Selasa, 05 Juli 2016

Bantahan Terhadap Kholid Basalamah yang Menyebut 'Sayidina' Merendahkan Nabi


Oleh Ust. Moeslich El Malibary

DutaIslam.Com - Baru-baru ini, muncul fatwa baru yang membuat gempar umat Islam Indonesia, khususnya adalah warga Ahlussunnah, dalam video pendek yang berisikan tentang pembid'ahan dalam menisbatkan kata 'Sayidina' ketika memanggil Nabi Muhammad Saw. dari seorang ustadz bergelar doktor yang mengatakan 'Kata Sayidina itu belum ada di zaman dahulu.

Memanggil Nabi dengan 'Sayidina' itu malah mengurangi martabat Nabi'. Pasalnya, dalam memanggil Nabi Muhammad dengan menggunakan 'Sayidina' sudah menjadi kebiasaan turun temurun mulai dari zaman dahulu. Jadi ketika masyarakat mendengar fatwa kontroversial seperti itu, pastilah masyarakat merespon dan menanggapinya dengan cepat, dan bahkan hingga mengatakan hal-hal negatif kepada ustadz tersebut.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya, pemanggilan dengan kata 'Sayidina' terhadap beliau Nabi Muhammad Saw. sudah digunakan oleh para shahabat seperti dalam beberapa hadits yang akan disebutkan. Akan tetapi, mungkin karena ketidaktahuan ustadz ini, hal itu dijadikan legitimasi olehnya untuk membid'ahkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Itulah yang menjadi permasalahan besar.

Kali ini, kami akan memaparkan hal-hal yang berhubungan dengan kata 'Sayidina', ditinjau dari segi etimologi (lughah- bahasa), dalam Al-Qur'an, Sunnah, dan segi logika.

Dalam Segi Etimologi (Bahasa)
Kata 'Sayyid' dalam segi bahasa mempunyai banyak makna. Bisa diartikan dengan 'Orang yang memimpin suatu kaum'. 'Orang yang banyak pengikutnya'. 'Orang yang mulia diantara lainnya', 'Orang yang patut untuk ditaati'. (Silahkan buka kamus Arab Mu'jamul Wasith).

Jadi, kalau ditinjau dari segi bahasa, kata 'Sayiduna' sangatlah tepat disandarkan kepada beliau Nabi Muhammad Saw. karena beliau Nabi adalah Pemimpin semua manusia, diikuti oleh semua orang Islam, dan orang yang Paling mulia diantara semua makhluk di sisi Allah Swt. Hal ini tidak bisa dielak lagi mengingat sangat tepatnya pengaplikasian ini.

Yang perlu diingat bahwa memuji itu tidak harus menggunakan kata yang tepat dan tidak harus melampaui batas. Dan bahkan kemuliaan beliau Nabi tidak ada yang mengetahui batasnya kecuali Allah. Jadi memuji dengan kata 'Sayidina' akan mengurangi martabat beliau Nabi seperti kata ustadz Kholid itu adalah ucapan yang tidak berdasar.

Dalil dalam Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. Juga menisbatkan 'Sayidina' kepada Nabi Yahya as. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman,

"Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat dari Allah, panutan (sayid), berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi diantara orang-orang saleh" (QS. Ali Imran [3] : 39).

Ditilik dari ayat ini, jika Allah menisbatkan kata 'Sayidina' kepada Nabi Yahya, apakah tidak bisa, tidak sah, tidak tepat jika kata 'Sayid' juga dinisbatkan kepada Nabi Muhammad mengingat keduanya adalah sama-sama seorang nabi dan rasul yang menyampaikan hukum-hukum-Nya? Akan Allah Swt. Mengakui kurangnya martabat Nabi Yahya sehingga memuji dengan kata 'Sayid'?

Dalil-Dalil dari Hadits.
Dalam menetapkan kata 'Sayidina' dari hadits, sangatlah banyak hadits-hadits yang menetapkan hal itu hingga kami menjadi keberatan untuk menyebutkan semuanya, karena jika kami sebutkan, akan semakin kelihatan ketidak tahuan ustadz Kholid yang sudah menyandang gelar doctor. Akan tetapi, karena memang ini adalah yang sangat dibutuhkan, dengan terpaksa kami akan menyebutkan banyak hadits yang menentapkan hal tersebut.

Dalam menetapkan kata'Sayid' dari hadits, berarti menunjukkan bahwa kata tersebut sudah digunakan mulai zaman Nabi. Demikianlah kami paparkan hadits-hadits yang menetapkan kata 'Sayidina' dari berbagai sisi. Diantaranya,

Beliau Nabi mengatakan sendiri seorang Sayid
Dari Sayidina Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Saya adalah pemimpin semua bani Adam di hari kiamat" HR. Imam Muslim, hadits tersebut dalam urutan nomer 5.899 dalam kitab Shohih Muslim.

Dalam riwayat lain, terdapat perbedaan sedikit, "Saya adalah pemimpin seluruh manusia di hari kiamat" HR. Imam Bukhari 3.340, dan Imam Muslim 479.

Sahabat memanggil dengan panggilan Sayid dan Beliau Nabi tidak mengingkarinya
Dari Sayidina Sahl bin Hunaif ra. berkata: Suatu ketika, kita mendapati sungaisedang mengalami banjir, kemudian aku masuk kedalam sungai tersebut untuk mandi. Keluar dari sungai itu, kudapati badanku terasa panas. Akhirnya kulaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw. beliau berkata:

"Perintahkanlah kalian semua kepada Abu Tsabit untuk bertaawwudz (membaca A'udzubillahi minasysyaithoni)," Aku berkata: "Wahai Sayidi, masih ada azimat (jimat) yang ampuh (kenapa diperintah bertaawwudz) ?" beliau bersabda: "Tidak ada azimat kecuali penyakit dalam tubuh, panas, dan penyakit akibat sengatan," HR. Abu Dawud 3.888, An-Nasa'i dalam Amalul Yaum wa Lailah urutan nomer 257.

Begitulah pengakuan (taqrir) beliau Nabi yang tidak mengingkari sama sekali ketika dipanggil dengan menggunakan kata 'Sayid'.

Beliau Nabi menisbatkan kata 'Sayyid' kepada beberapa sahabat
Dari Sayidah Aisyah ra. dalam menceritakan datangnya sahabat Sa'd bin Muadz ketika dipanggil oleh beliau Nabi untuk mengeluarkan keputusan hukum dalam peristiwa Bani Quraizhah, beliau bersabda, "Berdirilah kalian untuk Sayid kalian dan persilahkanlah dia." HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Dalam riwayat lain dari jalur Sayidina Abu Said Al-Khudry, lebih ringkas sedikit "Berdirilah kalian semua untuk Sayid kalian." HR. Bukhari urutan nomer 3.043.

Dari Sayidina Abu Bakrah ra. berkata: Aku melihat Rasulullah Saw. sedang berkhutbah dan Hasan bin Ali sedang duduk disampinya. Beliau menghadap kepada hadirin dan terkadang menghadap kepadanya seraya bersabda: "Sungguh, putraku ini adalah pemimpin (Sayid). Dan kelak, dengan putraku ini, Allah akan mendamaikan diantara dua golongan besar yang berseteru dari orang-orang Islam," HR. Bukhari dan at-Tirmidzi.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: "Hasan dan Husain adalah pemimpin (Sayid) pemuda ahli Sorga." HR. Tirmidzi nomer 3.768 dalam kitab Sunan At-Tirmidzi.

Diriwayatkan bahwasannya Raulullah Saw. bersabda terhadap Sayidah Fatimah ra. "Apakah kamu tidak ridlo jika kamu akan menjadi pemimpin (Sayidah) para perempuan Surga?" HR. At-Tirmidzi.

Sahabat menisbatkan Sayidina kepada sahabat lain
Diriwayatkan bahwasannya Sayidina Umar ra. berkata: "Abu Bakar adalah pemimpin kita (Sayiduna) dan telah memerdekakan pemimpin kita pula yaitu Bilal" HR. Bukhari.

Diriwayatkan pula bahwasannya Sayidina Umar berkata kepada Sayidina Abu Bakar dalam peristiwa baiat khilafah, "Bahkan kami akan membaiat kamu, sungguh kamu adalah pemimpin kita (Sayiduna), orang yang paling bagus diantara kita, yang paling cinta kepada Rasulullah Saw." kemudian Sayidina Umar menganbil tangannya dan membaitnya menjadi kholifah. HR. Bukhari.

Dan masih banyak hadits-hadits tentang hal ini yang kiranya sudah kita cukupi dengan hadits-hadits yang disebutkan sebagai tendensi tentang masalah ini. Sebenarnya masih banyak haditsnya, akan tetapi kami berusaha mengambil hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, agar supaya predikat keshohihan haditsnya tidak dipermasalahkan oleh orang-orang yang mengaku menguasai hadits (Wahabi dkk.).

Dalil Secara Logika
Sesuai fakta dan realita, semua orang pasti mempunyai figur yang ia hormati dalam kehidupan. Misalnya, anak menghormati ayahnya, murid kepada gurunya, masyarakat kepada para pejabat tingginya, dll. Pertanyaannya, sopankah jika anak memanggil bapaknya dengan langsung memanggil namanya tanpa ada penisbatan 'Bapak', 'Ayah', dll.? 

Sopankah jika seorang murid memanggil gurunya dengan langsung menggunakan namanya? Begitu pula masyarakat, sopankah memanggil bapak presiden dengan langsung memanggil namanya dihadapannya?. Jika semua itu terjadi, yakni anak langsung memanggil nama bapaknya dan seterusnya, pastilah semua orang mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak bejat, anak durhaka. Murid yang kurang waras, tak berpendidikan. Masyarakat yang sombong, tidak tau sopan santun, dll.

Dalam kaitannya dengan memanggil beliau Nabi, manusia paling mulia, paling dicintai Allah, paling sempurna segalanya di alam semesta, ingin dikatakan orang seperti apa jika Anda memanggil beliau Nabi dengan langsung menggunakan nama beliau? Kata 'Sayid' adalah kata yang tepat disandangkan oleh beliau Nabi ditilik dari kandungan maknanya secara bahasa. Itulah logikanya sebagai renungan dan resapan

Pertimbangan
Setelah kita mengetahui semua itu, kita kembalikan kepada diri kita masing-masing. Pastaskah kita memanggil beliau Nabi dengan langsung menggunakan nama beliu? Tidak lain bahwa panggilan kita kepada beliau Nabi menggunakan 'Sayidina' adalah sopan santun, adab, tata karma kita kepada beliau. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. berfirman:

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain." (QS. An-Nur [25]: 63).

Ayat ini secara tegas melarang panggilan kita kepada Beliau Nabi dengan langsung menggunakan nama beliau. Ayat ini turun ketika sebagian sahabat memanggil beliau dengan langsung menggunakan nama beliau 'Muhammad', 'Ahmad', dll.

Kita juga diwajibkan memuliakan beliau nabi, seperti halnya firman Allah Swt. Dalam Al-Qur'an,

"Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raf [7]: 157).

Dari semua itu, kita bisa mengatakan bahwa kebiasaan kita memanggil beliau Nabi dengan kata 'Sayidina' adalah dianjurkan sesuai dua ayat terakhir tersebut. Dan kata tersebut juga tidak bid'ah dengan bertendensi dengan Ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits yang sudah disebutkan. Dan panggilan kita menggunakan kata tersebut, tidak mengurangi derajat Nabi seperti perkataan ustadz Kholid dengan memandang dari segi bahasa.

Terakhir, kami memberi nasehat kepada Ust. Kholid Basalamah khususnya, dan orang-orang yang sepaham dengannya bahwa jikalau tidak mengetahui sesuatu, itu adalah bukan suatu dalil bagi kalian untuk menyalahkan orang, membid'ahkan, merasa benar, merasa tidak ada di zaman Rasulullah, dll. Akan tetapi, jika tidak mengetahui, sikap yang paling bijaksana  adalah diam. 'Orang tidak yang paling baik adalah yang menyadari bahwa dirinya tidak tahu'. Semoga kita semua selalu diberi petunjuk oleh Allah Swt. menuju jalan yang lurus, benar, dan diridloi oleh-Nya. Amiin. [dutaislam.com/ ab]

Moeslich El Malibary,
pengajar salah satu pondok di Jateng
dan sekarang sedang memburu Ilmu di Hadramaut, Yaman.
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini