Selasa, 05 Juli 2016

Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak


Oleh Ahmad Syafii Maarif

DutaIslam.Com - Bahasa Arab adalah satu di antara bahasa dunia yang kaya makna dan kosakata. Istilah id (hari perayaan) dari bentuk kedua kata kerja bahasa Arab: ’ayyada, artinya merayakan, mengamati sebuah perayaan. 

Perkataan fitr dari kata kerja fatara, bermakna memisahkan, membatalkan puasa dengan makan dan minum pada 1 Syawal setelah berpuasa selama satu bulan (29 atau 30 hari), disebut juga iftar, dan juga bermakna menciptakan. Dari akar kata yang sama kita menemukan al-Fatir, yang berarti Maha Pencipta dari tiada kepada ada.

Jadi ’id al-fitri berarti ”merayakan hari 1 Syawal dengan berbuka atau menghentikan puasa”. Puasa diharamkan pada hari itu.

Ada juga orang mengartikan ’id dengan kembali. ’Id al-fitri diterjemahkan ”kembali pada asal penciptaan manusia yang bersih, suci, tanpa noda, tanpa dosa”, seperti bayi yang baru lahir setelah dibasuh selama Ramadhan. 

Namun, ada kerancuan. Dalam bahasa Arab, perkataan kembali adalah ’aud atau ’audah, berasal dari bentuk pertama kata kerja ’ada, bukan ’id. Saya lebih mengartikan ’id al-fitri atau ’idul fitri sebagai perayaan berbuka puasa, bagian sikap bersyukur manusia beriman, bukan ”kembali suci.”

Perayaan 1 Syawal adalah hari kegembiraan, dalam batas yang wajar, bagi mereka yang berpuasa Ramadhan, karena iman semata. Di akhir Ramadhan, umat Islam, termasuk bayi, diwajibkan membayarkan sadhaqat al-fitri (zakat fitrah) sebagai simbol spiritual untuk berbagi dengan sektor masyarakat yang serba kekurangan.

Pada waktu yang sama, juga dilakukan pembayaran zakat harta kekayaan yang disalurkan pada mereka yang berhak, seperti fakir, miskin, panitia zakat, mereka yang terlilit utang, dan untuk jalan Allah. 

Pelaksanaan zakat sampai kini belum optimal di seluruh dunia sehingga jurang antara si kaya dan si miskin masih lebar. Sebuah kenyataan yang amat pedih dan menyakitkan. Jumlah zakat yang ditunaikan masih setengah lumpuh berhadapan dengan kesenjangan sosial ekonomi.

Kembali pada soal penebusan dosa, memang ada sumber hadis yang menyebutkan, ”Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan berdasarkan iman dan semata mengharapkan keridaan Allah, apa yang terdahulu dari dosanya bakal diampuni.” Mungkin didasarkan pada hadis ini, lalu disimpulkan bahwa orang yang benar-benar berpuasa selama Ramadhan akan menjadi manusia suci kembali.

Sekali lagi perkataan ’id tidak berarti kembali, seperti yang pernah saya tulis tahun 2008, tetapi hari perayaan! Jika tak hati-hati memahami hadis ini, orang yang lemah iman akan mudah berbuat dosa untuk ditebus setiap bulan Ramadhan dengan menjalankan puasa. Dalam Al Quran tidak ada bayangan orang yang berpuasa akan terbebas dari dosa.

Posisi takwa
Orang yang sungguh berpuasa diharapkan meraih posisi takwa (kesadaran hati nurani yang sejati dan mendalam tentang kehadiran Allah yang senantiasa mengamati perilakunya), dibenarkan Al Quran surat Al-Baqarah ayat 183. Takwa adalah obor batiniah (atau inner torch dalam ungkapan Fazlur Rahman) yang menuntun manusia ke jalan yang benar dan lurus.

Namun, raihan posisi takwa itu tak datang otomatis dan pasti bagi mereka yang berpuasa. Al Quran memakai kata la’allakum tattaqun (siapa tahu, semoga kamu akan meraih posisi takwa itu). Sangat halus dan tajam pernyataan Al Quran berkaitan dengan puasa Ramadhan ini. Sebuah ketegangan kreatif berlaku di sini antara upaya, fisikal, dan spiritual yang sungguh-sungguh dan kemungkinan hasilnya. Perkataan la’alla mengandung harapan, bukan kepastian.

Ayat 185 surat Al-Baqarah menyebutkan, Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu. Di bagian ujung ditegaskan, orang yang berpuasa harus menggenapkan bilangan puasanya selama satu bulan untuk menyambut perayaan Idul Fitri dengan banyak bertakbir, membesarkan nama Allah, karena petunjuk yang telah diberikan-Nya agar manusia pandai bersyukur.

Dalam sejarah, puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah (624 Masehi), berdekatan dengan Perang Badar. Sebelum dilakukan sebulan penuh, ada praktik puasa secara bertahap selama beberapa hari. Umat terdahulu melakukan puasa dengan cara masing-masing.

Umat yang bertakwa semestinya sadar akan tanggung jawab sejarah untuk menegakkan keadilan sebagai perwujudan tauhid di muka bumi dalam kehidupan kolektif. Dunia yang masih berpuasa dan berhari raya tampaknya kehilangan roh takwa. 

Akibatnya, umat terkapar dalam perlombaan peradaban di antara manusia lain yang lebih maju sekalipun belum tentu adil. Semestinya hari raya tahun ini bisa menyadarkan mereka, takwa bukan hanya sebatas kepentingan pribadi, tetapi bermakna luas dalam kehidupan bersama dalam suatu negara atau antarnegara.

Quo vadis peradaban Islam?
Pertanyaan seperti ini mungkin tak layak dimunculkan saat ini karena menambah beban batin yang sarat, dan itu kenyataan yang pahit. Pada diri umat Islam di tataran global sedang berlaku ungkapan Chairil Anwar: ”Hidup hanyalah menunda kekalahan”.

Sekarang, sebagian dunia Islam dalam situasi kacau. Bom meledak di mana-mana. Kejadian terakhir bom meledak di Istanbul, Turki dan Baghdad, Irak, dengan korban yang banyak. Menyedihkan, bom itu disulut tak jarang dengan nama Tuhan, yang seolah-olah Tuhan itu bisa dikendalikan semau gue.

Ini sebuah kebiadaban teologis yang tidak bisa dimaafkan. Turki yang kewalahan menampung pengungsi Suriah dalam bilangan jutaan orang malah dibalas dengan bom, tidak peduli pada bulan yang dinilai suci, saat pembunuh dan yang terbunuh mungkin saja berpuasa. Alangkah kejamnya drama ini.

Demikian sukarnya umat Islam, terutama di wilayah Arab, menyadari betapa rapuhnya kondisi mereka. Penguasa dan oposisi sama-sama kehilangan akal sehat, tumpulnya kepekaan nurani, dan tega menonton rakyatnya sendiri berkeliaran eksodus ke negara lain melalui rentetan penderitaan yang panjang.

Permulaan abad ke-15 Hijriah, umat Islam sejagat bersorak menyongsong kebangkitan Islam, diawali kemenangan Ayatullah Khomeini di Iran mengusir rezim Shah Reza Pahlevi. Namun, itu kemenangan politik semata, tanpa diikuti oleh pembenahan dasar struktur budaya secara radikal, bisa berujung dengan sebuah ilusi, sebuah fatamorgana.

Adakah jalan keluar? Apabila Al Quran dijadikan pedoman, sesungguhnya untuk bangkit secara otentik dan berkelanjutan tidak terlalu sulit. Musuh terbesar adalah egoisme bangsa dan etnisitas dengan jubah nasionalisme sempit. Barat amat paham fenomena pembusukan budaya ini, lalu diadu domba dengan iming-iming duniawi. Si penguasa dan oposisi tinggal menari mengikuti bunyi genderang pihak lain.

Apa yang dilakukan itu adalah pengkhianatan terhadap diktum Al Quran, dengan menyibukkan diri dalam permusuhan dan peperangan sesama mereka. Barat tinggal mengipas saja agar kondisinya menjadi semakin parah.

Sebuah agama yang mengklaim sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta, tetapi umatnya terpuruk di tikungan sejarah, pasti akibat dari kesalahan kolektif yang fatal. Quo vadis peradaban Islam memerlukan masa untuk menjawabnya.

Saya yakin gelombang kesadaran dan kesediaan mengoreksi diri pasti akan datang dan itu bisa dipercepat. Umat Islam tidak boleh larut dalam keputusasaan. Siapa tahu, dengan perasaan berat, suasana Idul Fitri tahun ini dapat dijadikan momentum untuk berkaca diri dengan jujur sambil menatap masa depan dengan kepala tegak. Selamat berhari raya, 1 Syawal 1437 Hijriah, mohon maaf lahir-batin. [dutaislam.com/ ab]

Prof. Ahmad Syafii Maarif, 
mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Source: Koran Kompas, 5 Juli 2016, di halaman 1, judul asli "Bom dan Masa Depan Peradaban Islam".
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini