Kamis, 16 Juni 2016

Mengapa Harus Imsak Sebelum Adzan Subuh?


Oleh Ustadz Deden Muhammad Makhyaruddin

DutaIslam.Com - Kemarin saya mendapat kiriman video yang berisi ceramah seorang ustadz "berjenggot" yang menganggap keliru memulai Imsak sebelum Shubuh. Yakni, menurutnya, bahwa, dalam kitab ulama manapun, yang disebut Imsak adalah Shubuh. Karena Imsak adalah memulai puasa, dan puasa dimulai dari Shubuh. Analisanya, menurut saya, cukup keren.

Yang dikemukakan ustadz tersebut benar. Yakni, puasa dimulai dari Subuh. Tapi, permasalahannya, bagaimana caranya kita mengetahui Fajar Shadiq sudah terbit sebagai tanda waktu Shubuh? Maka ditemukan Ilmu Falak sebagai jawabannya. Pada zaman Nabi memang tidak perlu Ilmu Falak, karena beliau tahu persis kapan Fajar Shadiq terbit. 

Bahkan, pada zaman para sahabat, belum perlu Ilmu Falak, karena indera mereka sangat tajam dalam membaca tanda-tanda alam, dan, alam, pada masa mereka, belum berevolusi seperti sekarang. Tapi, sekarang, Tanpa Ilmu Falak, mengetahui waktu shalat sangat sulit dan menyulitkan, karena harus rutin melakukan pengamatan setiap hendak shalat.

Saya tidak akan membahas detail Ilmu Falak seputar waktu shalat di sini. Karena memang bukan ahlinya, meski pernah belajar sebentar. Hehe.... 

Begini. Waktu shalat yang dihasilkan dari pengamatan, penghitungan, dan pengukuran Ilmu Falak rentan meleset. Karena, walau bagaimanapun, Ilmu Falak adalah buatan manusia yang, meski benar berdasarkan perhitungan, tetap, tidak luput dari kekeliruan. Baik keliru teorinya, alatnya, atau yang mengukurnya. 

Oleh karenanya, hasil penghitungan tersebut harus ditambah dengan waktu ihtiyath (antisipatif). Para ulama Falak berbeda dalam menentukan berapa menit waktu antisipatif tersebut. Ada yang 2 menit, 3 menit, 4, menit, dan 5 menit. Hal ini dipicu di antaranya oleh kota tempat pengukuran dilakukan, dan agar mencakup kota-kota di sekitarnya, juga jangkauan kalender dan jadwal waktu shalat yang dibuat rata-rata dibuat untuk 1 tahun.

Untuk lebih aman, waktu antisipatif diambil maksimal, yaitu 5 menit sebagaimana yang lazim diterapkan di pesantren-pesantren falak tradisional. Yakni, kalau hasil penghitungan Falak tersebut Waktu Shubuh jatuh pada jam 04.00 (jam empat nol-nol), maka jadwal waktu Subuh dibuat jam 04.05 (jam empat lewat 5 menit). 

Nah, sekarang kita tahu, jika kita punya jadwal shalat buatan instansi terkait, maka jadwal shalat yang tertulis di sana sadalah waktu shalat yang sudah ditambah 5 menit. Hingga, dengan penambahan tesebut, waktu shalat yang dibuat sudah benar-benar masuk.

Ketika masuk ke Bab Puasa, penambahan 5 menit menjadi masalah kalau patakokan imsak-nya waktu Subuh, karena, bisa jadi, Subuh sudah masuk 5 menit sebelumnya. Oleh karenanya, harus dibuat waktu antisipatif untuk Imsak. Paling tidak, imsak harus dimulai 5 menit sebelum Subuh sesuai hasil penghitungan sebelum ditambah 5 menit waktu antisipatif. 

Tapi, agar lebih yakin, bahwa seluruh puasa kita, atau imsak kita, jatuh di seluruh siang, tidak kurang sedikit pun, maka, waktu antisipatif untuk imsak dimundurkan 5 menit lagi dari hasil penghitungan Falak. Karena Waktu hasil penghitungan Falak, selain berpotensi waktu belum masuk, juga berpotensi sudah masuk lebih dahulu.

Kembali ke contoh di atas, jika penghitungan Falak menghasilkan kesimpulan Subuh jatuh pada jam 04.00, maka ismak dimulai 5 menit sebelumnya, yaitu jam 03:55 (jam empat kurang 5 menit), sebagaimana adzan Subuh dimulai 5 menit setelahnya, yaitu jam 04:05 (jam 4 lebih 5 menit). 

Oleh karenanya, jarak waktu antara Subuh dan imsak adalah 10 menit, yaitu hasil penambahan 5 menit waktu antisipatif Subuh dengan 5 menit waktu antisipatif imsak.

Sang ustadz yang ceramah di video tersebut rupanya menetukan waktu shalat bukan dengan Ilmu Falak. Demikian. Wallahu A'lam [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini