Jumat, 03 Juni 2016

Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri

ketua matan sulawesi selatan
Dari kiri: Dr. Mahmud Suyuti, Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Abdurrahim Puang Makka
Foto: dutaislam.com/facebook
DutaIslam.Com – Dalam dialog Keaswajaan di aula Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ) pada Ahad (28/05/2016), ketua Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Matan) Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Mahmud Suyuti bertubi-tubi menyindir kaum wahabi yang suka mendewakan simbol daripada substansi dalam cara beragama mereka.

Suyuti membagi jenggot jadi 3 macam, yakni jenggot biologis, aksesoris dan teroris. Disebut jenggot biologis karena tumbuh sendiri. Inilah yang menurutnya bukan sunnah qauli (ucapan Nabi) dan bukan juga sunnah taqriri (berdasarkan ketetapan Nabi), melainkan “tumbuh sendiri”.

Sindiran ala canda Dr. Mahmud Suyuti itu juga dilanjutkan kritik kepada kaum wahabi yang melarang mencium tangan dengan alasan bid’ah. Padahal, menurutnya, mereka juga melakukan bid’ah lain seperti cium pipi kanan dan cium pipi kiri (cipika-cipiki).

Cadar juga tidak luput dari kritiknya. Menurut doktor hadits yang hafal Kitab Shahih Bukhari ini, pengguna cadar tidak punya kesempatan melakukan sunnah Nabi seperti dalam hadits tabassumuka li akhika shadaqoh/ seyummmu kepada saudaramu itu sedekah. “Bagaimana mau tersenyum kalau hanya mata yang kelihatan,” tegasnya.  

Intinya, wahabi itu inginnnya semua dipertentangkan. Seolah-olah yang dilakukan oleh liyan harus sesuai kehendaknya. Orang lain disalahkan hanya karena hadits-hadits yang dikutip tidak utuh. Misalnya soal membaca basmalah di awal membaca Al-Fatihah dalam shalat. Hadits yang mereka ambil tidak dilengkapi asbabul wurud dan hadits-hadits lain.

“Anas mendengar basmalah secara terang karena dia sahabat paling tepat waktu shalat berjama’ah bersama Nabi. Aisyah mendengar secara sirr (kurang jelas) karena posisinya saat berjama’ah dengan Nabi berada di belakang jauh. Sementara Ukays tidak mendengar karena sering telat jama'ah. Hadits yang telat jama’ah inilah yang diambil buat dalil,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin.


Karena sibuk mempertentangkan yang tidak substansial itu, ketika shalat, orang-orang wahabi lebih suka “menata kaki” daripada menata niat. Mereka merapatkan kaki, mengganggu niat orang shalat orang lain di sampingnya yang sedang menata niat.

Agar shalatnya dianggap rajin, jidat mereka harus hitam. Dalihnya mengikuti jidat para sahabat Nabi. Padahal, menurutnya, jidat hitam pada zaman Nabi itu terjadi karena dulu lantai masjid tidak ada yang pakai karpet dan keramik. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini