Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Rugi Dua Kali Saat Saya Ketemu Mbah Liem Klaten

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 03 Mei 2016
    A- A+
    Oleh Yahya Cholil Staquf

    DutaIslam.Com - Gus Dur datang malam-malam ke rumah Gus Mus, bersama seorang lelaki tua berperawakan kecil yang penampilannya kucam tapi terkenal wali. Mereka mampir di tengah perjalanan keliling yang sudah berhari-hari.

    “Dia ini sudah tiga hari tidak mandi dan tidak ganti pakaian,” kata Gus Dur, meledek lelaki itu. Yang diledek ketawa terkekeh-kekeh, memasukkan tangan ke balik celana dan menggaruk-garuk pantatnya.

    “Waduh…,” batin saya, “tangannya bekas pantat begitu… nanti kalau salaman kucium apa tidak ya…?”

    “Nggak sopan! Nggak sopan!” lelaki itu nyeletuk di tengah ketawanya, kukira ditujukan kepada Gus Dur, “Sama orang tua harus sopan! Masa sama orang tua tega nggak nyium tangan?”

    Saya tercekat. Jangan-jangan dia ngomong ke saya… Masa dia bisa tahu kata batin saya?

    Gus Dur membuka amplop besar berisi foto-foto lukisan karya seorang pelukis Italia yang lama tinggal di Bali, seluruhnya berupa gambar perempuan Bali bertelanjang dada. Foto-foto itu dibeber di atas meja dan semua orang ketawa-ketawa melihatnya.

    “Sampeyan kok mentheleng sekali ngeliatnya, Mbah?” Gus Mus meledek lelaki tua, “nggak wira’i blas!”

    Lelaki itu malah mengelus-elus foto sambil terus ketawa-ketawa.

    “Masa wali celelekan begitu?” saya membatin.

    “Ora wali yo ben! Ora wali yo ben!” lelaki itu nyeletuk lagi.

    Saya tercekat lagi.

    Gus Dur bersiap-siap hendak pamitan, tapi teh di gelas lelaki tua itu masih sisa separoh.

    “Kalau dia benar wali, sisa minumannya tentu mbarokahi,” batin saya, “tapi apakah sudah ada cukup dasar bagiku untuk meyakininya?”

    Gus Dur sudah berdiri dan menyalami orang-orang, tapi lelaki itu malah sibuk mengoplos sisa tehnya dengan sisa milik Gus Mus. Teh oplosan itu lalu diletakkan di tengah meja.

    “Kalau nggak doyan, buang!” katanya, kemudian menyusul Gus Dur. Ketika bersalaman, saya hendak mencium tangannya, tapi dia malah menariknya buru-buru. Setelah tamu-tamu berlalu, saya menghampiri teh oplosan untuk meminumnya, tapi sudah keduluan Gus Mus.

    Saya rugi dua kali?

    ---------------------------------------
    Akhmad Musta'in: Bagi Anda yang belum tahu, orang yang diceritakan di atas ialah K.H. Muslim Rivai Imampuro (lebih dikenal dengan panggilan Mbah Liem), pengasuh PP Al-Muttaqin Pancasila Sakti, Troso, Sumberrejo, Klaten. Sehari-hari beliau ngendikan dengan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti oleh orang lain. Beberapa kali sowan beliau, kali pertama sekitar 1994, saya selalu menjumpai beliau menerima tamu dengan pendamping yang juga berlaku sebagai “penerjemah”. Bisa Bu Nyai sendiri, anak mantu beliau, atau santri senior. Menurut majalah Tempo dalam sisipan edisi khusus berjudul “Kiai-kiai Sakti di NU” tahun 1992, beliau hanya bisa berbicara dengan jelas hanya pada tiga moment penting: menjadi imam salat, membaca al-Qur’an, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: