Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Surat Rintihan Dafid Fuadi Atas Polemik Gagal Lurus

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 23 April 2016
    A- A+
    Oleh Dafid Fuadi

    DutaIslam.Com - Setelah beberapa hari saya renungkan dan evaluasi, akhirnya saya menulis tulisan ini. Tulisan ini bukan sebuah nasehat atau himbauan, apalagi teguran, tapi hanya sekedar curahan hati saya, curahan hati seorang manusia jelata yang sangat bodoh.

    Memang tidak bijaksana, mencurahkan isi hati seperti ini secara terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, tapi dikarenakan ‘apa yang mereka lakukan’ telah dipertotonkan di muka umum, maka saya pun terpaksa menyampaikannya di depan umum. Paling tidak, tulisan ini bisa menjadi bahan introspeksi saya pribadi yang penuh dosa dan salah ini.

    Secara definitif, agak sulit menjelaskan apa yang dimaksud dengan NU GL dan Non NU GL itu. Tapi setidaknya bisa kita lihat dan kita amati ‘hiruk pikuk’ ke dua belah pihak itu melalui di dunia maya.

    ‘Pertarungan pemikiran’ antara NU GL dan Non NU GL saya rasa sudah semakin membosankan untuk diikuti dan cukup banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran untuk sesuatu yang hanya akan menguntungkan musuh-musuh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Belum lagi fitnah, gunjingan, ketergelinciran lisan dan terkoyaknya kehormatan, persaudaraan, persahabatan dan pertemanan yang ditimbulkan akibat dari ‘pertarungan pemikiran’ tersebut sudah semakin memalukan.

    Satu hal yang mendorong saya untuk mencurahkan isi hati saya dalam tulisan ini adalah semangat persaudaraan, persahabatan dan pertemanan, agar jangan sampai tercerai berai, perjuangan kita yang penuh liku dan duri ini masih panjang dan tugas yang harus kita selesaikan masih banyak.

    Untuk NU GL:
    1. Kalian adalah anak-anak muda yang mempunyai semangat tinggi dan kecintaan yang kuat kepada Jam’iyah kesayangan kita, Nahdlatul Ulama. Apa yang kalian lakukan tentunya demi untuk kebaikan Nahdlatul Ulama, yang didirikan sebagai benteng Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) oleh para Ulama pada 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 2016 M yang lalu.
    2. Ilmu kalian bagaikan sebilah pedang tajam yang terhunus yang siap menebas setiap orang yang menyimpang dari Aswaja, tapi gunakanlah pedang itu dengan tepat dan benar, jangan sampai salah sasaran.
    3. Jangan sampai pedang itu malah mengenai saudara kalian sendiri sehingga barisan bisa terkoyak jika tidak dikatakan bercerai berai di saat musuh sudah berada di depan mata, sehingga musuh sesungguhnya tersenyum senang karena merasa terbantu oleh kalian.
    4. Dari sisi strategi dakwah, cukup sulit untuk memahami keputusan kalian dengan menamakan diri sebagai NU Garis Lurus, karena hal itu sama halnya kalian telah menetapkan ada NU yang tidak lurus dan kalian sudah membuat barisan baru atau menjadi oposisi bagi NU, yang tentunya dapat melemahkan perjuangan Aswaja dan menguntungkan Wahhabi, sehingga banyak ucapan dan tulisan kalian disambut hangat oleh orang-orang Wahhabi di web-web mereka.
    5. Saya berharap kehadiran kalian dapat menambah ilmu dan sebagai penerang bagi warga NU. Jangan sampai malah menjadi perpecahan, fitnah dan kesibukan baru bagi warga NU sehingga dapat membuat Wahhabi dan musuh-musuh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah lainnya menjadi senang kegirangan.
    6. Kita adalah manusia biasa, yang pasti bisa berbuat salah dan dosa, marilah kita saling introspeksi dan saling mengingatkan bukan saling menjatuhkan. Ingat, perjuangan masih panjang.

    Untuk Non NUGL:
    1. Kalian adalah anak-anak muda yang mempunyai semangat tinggi dan kecintaan yang mendalam kepada Jam’iyah kesayangan kita, Nahdlatul Ulama. Apa yang kalian lakukan tentunya demi menjaga kehormatan Nahdlatul Ulama, yang didirikan sebagai benteng Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) oleh para Ulama pada 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 2016 M yang lalu.
    2. Kalian bagaikan pohon besar nan rindang, dengan daun lebat nan hijau dan sejuk, dengan buah-buahan segar yang siap dipetik, berdiri kokoh dengan akar yang menancap kuat di dalam bumi dan ranting-ranting indah menjulang ke angkasa, tidak goyah karena terpaan badai, tidak tumbang karena gempa yang dahsyat. Siapapun yang berteduh di bawah pohon itu akan merasa betah dan senang.
    3. Ingat, pohon besar nan rindang itu telah dipagari dengan benteng, benteng yang dibangun oleh para ulama dan pintu gerbang Ilmu Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jangan sampai terlena dan lengah sehingga syi’ah dan liberal dapat memasuki benteng itu karena pintu gerbang terbuka lalu mereka ikut berteduh di bawah pohon itu.
    4. Nahdlatul Ulama adalah rumah kita bersama, mari kita jaga kehormatannya; kehormatan penghuninya, kehormatan pengelolanya dan kehormatan cita-cita dan tujuan pendirinya, kita juga harus ikut menjaga kebersihan rumah itu dari berbagai hal yang tidak pantas, sebagaimana amanat dari peletak pondasi dasar dan pendiri rumah itu.
    5. Saya berharap kehadiran kalian dapat menjadi pembela bagi Aswaja, NU dan warganya. Tentunya jangan sampai menjadi sumber perpecahan, fitnah dan kesibukan baru bagi warga NU itu sendiri, sehingga dapat membuat Syi’ah dan musuh-musuh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah lainnya menjadi kegirangan.
    6. Kita adalah manusia biasa, yang pasti bisa berbuat salah dan dosa, marilah kita saling introspeksi dan saling mengingatkan bukan saling menjatuhkan.
    Sudah habis air mata ini untuk menangisi dan memikirkan ‘pertikaian’ yang sangat memalukan ini, segera akhiri ‘pertikaian’ yang sangat melelahkan ini, rajut kembali persahabatan dan persaudaraan, mari kita saling introspeksi diri dan bisa menahan diri.

    Atau mungkin langkah terbaik bagi orang awam seperti saya ini adalah tidak memihak dan terjebak kepada salah satu dari kedua belah pihak ini.

    Sejenak kita renungkan hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah ra berikut ini, bahwasanya beliau ra berkata:

    كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
    Artinya: "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan. Sedangkan aku bertanya kepada beliau saw mengenai keburukan, karena khawatir keburukan itu akan menimpaku. Aku bertanya, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya, kami dahulu berada di masa jahiliyyah dan keburukan. Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Lantas, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan? Nabi saw menjawab, ”Ya”. Saya bertanya lagi,”Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan? Nabi saw menjawab, ”Ya, dan di dalamnya terdapat ”dakhan” (kotoran). Aku bertanya, ”Apa kotorannya?” Beliau menjawab, ”Kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku; yang mana kamu mengenal mereka, dan kamu akan mengingkari”. Aku bertanya lagi, ”Apakah setelah kebaikan itu akan datang keburukan lagi? Nabi saw menjawab, ”Ya, para da’i (orang-orang yang mengajak) ke pintu-pintu neraka. Siapa saja yang menerima ajakan mereka menuju pintu-pintu neraka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka”. Aku bertanya lagi, ”Ya Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka kepada kami”. Nabi saw menjawab, ”Mereka memiliki kulit yang sama dengan kita, dan berbicara dengan bahasa-bahasa kita”. Aku bertanya lagi, ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami, jika hal itu menimpaku? Nabi saw menjawab, ”Tetapilah jama’at al-Muslimiin dan imam mereka”. Aku bertanya, ”Lalu, bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam”. Nabi saw bersabda, ”Jauhilah semua firqah (aliran) tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, hingga kematian menjemputmu, sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.(HR. al-Bukhari dan Muslim)
    Itulah curahan hati saya, harapan saya semoga ada manfaatnya dan sebagai bahan introspeksi. Tentunya banyak tutur kata saya yang salah dan tergelincirnya lisan saya yang dapat menyakiti perasaan kalian di mana pun saja berada, baik yang saya sengaja atau yang tidak saya sengaja. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya secara lahir dan batin, dan saya yakin kalian tetap berkenan membuka pintu maaf kepada saya.

    Kediri, Jum’at Pahing 14 Rajab 1437 H/ 22 April 2016 M

    Dafid Fuadi, mantan NUGL















    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: