Rabu, 27 Juli 2016

Mesin Perang Itu Bernama Pokemon


DutaIslam.Com - “Memangnya seberapa bahaya sih game Pokemon Go, sehingga banyak di larang di berbagai negara ?” Temanku yang memang ahli IT tersenyum. Kami ngopi bersama sore itu.

“Sebelum ke Pokemon Go, kita harus pahami dulu cara kerja perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Facebook dan lain-lain. Kita menganggapnya sebagai sebuah fasilitas, tetapi sebenarnya aplikasi itu adalah sebuah program mata-mata.”

Surprise juga mendengar jawabannya. Ternyata tidak sesederhana yang kupikirkan.

“Seperti Google. Kita menganggap Google itu hanya mesin pencari. Tetapi sesungguhnya dia menjebak kita dalam sebuah kotak. Kotak dimana kita tidak bisa keluar dari sana. Kita berkomunikasi melalui email, kita berbelanja bahkan sekedar mencari peta dengan google.”

Dia menyeruput kopinya dan melanjutkan, "kita seperti berada di dunia luas ketika melakukan segala aktifitas melalui Google, padahal sesungguhnya kita berada di kotak kecil dari luasnya alam maya ini. Seperti di sebuah galaksi, kita menganggap galaksi kita paling besar padahal sesungguhnya kita hanya berada pada satu galaksi diantara miliaran galaksi yang ada.”

Aku mencoba memahami perkataannya. 

“Ketika kita melakukan segala aktifitas di dunia Google, maka mesin intelijen mereka bekerja menyerap seluruh aktifitas kita. Dia tahu ke mana kita pergi, dia tahu apa yang kita suka, tahu apa yang kita cari. Dia akhirnya tahu seluruh kebiasaan kita, kebiasaan masyarakat di suatu negara.
Dengan data-data itu, mereka memahami di mana kelemahan kita, apa yang kita benci, bagaimana membenturkan kita, dan banyak data yang mereka jadikan pegangan ketika mereka harus melakukan infiltrasi ke negara kita,"

Aku menarik nafas. Temanku tersenyum, "dan ingat, aplikasi seperti Google dan Facebook itu tidak akan bisa menjadi aplikasi mendunia tanpa dana yang sangat besar. Nah percayalah pemilik dana terbesar dalam sahamnya adalah badan-badan intelijen milik pemerintah yang disembunyikan dalam nama perusahaan."

Karena itu, negara besar seperti China menutup dirinya dari aplikasi intelijen seperti itu. Mereka membangun sendiri modelnya dengan nama Baidu. Mereka me-manage sendiri penduduknya yang jumlahnya miliaran itu.”

"Apa Pokemon Go seperti itu juga ?"
"Tentulah… Dengan mengaktifkan GPS dan kamera, mesin intelijen mereka bekerja menyerap data kita dalam bentuk gambar. Jadi mereka berharap permainan itu dimainkan di dalam gedung pemerintahan yang punya posisi-posisi strategis dan rahasia. Tujuan game itu adalah mengumpulkan data, selanjutnya mereka olah di pusat mereka untuk kepentingan kelanjutan mereka,"

Temanku tertawa sambil menyeruput kopinya. “Buat mereka yang di sana itu, tidak ada hal yang sia-sia. Semua diperhitungkan dengan sangat cermat, sangat detail. Kita saja yang tidak paham dan menganggapnya hiburan semata. Cantik ya model perangnya? Ingat, siapa yang menguasai informasi dialah yang akan menguasai dunia.”

Bukan cantik lagi, tapi mengagumkan. Bahkan kopiku kehilangan pesonanya sehingga ia menjadi dingin tanpa tersentuh. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini