Kamis, 07 Juli 2016

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Ja'far

bom madinah idul fitri

Oleh Savic Ali

DutaIslam.Com - Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Narasumbernya orang bernama Fathuddin Ja'far, yang saat kejadian mengatakan berada di dlm Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam.

Menurut Ja'far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. "Kami hanya melihat kepulan asap seperti ada kebakaran di seberang Baki', makam para sahabat Rasulullah."

Di dalam masjid juga tak seorang pun yang membicarakan soal bom. Suasana di dalam masjid dan luar masjid juga seperti biasa, tak ada yang berubah dari malam-malam sebelumnya.

Dengan instingnya Ja'far merasa ada yang tidak benar dengan berita yang beredar. Ia merasa bahwa yang terjadi hanyalah konspirasi. "Naluri media dan konspirasi saya muncul," tulisnya.

Dan ia makin meyakini saat melihat televisi dan internet, di mana berita pemboman sudah menyebar luas. Ia memutar Al-Arabiya, televisi yang ia sebut milik Yahudi, dan ia menganggap beritanya terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menganggap running-text Al-Arabiya sangat provokatif. 

Ia pun mengecam Al-Arabiya, menyebut bahwa semua adalah kebohongan kaum kafir yang ingin menjatuhkan Islam. "Saya semakin yakin bahwa umat Islam sekarang sedang menghadapi fitnah dan konspirasi dari segala arah yang sangat luar biasa dari musuh-musuh Allah," tulisnya yang muncul di sejumlah media yang tidak begitu jelas kedudukannya.

***

Membaca tulisan Fathuddin Ja’far saya hanya melihat orang yang di kepalanya memang sudah diinapi pikiran bahwa Islam sedang diserang, bahwa selama ini ada konspirasi untuk menjatuhkan Islam oleh kaum kafir. Aku tidak tahu Islam yang mana yang dimaksud Ja’far, karena sebagai orang Islam aku tidak merasa. Lalu kafir yang mana juga tak jelas, apakah kafir Amerika, kafir Yahudi atau kafir dari planet Mars.

Kesaksian Ja’far, yang di-share banyak orang, tak menggugurkan berita yang ia bantah. Tak ada poin di berita yang beredar yang bisa ia tunjukkan kebohongannya. Tapi di ujung tulisan ia menyimpulkan bahwa semua adalah kebohongan.

Ja’far tampak sudah apriori dengan media dan apa pun yang diberitakan olehnya. Ia juga tendensius dan terlihat kurang wawasan ketika menyebut “Al-Rabiya” sebagai TV Yahudi, karena jika yang ia maksud adalah Al-Arabiya, televisi ini tak lain dimiliki oleh keluarga Kerajaan Arab Saudi. Entah dari mana Ja’far punya informasi bahwa Al-Arabiya milik Yahudi–dari sebuah sumber atau imajinasinya semata, kita tidak tahu. Mungkin dari intelijen atau alien galaksi Andromeda.

Dalam tulisannya Ja'far menyebut bahwa ledakan terjadi jauh dr Masjid Nabawi. "Kepulan asap di seberang Baki, makam sahabat-sahabat Rasullullah," jelasnya.

Jauh-dekat relatif. Berdasar standar keamanan ledakan di radius 3 km dari obyek atau lokasi vital bisa dikatakan dekat dan sudah berkategori sangat mengancam dan membahayakan. Apalagi berdasar penjelasan dari pejabat KJRI Saudi, Fadhly Achmad Hamid, lokasi ledakan hanya berjarak 500 meter dari masjid Nabawi, tepatnya di area parkir keamanan, bagian belakang masjid Nabawi. Aku tidak tahu apakah Ja’far mengecek area ini.

Justru sangat aneh jika Ja’far menganggap ledakan di tempat yang asapnya bisa disaksikan jelas dari Masjid Nabawi disebut jauh dan tak membahayakan. Bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan dan jamaah di Masjid Nabawi masih anteng tarawih karena memang tak menyadarinya dan itu menunjukkan manajemen keamanan cukup bagus. Karena jika langsung dikabarkan kepada jamaah bahwa ada bom meledak di luar kawasan masjid, kepanikan dan kekacauan bisa terjadi–dan mungkin justru menimbulkan korban.

Persoalan bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan tidak lantas ledakan tidak ada. Apa yang tidak kita ketahui tidak lantas tidak terjadi. Karena ada situasi-situasi yang membuat kita sering tidak mengetahui peristiwa yang terjadi tak jauh dari posisi kita. Orang yang berada di sekitar kejadian sebuah peristiwa tidak selalu mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Jurnalis yang baru datang justru sering lebih tahu, karena ia mewawancarai banyak saksi mata dan mengecek tempat kejadian perkara.

Orang-orang yang ada di dalam Sarinah Thamrin saat terjadi bom di luarnya banyak yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa juga tak mendengar bom. Saya yang berkantor tak sampai 2 km dari lokasi bom Thamrin saat itu juga tak mendengar suara, meski beberapa orang di kawasan kantor saya bilang mendengar. Itu soal telinga, atau fokus dan konsentrasi yang berbeda.

Tapi pihak keamanan Arab Saudi sudah jelas mengonfirmasi ledakan itu, yang menewaskan 2 orang dan melukai 4 orang. Foto korban juga sudah dirilis media. Bukan hanya Al-Arabiya, tapi Al-Jazeera dan media-media Islam lain juga memberitakannya, selain ratusan media internasional. Media tak mungkin mengarang untuk informasi ini. Jadi aku tidak tahu dmn kebohongan media yang dibilang oleh Fathuddin Ja’far, dan lebih tidak tahu lagi media kafir mana yang berbohong.

Saya mengecek video Al-Arabiya di webnya dan Al-Arabiya tidak memberitakan bahwa ledakan terjadi di gerbang Masjid Nabawi. Lalu apa lantas itu tidak berbahaya dan tidak layak diberitakan besar-besaran oleh media? Jika kamu berpikir berpikir begitu maka kamu tidak tahu media, tidak tahu betapa pentingnya Madinah–apalagi masjid Nabawi. Jangankan bom, ada satu orang mati ditusuk di kawasan Masjid Nabawi bisa jadi berita besar. Karena Madinah dan Masjid Nabawi punya arti penting buat umat Islam.

Membaca tulisan Fathuddin Ja'far, aku tidak tahu media kafir mana yang ia tunjuk, karena Al-Arabiya dan Al-Jazeera yang memberitakan paling awal kejadian Madinah adalah milik negara Islam, yang wartawannya jg sebagian besar muslim. Atau Ja'far menganggap Al-Arabiya dan Al-Jazeera juga media kafir? Lalu yang bukan kafir yang mana? Mbuhlah....

Jika kamu punya dugaan simpanlah dugaanmu untuk dirimu sendiri sebelum menemukan bukti. Jika kamu meyakini adanya konspirasi telitilah dulu sebelum menuduh sana-sini. Bukan cuma keluar masjid, balik hotel ngecek internet dan nonton TV lalu berteriak ada konspirasi.

Maaf, tentu aku lebih percaya wartawan yang memang dididik untuk mengecek dan meliput peristiwa ketimbang orang yang ada di kawasan kejadian perkara tapi ke TKP pun tidak. Tak ada keterangan apakah Fathuddin Ja'far mengecek TKP, melihat korban atau benda yang terbakar akibat ledakan. [dutaislam.com / ab]

Source: islami.co
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini