Minggu, 22 Mei 2016

Khasebul Katolik Dalam Kisruh Sabdaraja


DutaIslam.Com - “Kalau teman-teman Katolik mau meringankan beban sejarah di Indonesia, mereka harus berani menulis sejarah kelam mereka”. (Ben Anderson)

Genderang perang kebudayaan telah ditabuh, meski tidak tampak, cenderung di bawah tanah. Kali ini momentumnya adalah Sabdaraja Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan pada 30 April 2015. Keputusan Sultan yang menghapus gelar kalipatullah memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan, terutama dari kelompok Islam tradisionalis-Jawa. Bukan hanya persoalan politik dan ekonomi, tetapi yang jauh lebih “mengerikan”, menurut Bray Sri Paweling, penulis buku ini, adalah mengobrak-abrik sampai menghancur-leburkan tatanan kosmologi Islam Jawa.

Sepintas mungkin sederhana, tetapi tidak bagi Bray, yang dalam buku setebal 200 halaman ini tersaji data-data yang sebenarnya “sangat rahasia” bersumber dari informan internal keraton Yogyakarta, yang kemudian dianalis berdasarkan fakta-fakta dan diramu dengan jejaring pengetahuan sosial, khas disiplin antropologi. Buku ini bertumpu pada penelusuran tentang siapakah “pembisik” yang menskenarionakan terjadinya Sabdaraja itu?

Bray menuding kelompok yang disebutnya sebagai “Khasebul” merupakan penyebab malapetaka bagi keraton Yogyakarta dan Islam Jawa. Apa itu Khasebul? Memang tidak banyak literatur yang mengurai terminologi ini. Selain Bray, terdapat nama B. Suryasmoro Ispandrihari, seorang mantan Khasebul yang menulis untuk kepentingan skripsi di UGM dan diterbitkan secara terbatas berjudul Penampakan Bunda Maria: Counter Discourse atas Hegemoni Gereja dan Rezim Orde Baru (2000).

Khasebul adalah singkatan dari “kaderisasi sebulan” atau dalam pemahaman Suryasmoro sebagai “khalwat (retret) sebulan”, suatu program pendidikan kader Katolik secara nasional, yang menjalankan kerja misi doktrin agamanya. Pola pendidikan yang dikembangkan menganut cara-cara intelijen, mulai dari seleksi atau perekrutan maupun operasionalnya. Pater Beek, penggagas dan ideolog program ini, diduga agen CIA yang ditanamkan Amerika di Indonesia untuk melawan komunisme di masa orde baru.

Beek menularkan virus Islamfobia kepada agen-agen Khasebul, yang puncaknya setelah komunisme tumbang tahun 1965, terjadi kolaborasi Gereja Katolik, CSIS (Centre for Strategic and International Studies, yang personelnya banyak alumni-alumni Khasebul), dan Soeharto yang memandang bahwa lawan berat pada masa itu dari kalangan Islam. Sejak itulah alumni-alumni Khasebul melakukan kerja misi di semua sektor, baik politik, ekonomi, dan termasuk kebudayaan.

Nah, dalam konteks itulah, Keraton di Yogyakarta tidak luput dijadikan target misi oleh Khasebul. Tidaklah berlebihan jika kemudian ada keyakinan di kalangan misionaris katolik sendiri bahwa Yogyakarta dianggap sebagai daerah misi “paling subur”, yang tidak jarang menihilkan etika dalam toleransi, persahaban, dan hidup berdampingan secara damai. Mareka terkadang jumawa telah mampu membuat cetak biru benteng papat limo pancer, menggantikan konsep sedulur papat limo pancer-nya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Hal itu bisa diamati dengan berbagai macam simpul yang menunjukkan ke arah tersebut. Di antaranya lewat pintu utama sang ratu, yang oleh Bray disebut sebagai sosok yang memainkan berbagai tekanan kuat di Keraton atas pengaruh dan kendali para fundamentalis alumni Khasebul. Komentar-komentar ratu yang terlihat lembut, melayani dan nderek sultan, sesungguhnya tak lebih sebagai unggah-ungguh dalam tradisi Jawa, tetapi kenyataanya dialah yang berperan aktif mengegolkan “proyek” Sabdaraja (hlm. 37).

Ada banyak data dan bukti yang ditunjukkan di buku ini, meski terkadang bernuansa konspiratif, mulai dari pelemahan peran ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, kelompok garis keras, LSM, dan lain-lain, sehingga mereka abai tidak melakukan kontrol ketat terhadap apa yang terjadi di lingkungan Keraton. Lemahnya peran dan kontrol kelompok-kelompok civil society ini kemudian dimanfaatkan oleh jaringan Khasebul untuk mencongkel simbol-simbol Islam dari lubuk hati Keraton melalui Sabdaraja.

Sekadar menyebutkan dari keberhasilan kelompok Khasebul yang sukses “meng-Katolik-kan” Keraton bisa diamati, misalnya, pada teks pembukaan Sabdaraja yang dibacakan oleh Sultan Hamengku Buwono X dengan kalimat: Gusti Allah, Gusti Agung, Kuoso Cipto, yang dapat dipahami sebagai terjemahan dari Trinitas Katolik (Tuhan Allah, Tuhan Yesus, dan Ruh Qudus) (hlm. 22). Atau berdasarkan informan Bray, yang menyatakan bahwa terdapat simbol-simbol Katolik, seperti simbol salib yang dipasang di beberapa ruangan di Keraton, tetapi kemudian dicopot kembali karena menjadi pembicaraan kalangan Islam Jawa.

Ada juga kesaksian alumni Khasebul yang disarikan dari obrolan lisan dengan informan yang kemudian dikutip juga oleh Bray. “Saya jangan diikut-ikutkan soal pembuat Sabdaraja ini. Saya masih yunior. Desain Sabdaraja itu, urusan senior-senior saya di kalangan alumni Khasebul… Saya sendiri tidak setuju dengan senior-senior alumni Khasebul, yang sampai terlalu jauh melakukan hal demikian. Ini jelas akan mencelakakan berbagai hubungan dan persahabatan yang selama ini dibangun di kalangan sesama anak bangsa” (hlm. 26).

Kerja misi Khasebul yang demikian memang sangat rapi, halus, dan terkoordinir sangat baik melalui beberapa jaringannnya. Tengoklah, ketika kisruh Sabdaraja yang memicu kontroversi dan polemik publik, tiba-tiba muncul tokoh-tokoh Khasebul: analis politik J. Kristiadi (CSIS), wartawan senior James Luhulima, dan budayawan Radhar Panca Dahana, yang memainkan opini publik dengan menulis di media mainstrem¸bahwa Sabdaraja dengan segala konsekuensinya merupakan keniscayaan atas nama demokrasi dan kemodernan.

Alhasil, babak baru Keraton Yogyakarta pasca-Sabdaraja menampilkan hal-hal modern, yang justru keluar dan menyimpang dari tradisi sakral yang sebelumnya terpelihara. Akhir Juni 2015, untuk pertama kalinya dalam sejarah keraton, menyelenggarakan grebeg gunungan yang tidak lazim, yaitu berisi 4000 batu akik. 

Padahal menurut Bray, menjadikan akik sebagai simbol kesejahteraan rakyat Yogyakarta betul-betul merendahkan nilai luhur keraton dengan simbol yang banal, dangkal makna, dan hanya tren sesaat. Ini mengingkari simbol-simbol yang teratur sangat sistematis dalam gunungan grebeg keraton sesuai paugeran, yakni komoditas yang mencerminkan kesejahteraan rakyat Yogyakarta seperti bahan-bahan makanan pokok.

Setelah ditelusuri, ternyata otak dari ide gunungan batu akik itu adalah Widi Hasto Wasana Putra, direktur operasional dan pemasaran PT. Jogjatama Vishesa. Dia adalah alumni Khasebul yang menjadi mata rantai level bawah untuk operasi di DIY, dari jaringan yang melakukan kerja-kerja misi Katolik dengan cara yang canggih (hlm. 102).

Atas fenomena itulah, Bray yang merepresentasikan sebagai kelompok Islam Jawa menyatakan prihatin, dan menganggap pertarungan kebudayaan ini belum selesai dan akan terus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. 

Para generasi Islam Jawa perlu mencatat, tulis Bray, fundamentalisme Katolik adalah racun mematikan dalam memelihara hubungan perdamaian dan toleransi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta: bermuka musang, berbulu domba; manis cangkemnya, busuk agendanya; menawarkan madu di tangan, menyelipkan racun lewat tangan kiri; kaki kanan melangkah, kaki kiri menjegal.

Peresensi adalah Pecinta Islam Jowo dan Keseimbangan Jagad Raya, 
kolektor dan pembaca buku
----------------------------------------------------------

Terimakasih “pengirim misterius” yang telah mengirimkan buku ini, dan berhasil menggoda saya untuk meresensi lagi setelah sebelumnya cukup lama vakum. Dan saya tidak menyebarkan buku ini, sebagaimana amanat penulis dan penerbitnya, tetapi hanya mereview.

Judul : Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, Khasebul, dan Kerja Misi
Penulis: Bray Sri Paweling
Penerbit: Anonimouse
Tahun: I, Januari, 2016
Tebal: 200 halaman
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini