Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Mbah Maimoen Zubair Tidak Pernah Lupa Syiir Mbah Wahab

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 15 Agustus 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Kiai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” di sana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kiai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

    يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
    حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
    وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
    اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
    إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
    أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
    كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
    طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

    “Pusaka hati wahai tanah airku
    Cintamu dalam imanku
    Jangan halangkan nasibmu
    Bangkitlah, hai bangsaku!
    Indonesia negriku
    Engkau Panji Martabatku
    S’yapa datang mengancammu
    ‘Kan binasa di bawah durimu!”

    Kiai Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung, seorang santri dan khadam Kiai Ma’shoem Lasem meriwayatkan dhawuh gurunya (Mbah Ma’shoem), “pada lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!”

    Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan.

    Kiai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah “Ongko Loro” (“Angka Dua”, Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kiai Kholil Harun, yang lantas mencegah, “Jangan sampai kamu jadi Londo!” kata beliau, “ayo ikut aku saja!”

    Sejak saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kiai Bisri) belajar di pesantren Kiai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung dengan “bahasa aslinya”, Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama secara otentik. 

    Belakangan, sesudah diambil menantu, Kiai Kholil Harun mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kiai Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.

    Aku masih kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya ucapan: “…Induuniisiyyaa… Induuniisiyyaa…”

    “Brakk!!” aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.

    “Orang Arab ini sombongnya mintak ampun!” Mbah Kung bersungut-sungut, “kenapa harus ‘in-duu-nii-siy-yaa’? Masak ngomong ‘In-do-ne-sia’ saja nggak bisa? Dasar sombong!”

    Catatan:
    - Gelali adalah gula jawa yang dipanasi hingga meleleh.
    - Syair di atas sebenarnya oleh Kiai Maimoen diriwayatkan beserta lagunya. Tapi karena penerima riwayat tidak memiliki cita-rasa nada sama sekali, riwayat lagunya jadi kacau-balau. Setelah ijtihad melodi yang susah-payah, dibantu para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung (10 – 14 Januari 2013), saya sampai pada rangkaian nada yang semoga tidak terlalu jauh melenceng dari asli nya. [dutaislam.com/ ab]

    Riwayat ini ditulis dari keterangan KH Yahya Cholil Staquf, Rais Syuriyah PBNU. 

    Source: Teronggosong.com
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: