Rabu, 01 Juni 2016

Tasawuf Itu Lampu, Thariqah Cahaya Listrik

puang makka makassar di universitas jember

DutaIslam.Com – Membedakan tasawuf dengan tarekat, lalu memilih bertasawuf tanpa tarekat (tasawuf yes tarekat no) adalah kesalahpahaman yang harus diluruskan. Jika tasawuf adalah akhlak yang masih bisa diikuti oleh logika, maka tarekat sesungguhnya adalah energi tauhid yang lahir dari intensitas dzikir dan syahadat kepada Allah terus menerus. Tarekat adalah tauhid.

Nikah harus ada akad karena ia adalah energi kasih sayang dalam hubungan rumah tangga. Energi itu menerangi pasangan suami istri untuk teguh menjalani bahteranya. Nikah adalah akhlaq (tasawuf), akad adalah energi (tarekat). Tasawuf ibarat lampu. Tapi kalau tidak ada listriknya, tidak akan ada cahaya. Cahaya itulah yang ditamsilkan sebagai tarekat.

Keterangan di atas mengemuka dalam Dialog Tarekat bersama Habib A Rahim Puang Makka yang diadakan pada malam sebelum “Workshop Penyusunan Buku Perkuliahan Pendidikan Islam dalam Hubungan Dengan Nilai-Nilai Luhur Pancasila” di aula Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ), Ahad (28/05/2016).

Hadir sebagai pendamping Puang Makka, Dekan Fakultas Hukum UNEJ, Dr. Nurul Ghufron dan Ketua Umum Pengurus Pusat Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Matan), Dr. Hamdani Muin.  

Menurut Puang Makka, panggilan Habib A Rahim, tidak ada yang menakutkan masuk tarekat. Tarekat hanya media penajam energi akad dua syahadat yang menyambung tanpa putus dari Rasulullah. Selain itu, biasa saja.

Yang seringkali sulit disikapi, lanjutnya, adalah ketika ketentuan hati pengamal tarekat bertentangan dengan logika. “Pikiran itu keraguan yang bisa mematikan hati padahal hati adalah keyakinan,” ujar Rais Majlis Ifta’ Idaroh Wustha Jamiyyah Ahluth Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah wilayah Sulawesi Selatan itu.

Itulah sebabnya, dalam kepemimpinan tarekat tidak mutlak dibenarkan adanya dialog dan musyawarah yang memungkinkan terjadinya tarikan kepentingan dan modal. Seorang mursyid (pemimpin) tarekat harus memiliki mesin logika (ilman) dan mesin hati (hikman) menghadapi banyak masalah. Ia harus optimal menggunakan keduanya. “Inilah yang membuat letih kepemimpinan seorang mursyid,” tandas Puang Makka yang pernah jadi anggota DPRD Makassar 1999-2004 itu.

Jika pemimpin formal semacam presiden diangkat berdasarkan legalitas dan SK jabatan, maka dalam tarekat, masyarakatlah yang mengakuinya. Untuk mencapai itu, butuh ketajaman hati dan dzauq yang harus terus diasah sehingga menjadi sifat baik dan akhlaq. 

“Mursyid itu tidak terikat dengan perjanjian kelompok yang bisa mengandung syubhat kepentingan yang lalim berdasarkan logika saja. Wibawanya pun berdasar cerminan akhlaqnya,” tuturnya kepada puluhan peserta dialog. [dutaislam.com/ m abdullah badri]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini