Sabtu, 11 Juni 2016

Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik

misionaris kristen jogjakarta

Oleh Amien Rosyid Al-Jawi

Bismillahirrahmanirrahim…
Niat ingsun, lillahi ta’ala untuk keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan.

DutaIslam.Com - Saya telah tuntas membaca buku Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, khasebul, dan Kerja Misi, karya teman seperguruan, Mbakyu Bray Sri Paweling. Isi di dalamnya sungguh mendebarkan, dan saya 101 persen membenarkan analisis Mbakyu Weling—panggilan akrab Bray Sri Paweling.

Saya juga mengikuti tanggapan dan respons dari sejumlah kalangan, termasuk resensi yang digubah oleh penulis anonim, Khasebul Katolik dan Runtuhnya Islam-Tradisi Jawa dan tanggapan dari seorang bernama Natalius Pigai, Benarkah Pater Beek, CSIS, dan Misi Katolik Merusak Budaya Jawa dan Kesultanan.

Tentang tulisan pertama dari penulis anonim, saya tidak punya komentar, karena 99% sejalan dengan ide dalam buku Mbakyu Weling, sedangkan untuk tulisan kedua, ada beberapa catatan yang ingin saya jelaskan di sini.

Pertama, Natalius sepertinya ahistoris dan salah duga, yang menyebutkan seolah-olah penulis resensi buku Mbakyu Weling adalah Dr. Syaganda Nainggolan, padahal bukan, sebagaimana telah saya konfirmasi langsung kepada teman-teman paguyuban Islam Jawa. Kesalahan Natalius ini sebenarnya remeh, tapi cukup mengganggu konsentrasi dengan tiba-tiba menyebut Syaganda. Mungkin, Natalius membaca resensi buku yang penulisnya anonim itu karena diposting oleh saudara Syaganda, sehingga menduga kalau penulisnya adalah si pemosting.

Kedua, tulisan Natalius sama sekali tidak menyinggung pada pokok pikiran yang ada dalam resensi buku maupun bukunya langsung, sebab saya yakin, ia belum membaca dan memilikinya. Jadi wajar kalau tulisannya terasa hambar, seperti tubuh tak bertulang. Tetapi, Natalius justru mengafirmasi berdasarkan analisa historis yang ia kemukakan, bahwa memang telah terjadi konspirasi sejak tahun 1960-an yang dilakukan oleh Pater Beek, CSIS, dan Khasebul untuk kerja-kerja misi.

Pengakuan Natalius tersebut semakin menguatkan data-data yang terhampar detail dalam buku Mbakyu Weling. Dan yang lebih utama, afirmasi Natalius semakin meyakinkakan kami bahwa Khasebul alias fundamentalisme Katolik itu bukanlah hantu atau fiktif, tetapi berwujud nyata dan telah berhasil melakukan banyak agenda gerakan misi “Katolikisasi”.

Ketiga, Natalius berlindung di balik sejarah tentang akulturasi budaya Jawa Keraton dengan ajaran Katolik, yang menurutnya telah berlangsung lama sejak pra-kemerdekaan RI, bahkan konon era Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921). Argumen ini sepintas benar, tetapi justru merunyamkan masalah.

Natalius tidak jeli dan abai bahwa sejak Amangkurat IV (1719-1724) merupakan orang pertama menggunakan gelar khalifatullah, yang menegaskan perubahan konsep lama raja Jawa, dari perwujudan dewa menjadi wakil Allah di dunia. Dan ini jelas dan nyata pengaruh Islam sangat kuat serta formal, sebagaimana terlihat dalam gelar Sultan: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama Kalifatullah.

Tentang Sultan Hamengkubuwono VII yang disebutkan sangat toleran dan mengizinkan penyebaran agama Katolik di bumi Jogja itu adalah keniscayaan sebagai konsekuensi dari gelar Abdur Rahman Sayyidin Panatagama, yang berarti Sultan dianggap sebagai penata, pemuka dan pelindung agama, dan khalifatullah sebagai wakil Allah di muka bumi.

Tetapi yang terjadi hari ini, atau tepatnya sejak 2005 pasca-Sabdaraja, gelar yang menunjukkan simbol Islam itu telah dihapus atas inisiatif lingkaran Khasebul, seperti tertuang tegas dalam buku Mbakyu Weling, berdasarkan pengakuan langsung dari informan internal Keraton dan orang-orang Khasebul.

Pada akhirnya, saya memaklumi, Natalius yang berada di Jakarta tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jogja. Kami yang berada di sekitar Keraton, dan bahkan di bilik cagaknya, bukan hanya suara jangkring yang terdengar, tapi juga rencana busuk Khasebul fundamentalisme Katolik lewat lingkaran orang-orang dekat Sultan.

Apa perlu kami ceritakan pula bagaimana Kristenisasi itu berlangsung kejam sejak era kolonialisme Belanda lewat Fransiscus Georgius Josephus van Lith—yang oleh Natalius disebut sebagai misionaris Belanda yang berkarya di Jawa—berhasil merekrut secara massal anak-anak muslim yang kala itu sekolah, sampai-sampai Karel Steenbrink mencatat, bahwa anak laki-laki yang masuk sekolah Katolik adalah semuanya muslim dan semuanya tamat sebagai orang Katolik. Korban utama dari Kristenisasi generasi awal dari kalangan pribumi ini adalah Soegijapranata, atau dikenal sebagai Romo Sogieja, yang tak lain adalah cucu dari seorang kiai di Jogja.

Atau apa perlu juga kami update berita tentang bagaimana Kristenisasi itu masih terus berlangsung sampai hari ini, di sekitaran Merapi-Merbabu, Kulonprogo, dan Gunungkidul, atau dari arah Muntilan-Magelang? Kami tahu semua, dan sengaja memilih diam dengan paling hanya melakukan peneguran secara kekeluargaan. Kami sadar, bahwa fundamentalisme Katolik melakukan kerja misi dengan cara memanfaatkan jargon Jogja city of tolerance.

Tetapi apa terus kami akan diam? Tidak! Di balik layar, kami akan bergerilya dan membangunkan semua jaringan untuk membentengi akidah umat Islam. Sedangkan di muka layar, atas nama toleransi, kami orang Jogja, juga siap menyambut rencana kunjungan Paus Fransiskus, pimpinan tertinggi umat Katolik, yang dijadwalkan tahun 2017 akan melewati karpet merah-darah Keraton Yogyakarta.

Suatu saat nanti, mungkin kami perlu membangunkan kembali dan menjalin kerjasama dengan ormas-ormas Islam yang sejak awal kontra-Kristenisasi, dari yang moderat sampai garis keras. Dan kepada kelompok Khasebul, teruslah berkelit atas fenomena ini, karena dengan cara itu kami bisa bangkit, amunisi data masih menumpuk, untuk sekadar berkampanye buruk rupa umat Katolik, agar tercipta kesadaran “Katolikfobia” di Indonesia. [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini