Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Berkat Propaganda Jam’iyyatun Nashihin, NU Meluas ke Desa-Desa

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 29 Agustus 2016
    A- A+

    Oleh M. Rikza Chamami

    DutaIslam.Com - Keberadaan Jam’iyyatun Nashihin dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) masih jarang disinggung. Padahal lewat lembaga ini, NU yang semula hanya berpusat di Surabaya bisa menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. KH Maimun Zubair seringkali dalam ceramah-ceramahnya menyinggung keberadaan Jam’iyyatun Nashihin yang menjadi cikal bakal berkembangnya NU.

    Mbah Maimun menjelaskan: “Jam’iyyah Nashihin ini adalah sebuah organisasi yang ada kaitannya dengan masalah pengajian. Dahulu namanya nasehat. Kalau sekarang namanya diganti menjadi pengajian”. Embrio Jam’iyyatun Nashihin itu sudah ada sebelum NU berdiri. Amirul Ulum (2014) menyebutkan, di Jawa Tengah, sesepuh Jam’iyyatun Nashihin adalah KHR Asnawi Kudus, KH Ma’shum Ahmad dan KH Khalil Masyhuri dibantu dengan ulama muda: KH Zubair Dahlan (ayah KH Maimun Zubair).

    Setelah NU dideklarasikan 1926, keberadaannya sudah mulai dikenal oleh masyarakat. Oleh para Kyai, menginisiasi pengembangan organisasi ulama pesantren ini. Maka dalam Muktamar ketiga di Surabaya tahun 1928, Majelis Khamis (Komisi Lima) memutuskan pembentukan Lajnatun Nashihin. Sidang Majelis Khamis saat itu dipimpin oleh KH Sholeh Banyuwangi dengan anggota: KH M Hasyim Asy’ari Jombang, KH Bisyri Syansuri Jombang, KHR Asnawi Kudus dan KH Muharram Kediri.

    Anggota Jam’iyyatun Nashihin terdiri sembilan orang, yaitu: KH M Hasyim Asy’ari, KH Bisyri Syansuri, KHR Asnawi, KH Ma’shum, KH Mas Alwi, KH Musta’in, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Halim dan KH Abdullah Ubaid. Tugas para Kyai itu adalah hadir ke daerah-daerah untuk meyakinkan tokoh masyarakat bersama masyarakat mendirikan NU dengan menjelaskan visi-misi dan tujuan NU. Dalam tahap pertama, tugas pembentukan Cabang NU fokus di Jawa dan Madura.

    Pembagian tugas propaganda ini antara lain: KH Bisyri Syansuri, KHR Asnawi, KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Halim bertugas untuk pengembangan NU di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedangkan KH M Hasyim Asy’ari, KH Ma’shum, KH Mas Alwi, KH Musta’in, dan KH Abdullah Ubaid mempropagandakan NU di Jawa Timur dan Madura.

    Kerja tim Jam’iyyatun Nashihin disebutkan oleh Choirul Anam (2015) sangat ampuh dan efektif. Terbukti dalam waktu tidak terlalu lama, NU Cabang sudah mulai bermunculan di Jawa dan Madura. Tugas itu kemudian dikembangkan lagi dengan menguatkan basis NU di luar Jawa dan Madura. Karena NU sudah tidak fokus di Surabaya saja, maka mulai Muktamar keempat, NU sudah melaksanakan rapat besar di luar Surabaya.

    Periode perintisan dan pengenalan model propaganda NU selama delapan tahun (1926-1933) ini memang mengambil para tokoh orator yang handal dan sangat dekat masyarakat. Sukses mendirikan NU di Jawa dan Madura kala itu juga sudah mulai disambut baik oleh ulama Kalimantan (Banjar Martapura). Dan itulah yang membuat para Kyai semakin kuat tekadnya untuk mengembangkan NU di seluruh Nusantara.

    Masa perintisan ini bukan hanya dihabiskan untuk propaganda saja, tetapi lebih dari itu bahwa Kyai NU tetap menunjukkan komitmen kebangsaannya dalam bidang pendidikan, dakwah dan ekonomi. Jalan yang dipakai adalah dengan memperkuat akidah NU dengan pola mengikuti Statuen Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama (AD-ART). Isi dari aturan organisasi NU adalah melakukan hubungan para ulama dengan model mengikuti empat madzhab dengan mengerjakan apa saja untuk kemaslahatan agama dan bangsa.

    Melihat pola pengembangannya dengan model dakwah atau pengajian oleh para kyai orator ini, maka banyak sekali NU menyebar ke pedesaan. Jam’iyyatun Nashihin ini menjadi inspirasi sekaligus refleksi keberadaan NU di masa sekarang. Sebab kekuatan basis pesantren dan Kyai selalu menjadi modal kuat dalam menjadikan NU sebagai organisasi yang dimiliki oleh banyak umat Islam di Indonesia.

    Perlu sekali mengembalikan potensi Kyai orator dalam pengembangan NU di basis-basis yang belum tersentuh oleh NU. Termasuk mencari intelektual orator yang mempropagandakan NU di luar basis pesantren. Dengan demikian, pengembangan-pengembangan NU yang pernah dilakukan di masa perintisan masih tetap abadi di masa sekarang.

    Maka sekarang sudah mulai bangkit semangat berorganisasi NU, baik di dalam negeri hingga luar negeri. Termasuk NU yang hanya berkembang di pedesaan, sekarang sudah mulai muncul di Kota besar. NU yang semula hanya di pesantren, sudah mulai bangkit di perguruan tinggi dan perkantoran. Wallahu a’lam. [dutaislam.com/ ab]

    M. Rikza Chamami, sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang 
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: