Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Zakat Fitrah Itu 3 Kg, Bukan 2,5 Kg

    Admin: Duta Islam → Kamis, 30 Juni 2016

    DutaIslam.Com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim meminta pemerintah untuk memberikan imbauan bagi masyarakat agar memberlakukan zakat fitrah sebesar 3 kg. Ini artinya, lebih besar 0,5 kg dibandingkan zakat fitrah yang biasanya hanya sebanyak 2,5 kg.

    "Kami menyarankan umat muslim untuk mengelurkan zakat fitrah sebesar 3 kg. Imbauan ini sebenarnya sudah dikeluarkan MUI sejak beberapa tahun lalu, namun sampai saat ini belum tersampaikan secara menyeluruh pada masyarakat," kata Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim KH Abdurahman Nafis ketika ditemui di kantor PWNU Jatim, Senin (16/8).

    Menurut Nafis, MUI akan memberikan selebaran imbauan pada organisasi masyarakat Islam dan masyarakat tentang besaran zakat fitrah tersebut. Dengan ini diharapkan keraguan tentang keabsahan zakat keluar dari perdebatan yang terjadi.

    Pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, katanya, besaran zakat ditentukan dengan satu sha atau empat mud (satuan ukuran). Pada saat ini, setelah dialihkan dari mud menjadi kilogram (kg), maka terjadi perselisian penentuan besarnya satu mud menjadi ons.

    "Ada ulama yang menyatakan satu mud adalah 6 ons, sehingga dikali empat menjadi 2,4 kg. Ada juga yang menyatakan satu mud 6,5 ons, bila dikalikan empat menjadi 2,6 kg. Dan ada juga yang menyatakan satu mud 7 ons bila dikalikan empat menjadi 2,8 kg," ujarnya.

    Dia menambahkan, perbedaan pendapat mengakibatkan terjadi perdebatan. Untuk itu, ulama mengimbau untuk mengelurkan zakat 3 kg, dengan harapan keluar dari perdebatan tersebut. "Apabila berzakat menggunakan ukuran 3 kg, maka apabila ada kelebihan dianggap untuk sodaqoh pada kaum dhuafa. Sebab, lebih baik lebih saat memberi daripada kurang apalagi ukurannya tidak pas," tegasnya.

    Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dikeluarkan umat muslim untuk menyempurnakan ibadah puasanya. Zakat fitrah ini adalah zakat perseorangan, sehingga biaya yang dikeluarkan orang itu merupakan pengeluaran biaya pribadinya. Sehingga, tidak diperlukan laporan atas pengeluaran zakat fitrah [dutaislam.com/ ab]

    Source: NU Online
  • Dalil Ucapan Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Seolah menjadi suratan atas lahirnya kelompok Salafi-Wahabi yang selalu menyalahkan, membidahkan dan sebagainya. Kali ini mereka menyoal ucapan di hari raya yang berlaku di negeri kita. Benarkah salah? Tidak benar. Menurut ulama Salafi Syaikh Utsaimin dapat disimpulkan bahwa ucapan yang berlaku di masyarakat Muslim tidaklah salah, karena tidak ada ketentuan khusus dalam mengucapkan selamat di hari raya:

    وسئـل الشيخ ابن عثيمين : ما حكـم التهنئة بالعيد ؟ وهل لها صيغة معينة ؟ فأجاب : "التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً" اهـ

    Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum ucapan selamat di hari raya, apakah ada redaksi khusus? Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab: Ucapan selamat di hari raya adalah boleh. Tidak ada bentuk ucapan secara khusus. Bahkan apa yang menjadi kebiasaan masyarakat adalah boleh, selama tidak mengandung dosa"

    Apakah ucapan "Maaf Lahir Batin" berdosa Syaikh?

     سئل فضيلة الشيخ : عن عبارة " كل عام وأنتم بخير " ؟ فأجاب بقوله : قول : " كل عام وأنتم بخير " جائز إذا قصد به الدعاء بالخير . مجموع فتاوى ورسائل العثيمين - (3 / 125)

    Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang redaksi ucapan selamat "Semoga setiap tahun Anda dalam kebaikan"? Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab BOLEH jika ditujukan untuk doa kebaikan (Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 3/125)

    Jika ulama Salafi di Saudi membolehkan, mengapa muridnya di Indonesia melarang?

    Ma'ruf Khozin, anggota Aswaja NU Center Jatim 
    (Nahdliyin mengamalkan, dalilnya kami sampaikan)
  • Awas, Meletakkan Al-Qur'an di Lantai Bisa Murtad

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus

    DutaIslam.Com - Al-Quran adalah Kalamullah, maka setiap mukmin wajib memuliakan Kalamullah. Allah Ta'ala mewahyukan: "Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. al-Hajj, 22:32).

    Dan juga pada ayat "Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. al-Waqia'ah, 56:77-79).

    Memuliakan dan mengagungkan Mushaf Al-Quran merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan sekaligus bukti keimanan dan ketakwaan seseorang. Oleh karena itu, kita wajib memperlakukan Mushaf Al-Quran dengan penuh adab, sopan santun yang tinggi.

    Dan hendaknya kita juga mendidik anak-anak kita agar tidak meletakkan AlQuran secara langsung di lantai tanpa alas apa pun yang mengangkatnya agak tinggi dari atas lantai. Karena, barang siapa meletakkan Mushaf secara langsung di lantai dengan niat untuk menghinakannya, maka dia menjadi murtad dan kufur, keluar dari Islam, semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan semacam ini.

    Dan jika seseorang meletakkan Mushaf Al-Quran di lantai secara langsung tanpa niat menghinakan Al-Quran, kendati tidak menjadi murtad, akan tetapi ia sangat tidak beradab kepada Al-Qur'an, telah memperlakukan Kitabullah dengan sangat buruk. (Diasarikan dari Fatwa Habib Umar bin Hafidz).

    Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi dalam kitab Tuhfatul Habib menyatakan:

    وَ يَحْرُمُ وَضْعُ الْمُصْحَفِ عَلَى اْلأَرْضِ بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ رَفْعِهِ عُرْفاً وَلَوْ قَلِيْلاً

    "Haram hukumnya meletakkan mushaf di lantai, harusnya mushaf tersebut harus diangkat, meskipun hanya sedikit."


    Rasulullah saw tidak pernah meletakkan lembaran-lembaran mushaf di lantai, bahkan ketika sejumlah Yahudi memberikan kepada beliau kitab Taurat, Rasulullah saw meletakkan Taurat tersebut di atas bantal.

    أَتَى نَفْرٌ مِنْ يَهُودَ فَدَعُوا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلّم إلَى الْقُفِّ، فأتَاهُمْ في بَيْتِ المِدْرَاسِ، فقالُوا: يَا أبَا الْقَاسِمِ إنَّ رَجُلاً مِنَّا زَنَى بامْرَأَةٍ فاحْكُمْ بَيْنَهُمْ، فَوَضَعُوا لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلّم وِسَادَةً فَجَلَسَ عَلَيْهَا ثُمَّ قالَ: ائْتُونِي بالتَّوْرَاةِ، فأُتِيَ بِهَا، فَنَزَعَ الْوِسَادَةَ مِنْ تَحْتِهِ وَوَضَعَ التَّوْرَاةَ عَلَيْهَا وقالَ: آمَنْتُ بِكَ وَبِمَنْ أنْزَلَكَ.....

    "Beberapa orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah saw untuk hadir ke Quff (tempat dekat Madinah), lalu beliau mendatangi mereka di tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengaji. Mereka berkata, "Wahai Abul Qasim, seorang laki-laki di antara kami berzina dengan seorang wanita, maka tetapkanlah hukum bagi mereka." Mereka lantas memberi bantal Rasulullah saw untuk digunakan duduk, beliau pun duduk. Kemudian beliau minta diambilkan Taurat, naskah Taurat itu lalu diberikan kepada beliau. Beliau menarik bantal yang didudukinya dan meletakkan Taurat tersebut di atasnya seraya bersabda: "Aku beriman kepadamu dan kepada Dzat Yang menurunkanmu....." (Sunan Abu Dawud, no.4443)

    Hadits di atas secara jelas memperlihatkan bagaimana Rasulullah saw memperlakukan kitab Taurat yang telah diubah oleh orang Yahudi tersebut di atas bantal, tentunya Al-Qur'an lebih utama untuk diperlakukan seperti itu. [dutaislam.com/ ab]

  • Suluk Lingkungan Dalam Buku Islam Geger Kendeng

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Salamah 'Ashima Rahma Al Maula

    DutaIslam.Com - Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata. Selama mensyiarkan aktifitas bulan ramadlan yang penuh berkah ini, ternyata Pesantren As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang Jawa Tengah, tidak hanya mengkaji kitab kuning (Sullam Taufiq dan Usyfuriyah), namun juga mengkhatamkan karya ilmiah: Islam Geger Kendeng Dalam Konflik Ekologis dan Rekonsiliasi Akar Rumput, 420 halaman. 

    Pesantren ini diasuh oleh Kang Ubaid, panggilan Kiai Ubaidillah Achmad yang selama ini dikenal sebagai aktivis dan dosen UIN Walisongo yang peduli terhadap lingkungan lestari. Beliau ini yang menulis buku ini.

    Secara ringkas buku ini menjelaskan, bahwa manusia bertanggung jawab untuk dapat menjaga relasi suci kosmologis, berupa relasi antara Allah, manusia, dan alam. Mengapa menjadi tugas manusia, karena alam semesta yang diciptakan Allah ini, telah menjadi amanah manusia. Karenanya, jika terjadi kerusakan pada alam, maka tidak terlepas dari kerusakan hati dan jiwa manusia yang membiarkan dirinya mengikuti nafsu serakah dan hedonisme.

    Yang menarik dari buku ini adalah adanya pembahasan mengenai antropik kosmologis yang merujuk dari para ulama. Para ulama, seperti Imam Ghazali, Imam Ibn Arabi, dan Ibn Khaldun, telah mengajarkan bahwa manusia dan kesemestaan memiliki relasi timbal balik yang integral: apa-apa yang terjadi pada manusia akan memantul pada kesemestaan. 

    Tak mengherankan jika jalan suluk Imam Al Ghazali selalu mengarahkan salik untuk membersihkan jiwanya dari hasrat keduniawian yang melampaui batas terhadap lingkungan agar menjadi pribadi ramah lingkungan.

    Jalan suluk lingkungan Imam Al Ghazali ini akan menentukan keberhasilan transformasi diri seseorang. Karena itu, para nabi dan para penerus jejak kenabian sesunggunnya juga menjalankan dan mengajarkan "suluk lingkungan"---proses pembersihan jiwa yang bisa berdampak pada pencerahan kesadaran akan pentingnya kelestarian dan pemulihan alam, serta harmoni antara manusia dan lingkungan kesemestaannya.

    Sebagaimana pertanyaan yang ditegaskan pada sinopsis buku ini, bagaimanakah wujud gerakan suluk lingkungan itu? Buku ini menjelaskan tentang paradigma Islam dan lingkungan, bagaimana manusia melaksanakan suluk lingkungan dan mempertanankan kelestarian lingkunga  berdasarkan teks kewahyuan dan pengalaman spiritual para nabi dan penerus jejak kenabian. 

    Dalam buku ini, penulis juga memaparkan prinsip kewahyuan dan filosofis kelestarian lingkungan berdasarkan spiritualitas islam  dan realitas kebutuhan individu dan masyarakat terhadap lingkungan kesemestaan.

    Selain itu, penulis juga memaparkan pengalaman pendampingannya di tengah masyarakat ring pertama Pegunungan Kendeng versus industri pertambangan semen. Dalam konteks ini, penulis berhasil merefleksikan model pendampingan yang didasarkan pada harmoni manusia dan lingkungan kesemestaannya dalam perspektif agama dan budaya masyarakat.

    Bagaimana relasi buku ini dengan pendidilan? Dalam buku ini dapat dikatakan sudah seharusnya dalam pendidikan Islam menguatkan peran relasi suci kosmologis, antara Tuhan, manusia, kealaman. Jika relasi ini tercerabut dari paradigma pendidikan Islam, maka pendidikan Islam akan terputus dari elan vital hakikat keberadaan hidup manusia di dunia. Simpulan dari buku ini, secara akademis membuka diri kepada kepada pembaca untuk mengkritisi, mendukung, dan menolaknya. 

    Kritik yang menarik dalam buku ini, berupa pendidikan Islam masih berhenti pada pendidikan akhlak yang terbatas pada relasi antara manusia pada manusia dan manusia pada Allah. Bahkan, masih banyak pendidikan Islam yang membahas seputar penguatan pada makna relasi antara manusia dan Tuhan. 

    Dalam konteks relasi ini masih mengabaikan eksistensi diri manusia dalam bentuk keseimbangan unsur diri manusia, seperti: ruh, qalb, nafs, dan jasad. Kelemahan buku ini, mengulang berita langsung yang bersumber dari media cetak. [dutaislam.com/ ab]

    Salamah 'Ashima Rahma Al Maula, siswi Madrasah Bertaraf Internasional, 
    Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Surabaya Jawa Timur.
  • Hukum Zakat Fitrah Melalui Uang, Bukan Beras

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa zakat fitrah tidak boleh diberikan kepada penerima zakat (mustahiq) dalam bentuk uang. Meskipun seperti itu, praktiknya, di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang kurang memahami kesepakatan ulama ini.

    Menyikapi fenomena itu, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan Jawa Tengah, memberikan penjelasan terkait zakat dengan menggunakan uang atau melalui uang. Terma melalui uang artinya alat tukar tersebut hanya sebagai perantara sehingga penyaluran zakat tetap dalam bentuk makanan pokok.

    Di sini panitia menjelaskan bahwa konsep-konsep tersebut sesuai dengan ketentuan syariat, tapi masyarakat tetap dimudahkan, yaitu bisa berangkat dari rumah dengan membawa uang menuju stand/pos zakat setempat.

    Pertama, panitia zakat menyuplai beras dengan membeli atau bermitra kepada salah satu toko penyedia beras di mana setiap muzakki yang datang membawa uang akan dilayani jual beli murni dengan beras yang disediakan oleh panitia terlebih dahulu. Setelah muzakki menerima beras, transaksi penerimaan zakat kemudian dijalankan sebagaimana biasanya.

    Sementara ini, ada beberapa tempat yang sudah menjalankan sistem jual beli mirip seperti di atas, namun kesalahannya terletak pada beras yang dibuat transaksi jual beli bukan beras murni persediaan panitia, tapi beras yang telah diterima panitia dari hasil zakat beras orang lain yang terlebih dahulu datang, kemudian beras zakat itu dijual kembali kepada muzakki lain yang datang kemudian. Menjual beras zakat seperti ini tidak diperbolehkan.

    Kedua, panitia yang tidak resmi mendapat SK dari pemerintah tidak dinamakan sebagai amil, mereka hanya disebut relawan saja. Artinya semua operasional tidak boleh dibebankan/diambilkan dari zakat. Panitia seperti ini bisa mengambil untung dari hasil jual beli beras yang memang murni untung jual beli untuk kepentingan operasional.

    Contoh, panitia mengumumkan, masyarakat yang ingin menyalurkan zakat melalui panitia dengan membawa beras silahkan datang dengan membawa beras 2,5 kg (ada pendapat yang 2,7 kg, silakan memilih). Bagi yang ingin membawa uang, besar nominalnya adalah Rp. 25.000,-

    Jika sekarang beras standar diasumsikan dengan besaran harga Rp. 8.400,-/kg, maka setiap ada muzakki yang datang membawa uang, panitia akan untung Rp. 4.000,-/muzakki. Dengan 4 ribu inilah roda operasional panitia berjalan tanpa mengganggu harta zakat sama sekali. 

    Jika ada 100 orang saja yang datang membawa uang, maka uang Rp. 400.000 sudah cukup untuk operasional panitia yang meliputi pembelian kantong plastik, konsumsi, transport dan lain sebagainya.

    Ketiga, karena ini menyangkut jual beli murni, jual beli tidak diperkenankan digelar di masjid. Panitia harus mendirikan stand tersendiri di bagian yang terpisah dari masjid atau diselenggarakan di ruang serbaguna, madrasah, pesantren atau rumah warga.

    Keempat, secara umum Syafi’iyyah memandang bahwa kiai atau ustadz bukan bagian dari sabilillah, mustahiq zakat. Mereka tidak berhak menerima zakat kecuali jika kebetulan mereka termasuk golongan/ashnaf lain selain sabilillah

    Jika kebetulan mereka fakir atau miskin, maka mereka berhak menerima zakat atas nama dia sebagai fakir miskin, bukan kapasitasnya sebagai kiai atau ustadz. Hanya ada satu pendapat lemah dari kutipan Imam Qaffal yang mengatakan guru mengaji dan sejenisnya termasuk sabilillah yang berhak menerima zakat.

    Dengan solusi alternatif demikian, harapannya, masing-masing antara masyarakat dan panitia saling dimudahkan dengan tetap konsisten mengikuti pendapat Syafi’iyyah.

    Referensi:
    Zakat harus dengan makanan pokok:

    كاشفة السجا لنووي الجاوي - (ج 1 / ص 270)
    وواجب الفطرة لكل واحد صاع من غالب قوت بلد المؤدى عنه وإن كان المؤدي بغيرها من جنس واحد

    Zakat fitrah tidak boleh dijual-belikan: 

    المجموع الجزء السادس ص : 175 
    ( فرع ) قال أصحابنا لا يجوز للإمام ولا للساعى بيع شىء من مال الزكاة من غير ضرورة بل يوصلها إلى المستحقين بأعيانها لأن أهل الزكاة أهل رشد لا ولاية عليهم فلم يجز بيع مالهم بغير إذنهم فإن وقعت ضرورة بأن وقف عليه بعض الماشية أو خاف هلاكه أو كان فى الطريق خطر أو احتاج إلى رد جبران أو إلى مؤنة النقل أو قبض بعض شاة وما أشبهه جاز البيع للضرورة كما سبق فى آخر باب صدقة الغنم إنه يجوز دفع القيمة فى مواضع للضرورة قال أصحابنا ولو وجبت ناقة أو بقرة أو شاة واحدة فليس للمالك بيعها وتفرقة ثمنها على الأصناف بلا خلاف بل يجمعهم ويدفعها إليهم وكذا حكم الإمام عند الجمهور وخالفهم البغوى فقال إن رأى الإمام ذلك فعله وأن رأى البيع وتفرقة الثمن فعله والمذهب الأول قال أصحابنا وإذا باع فى الموضع الذى لا يجوز فيه البيع فالبيع باطل ويسترد المبيع فإن تلف ضمنه والله أعلم .

    روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 337)

    الثَّالِثَةُ: لَا يَجُوزُ لِلْإِمَامِ وَلَا لِلسَّاعِي أَنْ يَبِيعَ شَيْئًا مِنَ الزَّكَاةِ، بَلْ يُوَصِّلُهَا بِحَالِهَا إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ، إِلَّا إِذَا وَقَعَتْ ضَرُورَةٌ، بِأَنْ أَشْرَفَتْ بَعْضُ الْمَاشِيَةِ عَلَى الْهَلَاكِ أَوْ كَانَ فِي الطَّرِيقِ خَطَرٌ، أَوِ احْتَاجَ إِلَى رَدِّ جِيرَانٍ، أَوْ إِلَى مُؤْنَةِ نَقْلٍ، فَحِينَئِذٍ يَبِيعُ.

    Jual-beli tidak diperbolehkan di masjid:

    عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الشراء والبيع في المسجد، وأن تنشد فيه الأشعار» (رواه الترمذي وأبو داود وغيرهما)

    Syafiiyyah sepakat zakat tidak boleh menggunakan uang:

    المجموع شرح المهذب - (ج 5 / ص 428)
    { الشرح } اتفقت نصوص الشافعي رضى الله عنه انه لا يجوز اخراج القيمة في الزكاة وبه كذا في الاصل والصواب عليهن قطع المصنف وجماهير الاصحاب وفيه وجه ان القيمة تجزئ حكاه وهو شاذ باطل ودليل المذهب ما ذكره المصنف (وأما) إذا اخرج سنا اعلي من الواجب كبنت لبون عن بنت مخاض ونظائره فتجزئه بلا خلاف لحديث ابى السابق ولما ذكره المصنف (وأما) إذا اخرج تبيعين عن مسنة فقد قطع المصنف بجوازه وهو المذهب وبه قطع الجماهير وفيه وجه سبق في باب زكاة البقر والله تعالي اعلم

    Titik khilafiyah zakat dengan uang antara Syafiiyah dengan Hanafiyyah:

    المبسوط - (ج 4 / ص 141)
    ( قَالَ ) : فَإِنْ أَعْطَى قِيمَةَ الْحِنْطَةِ جَازَ عِنْدَنَا ؛ لِأَنَّ الْمُعْتَبَرَ حُصُولُ الْغِنَى وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِالْقِيمَةِ كَمَا يَحْصُلُ بِالْحِنْطَةِ ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يَجُوزُ ، وَأَصْلُ الْخِلَافِ فِي الزَّكَاةِ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ الْأَعْمَشُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ : أَدَاءُ الْحِنْطَةِ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءِ الْقِيمَةِ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى امْتِثَالِ الْأَمْرِ وَأَبْعَدُ عَنْ اخْتِلَافِ الْعُلَمَاءِ فَكَانَ الِاحْتِيَاطُ فِيهِ ، وَكَانَ الْفَقِيهُ أَبُو جَعْفَرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ : أَدَاءُ الْقِيمَةِ أَفْضَلُ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى مَنْفَعَةِ الْفَقِيرِ فَإِنَّهُ يَشْتَرِي بِهِ لِلْحَالِ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ ، وَالتَّنْصِيصُ عَلَى الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ كَانَ ؛ لِأَنَّ الْبِيَاعَاتِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ بِالْمَدِينَةِ يَكُونُ بِهَا فَأَمَّا فِي دِيَارِنَا الْبِيَاعَاتُ تُجْرَى بِالنُّقُودِ ، وَهِيَ أَعَزُّ الْأَمْوَالِ فَالْأَدَاءُ مِنْهَا أَفْضَلُ .

    Kutipan Al Qaffal yang memperbolehkan zakat diberikan kepada kiai, ustadz:

    تفسير المنير الجزء الأول ص 244
    ونقل القفال عن بعض الفقهاء فهم أجازوا صرف الصدقات الى جميع الوجوه الحير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعماره المسجد للأن قوله في سبيل الله عام في الكل.

    [www.dutaislam.com/ ahmad mundzir]

    Source: NU Online
  • Makna Halal bi Halal Adalah Mencari Halal Kesalahan

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Penggagas istilah “halal bi halal” ini adalah KH. Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

    Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Romadlon, Bung Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kyai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi. 

    Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang”, kata Kyai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’”, jelas Kyai Wahab.

    Dari saran kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’. Dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. 

    Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kyai Wahab menggerakkan warga dari bawah.

    Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang. Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

    Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah. Akan tetapi itu baru kegiatannya, bukan nama dari kegiatannya. Kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

    Tapi istilah “halal bi halal” ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah.dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan. [dutaislam.com/ ab]

    Source: KBAswaja
  • Halal Bi Halal Dipolerkan Oleh Bung Karno

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com- Ada kisah menarik yang disampaikan Ketua MUI, Umar Shihab, mengenai asal-usul halal bi halal yang menjadi tradisi di Indonesia. Menurutnya, tradisi yang baik ini pertama kali dikenal pada 1963, saat Buya Hamka bertemu dengan Presiden Soekarno di Istana Negara dalam suasana Idul Fitri.

    "Pada saat keduanya berjabat tangan, Buya Hamka mengatakan kita halal bi halal, dan Bung Karno mengatakan juga dengan keras halal bi halal. Lalu tahun-tahun berikutnya Bung Karno yang mempopulerkannya," ungkap Umar Shihab dalam acara halal bi halal 1431 H LDII di Sekretariat DPP LDII Jakarta. 

    Menurutnya, dalam sebuah wawancara Buya Hamka pernah mengatakan bahwa makna halal bi halal adalah bertemunya pribadi-pribadi yang suci yang telah serius menggembleng dirinya dalam bulan Ramadhan. "Halal itu suci, bersih, baik. Halal bi halal adalah upaya mempertemukan pribadi-pribadi yang baik yang telah sungguh-sungguh menjalankan ibadah Ramadhan, begitu keterangan Buya,'' kata Umar yang saudara kandung mantan Menag Prof Dr Quraish Shihab tersebut.

    Dalam bahasa agama, halal bi halal sepadan dengan silaturahim. Umar mengatakan bahwa adalah orang yang merugi bila enggan menyambung bahkan memutuskan sialturahim. Dalam kesempatan yang sama Katib Aam PBNU, KH Dr Malik Madani, mengatakan bahwa halal bi halal adalah local wisdom yang perlu dipelihara keberlangsungannya, dalam upaya untuk mempertahankan ukhuwah Islamiyah. 

    "Yaitu persaudaraan yang Islami. Hal ini tidak terbatas dengan sesama muslim saja. Tapi bisa dengan pemeluk agama lain dengan spirit nilai-nilai Islam," papar Malik.

    Menurutnya, inti persaudaraan yang Islami adalah yang mengedepankan nurani dan lebih produktif, lebih mengayomi keutuhan bangsa kita yang majemuk, daripada ukhuwah diniyah yang jahiliyah. 

    "Ukhuwah diniyah yang jahiliyah itu, adalah persaudaran orang-orang seagama, tapi spiritnya tidak Islami, misalnya persaudaran untuk melakukan teror bom yang mengganggu ketentraman dan keamanan bangsa," katanya. [dutaislam.com/ ab]

    Source: Antara/Red: Budi Raharjo
  • Ketentuan Zakat Fitrah Menurut Madzhab Imam Syafii

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Zakat fitrah adalah mengeluarkan bahan makanan pokok dengan ukuran tertentu setelah terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan (malam 1 Syawwal) dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Zakat fitrah diwajibkan ditahun kedua Hijriyah.

    Dasar wajib zakat fitrah antara lain adalah hadits riwayat Ibnu Umar:

    عن ابن عمر أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلم فرض زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر أو صاعا من شعير على كلّ حرّ أو عبد ذكر أو أنثى من المسلمين ( رواه مسلم )

    "Diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah bulan Ramadhan berupa satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum atas setiap orang muslim, merdeka atau budak, laki-laki maupun perempuan"

    Zakat fitrah wajib bagi setiap orang Islam yang mampu dan hidup di sebagian bulan Ramadhan serta sebagian bulan Syawwal. Artinya, orang yang meninggal setelah masuk waktu Maghrib malam lebaran (malam 1 Syawwal) wajib baginya zakat fitrah (dikeluarkan dari harta peninggalannya). 

    Begitu juga bayi yang dilahirkan sesaat sebelum terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan dan terus hidup sampai setelah terbenamnya matahari malam 1 Syawwal. Tapi sebaliknya, orang yang meninggal sebelum terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan atau bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari di malam 1 Syawwal, tidak wajib baginya zakat fitrah.]

    Yang dimaksud mampu zakat yaitu memiliki harta lebih dari: 
    1. Kebutuhan makan dan pakaian untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahi pada siang hari raya beserta malam harinya (1 Syawwal dan malam 2 Syawwal) .
    2. Hutang, meskipun belum jatuh tempo (saat membayar).
    3. Rumah yang layak baginya dan orang yang wajib dinafkahi.
    4. Biaya pembantu untuk istri jika dibutuhkan.
    Orang yang wajib dinafkahi adalah:
    1. Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta.
    2. Anak yang sudah baligh namun secara fisik tidak mampu bekerja seperti lumpuh, idiot, dan sebagainya serta tidak memiliki harta.
    3. Orang tua yang tidak mampu (mu’sir).
    4. Istri yang sah.
    5. Istri yang sudah ditalak roj’i (istri yang pernah dikumpuli dan tertalak satu atau dua) dalam masa iddah.
    6. Istri yang ditalak ba’in (talak 3) apabila dalam keadaan hamil.
    Zakat fitrah berupa makanan pokok mayoritas penduduk daerah setempat. Ukuran zakat fitrah 1 sho’ beras = 2,75 – 3 kg (bukan 2,5 kg). 

    Orang yang memiliki kelebihan harta seperti di atas tetapi tidak mencukupi untuk fitrah seluruh keluarganya, maka dikeluarkan sesuai urutan berikut:
    1. Dirinya sendiri.
    2. Istri.
    3. Pembantu istri sukarela (tanpa bayaran).
    4. Anak yang belum baligh.
    5. Ayah yang tidak mampu.
    6. Ibu yang tidak mampu.
    7. Anak yang sudah baligh dan tidak mampu (secara fisik dan materi).
    Jika kelebihan harta tersebut kurang dari 1 sho’, maka tetap wajib dikeluarkan.

    Waktu mengeluarkan zakat fitrah:
    1. Waktu wajib, yaitu ketika mendapati sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari bulan Syawwal.
    2. Waktu jawaz (boleh), yaitu mulai awal Ramadhan. Dengan catatan orang yang telah menerima fitrah darinya tetap dalam keadaan mustahiq (berhak menerima zakat) dan mukim saat waktu wajib. Jika saat wajib orang yang menerima fitrah dalam keadaan kaya atau musafir maka wajib mengeluarkan kembali.
    3. Waktu fadhilah (utama), yaitu setelah terbitnya fajar hari raya (1 Syawwal) sebelum pelaksanaan shalat ied.
    4. Waktu makruh, yaitu setelah pelaksaan shalat ied hingga terbenamnya matahari 1 Syawwal, kecuali karena menunggu kerabat atau tetangga yang berhak menerimanya.
    5. Waktu haram, yaitu mengakhirkan hingga terbenamnya matahari 1 Syawwal kecuali karena udzur seperti tidak didapatkan orang yang berhak di daerah itu. Namun wajib mengqodho’i.
    Niat zakat fitrah wajib dalam hati. Sunnah melafadzkannya dalam madzhab Syafi’i.
    Niat untuk fitrah diri sendiri adalah;

    نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ نَفْسِي لِلَّهِ تَعَالىَ

    (Saya niat mengeluarkan zakat fitrah saya karena Allah Ta’ala)

    Niat untuk zakat fitrah orang lain:

    نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ فُلاَنٍ أَوْ فُلاَنَةْ لِلَّهِ تَعَالىَ

    (Saya niat mengeluarkan zakat fitrah fulan atau fulanah karena Allah Ta’ala)

    Anak yang sudah baligh, mampu secara fisik, tidak wajib bagi orang tua mengeluarkan zakat fitrahnya. Oleh karena itu, apabila orang tua hendak mengeluarkan zakat fitrah anak tersebut, maka caranya adalah men-tamlik makanan pokok kepadanya (memberikan makanan pokok untuk fitrahnya agar diniati anak tersebut). Atau mengeluarkannya dengan seizin anak.

    Cara Niat Zakat Fitrah
    Jika dikeluarkan sendiri, maka diniatkan ketika menyerahkannya kepada yang berhak atau setelah memisahkan beras sebagai fitrahnya. Apabila sudah diniatkan ketika dipisah, maka tidak perlu diniatkan kembali ketika diserahkan kepada yang berhak. Jika diwakilkan, diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil atau memasrahkan niat kepada wakil. Apabila sudah diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil, maka tidak wajib bagi wakil untuk niat kembali ketika memberikan kepada yang berhak, namun lebih afdhol tetap meniatkan kembali, tetapi jika memasrahkan niat kepada wakil maka wajib bagi wakil meniatkannya.

    Zakat fitrah diserahkan kepada yang berhak, yaitu ada 8 golongan yang sudah maklum diketahui dalam fiqih. Adapun hal–hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
    1. Tidak sah memberikan zakat fitrah untuk masjid.
    2. Panitia zakat fitrah yang dibentuk oleh masjid, pondok, LSM, dll (bukan BAZ) bukan termasuk amil zakat karena tidak ada lisensi dari pemerintah.
    3. Fitrah yang dikeluarkan harus layak makan, tidak wajib yang terbaik tapi bukan yang terjelek.
    4. Istri yang mengeluarkan fitrah dari harta suami tanpa seizinnya untuk orang yang wajib dizakati, hukumnya tidak sah.
    5. Orang tua tidak bisa mengeluarkan fitrah anak yang sudah baligh dan mampu kecuali dengan izin anak secara jelas.
    6. Menyerahkan zakat fitrah kepada anak yang belum baligh hukumnya tidak sah (qobd-nya), karena yang meng-qobd harus orang yang sudah baligh.
    7. Zakat fitrah lebih baik dibagikan pada penduduk daerah dimana ia berada ketika terbenamnya matahari malam 1 Syawal. Apabila orang yang wajib dizakati berada di tempat yang berbeda, sebaiknya diwakilkan kepada orang lain yang tinggal di sana untuk niat dan membagi fitrahnya.
    8. Bagi penyalur atau panitia zakat fitrah, hendaknya berhati-hati dalam pembagian fitrah agar tidak kembali kepada orang yang mengeluarkan atau yang wajib dinafkahi, dengan cara seperti memberi tanda pada fitrah atau membagikan kepada blok lain.
    9. Mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) tetap wajib fitrah sekalipun dari hasil fitrah yang didapatkan jika dikategorikan mampu.
    10. Fitrah yang diberikan kepada kyai atau guru ngaji hukumnya tidak sah jika bukan termasuk dari 8 golongan mustahiq.
    11. Anak yang sudah baligh dan tidak mampu (secara materi) sebab belajar ilmu wajib (fardlu ‘ain atau kifayah) adalah termasuk yang wajib dinafkahi, sedangkan realita yang ada mereka libur pada saat waktu wajib zakat fitrah. Oleh karena itu, caranya harus di-tamlikkan atau dengan seizinnya sebagaimana di atas.
    12. Ayah boleh meniatkan fitrah seluruh keluarga yang wajib dinafkahi sekaligus. Namun banyak terjadi kesalahan, fitrah anak yang sudah baligh dicampur dengan fitrah keluarga yang wajib dinafkahi. Yang demikian itu tidak sah untuk fitrah anak yang sudah baligh. Oleh karena itu, ayah harus memisah fitrah mereka untuk di-tamlikkan atau seizin mereka sebagaimana keterangan di atas.
    13. Zakat Fitrah dengan uang tidak sah menurut madzhab Syafi’i. [dutaislam.com/ ab]
  • Cara Qadla Shalat Dengan Shalat Kifarat Malam Jumat Akhir Ramadhan

    Admin: Duta Islam → Rabu, 29 Juni 2016
    shalat kafarat akhir bulan ramadan

    DutaIslam.Com - Shalat kifarot atau kifarat adalah shalat yang dilaksanakan untuk menebus kewajiban shalat yang lupa atau tertinggal dilaksanakan. Kesempatan untuk mengerjakannya hanya satu kali dalam setahun saja, yaitu setelah shalat Maghrib pada malam Jum'at terakhir di bulan Ramadhan, Kamis, 30 Juni (2016) atau Kamis, 23 Juni 2017 (Malam Jumat Wage).

    Sabda Baginda Nabi Muhammad Saw: Barang siapa yang selama hidupnya pernah meninggalkan shalat, tapi tidak dapat meghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rok'at dengan satu kali tasyahud akhir, tiap roka'at membaca surat Alfatihah 1 kali, surat al-Qodar 15 kali (Innaa anzalnaahu fii lailatilqodr dst), surat al-Fatihah 1 kali, surat al-Kautsar 15x.

    Sahabat sayyidina Abu Bakar Shiddiq Ra berkata: Aku mendengar baginda Rosululloh bersabda, bahwa shalat tersebut sebagai kifarot/pengganti sholat 400 tahun. Menurut Sayyidina Ali, shalat kafarat tersebut sebagai kafarot 1000 tahun.

    Maka bertanyalah sahabat: Umur manusia itu hanya 60-100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya?Baginda Rosul Saw menjawab: untuk kedua orang tuanya, istrinya, anak-anaknya, sanak familinya, serta orang-orang sekeliling di lingkungnnya.

    Niat shalat kafarat shalat adalah:

    "Nawaitu Ushalli Kaffarotan Lima Faatani Minas Shalati Lillahi Ta'ala." 

    Setelah shalat, membaca istighfar 10 kali:

     أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ

    Membaca shalawat 100 kali:

    اللَّهُمَّ  صَلِّّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّد

    Lalu do'a khusus di bawah ini dibaca 3 kali.

    Do'a yang pertama:



    Bacanya: 
    Alloohumma laa tanfa'uka tho'atii, walaa tadhurruka ma'shiyyatii, taqobbal minnii maa laa yan fa'uka, waghfirlii maa laa yadhurruka, yaa man idzaa wa'ada wa fii wa idzaa ta wa'ada tajaa wa za wa'afaa ighfirli 'abdin zhoolama nafsahu wa as'aluka, alloohumma innii a'uudzubika min bathril ghinaa wajahdil faqri, ilaahii kholaqtanii walam aku syai'un, warozaqtanii walam aku syai'an, wartakabtu alma'aashii fa innii mukiirullaka bidzunuubii. Fa in 'afauta 'annii, falaa yanqushu min mulkika syai'an, wa in adzdzabtanii falaa yaziidu fii sulthonika syai'an, ilaahii anta tajidu man tu'adzdzubuhu ghoirii, wa anaa laa ajidu man yarhamanii ghoiroka, faghfirlii maa bainii wabainaka, waghfirlii maa bainii wabaina kholqika, yaa arhamarroohimiin, wayaa rojaa'a saa iliin, wayaa amaanal khoo-ifiina irhamnii birohmatikal waasi'aati, anta arhamurroohimiin, yaa robbal 'aalamiin.

    Artinya; 
    Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tiada artinya bagiMu dan segala perbuatan maksiatku tiada merugikanMu. Terimalah diriku yang tiada artinya bagiMu. Dan ampunilah aku yang mana ampunanMu itu tidak merugikan bagiMu. Ya Allah, bila Engkau berjanji pasti Engkau tepati janjiMu. Dan apabila Engkau mengancam, maka Engkau mau mengampuni ancamanMu. Ampunilah hambaMu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, aku telah Engkau beri kekayaan dan aku mengumpat di saat aku Engkau beri miskin. Wahai Tuhanku Engkau ciptakan aku dan aku tak berarti apapun. Dan Engkau beri aku rizki sekalipun aku tak berarti apa-apa, dan aku lakukan perbuatan semua ma’siat dan aku mengaku padaMu dengan segala dosa-dosaku. Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagunganMu sedikitpun, dan bila Kau siksa aku maka tidak akan menambah kekuasaanMu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang akan Kau siksa selain aku. Namun bagiku hanyaEnakau yang dapat mengampuniku. Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di antara aku dengan hamba-hambaMu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan tempat pengaduan semua pemohon dan tempat berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah aku dengan pengampunanMu yang luas. Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mu’min dan mu’minat, muslimin dan muslimat dan satukanlah aku dengan mereka dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Washollallahu ‘Ala sayyidina Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi wasalim tasliiman kasiira. Amin.  

    Do'a yang kedua:
    Alloohummaghfir lilmu'miniina walmu'minaat, walmuslimiina walmuslimaat, wataabi'bainanaa wabainahum bilkhoiroti robbighfir war ham wa anta khoirur roohimiin, Washollalloohu 'alaa saiyyidinaa Muhammadin wa'alaa aalihi washohbihii wasallama tasliiman katsiiron. Aamiin.

    kitab shalat kifarat
    Sampul Kitab A'lal Jawahir
    Ulama Yaman Banyak yang Melaksanakan
    Dalam kitab A’lal Jawahir disebutkan bahwa walau shalat kafarat ini masih dalam arus perdebatan para ulama, namun banyak ulama Yaman yang mengamalkan shalat yang disebut pula dengan shalat baro'ah (pembebasan) itu. Bahkan, sebagaimana dinukil oleh al-Nasyiri, shalat tersebut tidak banyak ditinggalkan kecuali oleh hanya sebagian kecil orang saja. (hlm. 98).

    Dalam kitab tersebut dijelaskan lebih lanjut kalau shalat kafarat atau baro'ah itu adalah titik pelebur (muhitd) orang-orang berilmu tinggi dan juga ahli fatwa. Para ahli wara' (wira'i), yang dikenal menguasai ilmu lahir dan batin melaksanakan shalat kafarot tersebut sesuai daerah dimana mereka tinggal.

    Manusia-manusia mulia yang melaksanakan shalat kafarat itu antara lain, -yang disebut dalam kitab,- adalah Syeikh Abu Bakar bin Salim, Al-Imam Al Allamah Ahmad bin Zain al-Habsyi, Habib Umar bin Zain, Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdlor, Habib Salim bin Hafidz bin Syeikh Abi Bakar bin Salim, Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, dan lainnya dari kalangan ulama Yaman dan Hadramaut.

    Perintah melaksanakan shalat juga datang dari Al Imam Al Hujjah al Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, yakni seorang ulama yang pernah disebut sebagai Allamah Ad-Dunya (paling alim seantero jagad) oleh Wali Qutub bernama Habib Abdullah al-Haddad. [dutaislam.com/ ab]
    ---------------------------

    Sumber keterangan:
    1. Kitab Fa Firruu Ilallah
    2. Kitab A'lal Jawahir
    3. Kitab Majmu'atul Mubarokah susunan Syeikh Shodiq al-Qohhani 
    4. Al Imam Al Hafidz al Musnid Syeikh Abu Bakar bin Salim 
    5. Habib Qurays bin Qasim bin Ahmad Baharun
    6. Habib Umar bin Hafidz
    7. Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan
    8. Syeikh Muhammad Fathurrahman Thoyyib al-Garwany, dan para ulama pengamal shalat kifarat lainnya yang masih banyak jika disebutkan. 

    Silakan diamalkan dengan mengetik Qobiltu di kolom komentar di bawah ini.

  • Subhanallah, Berkat Dakwah Santun, Habib Ahmad Islamkan 100 Ribu Orang

    Admin: Duta Islam → Selasa, 28 Juni 2016
    habib ahmad bin toha al haddad

    Oleh Moh Nasirul Haq

    DutaIslam.Com - Beliau bernama Al Habib Ahmad Mashur Al Haddad lahir pada tahun 1907 M bertepatan 1325 H. Ayah beliau Al Habib Toha Bin Ali Al Haddad merupakan waliyulloh yang tersembunyi, tidak menampakkan kewaliyannya selama hidup. 

    Adapun ibunda beliau Syarifah Shofiyyah Binti Imam Sayyid Tohir Bin Umar Al Haddad merupakan wanita yang istimewa yang dekat dengan Allah Swt. Keluarga al-Habib Ahmad Mashur al-Haddad sempat tinggal lama di Indonesia sebelum pindah ke negara asalnya Hadramaut. 

    Habib Ahmad merupakan seorang ulama yang tidak diragukan lagi keilmuannya. Beliau merupakan seorang yang sangat tekun dalam mencari ilmu. Masa mudanya dihabiskan untuk mencari ilmu di "Rubat Qoidun", nama suatu pesantren di daerah Hadramaut kepada Habib Abdulloh bin Thahir al-Haddad. Beliau juga mencari ilmu ke Indonesia, kepada pamannya sendiri yakni Habib Alwi bin Thahir al-Haddad. Dan masih banyak ulama lainnya yang menjadi guru beliau.

    Beliau merupakan sosok yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Bahkan menurut kisah murid beliau, Syeikh Muhammad Ba'athiyah menuturkan begini: "Suatu ketika ibunda beliau salah faham kepada Habib Ahmad. Lalu saking takutnya kepada murka ibunya, Habib Ahmad tidur di depan pintu kamar ibunda beliau hingga ibundanya terjaga."

    Berdakwah ke Afrika
    Doa dari segenap gurunya dan kedua orang tuanya menghantarkan beliau menjadi seorang ulama besar penggiat dakwah. Bermula dari Hadromaut lalu kemudian ke Jeddah, ia pun kemudian memutuskan pergi berdakwah ke Kenya, Tanzania, dan Uganda yang sedang terpuruk baik ekonomi maupun moralitasnya.

    Pada mulanya, beliau melakukan dakwah di Afrika Timur, tepatnya di "zinjibar". Di sana beliau mengajarkan tentang Islam dan memberikan pelajaran mengenai makna ayat Al-Quran dan memulainya dari makna surat al Fatihah. Saking mendalamnya ilmu, ketika memaknai ayat "iyyaka na'budu wa iyyaka nastain" saja beliau menghabiskan waktu selama dua minggu.

    Ketika Habib Ahmad mengetahui bahwa di daerah Afrika Timur hanya ada sedikit orang yang berdakwah kejalan Allah, akhirnya beliau memutuskkan tinggal disana, tepatnya di daerah "Mambassa". Dari sanalah beliau mulai serius menangani dakwah mengislamkan penduduk lokal.

    Beliau berdakwah tak kenal lelah masuk ke dalam hutan menyusuri padang pasir luas, masuk ke desa pedalaman hanya demi mengenalkan Islam kepada penduduk lokal yang masih banyak menyembah berhala, matahari, api dan arwah ghaib. Memang tidak mudah karena pasti membutuhkan mental tangguh untuk menghadapi watak penduduk lokal yang masih sangat primitif dan keras.

    Selain itu, bahaya terkaman binatang buas juga tidak menyurutkan semangat beliau berdakwah mengingat negara afrika masih sangat banyak hewan buas dan predator pemangsa.

    Selama berdakwah, Habib Ahmad mengajak muridnya yang bisa berkomunikasi dengan bahasa penduduk sekitar, metode dakwah beliau sangat simple sekali. Di tengah hutan beliau memasak makanan dan minuman susu kemudian membagikannya kepada penduduk di sana. Barulah kemudian beliau mulai mengenalkan tentang makna persaudaraan Islam. Hingga banyak dikalangan mereka yang menerima Islam bahkan tak jarang seluruh penduduknya langsung memutuskan masuk Islam.

    Beliau tiada henti-hentinya memohon kepada Allah Swt agar penduduk yang beliau dakwahi bisa luluh hatinya dan masuk agama islam. Lelah dan penat tidak beliau hiraukan berpindah dari tempat ketempat, dari hutan ke hutan, dari desa ke desa beliau lalui demi dakwah ilallah.


    Habib Umar Bin Hafidz mengisahkan tentang metode awal dakwah Habib Ahmad: "Al Habib Ahmad al-Haddad membuka toko kecil untuk keperluan sehari hari, kemudian setiap ada yang membeli sesuatu pasti oleh beliau ditambahi atau diberi bonus. Misalnya, kalau beli teh oleh beliau dikasih sedikit gula sambil berkata "ini saya tambahi gula biar seduhan tehnya enak,". Atau ketika ada orang beli gandum diberi bonus garam atau merica hingga akhirnya orang sekampung heran ini agama apa? Ini ajaran dari mana? Akhirnya mereka pun tertarik belajar tentang Islam. Jadi setiap Habib Ahmad pindah tempat dakwah, selalu buka toko" pungkasnya sambil tersenyum.

    Seorang da'i yang tulus berjuang dalam dakwah IlaAllah paham betul bagaimana cara menyampaikan risalah Islam kepada ummat. Menjadikannya sebagai rahmatan lil alamin disertai penuh kesungguhan melalui hikmah, cinta kasih dan mauidlotul hasanah.

    Puluhan ribu berhasil beliau islamkan bahkan murid beliau Syidi Syeikh Muhammad bin Ali Baatiyah mengatakan bahwa orang yang masuk Islam kepada beliau tercatat hampir mendekati 100 ribu orang dan itu terus bertambah hingga hari ini. Subhanalloh..!!

    Selama al-Habib Ahmad bin Thaha Mashur al-Haddad berada di Kambala, Uganda beliau mendapatkan sambutan hangat. Setiap orang yang melihat beliau langsung jatuh cinta pada beliau dan merasakan ketenangan. Beliau juga bisa merubah beberapa tradisi lokal yang tidak baik, serta memperbaiki kebiasaan kebiasaan yang diwariskan turun temurun yang buruk akibat ketidaktahuan mereka terhadap syariat Islam.

    Beliau sering mengisi dakwah dan majelisnya di masjid "Nakasiru", memberikan pelajaran kepada anak anak dan dewasa mulai dari Nol hingga pelajaran tafsir, hadits dan akhlaq.

    Sebelum dari masjid Nakasiru ini aHabib Ahmad pernah juga berada di kediaman Habib Abdullah Bidh di kota Arwa. Di sana beliau meletakkan batu pertama pembangunan masjid Riyadh dan madrasah Hayatul Islam dan juga dua masjid lainnya di dekat Sungai Nil. Sebab banyak sekali penduduk setempat yang sudah masuk Islam di tangan al Habib Ahmad Mashur Thaha al Haddad.

    Kemudian di daerah "Orinku" beliau mendirikan madrosah An Nur dan Masjid At Taqwa. Pada tahun 1966 M daerah yang semula non muslim, setelah berada dalam dakwah beliau, daerah itu kini berubah menjadi kawasan muslimin dan hampir 90% penduduknya menjadi muallaf.

    Di daerah tersebut beliau banyak membangun madrasah dan masjid. Perjalanan beliau sering ditemani oleh Sayyid Sa'id Bidh pada 1949-1950 M dan ditemani pula Syeikh Abdullah Ba Rua'idah dan Syeikh Amin. Beliau pun meneruskan dakwah hingga kawasan Timur Selatan Uganda, yaitu padang panjang "Karomoja", barat Kenya "Kosomo" dan sekitarnya.

    Bersama Habib Said Bidh, Habib Ahmad berdakwah tanpa kenal lelah bahkan beliau terus melanjutkan hingga batas Timur Utara Negara Kongo dan masuk ke pedalaman di sana. Juga masuk ke daerah Selatan negara Sudan, "Jhoba" dan "Wawu". Perjalanan rihlahnya tersebut memberikan dampak positif bagi setiap orang yang melihat, mendengar dan bertemu dengannya.

    Dampak positif itu bisa anda lihat hingga saat ini di daerah tersebut segenap penduduk yang telah menjadi muslim menjadikan al Habib Ahmad al Haddad sebagai sosok primadona penyelamat mereka dari kegelapan menuju kehidupan yang terang benderang.

    Beliau merupakan sosok ulama yang sangat tawadlu', zuhud, waro' dan santun. Dakwah beliau terdengar hingga seluruh penjuru Afrika. Sosok ulama sufi yang satu ini siang malam tidak pernah sepi dari tamu di rumahnya. Di jeddah, datang tamu berbagai negara, dari Indonesia, Argentina, Spanyol, Inggris, Amerika, Singapura, dan yang mengherankan mereka kebanyakan tidak bisa berbahasa Arab tetapi dengan melihat Habib Ahmad saja mereka langsung jatuh cinta.

    Bahkan banyak dari kalangan presiden negara negara Afrika yang berkunjung dan memohon doa pada beliau di kediaman meskipun beliau sendiri bukanlah orang yang terjun kedunia politik seperti presiden Jirrzul Qomar Sayyid Ahmad Abdulloh, Presiden Jirzul Qomar Muhammad Jauhar, presiden Tanzania, serta menteri menteri lainnya.

    Sementara kalangan ulama yang sering berjumpa beliau di kediamannya, antara lain teman akrabnya Syeh Mutawalli Assya'rowi, Sayyid Amin al Husaini mufti Palestina, Syeikh Allamah Muhammad Blantu mufti Halabi Syiria, Muhaddits Sayyid Abdulloh al-Ghimari, Syeikh Muhammad Abdul Fath Abu Ghudah, Syeikh Muhammad Ali Ashobuni, Syeikh DR Saifuddin, Syeikh Ahmad Ali Abul Aza'im Sudani, Habib Abdul Qodir Assegaf, Habib Muhammad Alwi al Maliki dan banyak lagi ulama lainnya.

    Kisah ini saya dapatkan dari guru saya Syeikh Muhammad Ba'atiyah, murid Habib Ahmad Mashur Thaha al-Haddad dan beberapa referansi lainnya. [dutaislam.com/ ab]

    Sekian.
    Tarim 22 Ramadhan 1437 H

    Moh Nasirul Haq,
  • Ini Tatakrama Tidur yang Diajarkan Ulama

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Jika engkau hendak tidur maka lakukanlah 8 adab berikut ini.

    1. Gelarlah tempat tidur agar memudahkanmu menghadapkan wajah dan anggota tubuh ke arah qiblat. "Jika memungkinkan tidurlah dengan anggota tubuh kanan sebagai tumpuan layaknya posisi mayat yang ditidurkan di dalam liang lahatnya."

    2. Ingatlah selalu bahwa perumpamaan tidur adalah layaknya kematian dan saat kau bangkit dari tidur adalah perumpamaan kau dibangkitkan dari kuburmu.

    3. Ingatlah bahwa mungkin Allah hendak mencabut ruhmu di malam itu. Maka persiapkan dirimu utk bertemu dengan Nya yakni bersucilah dahulu dengan berwudlu.

    4. Tulislah wasiatmu di bawah bantal/di bawah pipi. Sebab kau tidak tahu apakah nanti bisa bangun lagi atau tidak. Kelak di alam barzah orang yang tidak meninggalkan wasiat (terutama tentang hutangnya atau tentang kewajiban nadzar yang ditinggalkanya) maka ia akan terlihat miskin.

    5. Tidurlah dalam keadaan taubat dari segala dosa, perbanyak istighfar (barang siapa membaca "Astaghfirullohal 'addhiim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaihi" 3x, maka Alloh akan mengampuni dosanya), ber'azam untuk tidak akan mengulang ma'siat tersebut jika nanti engkau bangun, ber'azam untuk berbuat kebaikan kepada sesama muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barang siapa memulai tidur dengan tanpa ada niat mendzalimi seseorang, tidak ingin menyakiti mereka, maka diampuni dosanya."

    6. Jangan terbiasa tidur kecuali sudah sangat ngantuk, kecuali jk ingin membantu agar bisa qiyaamullail di akhir malam. Hindari tidur pada kasur yang empuk dan lembut yang melalaikan untuk segera bangun kala fajar datang. Ingatlah bahwa tidur bisa mengurangi usia. Kecuali jika tidurmu bisa menyelamatkan dari rusaknya agamamu. Ingatlah bahwa sehari semalam ada 24 jam. Jika tidurmu dalam sehari semalam lebih dari 8 jam, maka saat kau diberi usia 60th berarti 20th darinya kau sia-sia kan dengan memakainya untuk tidur.

    7. Persiapkan siwak dan alat bersucimu sebelum tidur. Pastikan di Kamar Mandi ada airnya agar memudahkan untuk bersuci setelah bangun. Niatilah tidur untuk bisa tahajjud atau bisa bangun untuk qiyaam sebelum subuh. Sebab sholat di waktu ini merupakan simpanan di antara beberapa simpanan yang amat berharga kelak. Perbanyak simpananmu sebelum datang masa faqirmu di alam qubur maupun di hari qiyamat. Sebab simpanan harta duniamu tidak akan bermanfaat jika kau telah mati.

    8. Perbanyak berdoa sebelum, saat terbangun dan setelah tidur.

    Source: Kitab Maroqil Ubudiyyah karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantany ala Matnil Bidayah wan Nihayah karya Hujjatul Islam Abi Hamid al-Ghazali, Semarang: Toha Putra, hlm. 41-42.
  • 90 Persen Penyakit Berasal dari Pikiran

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Penyakit itu 90 persen berasal dari pikiran, 10 persen-nya dari pola makan. Lihat orang gila, makan apa pun fisiknya sehat karena pikirannya selalu Happy. Berikut korelasi daftar penyakit dengan pikiran negatif:

    1) Marah selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi 6 jam.

    2) Dendam dan menyimpan kepahitan akan menyebabkan imun tubuh kita mati. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti stress, kolesterol, hipertensi, serangan jantung, rematik, artritis, stroke (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

    3) Jika kita sering membiarkan diri kita stres, maka kita sering mengalami gangguan pencernaan.

    4) Jika kita sering merasa khawatir, maka kita mudah terkena penyakit nyeri punggung.

    5) Jika kita mudah tersinggung, maka kita akan cenderung terkena penyakit insomnia (susah tidur).

    6) Jika kita sering mengalami kebingungan, maka kita akan terkena gangguan tulang belakang bagian bawah.

    7) Jika kita sering membiarkan diri kita merasa takut yang berlebihan, maka kita akan mudah terkena penyakit ginjal.

    8) Jika kita suka negatif thinking, maka kita akan mudah terkena dyspepsia (penyakit sulit mencerna).

    9) Jika kita mudah emosi dan cenderung pemarah, maka kita bisa rentan terhadap penyakit hepatititis.

    10) Jika kita sering merasa apatis (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami penurunan kekebalan tubuh.

    11) Jika kita sering menganggap sepele semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit diabetes.

    12) Jika kita sering merasa kesepian, maka kita bisa terkena penyakit demensia senelis (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

    13) Jika kita sering bersedih & merasa selalu rendah diri, maka kita bisa terkena penyakit leukimia (kanker darah putih). [dutaislam.com/ ab]

    Sumber: Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water” by Dr. Masaru Emoto.


    Kapsul Diabetes, Hipertensi dan lainnya. Klik:

  • Aneh, Jenderal Perang Ini Dipecat Tapi Berterimakasih

    Admin: Duta Islam → Minggu, 26 Juni 2016

    DutaIslam.Com - Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

    Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

    Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

    Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

    Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun berada dalam puncak popularitas.

    Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

    Menerima kabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

    Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

    Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

    "Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

    "Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

    "Kamu tidak punya kesalahan."

    "Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

    "Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

    "Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

    Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''.

    ''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

    Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

    Sambil menangis belaiu berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

    Bayangkan Sahabat…. Jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah Jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?

    Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

    Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

    Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

    ***

    Sebuah kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, ''Pedang Allah yang Terhunus''.

    Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah ini. Betapa rendah hati Sahabat Nabi yang mulia ini. Beliau penuh kemuliaan, punya jabatan, populer, dan tak pernah berbuat kesalahan. Namun, ketika semua itu dicabut beliau sedikitpun tak terpengaruh. Beliau tetap berbuat yang terbaik. Karena memang tujuannya semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT. [dutaislam.com/ ab]
  • Kisah Bayi yang Menyusu Ibunya di Dalam Kubur

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Di antara nasehat habib Luthfi bin Yahya setelah melantunkan dzikir thoriqoh bersama-sama dalam jalsah Kliwonan bulan Ramadan 2016 ini adalah mengurai pentingnya tawakal. Diantaranya disebutkan bahwa ihtiyar itu berfungsi untuk menambah kenyakinan semata, bukan sebaliknya. Dalam QS. Ath-Thalaq: 1-2, Allah Swt berfirman:

    ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه.

    Artinya: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya."(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

    Lalu beliau menceritakan tentang peristiwa unik di masa lalu yang dialami oleh seorang waliyullah bernana Imam Malik bin Dinar ra dengan seorang hamba sholeh bernama Abdullah Basyri.

    Suatu saat, karena permasalahan ekonomi yang di terpanya, Abdullah Basyri hijrah ke luar kota sebagai bentuk ihtiar untuk memberbaiki rizki pada diri dan keluarganya. Dengan tawakkal kepada Allah Swt, dan memasrahkan diri serta keluarga kepada-Nya, dia meminta izin kepada istrinya yang tengah hamil tua

    Beberapa saat kemudian, ia pun pulang dengan rizki yang melimpah di tangannya, bersama rombongan kafilah dari negeri jiran dia tiba. Tapi ketika dia pulang ke rumah dan hendak menemui sang istri tercinta beserta anaknya,  ternyata mereka telah tiada dan meninggal dunia. Tetesan air mata yang akhirnya dia terima dari ibu istrinya itu, saat menjemput kedatangannya.

    Lalu diapun segera pergi ke pusara sang istri tercinta. Tapi anehnya, setiap kali dia berziarah, di sana selalu mendengar suara tangisan bayi dari kuburnya. Terus didengar suara itu olehnya hingga didengar pula oleh semua orang yang berada di sekitar makam tersebut.

    Muncul tanda tanya dalam hati Abdullah Basyri; Suara siapakah itu? Apakah itu suara anaknya? Tapi masa iya? Atau suara orang lain. (Baca: 10 Doa Agar Anak Menjadi Sholeh)

    Hingga akhirnya datanglah Imam Malik bin Dinar ra dan beliau berkata kepadanya, "Sudah tiga kali baginda Nabi saw datang kepadaku, beliau menitipkan salam untukmu dan memerintahkan kepadamu untuk segera mengambil anakmu di dalam kubur yang masih hidup bersama ibunya,"

    Maka diapun segera pergi ke makamnya, lalu menggalinya dan subhanallah, benar apa yang dikatakan oleh Imam Malik bin Dinar. Sang bayi masih hidup dalam posisi menetek (menyusu). Jasad sang ibu telah mati namun air susu masih segar, laksana menyusu kepada orang yang masih hidup. Itulah bukti dari firman Allah Swt yang berbunyi:

    ومن يتوكل على الله فهو حسبه.

    Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (Ath-Thalaq : 3). Wallahu A'lam. [dutaislam.com/ ed]

    Source: Ngaji Kliwonan Bersama Maulana Habib Luthfi bin Yahya  di Kanzus Sholawat Pekalongan, malam 19 Ramadhan 1437/ 24 Juni 2016 M. 

  • Syaikh Abul Hasan As Syadzili Tahu Manfaat Biji Kopi Setelah Mimpi Bertemu Rasul

    Admin: Duta Islam →
    syeikh hasan as syadzili

    DutaIslam.Com - Suatu ketika Syaikh Abul Hasan mendatangi kediaman gurunya, Syaikh Abdullah Al-Masyisyi, di puncak suatu bukit untuk keperluan meminta ijazah doa untuk diwiridkan. Akan tetapi, oleh sang guru yang juga seorang wali keramat itu justru diperintahkan untuk menemui sahabat beliau, yang juga seorang wali di Desa Syadzil.

    Mendapat perintah itu, Syaikh Abul Hasan segera pamitan dari gurunya. Pada awalnya ia bermaksud untuk langsung pergi ke desa yang membutuhkan waktu satu bulan perjalanan kaki tersebut pada hari itu juga. Akan tetapi, karena ada perhitungan lain, akhirnya ia pergi pada keesokan harinya. Hal ini rupanya sudah diketahui oleh gurunya di Syadzil. Keesokan harinya, sampailah ia di Syadzil. Jarak satu bulan perjalanan, dengan karomahnya, ia tempuh tak lebih dari beberapa jam.

    "Hai Abul Hasan, sebenarnya sudah sejak kemarin saya tunggu kamu datang," demikian sang syaikh membuka penjelasan, "wirid yang kamu inginkan itu cara mengamalkannya cukup berat, tetapi saya selalu sesuaikan dengan keadaan orang yang akan mengamalkannya. Kamu saya anggap cukup kuat, oleh karenanya, kamu saya buatkan syarat, amalkan wirid ini selama 40 malam berturut-turut tanpa batal wudlu. Dan kamu akan saya berikan kenang-kenangan. Namamu akan saya tambah dengan nama negeri ini menjadi ' Abul Hasan Asy-Syadzili '."

    Syaikh Abul Hasan menerima anugerah dari gurunya yang karomah itu -- dalam buku sumber tulisan ini, sang guru tidak disebutkan namanya -- dan langsung mohon diri.

    Sewaktu ia mengamalkan wirid itu, ia merasa lain dari biasanya. Wirid yang diijazahkan gurunya itu ternyata sangat berat diamalkan, tidak seperti mewiridkan doa-doa yang lain. Kadang-kadang pada malam terakhir ia tak tahan ngantuk lalu tertidur, dan karenanya ia harus memulainya lagi dari malam pertama. Begitu berulang-ulang.

    Akhirnya ia melaksanakan salat hajat mohon kepada Allah supaya bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad saw. Doanya makbul, mimpinya didatangi Rasulullah.

    "Wahai Rasulullah, saya diberi wirid oleh guru saya, tetapi sampai sekarang saya belum bisa menyelesaikan cara pengamalannya. Saya mohon petunjuk," demikian katanya di dalam mimpi kepada Baginda Nabi saw.

    "Hai Abul Hasan, ini saya bawakan biji-bijian yang banyak terdapat di tempatmu, tetapi orang-orang belum tahu kegunaannya. Biji ini jemurlah, goreng kering-kering sampai menjadi arang, kemudian tumbuklah sampai lembut, dan sesudah itu baru kau seduh dengan air mendidih. Air itulah yang kamu minum setiap malam, insya Allah kamu tidak akan mengantuk."

    Esoknya tahulah ia bahwa biji yang ditunjukkan Baginda Nabi saw dalam mimpinya itu adalah biji kopi. Dia melaksanakan petunjuk Baginda Nabi saw hingga akhirnya menjadi orang pertama yang mengetahui manfaat biji kopi, yakni supaya kuat berjaga malam demi beribadah kepada Allah. 

    Sejak saat itu ia bisa menahan wudlunya sampai 40 malam tanpa batal. Oleh karena itu, pantaslah bila kebiasaan orang-orang dahulu ketika hendak meminum kopi, mengirimkan pahala Fatihah kepada Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili.

    Sumber: Buku "Kisah-kisah Kemunculan Khidir Membimbing Ruhani Para Waliyullah", diterbitkan Penerbit Pustaka Pesantren. [dutaislam.com/ ab]
  • Membaca Surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Nas dalam Witir

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Mengapa Saat Witir Terakhir Membaca al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas?

    ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﺟﺮﻳﺞ، ﻗﺎﻝ: ﺳﺄﻟﻨﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ، ﺑﺄﻱ ﺷﻲء ﻛﺎﻥ ﻳﻮﺗﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؟ ﻗﺎﻟﺖ: «ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻌﺔ اﻷﻭﻟﻰ ﺑﺴﺒﺢ اﺳﻢ ﺭﺑﻚ اﻷﻋﻠﻰ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻗﻞ ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻗﻞ ﻫﻮ اﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻭاﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ»

    Abdul Aziz Ibnu Juraij bertanya pada Aisyah: "Dengan apakah Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama melakukan Witir?" Aisyah menjawab: "Di rakaat pertama Nabi membaca dengan surat al-A'la. Rakaat kedua dengan surat al-Kafirun. Rakaat ketiga dengan al-Ikhlas, dan Mu'awwidzatain [al-Falaq dan an-Nas]" (HR Ibnu Majah)

    Imam Nawawi, pentarjih utama dalam Madzhab Syafiiyah, menilai hadis ini sebagai hadis hasan dalam kitab al-Majmu'. Sekaligus memberi jawaban terkait adanya riwayat sahih lainnya yang tanpa menyebutkan al-Falaq dan an-Nas:

    ﻭﺗﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺑﺈﺛﺒﺎﺕ اﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ ﻓﺈﻥ اﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻣﻦ اﻟﺜﻘﺔ ﻣﻘﺒﻮﻟﺔ

    Sebelumnya telah dijelaskan hadis Aisyah yang menetapkan bacaan surat al-Falaq dan an-Nas. Sebab tambahan (dalam redaksi hadis) dari perawi yang terpercaya dapat diterima (Al-Majmu' 4/23)
    Dari argumen ini ada sebuah kaedah:

    المثبت مقدم على النافي

    "Dalil yang menetapkan sesuatu, didahulukan dari pada dalil yang meniadakan." [dutaislam.com/ ab]

    Penulis: Ma'ruf Khozin, anggota di Aswaja NU Center Jatim dan Pemateri rubrik Kajian Aswaja di Majalah Aula NU (Nahdliyin mengamalkan, dalilnya kami sampaikan)
  • Dalil Qunut Witir Ramadhan

    Admin: Duta Islam →
    hukum qunut witir ramadhan

    DutaIslam.Com - Syaikh al-Mubarakfuri, pengarang kitab Tuhfat al-Ahwadzi, mengutip dari ulama ahli hadis Syaikh Muhammad bin Nashr yang menyampaikan banyak atsar, baik dari Sahabat Nabi maupun para ulama ahli ijtihad tentang dasar Qunut di pertengahan kedua bulan Ramadlan. Di antaranya adalah:

    1- Said bin Jubair

    ﻭﺳﺌﻞ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻋﻦ ﺑﺪء اﻟﻘﻨﻮﺕ ﻓﻲ اﻟﻮﺗﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻌﺚ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ اﻟﺨﻄﺎﺏ ﺟﻴﺸﺎ ﻓﻮﺭﻃﻮا ﻣﺘﻮﺭﻃﺎ ﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺼﻒ اﻵﺧﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻗﻠﺖ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻬﻢ

    Said bin Jubair ditanya tentang permulaan Qunut dalam salat Witir. Beliau berkata: "Ketika Umar bin Khattab mengutus pasukan lalu mereka mempedaya pasukan yang dikhawatirkan kepada mereka, maka ketika sudah masuk pertengahan terakhir bulan Ramadlan, saya katakan bahwa Umar berdoa untuk mereka"

    2- Imam al-Syafi'i

    ﻗﺎﻝ اﻟﺰﻋﻔﺮاﻧﻲ ﻋﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻨﺘﻮا ﻓﻲ اﻟﻮﺗﺮ ﻓﻲ اﻟﻨﺼﻒ اﻵﺧﺮ ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺇﻻ ﻓﻲ اﻟﻨﺼﻒ اﻵﺧﺮ

    Za'farani berkata dari al-Syafii: "Aku senang jika mereka Qunut di pertengahan akhir". Al-Syafii tidaklah Qunut di sepanjang tahun dan tidak di bulan Ramadlan kecuali pada pertengahan terakhir.

    3- Imam Ahmad bin Hanbal

    ﻗﻠﺖ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻨﺖ اﻟﻨﺼﻒ اﻻﺧﺮ ﻣﺘﻰ ﻳﺒﺘﺪﻱء ﻗﺎﻝ ﺇﺫا ﻣﻀﻰ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺎﺩﺱ ﻋﺸﺮﺓ

    Saya (Abu Dawud bertanya pada Ahmad bin Hanbal) : "Jika Qunut pada pertengahan akhir bulan Ramadlan, kapankan dimulai?" Ahmad bin Hanbal menjawab: "Jika telah lewat 15, yaitu pada malam 16 Ramadlan"

    Dikutip dari kitab Tuhfat al-Ahwadzi Syarah Sunan al-Tirmidzi 2/463

    Penulis: Ma'ruf Khozin, anggota di Aswaja NU Center Jatim 
    (Nahdliyin menamalkan, dalilnya kami siapkan)
  • Kenangan Saya Bersama KH Dr Habib Thoha MA

    Admin: Duta Islam →

    Oleh M Rikza Chamami

    DutaIslam.Com - Ayahanda teman karib seperjuangan saya H Hasan Chabibie, KH Dr Habib Thoha MA, pada Kamis 23 Juni 2016 sowan keharibaan Allah Swt. Beliau adalah salah satu guru saya sekaligus mentor dalam hidup bermasyarakat.

    Almarhum sebelum purna tugas sebagai Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang memanggil saya untuk mempersiapkan berkas dan menyambungkan titik komunikasi. Selain itu, setiap kali saya dipanggil ke rumah di Tugurejo, beliau selalu mengajakku masuk ke perpustakaan pribadi beliau yang berjejer penuh kitab dan buku-buku berbobot.

    Ketika saya mendampingi beliau membuat nilai mahasiswa di akhir purna tugas itu, banyak pesan-pesan yang saya catat dan tidak bisa saya lupakan hingga saat ini hingga kapanpun.

    Aku dibawa beliau di sebuah almari kayu jati dan meminta saya duduk bersama dengan Pak Habib. Aku diminta buka satu persatu album foto dan ketemulah sebuah album foto yang dikehendaki dan dimintanya.

    Saat itulah beliau mulai berkisah bahwa dalam album itu berisi foto Pak Habib bersama tokoh dunia dan nasional yang semuanya sudah wafat. Ada Sayyid Almaliki, Syekh Syiria, Gus Dur, Mbah Sahal dan lainnya. "Rikza...itu semua foto saya bersama orang 'alim yang sudah wafat dan saya tinggal nunggu jatah dipanggil Allah" kata beliau dengan tegas.

    Sontak saya menjawab. "Ampun ngoten Bapak, kita masih butuh ilmu-ilmu njenengan" jawabku lirih. "Nek Allah ngersakke ya harus diterima," jawabnya.

    Setelah selesai melihat album foto itu, saya meminta restu tentang rencana disertasi saya yang menulis pemikiran tiga Kyai: Mbah Sholeh Darat, Mbah Bisri Mustofa dan Mbah Sahal Mahfudh. Di luar dugaan saya. Dalam kondisi beliau pemulihan dari stroke dan masih ndredeg dikisahkanlah tiga tokoh yang saya sebutkan tadi dari sisi kedekatan beliau dan informasi yang pernah didengar.

    Dan syahdan. Ada kenangan beliau dengan KH Ahmad Abdul Chamid Kendal yang pernah dirasakan. Dimana Kyai Abdul Chamid pernah berpesan kepada KH Abdullah Salim Dosen Unisula pada tahun 1980an untuk menulis biografi Mbah Sholeh Darat untuk acara Haul.

    Lembaran biografi Mbah Sholeh Darat yang dimiliki Pak Habib masih dia ingat tempat menyimpannya. Dengan tangan menunjuk map biru di atas almari, saya diminta mengambil. Subhanallah....benar! Disitu disimpan biografi KH Sholeh Darat. Dan Pak Habib masih ingat kisah-kisah di dalamnya tentang murid Mbah Sholeh Darat. Allahu Akbar.

    Di lain waktu, ketika Kaji Hasan, -demikian saya memanggil anak Mbarep Pak Habib,- pulang Semarang dan kuantar ke rumah, ada kesempatan hampir lebih satu jam saya ketemu Pak Habib. Seperti biasa ketika ketemu saya bertanya seputar kampus UIN, NU, PMII, MUI dan MAJT.

    Saat itulah kisah-kisah Kyai Jawa Tengah dari ujung Brebes hingga Sarang dibeberkan. Termasuk kisah Diponegoro, perjanjian Giyanti dan makam waliyullah Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Thoha bin Yahya di belakang Java Mall Semarang.

    Yang hebat adalah dalam kondisi beliau gerah, masih hafal tahun peristiwa, nama tokoh dan jalan ceritanya secara urut. Akhirnya, kisah cerita itu kami berhentikan karena beliau sudah lelah.
    Sepanjang jalan saya hanya bisa merenung. Allah Maha Kuasa menyimpan ilmu dalam pribadi hambaNya yang dalam kondisi gerah tapi semangat hidup dan siap berserah itu masih lekat.

    Setelah beberapa lama saya dapat pesan untuk sowan ke ndalem Pak Habib. Ternyata beliau menginginkan satu Kitab Tauhid. Kitab itu bernama Mu'taqad Seket karya KHR Asnawi Kudus. Kitab itu belum sempat saya haturkan dan baru saya serahkan Gus Naji ketika Pak Habib opname di RS Tugu beberapa bulan lalu.

    Saat jelang menuju ICU saya meminta ijin Ibu untuk membacakan Hadlrah di telinga Bapak. Saya sebut satu persatu nama tokoh yang ada di dalam album foto yang masih kuingat, nama Walisongo dan Kyai NU. Berkali-kali fatihah itu kupanjatkan. Sebar jantungnya makin stabil dan dari lisannya nampak beliau melafadzkan ALLAH ALLAH ALLAH.

    Selamat jalan Bapak. Waliyullah, Kyai dan para pejuang ahlissunnah telah menanti. [dutaislam.com/ ab] 
  • Sinyal 4G LTE Adalah Ide Dari Anak Petani Kediri

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna.

    Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah.

    Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini.

    Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan.

    FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil.

    Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu.

    Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.

    Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.

    Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.

    Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.

    Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama.

    Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita.

    Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya.

    ***

    Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.

    Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.

    Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah.

    Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat.

    Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’.

    Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar.

    Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak.

    Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.

    “Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.

    Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.

    Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu.

    Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan. “Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia.

    Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi.

    Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.

    Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan diterima.

    Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula.

    Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu. [dutaislam.com/ ab]
    .
    Sumber: dream.co.id