Senin, 23 Mei 2016

Habib Luthfi: Membaca Al-Qur’an Untuk Menghibur Nafsu

habib luthfi bin yahya membaca al-qur'an

DutaIslam.ComHabib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan, dalam pengajian Kliwonan di Gedung Kanzus Shalawat Pekalongan, Jumat (20/05/2016), menjelaskan ma’rifatul ikhlash yang mudah diucapkan namun sangat sulit dilakukan tanpa tahapan-tahapan yang rutin.  

“Siapa sih yang tidak menginginkan pahala. Semua orang yang beribadah menginginkan pahala. Tapi kadang kita lupa kepada si pemberi pahala. Hanya pahala yang dikejar, tapi yang memberikan pahala tidak,” papar Habib Luthfi kepada ribuan hadirin.

Kalimat Habib Luthfi tentu sebagai introspeksi, kritik dan sekaligus sindiran bagi cara-cara beribadah yang cenderung bangga setelah melaksanakan ritual kewajiban semacam shalat, puasa, zakat dan lainnya. Seolah-olah, ketika beribadah, neraka sudah jauh dari hadapannya. “Takut kepada neraka melebihi takut kita kepada Allah. Ini aneh. Padahal, ketika kita takut kepada pencipta neraka, itulah sejatinya khauf kepada Allah SWT,” tegas Habib.

“Apabila ingin keikhlasan kita bisa menggapai keikhlasan, kenali dahulu si pemberi pahala. Besar mana nilai pahala dengan pemberi pahala? Orang ahli ma’rifah akan mengatakan lebih besar pemberi pahala,” lanjutnya.

Mengaku mampu melaksanakan ibadah adalah bagian dari ikhlash yang belum mencapai cahaya Allah yang sesungguhnya. Kalau dalam ikhlash hanya mengenal ibadah tanpa makrifat kepada Allah, maka, ia tidak akan sadar bahwa yang membuatnya mampu melaksanakan ibadah sebenarnya hanyalah Allah.

Oleh karena itulah, kunci segala iklash adalah melihat (ma’rifat) kepada Allah sehingga memiliki rasa malu di hadapan-Nya. Inilah yang disebut Habib Luthfi sebagai nurul ma’rifat (cahaya ma’rifat) dari ikhlash.

“Kalau kita sudah mendapatkan nurul makrifah, maka yang berat akan terasa nikmat. Contohnya, puasa Ramadhan. Walaupun di akhir akan berbuka puasa, orang yang menikmati puasa itu seolah-olah kalau waktu bisa diajukan sedikit, ia akan bilang “jangan buru-buru maghrib,” tandas Maulana Habib.

Sayangnya, kebanyakan dari kita sering tertipu oleh nafsu sendiri. Membaca Qur’an pun kadang bukan karena Allah. Kelihatannya karena Allah, tapi sesungguhnya ia sedang menghibur nafsunya.

Misal, membaca Al-Qur’an untuk menunggu buka puasa. Bagi yang bacaannya lancar pasti tahu kalau membaca satu juz biasanya habis 30 menit. Namun, menjelang nikmat berbuka puasa, membaca Al-Qur’an jadi tidak khusyuk. Belum rampung satu juz, matanya melirik ke jam berkali-kali menanti kapan maghrib segera tiba. “Ini nafsunya dihibur oleh Qiroatil Qur’an,” tutur Habib Luthfi.

Ramadhan akhirnya menjadi tahapan orang-orang beriman untuk tidak tertipu nafsu agar bisa meraih maqomatil ikhlash yang sesungguhnya. “Kita harus bangga diperintah Allah bisa shalat, zakat, tarawih, karena itu bagian dari kehormatan dari Allah SWT yang diberikan kepada kita,” lanjutnya.  

Kalau setiap orang mukmin selalu menikmati dipanggil oleh Allah SWT sebagai “Ya ayyuhal ladzina amanu/ hai orang-orang yang beriman”, sebagaimana dalam ayat-ayat yang tersebar dalam Al-Qur’an, mestinya kita malu. “Solusi untuk menghilangkan rasa malu, kita harus taat kepada Allah SWT,” pungkas Habib Luhtfhi. [dutaislam.com/ abdullah badri
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini