Senin, 23 Mei 2016

Ada Opera Van Java di Ponpes API Mathali’ul Anwar Tahunan Jepara

Konflik: para santri sedang akting di Panggung Pementasan Teater Ponpes Asrama Pelajar Islam Mthaliul Anwar Tahunan dengan judul Jaka Tingkir vs Arya Penangsang, Ahad (22/05/2016) malam. Foto: dutaislam.com/ abdullah badri
DutaIslam.Com – Cerita diawali dari polemik Jaka Tingkir/ Sultan Hadiwijaya yang menjadi Raja Kesultanan Demak, sementara ia bukan keturunan raja. Atas dasar itu, Arya Penangsang bermaksud memberontak dengan mengutus dua prajurit bersenjatakan Keris Setan Kober miliknya.

Sesampainya di wilayah kerajaan, dua prajurit Arya Penangsang itu menggunakan aji-aji Begonondo untuk menyirep orang-orang di istana. Tidurlah semua orang. Namun, ketika Jaka Tingkir ditusuk menggunakan Setan Kober, senjata Arya Penangsang itu tidak berfungsi. Ternyata, Jaka Tingkir memiliki ajian Lembu Sekilan.

Terjadilah peperangan karena para prajurit Jaka Tingkir terbangun. Dua Parjurit Arya Penangsang dibebaskan namun Keris Setan Kober disita oleh Jaka Tingkir. Kegagalan dua prajurit itu membuat Arya Penangsang marah. Mereka dihajar habis-habisan.

Kepada gurunya, Sunan Kudus, Arya Penangsang minta restu untuk merebut Kerajaan Demak dengan cara perang. Namun, ia dilarang. Sunan Kudus memberikan solusi kepada Arya Penangsang dengan sebuah kursi duduk. Siapa pun yang menduduki kursi yang sudah dirajah Sunan Kudus itu, ia akan mengalami nasib sial selama 40 hari. Jika ingin merebut Demak, Arya Penangsang harus punya strategi agar Jaka Tingkir bisa duduk di kursi itu.

Pertemuan antara Arya Penangsang, Jaka Tingkir dan Sunan Kudus digendakan dengan tetap menyertakan Ki Ageng Pemanahan. Hampir saja Jaka Tingkir duduk di kursi sial itu, namun dicegah oleh Ki Ageng Pemanahan dengan alasan tidak sopan kepada Sunan Kudus, karena selain ia adalah tamu yang tidak layak duduk di kursi mewah, Jaka Tingkir adalah adik seperguruan Arya Penangsang dari Sunan Kudus. Arya Penangsang lah yang akhirnya duduk di kursi sial itu.

Daripada diserang duluan, Ki Ageng Pemanahan mengusulkan Jaka Tingkir agar melawan Kerajaan Jipang pimpinan Arya Penangsang dengan cara baris pendem. Yang diutus jadi panglima perang ketika itu adalah Sutowijoyo, anak Ki Ageng Pemanahan sendiri.

Arya Penangsang, metu kuwe!” teriak Sutowijoyo. Tak lama kemudian, muncul laki-laki angkuh dari balik panggung. “Hei, Sutowijoyo, bocah mambu kencur wani-wanine nantang Aryo Penangsang. Nek pancen awakmu ngajak perang saiki, tak layani opo sing dadi kekarepanmu. Aku ora wedi. Mati urip tetep tak lakoni tantanganmu. Prajurit, majuuuu…!

Dalam perang yang berkecamuk, dalang menceritakan peristiwa perang itu. “Aryo penangsang mati, mergo njabut keris ning wetenge, ususe mbrodol. Aryo penangsang dikalahke Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijoyo, goro-goro Aryo Penangsang ora manut dawuhe bopo Sunan Kudus ora oleh nyebrang Kali Serang,” begitu narasi dalang. Tombak Pleret milik Jaka Tingkir akhirnya menembus dada Arya Penangsang.

Anda tidak menyaksikan itu di televisi opera van Java atau di panggung profesional lain. Itu adalah pertunjukan drama teater yang seutuhnya diperankan para santri Asrama Pelajar Islam Mathaliul Anwar (APIMA), Rt. 04 Rw. 01, Desa Randusari, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Ahad (22 Mei 2016) malam.

Drama berjudul “Joko Tingkir versus Arya Penangsang” di atas diperankan oleh 8 santri di halaman mushalla ponpes APIMA. Joko Tingkir diperankan oleh Zahid, Arya Penangsang (Agus Badari), Sunan Kudus (Ragil), Sutowijoyo (Gunawan), Ki Gede Pemanahan (Zub), Prajurit Jaka Tingkir (Falah + Fadholi), Prajurit Arya Penangsang (Aziz Magelang + Ari Ndalem) dan Mantani (Agus Suwarto). Dalangnya bernama Saiful Munir asal Lampung.

Menurut Romadhon (25), santri 2004 asal Boyolali, pementasan teater tersebut adalah yang ke-4 kalinya di APIMA dalam rangkaian kegiatan Haflah At-Tasyakkur lil Ikhtitam yang tahun ini jatuh ke 22. Semua pemeran adalah santri. Pelatihnya juga santri. Kisah dan skenario juga ditulis oleh para pemain yang santri, bareng-bareng.

Pertunjukan malam itu menjadi istimewa karena perlengkapan lighting, penataan artistik panggung, suara dan lainnya dibantu oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Jepara. “Kami tidak melatih mereka, hanya memfasilitasi perangkat teater yang perlu disediakan,” kata Ngateman, Ketua Lesbumi NU Jepara.

APIMA terbilang ponpes unik di Jepara. Dalam haflah selama seminggu (17-23 Mei 2016), kegiatan yang diselenggarakan selalu melibatkan banyak orang, terutama masyarakat umum. Kegiatan itu antara lain: sepak bola dan pasar malam (17/05), nonton layar tancap bersama (18/05), pengajian khataman santri kampung (19/05), karnaval APIMA ke-8 (20/05), donor darah dan qashidahan al-Kautsar (21/05), pentas seni teater (22/05) dan puncaknya, pengajian umum bersama Gus Mus (23/05).

Kata Romadhon, kegiatan haflah selalu menyertakan ribuan orang agar masyarakat sekitar merasa memiliki ponpes yang mayoritas dihuni oleh santri luar Jepara dan luar Jawa tersebut. “Jumlah santrinya ada sekitar 130-an,” lanjutnya.  

Pengasuh ponpes, Kiai Ali Masykur, yang juga Ketua MWC NU Tahunan, lanjut Romadhon, sengaja mengundang banyak orang, walau ke pondok mereka membawa kostum reok ponorogo dalam festival atau membawa kelompok pecinta vespa Jepara pada pertandingan sepak bola atau pasar malam. “Mirip tradisi di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang,” jelasnya. #Ayo Mondok! [dutaislam.com/ abdullah badri]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini