Kamis, 19 Mei 2016

Kiai Kathi: Wali Mastur Jepara yang Masih Misterius

makam kiai kathi jepara
Limas: makam Kiai Khati jepara berbentuk lima seperti masjid Demak
(Foto: dutaislam.com/ ab)
Oleh M Abdullah Badri 

DutaIslam.Com – Makam Kiai Kathi yang terletak di Dusun Telahap, Desa Kecapi, Rt. 12 Rw. 02, Kec. Tahunan, Jepara baru dibuka haul pertama tahun 2011. Menurut keterangan pada nisan, makam baru dirapikan Jumat Legi, 22 Juli 2011 M/ 20 Sya’ban 1432 H. Sebelum itu, masyarakat setempat tidak tahu persis dimana letak makam Mbah Kathi sebenarnya. Mereka hanya tahu makam Kiai Khati ada di komplek pemakaman umum.

Menurut keterangan Suyuthi, warga Demak yang sudah mukim 31 tahun di Kecapi, nisan makam Kiai Kathi tersebut pertama kali ditemukan oleh Mbah Sukardi (alm) setelah mengajak Mbah Zayin, sesepuh desa Kecapi untuk menelusuri posisi sesungguhnya. Mbah Sukardi dan Mbah Zayin sendiri adalah sesepuh desa keturunan Kiai Kathi.

Namun, soal silsilah secara rinci, tidak ada yang berani membuka hingga sekarang. 9 orang yang datang menanyakan silsilah Mbah Kathi ke Kiai Muhromin, Pengasuh Pesantren Susukan, Salatiga pun, nihil. Itu terjadi tahun 2011 setelah haul kecil-kecilan pertama diselenggarakan.

“Jangan kau cari. Itulah wali Allah yang sesungguhnya. Jadi, ada wali Allah yang mau dibuka, ada yang tidak. Beliau memang tidak suka dipamerkan,” jelas Kiai Muhromin kepada 9 orang rombongan kala itu, termasuk Suyuthi.

Kata Suyuthi, Kiai Muhromin mengucapkan kalimat dengan bahasa tubuh yang berat. Kiai tidak mampu duduk di kursi sofa. “Pinarake Kiai Muhromin melorot terus seperti orang yang sedang menerima beban berat,” ujar Suyuthi, Rabu (11 Mei 2016).

Mbah Sukardi yang keturunan Kiai Kathi dari jalur ibu pun mengucapkan hal yang sama. Kepada Suyuthi, Mbah Di –panggilan Sukardi- mengatakan “Ora usah mbok goleki, suatu saat engko bakal ono sing jelaske dewe.”

Tahun 2015, ketika haul besar diadakan untuk pertama kali, Habib Luthfi yang jadi pembicara pun tidak menerangkan silsilah rinci Kiai Kathi. Intinya, Habib Luthfi hanya mengajak mahabbah kepada wali Allah dan pejuang agama seperti Mbah Kathi. Bahkan ketika selesai ngaji, baju kebesaran Habib dibuka, kopyah dilepas, lalu jagongan santai di atas panggung pengajian.  

Yang pasti, lanjut Suyuthi, Mbah Kathi bukan cikal bakal desa Kecapi. Adapun cikal bakalnya adalah Mbah Shimah. Kiai Kathi dikenal sebagai tokoh agama setempat waktu itu, yang datang dari luar daerah, alias pendatang. “Soal darimana asalnya, saya belum berani menerangkan. Belum waktunya,” ujarnya.

Peninggalan Kiai Kathi yang masih ada hingga sekarang adalah Mushalla Baitus Salam, terletak di Jalan Kiai Kathi, Kecapi, Jepara. Kini, petilasan tersebut diteruskan kepemimpinannya oleh keturunan dari jalur ayah, namanya Ustadz Aziz. Disebut Kathi karena putra tertua dulu dipanggil dengan sebutan Kathi. Jadi, Kathi adalah nama panggilan untuk putra Kiai Kathi. Nama aslinya, belum dibuka hingga laporan ini dibuat.

Wali Mastur
Bukti bahwa Kiai Kathi disebut wali Allah salah satunya adalah datangnya orang luar kota yang mencari makam Mbah Kathi. Seingat Suyuthi, pernah ada orang Surabaya, Purwodadi dan Pati mencari makam Kiai Kathi beberapa tahun silam sebelum dibuka haul umum 2011.  

Jika dulu warga desa tidak banyak yang mengetahui titik pasti makam Kiai Kathi, kini, berkat haul, orang-orang yang mencari makam, bisa mudah menemukan. Sudah ada jalan menuju makam yang dibuat di atas tanah wakaf dari warga. Lokasi makam juga semakin luas dan nyaman sejak dibangun pertama kali oleh keluarga Mbah Sukardi lima tahun lalu.

Kini sedang tahap membangun pondasi aula setelah ada warga yang mewakafkan tanah. Tujuannya sebagai tempat bagi peziarah yang ingin menginap di makam. Selama ini, tamu yang ijin menginap di makam selalu ditolak Suyuthi karena belum ada ruang inap. Semakin tahun haul Mbah Kathi tambah semarak. Baca laporan haul Kiai Kathi: Merusak Tahlil Berarti Merusak Bangsa Indonesia.

Jika diperhatikan, arsitektur makam Kiai Kathi mirip bangunan makam Mbah Hasan Munadi, Ungaran, Semarang. Mahkota bangunannya pun mirip masjid Demak Bintoro membentuk limas.  Yang unik, di atas bangunan makam, ada kalimat “Allah Muhammad” berbahasa Arab yang disambung hurufnya antara “Ha’” dan “Mim” nya. Ini fotonya, diambil 16 Mei 2016 M:

gambar allah muhammad digandeng
(Foto: dutaislam.com/ ab)
Semua bentuk bangunan itu, kata Suyuthi, atas petunjuk atau permintaan dari Mbah Kathi. Kini, permintaan Mbah Kathi agar makam dibangun satu set dengan mushalla dan sumur sedang dilaksanakan. Biasanya, kalau atas dasar petunjuk, akan cepat rampung. Wali Allah itu tidak mati. Ia hanya pindah kamar istirahat. [dutaislam.com/ ab]  
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini