Minggu, 17 Juli 2016

Jika Allah di Langit, Apa di Bumi Tidak Ada Allah?


Oleh Moh Nasirul Haq

DutaIslam.Com - Sering kita temui pertanyaan pertanyaan berkaitan dengan keberadaan Allah SWT. Pasalnya, kita mendapati pendidikan anak sejak usia dini di sekolah-sekolah yang berbasis wahabi-salafi diajarkan agar anak mengatakan "Allah di langit" dan mereka dilatih setiap hari untuk membiasakan hal itu.
Lalu bagaimana sebenarnya sikap kita untuk mengajari dan menjelaskan perihal keberadaan Allah SWT? Berikut ulasannya.

Ketika ada anak kecil bertanya dimanakah Allah SWT berada tentu kita sebagai orang yang lebih dewasa haruslah mengajarkan dengan kearifan dan sesuai akidah ahlussunnah wal jama'ah. Maka kita ajarkan mereka untuk mengatakan "Allah tidak seperti makhluk apapun sebagaimana firmannya:

ليس كمثله شيء وهو على كل شيء قدير .

Dan kita juga perlu menjelaskan pada anak tersebut bahwa seyogyanya kita tidak berpikiran tentang bagaimana dzat Allah serta lebih menekankan pengenalan ibadah ritual yanng berkaitan dengan makhluqnya. Sehingga kelak akan menambah kadar keimanan si anak tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan ulama':

تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله

"Berfikirlah tentang ciptaan Tuhan dan jangan berpikir tentang dzat Tuhan."

Sebab kalau dibiarkan si anak berfikir tentang sesuatu yang berkaitan dengan bentuk dan gerakan ini bisa sangat membahayakan dan bisa menyebabkan penyerupaan Dzat Allah dengan makhluknya.

Adapun mengenai pertanyaan "Allah di mana" sebagaimana dalam masalah akidah, kita harus percaya bahwa Allah wajib bersifat wujud (ada). Makna wajib wujud ialah bahwa ia tidak boleh binasa dan tidak bisa binasa secara azali maupun abadi.

Bahwa adanya Allah bukan karena perantara suatu sebab. Maksudnya, tidak ada yang bisa memberikan dampak atas keberadaan Allah SWT dan tidak akan berpengaruh dalam keberadaannya dan sifat nya, baik tempat maupun waktu.

Seandainya orang yang bertanya "Allah di mana" itu bertujuan menanyakan posisi dan arah, maka sudah pasti jawabannya membutuhkan penetapan suatu kondisi dan arah. Oleh karena itulah kita tidak boleh bertanya dengan kalimat ini. Sebab waktu dan ruang adalah perkara yang baru.

Artinya, ketika kita menetapkan suatu waktu dan ruang atas Dzat Allah, maka kita telah membuat sesuatu yang tidak pantas bagi dzatnya Yang Maha Qodim (dahulu).

Allah tidak mungkin serupa dengan makhluknya yang baru dan tidak butuh pada ruang dan waktu.
Dan hukum bertanya dengan lafadz "Aina Allah" (tuhan di mana) adalah tidak boleh.

Maka jawablah dengan "Wallahu 'alam". Meskipun anda mengatakan tidak tahu bukan berarti tidak bisa akan tetapi menurut ulama من قال لا اعلم وقد افتى  
"Barang siapa berkata wallahu a'lam maka dia telah memberi fatwa," yaitu dengan mentafwidh (memasrahkan) kepada Allah.

قال الحافظ البيهقي في كتابه الأسماء والصفات: استدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه تعالى بقول النبي صلى الله عليه وسلم :"أنت الظاهر فليس فوقك شىء وأنت الباطن فليس دونك شىء" وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان اهـ.

Berkata Al Hafidz  al Baihaqi dalam kitab Asma was Sifat: sebagian Sahabat kita bertendensi atas penafian tempat bagi Allah SWT dengan hadits nabi: "Engkau Yang Maha Dlohir tidak ada di atas-Mu sesuatu, dan engkaulah Yang Maha Bathin dan tiada selain-Mu sesuatu". Dari konteks ini terbukti kalau Allah tidak ada diatasnya sesuatu apapun. Ia tidak bertempat.

ومارواه البخاري وابن الجارود والبيهقي بالإسناد الصحيح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "كان الله ولم يكن شىء غيره" ومعناه أن الله لم يزل موجودًا في الأزل ليس معه غيره لا ماء ولا هواء ولا أرض ولا سماء ولا كرسيّ ولا عرش ولا إنس ولا جن ولاملائكة ولا زمان ولا مكان، فهو تعالى موجود قبل المكان بلا مكان، وهو الذى خلق المكان فكيف يحل في مخلوقاته وكيف تحده مخلوقاته ؟!!

Diriwayatkan dari Bukhari, Ibnu Jarud dari Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah telah ada saat tidak ada sesuatu selainnya". Artinya, Allah sudah ada di azali dan tidak ada selainnya, tidak air, tidak udara, tidak langit dan tidak bumi, tidak kursi, tidak arash, tidak jin, tidak manusia, tidak malaikat, tidak waktu dan tempat. Dialah Allah telah ada sebelum ada tempat, tanpa ada tempat. Dialah pencipta tempat. Bagaimana mungkin dia akan berada pada ciptaannya dan bagaimana bisa dibatasi cipataannya?.

Sementara hadits pernyataan seorang jariyah (seorang budak) yang disebut-sebut mengatakan bahwa Allah di langit, Imam Nawawi berkomentar:

علق الإمام النووي رحمه الله على حديث الجارية في شرحه على مسلم قائلا : (هذا الحديث من أحاديث الصِّفات، وفيها مذهبان تقدَّم ذكرهما مرَّات في كتاب الإيمان:    
 أحدهما: الإيمان به من غير خوض في ((( معناه )))، مع اعتقاد أنَّ الله ليس كمثله شيء،وتنزيهه عن سمات المخلوقات.
والثَّاني:((تأويله ))) بما يليق به
فمن قال بهذا – أي التأويل - قال: كان المراد امتحانها هل هي موحِّدة تقرُّ بأنَّ الخالق المدبِّر الفعَّال هو الله وحده، وهو الَّذي إذا دعاه الدَّاعي استقبل السَّماء،كما إذاصلَّى المصلِّي استقبل الكعبة،وليس ذلك لأنَّه منحصر في السَّماء، كما أنَّه ليس منحصراً في جهة الكعبة، بل ذلك لأنَّ السَّماء قبلة الدَّاعين، كما أنَّ الكعبة قبلة المصلِّين.
أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان الَّتي بين أيديهم، فلمَّا قالت: في السَّماء علم أنَّها موحِّدة وليست عابدة للأوثان. ) انتهى من شرح النووي على مسلم

Dalam memaknai hadits jariyah maka bisa melalui dua metode yaitu: pertama, dengan beriman tanpa menelusuri maknanya. Yang kedua, dengan mentakwil dengan sesuatu yang sesuai.

Lagi pula hadits jariah ini banyak menimbulkan pertanyaan. Diantaranya, apakah benar kadar ukuran Islam seseorang dianggap hanya dengan mengatakan Allah di langit?.

Selanjutnya, mengenai berdoa dengan mengangkat tangan ke langit, kita bisa menyontohkan orang shalat yang menghadap Ka'bah, apakah Allah berada di dalam Ka'bah? Tidak! Begitu pula dengan saat budak tadi menunjuk ke langit atau saat orang berdo'a mengangkat tangan ke langit. Belum tentu menunjukkan Allah di langit. Tidak sama sekali.

Adapun menghadap Ka'bah, itu posisinya sebagai kiblat orang shalat. Begitu juga menunjuk ke atas sebagaimana kisah budak di atas saat berdoa.

الكعبة قبلة الصلاة والسماء قبلة الدعاء

Artinya: "Ka'bah adalah kiblat shalat dan langit adalah kiblat berdoa".

Tapi tetap saja Allah tidak bertempat dan menempati ruang. Coba kita pakai mantiq (logika). Seandainya Allah berada di suatu tempat, berarti Allah lebih kecil dari tempat tersebut. Seperti air menempati gelas, berarti ukuran gelas lebih besar dari ukuran airnya. Atau, paling tidak gelasnya berukuran sama. Sedangkan jika Allah dikatakan menempati ruang, boleh dibilang Allah lebih kecil dari ruangan tersebut. Padahal Allah Maha Besar.

Dan jika dikatakan Allah bertempat di langit, apakah di bumi tidak ada Tuhan? Bagaimana dengan ayat dalam surat Azzukhruf ayat 84:

وهو الذي في السمآء ءله وفي الارض اله وهو الحكيم العليم

"Dialah Tuhan (yang disembah di langit) dialah Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dialah Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui".

Baca friman Allah berikut:

"Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia yang berhak disembah, baik di langit maupun di bumi. Oleh karena itu, penghuni langit semuanya dan penduduk bumi yang beriman, mereka beribadah kepada-Nya, mengagungkan-Nya, dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar Ra’d: 15)

Ayat di atas sama seperti firman-Nya, “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi.” (QS. Al-An’aam: 3). Jadi bisa kita simpulkan bahwa Allah ada tanpa tempat ia berada. [dutaislam.com/ ab]

Tarim, Yaman, 11 syawal 1437 H.
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini