertempuran ini. Gabungan perusahaan farmasi multinational yang jelas duitnya, mampu membeli perusahaan rokok raksasa hanya untuk mematikan industrinya.

    Ini yang menjawab kenapa Amerika keras dalam mengeluarkan fatwa rokok itu merugikan kesehatan, tetapi perusahaannya mengakuisisi saham perusahaan rokok besar di Indonesia.

    Rokok harus diprogandakan merusak kesehatan, membakar uang, menghancurkan moral anak-anak. Dengan begitu, rokok harus dibatasi peredarannya, bahkan kalau perlu dimahalkan. Dan untuk semua propaganda ini, masing-masing institusi maupun person yang berjasa mendapat penghargaan -dan uang tentunya.

    Ketika rokok mahal dan tidak terjangkau, maka perlahan industri rokok akan tutup karena produksi berkurang. Dengan tutupnya industri rokok dan mengecilnya pasar perokok, maka gabungan perusahaan farmasi itu akan menguasai penjualan nikotin seluruh dunia.

    Lalu untuk apa nikotin dikuasai perusahaan farmasi? Ya, bisnis juga akhirnya. Mereka akan membuat permen antirokok dengan rasa nikotin, obat pengurang kecanduan rokok sampai koyo untuk mengurangi kebiasaan merokok.

    Dan sampai sekarang saja, gabungan perusahaan farmasi itu sudah meraup tiga miliar dollar US dari penjualannya. Keluar duit jutaan dollar untuk bayar orang-orang dan propaganda, tapi baliknya ia dapat keuntungan miliaran dollar. Gile benerrr...

    Keuntungan yang menggiurkan ini membuat banyak orang berinvestasi di perusahaan farmasi. Bahkan istri Bill Gates mempunyai saham di salah satu perusahaan farmasi. Sedangkan suaminya bersama Michael Bloomberg menjalankan "dana amal" untuk menghentikan peredaran rokok. Pasangan yang serasi, kan?

    Nah, Indonesia ini termasuk negara dunia ketiga dengan pendapatan dan peredaran rokok yang termasuk besar. Karena itu harus dimatikan dengan semati-matinya.

    Salah satu caranya adalah menaikkan harga rokok setinggi-tingginya sehingga kita tidak mampu beli, dan rantai penjualan besar di industri ini putus dan hancur berkeping-keping dengan pengangguran yang tidak terhitung banyaknya.

    Kita pada akhirnya disuruh berhenti merokok, tapi disarankan untuk membeli permen pengurang kecanduan yang diproduksi industri farmasi. Dan uang pembelian permen itu, jelas akan masuk ke perusahaan farmasi asing karena industri rokok dalam negeri sudah pada mati. Mau dibawa kemana negeri kita ini? Udud dulu aja. [dutaislam.com/ ab]
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: