Jumat, 03 Juni 2016

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengharamkan Sedekah Bumi

nyadran adalah
DutaIslam.Com - Pada jaman dahulu, nyadran (upacara membersihkam makam) ada dua macam, yakni nyadran laut dan nyadran bumi. Ada pula haul yang dapat juga disebut nyadran. Ulama dan leluhur pada jaman dahulu satu sisi bermaksud untuk membangun bangsa, menggugah umat dan masyarakat, sebatas mana rasa handarbeni (memiliki) tanah airnya dengan tata cara sedemikian rupa.

Nyadran (sedekah) Laut dapat berupa upacara dengan melarung (menggiring) sesajen ke laut. Leluhur jaman dahulu tidak mengajarkan kita untuk mubadzir. Tradisi ini mendidik masyarakat agar jangan hanya memanen ikan yang ada di laut, namun juga merawat dan memberinya makan (lewat sesajen tadi). 

Sesajen yang di-larung ke laut adalah makanan untuk seluruh pengisi laut, meskipun jumlahnya tidak akan sebanding dengan jumlah penghuni laut, namun ini upaya mendidik. Perkara kepala kerbau kan hanya simbol sejauh mana kita merasa memiliki, merasa mempunyai, dan merasa handarbeni. Inilah maksud pendidikannya.

Nyadran (sedekah) Bumi bermula dari masyarakat yang tidak hanya diajarkan cara mencangkul, menanam sawah, teknik membajak sawah, dan mengolah tanah, namun dididik pula merasa memiliki tanah (bumi) ini, sehingga mampu menghargai apa saja yang keluar dari perut bumi ini; dari mulai pisang yang bagus hingga yang busuk, dan sejauh mana kita handarbeni dan merawatnya. Tidak hanya membajaknya tiap hari, mengolahnya sampai dalam, menanaminya apa saja, namun tanpa merasa bersyukur pada Allah lewat tanah yang dihamparkan kepada mereka.

Lewat kedua nyadran tadi sebenarnya kita dididik mencintai tanah air ini dengan pengemasan yang baik. Namun banyak yang menganggapnya negatif karena tidak mengerti maksud dan tujuan nyadran itu sendiri. Jika dengan adanya nyadran masih banyak yang belum mencintai tanah airnya, maka jangan nyadran yang disalahkan. Ada nyadran saja masih banyak yang belum mencintai negaranya, apalagi tidak ada?

Para ulama masa lampau itu memakai metode-metode seperti ini ketika Indonesia masih dijajah Portugis, Belanda hingga Jepang. Ketika bendera penjajah itu berkibar di tanah air, para sesepuh tidak kehabisan akal untuk memupuk rasa cinta tanah air kepada masyarakat. Dari mulai mengadakan nyadran bumi, nyadran laut, hingga sampai mendirikan rumah saja disisipi pendidikan yang “samar”; Orang jaman dulu jika mendirikan rumah pasti mengundang kiai untuk didoakan, menyediakan janur, beberapa hasil bumi dan bendera merah-putih untuk dipasang terlebih dahulu di blandar (balok kayu yang berfungsi sebagai penyangga tiang utama, dan fungsinya sangat vital dalam pembentuk kontruksi rumah). 

Setelah janur, hasil bumi, dan bendera putih ditancapkan di blandar, baru bangunan rumah lain dipasang, dan selama belum selesai kontruksi rumahnya, maka belum diturunkan sesajen tadi. Di mata penjajah, dikiranya hal ini hanya sekadar ritual, atau syarat mendirikan rumah dalam tradisi Jawa. Tapi bagi penduduk pribumi, tradisi ini adalah upaya mendidik untuk mencintai tanah air. Inilah upaya ulama dan para leluhur untuk memupuk rasa cinta pada tanah air kepada anak-cucu negeri ini. [dutaislam.com/ra)

Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini