Kamis, 11 Agustus 2016

Habib Luthfi: Walisongo Adalah Ulama Ahli Antropologi Juga


DutaIslam.Com - Saya akan menggunakan bahasa Indonesia dan minta kecerdasan kalian. Pertanyaannya simpel tapi berat, Mengapa Cina itu berhasil dan mampu melakukan kaderisasi? Karena waktu itu kaderisasi dipersiapkan. Regenerasi oleh para beliau dipersiapkan dengan managemen yang sangat rapi.

Ketika Walisongo masuk di Indonesia, sudah mempunyai managemen administrasi yang sangat rapi, meskipun pada saat itu Perguruan Tinggi Al Azhar Syarif sudah berdiri 1000 tahun dan banyak melahirkan mengeluarkan ilmuwan-ilmuwan berbobot. 

Selain itu, para Walisongo sudah mampu menulis hari ini untuk kepentingan hari esok, bukan menulis hari esok untuk hari esok. Sebelum Walisongo yang kini masyhur, sudah ada Wali Songo.

Dan para beliau tidak merasa bingung dalam membaca peta situasi pada waktu itu. Berkat dukungan kemampuan Antropoli yang dimilikinya dan strategi yang didukung lagi oleh kemampauan para beliau dalam hal mengarungi Samudera dan muara yang ahirnya sampai di Indonesia. Hal ini tidak mungkin kalau tidak memahami masalah Antroplogi. 

Ketika memandang wali-wali di Indonesia tidak dipandang dari segi karomah saja, tetapi ilmu-ilmu beliau para wali songo-lah yang perlu dikaji. MATAN menjadi generasi yang modern tetapi juga hafidzin, fuqoha, dan lain-lain. 

Karena dengan begitu, semua akan seperti meniru apa yang dikatakan makna-makna dari sejarah wali-wali songo itu bisa hadir dan kemudian sukses menyebarkan Islam di Nusantara ini, maka tidak pula semua melulu dikaitkan dengan halal haram karena apabila begitu, semua sains akan menjadi mandeg. Terlebih dalam bidang kefiqihan yang sebenarnya sains dalam fiqih bisa sangat panjang diterangkan dan dipegang dengan kalimat subhanallah wa bihamdih.

Kaitannya dengan pertanyaan tadi, "Cina", bukan menunjukkan atau menyarankan belajar di sana.  Akan tetapi makna hadits Rasulullah SAW menyuruh menuntut ilmu di negara Cina adalah mengambil kesuksesan suku bar-bar yang berhasil berdagang.

Oleh karena itu, MATAN harus mampu belajar mandiri, tumbuh dari bawah, dan mengambil makna inti sejarah dengan benar. Planning atau program yang dicanangkan oleh sesepuh-sesepuh kita, khususnya para Walisongo, yang sangat memahami Antropologi. 

Memang dalam sejarah tidak pernah diceritakan secara detail akan tetapi hal ini diperlukan sebuah mafahim (pemahaman)  untuk membuka ajaran Al-Quran Al-Karim dan Sunnah Nabi SAW yang bukan hanya sekedar dogma belaka melainkan sebuah dogma yang sudah universal. Namun gelombang pada saat itu tidak semuanya menguntungkan dan menunjang akomodasi dan transportasi dan lain sebagainya. [dutaislam.com/ ab]

Keterangan: Rangkuman Studium General bertema Spiritualitas Kebangsaan yang disampaikan oleh Habib Luthfiy Bin Yahya (Rois ‘Am JATMAN) dalam Rakerwil PW Matan Jateng dan DIY, 13-15 Mei 2016. 
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini