Sabtu, 18 Juni 2016

Tidak Setuju Dengan Saya, JIL!

semua agama benar

Oleh KH Yahya Kholil Tsaquf

DutaIslam.Com - Kita hidup dalam kepungan lembaga-lembaga dan label-label. Lembaga-lembaga merantai kita dalam kotak-kotak dan prosedur-prosedur, sedangkan label-label laksana kaca mata kuda yang menjepit kedua pelipis kita hingga gepeng.

Ketika Ulil (Abshar Abdalla) hendak membentuk JIL (Jaringan Islam Liberal), Gus Dur menasehati,
"Pakai label itu lebih banyak rugi ketimbang untung", kata beliau, "label cenderung mengundang serangan".

Ulil tetap membentuk JIL. Dan nyaris serta-merta ia menjadi sasaran tembak bagi siapa saja yang mencurigai Yahudi, Israel dan Amerika. Tak seorang pun cukup sabar untuk memperhatikan gagasan-gagasan Ulil beserta argumentasi dan khazanah pengetahuan yang diusungnya. Orang hanya bernafsu mengincar label JIL yang ditempel di jidatnya!

Pada gilirannya, semua yang anti-Yahudi jadi anti-JIL. Kemudian yang tidak setuju dengan pendapat-pendapat Ulil jadi anti-JIL. Bahkan di kalangan NU, "tanah tumpah-darah"-nya Ulil sendiri, berkembang pula gairah anti-JIL, gara-gara Ulil meneriakkan: "Semua agama sama"!

Pada tahap berikutnya, kesalahpahaman, kebencian dan syak wasangka mengeruntel di benak orang-orang yang memang sempit ruang-pikirnya sehingga kaburlah beda antara JIL, Ulil, pluralisme, pembaruan, Yahudi, humanisme, dan segala yang tidak cocok dengan kegalakan "agamis". 

Maka, JIL menjadi hantu sapu jagad. Nyaris mirip PKI dulu. Barangsiapa menyuarakan feminisme atau multikulturalisme atau pluralisme, dicap JIL –tidak kurang dari MUI (Majlis Ulama Indonesia) merasa perlu mengeluarkan fatwa haram khusus berkaitan dengan ini! Yang membela hak-hak minoritas (khususnya Ahmadiyah): JIL. Yang menjalin kerja sama dengan Amerika: JIL. JIL kemudian menjadi "alat kampanye" yang amat efektif bagi tiran-tiran kecil disekitar kita, yaitu dengan agitasi mereka: "Barangsiapa tidak setuju dengan saya: JIL!"

Belakangan –saya kuatir– "logika bersih lingkungan" mulai diterapkan. Konon Kiyai Najih Maimun menyusun suatu daftar hitam eksponen JIL yang harus diwaspadai, dan di urutan nomor satu ia tempatkan: Kiyai Mustofa Bisri! Karena Gus Mus mertuanya Ulil? Itulah afat nya label.

Akan halnya lembaga-lembaga, tak kurang pula teganya menindas kita. Lembaga membawa klaim yang dijadikan senjata untuk menodong dan menuntut kepatuhan kita, yaitu "kehendak kolektif yang mapan". Kita harus patuh atau kita menjadi musuh bersama. Pada tingkat lanjutnya, lembaga-lembaga bahkan mengangkangi klaim kebenaran!

Mengapa orang-orang tertentu harus duduk dideretan terdepan walaupun datang terlambat sedangkan yang lain di belakang walaupun datang lebih awal? Mengapa harus memakai model pakaian tertentu untuk datang ke suatu tempat atau acara tertentu? 

Dulu, Gus Dur menuai hujan kecaman hanya karena menjadi Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). "Kiyai kok jadi juri kethoprak!" kata orang.

Sementara itu, penerbitan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) atas sejumlah koruptor dinyatakan benar karena "sudah sesuai prosedur". [dutaislam.com/ ab]

Keterangan: Judul awal "Jernih dan Merdeka" .
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini