Kamis, 30 Juni 2016

Suluk Lingkungan Dalam Buku Islam Geger Kendeng


Oleh Salamah 'Ashima Rahma Al Maula

DutaIslam.Com - Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata. Selama mensyiarkan aktifitas bulan ramadlan yang penuh berkah ini, ternyata Pesantren As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang Jawa Tengah, tidak hanya mengkaji kitab kuning (Sullam Taufiq dan Usyfuriyah), namun juga mengkhatamkan karya ilmiah: Islam Geger Kendeng Dalam Konflik Ekologis dan Rekonsiliasi Akar Rumput, 420 halaman. 

Pesantren ini diasuh oleh Kang Ubaid, panggilan Kiai Ubaidillah Achmad yang selama ini dikenal sebagai aktivis dan dosen UIN Walisongo yang peduli terhadap lingkungan lestari. Beliau ini yang menulis buku ini.

Secara ringkas buku ini menjelaskan, bahwa manusia bertanggung jawab untuk dapat menjaga relasi suci kosmologis, berupa relasi antara Allah, manusia, dan alam. Mengapa menjadi tugas manusia, karena alam semesta yang diciptakan Allah ini, telah menjadi amanah manusia. Karenanya, jika terjadi kerusakan pada alam, maka tidak terlepas dari kerusakan hati dan jiwa manusia yang membiarkan dirinya mengikuti nafsu serakah dan hedonisme.

Yang menarik dari buku ini adalah adanya pembahasan mengenai antropik kosmologis yang merujuk dari para ulama. Para ulama, seperti Imam Ghazali, Imam Ibn Arabi, dan Ibn Khaldun, telah mengajarkan bahwa manusia dan kesemestaan memiliki relasi timbal balik yang integral: apa-apa yang terjadi pada manusia akan memantul pada kesemestaan. 

Tak mengherankan jika jalan suluk Imam Al Ghazali selalu mengarahkan salik untuk membersihkan jiwanya dari hasrat keduniawian yang melampaui batas terhadap lingkungan agar menjadi pribadi ramah lingkungan.

Jalan suluk lingkungan Imam Al Ghazali ini akan menentukan keberhasilan transformasi diri seseorang. Karena itu, para nabi dan para penerus jejak kenabian sesunggunnya juga menjalankan dan mengajarkan "suluk lingkungan"---proses pembersihan jiwa yang bisa berdampak pada pencerahan kesadaran akan pentingnya kelestarian dan pemulihan alam, serta harmoni antara manusia dan lingkungan kesemestaannya.

Sebagaimana pertanyaan yang ditegaskan pada sinopsis buku ini, bagaimanakah wujud gerakan suluk lingkungan itu? Buku ini menjelaskan tentang paradigma Islam dan lingkungan, bagaimana manusia melaksanakan suluk lingkungan dan mempertanankan kelestarian lingkunga  berdasarkan teks kewahyuan dan pengalaman spiritual para nabi dan penerus jejak kenabian. 

Dalam buku ini, penulis juga memaparkan prinsip kewahyuan dan filosofis kelestarian lingkungan berdasarkan spiritualitas islam  dan realitas kebutuhan individu dan masyarakat terhadap lingkungan kesemestaan.

Selain itu, penulis juga memaparkan pengalaman pendampingannya di tengah masyarakat ring pertama Pegunungan Kendeng versus industri pertambangan semen. Dalam konteks ini, penulis berhasil merefleksikan model pendampingan yang didasarkan pada harmoni manusia dan lingkungan kesemestaannya dalam perspektif agama dan budaya masyarakat.

Bagaimana relasi buku ini dengan pendidilan? Dalam buku ini dapat dikatakan sudah seharusnya dalam pendidikan Islam menguatkan peran relasi suci kosmologis, antara Tuhan, manusia, kealaman. Jika relasi ini tercerabut dari paradigma pendidikan Islam, maka pendidikan Islam akan terputus dari elan vital hakikat keberadaan hidup manusia di dunia. Simpulan dari buku ini, secara akademis membuka diri kepada kepada pembaca untuk mengkritisi, mendukung, dan menolaknya. 

Kritik yang menarik dalam buku ini, berupa pendidikan Islam masih berhenti pada pendidikan akhlak yang terbatas pada relasi antara manusia pada manusia dan manusia pada Allah. Bahkan, masih banyak pendidikan Islam yang membahas seputar penguatan pada makna relasi antara manusia dan Tuhan. 

Dalam konteks relasi ini masih mengabaikan eksistensi diri manusia dalam bentuk keseimbangan unsur diri manusia, seperti: ruh, qalb, nafs, dan jasad. Kelemahan buku ini, mengulang berita langsung yang bersumber dari media cetak. [dutaislam.com/ ab]

Salamah 'Ashima Rahma Al Maula, siswi Madrasah Bertaraf Internasional, 
Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Surabaya Jawa Timur.
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini