Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Santriwati Nusantara Itu Bernama RA Kartini

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 23 April 2016
    A- A+
    Oleh M. Rikza Chamami

    DutaIslam.Com - Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini yang dilahirkan dalam lingkaran keluarga pejabat pemerintah Belanda di Jepara.

    Kartini bukan manusia biasa, tapi dirinya menyebut sebagai manusia biasa dengan menyebut "panggil aku Kartini saja" dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar. Kartini juga mengungkapkan pada Stella bahwa dirinya "manusia biasa, wanita Jawa dalam tembok tradisi yang kukuh".

    Di tengah orang memujinya karena ayahnya seorang Bupati Jepara RM Adipati Ario Sosroningrat dan Demak kakeknya juga Bupati dengan usia 25 tahun bernama Pangeran Ario Tjondronegoro IV, namun Kartini tetap santun dan kalem.

    Kesantunan Kartini ini bukan beralasan. Sebab Kartini juga anak dari seorang Ibu bernama Ngasirah yang merupakan anak dari seorang tokoh Islam di Telukawur Jepara bernama KH Madirono dan Nyai Hajjah Siti Aminah. Jadi dalam diri Kartini tertanam aliran darah priyayi dan darah pesantren.
    Maka larangan yang dia lakukan untuk memanggilnya Raden Ajeng karena inspirasi kalimat Rasulullah "La tusayyiduni, janganlah engkau memanggilku dengan sayyyid/tuan". Jadi itulah yang perlu dilihat secara seksama bahwa Kartini adalah buah dari pernikahan anak Raja dengan anak Haji yang mempunyai keterkaitan dengan pesantren.

    Dikisahkan oleh Imron Rosyadi, bahwa semua keluarga laki-laki Kartini mengenyam pendidikan pesantren. Untuk anak perempuan tetap diajari agama dengan sederhana dan tetap dididik dengen model pendidikan agama.

    Keagamaan Kartini tidak perlu dipertanyakan kembali. Dalam surat-suratnya yang terhimpun dalam "Door Duisternis tot Licht" secara tegas Kartini menyebut dirinya sebagai abdullah (hamba Allah). Surat Kartini pertama kali ditulis untuk Stella Zeehandelaar pada 25 Mei 1899 sudah menyebutkan budaya muslim bumiputera dan kafir dalam perayaan itu berbeda. Bahkan Kartini menyebut kata Ya Tuhan selama dua kali dalam surat itu.

    Ketegasan Kartini tentang agama Islam yang dipeluknya dan Al-Qur'an sebagai kitab suci agamanya diungkapkan dalam suratnya pada Stella 6 November 1899. Dan surat Kartini kepada Tuan van Kol 10 Agustus 1902 ia tuliskan: "Semua kepandaian karunia Gusti Allah juga".

    Baca: Silsilah Kartini Hingga Rasulullah

    Keteguhan Kartini dalam melakukan perlawanan terhadap feodalisme dan perjuangan meraih hak pendidikan juga merupakan inspirasi dari kisah Siti Aisyah istri Nabi yang muda belia dan sangat cerdas. Artinya, bahwa segala gerak dan langkah Kartini yang merasakan pendidikan lokal-kolonial tetap bersumbu pada titik agama Islam.

    Disinilah sebuah kenyataan bahwa Kartini adalah gadis tawadlu' dan sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Apapun kata orang tua ia mencoba untuk menuruti. Ketidaksetujuan terhadap adat, tradisi dan kondisi itu hanya mampu ia lakukan dengan menulis curahan hati pada sahabat penanya.

    Kartini bukan pemberontak yang berani "minggat" atau kabur dari kadipaten. Keikhlasan itu ia tunjukkan dengan dipingit selama empat tahun (awal 1892 - 2 Mei 1986) bersama dua adiknya Roekmini dan Kardinah.


    Bahkan setelah selesai pingitan yang disebut Kartini sebagai hidup dalam "kotak" terkurung di dalam rumah dan terasing dari luar, ia masih merasakan ancaman untuk dinikahkan. Namun niat itu diurungkan dan Kartini dibolehkan untuk jalan ke Semarang menghadiri perayaan penobatan Sri Ratu Wilhelmina. Kebahagiaan Kartini itu sangat dirasakan saat bisa keluar dari penjara pingitan itu.

    Ketika ambisi untuk bisa sekolah di Belanda seperti Kakaknya bernama Kartono, Kartini pun pupus harapan. Alasan utamanya bukan soal isu gender, tapi ridla ibunya tidak ia dapatkan karena ayahnya sudah sakit-sakitan. Kakaknya juga mengendorkan semangat Kartini untuk ke Belanda. 

    Datanglah kemudian pinangan Bupati Rembang RM Djojo Adiningrat yang sudah beristri tiga itu. Kartinipun menikah 8 November 1903. Itu semua dilakukan dengan semangat agama Islam yakni berbakti pada orang tua dan bukan semata-mata karena adat.

    Disitulah kehebatan Kartini dalam memadukan iklim bergaul dengan orang Eropa yang modern dengan budaya Jawa yang sangat feodal. Garis tengah untuk memadukan itu adalah jiwa santriwati Kartini yang dijalani karena keislamannya.

    Lalu siapa guru spiritual Kartini? Ia adalah KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani yang dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Mbah Sholeh dan Kartini sama-sama berasal dari Jepara. Leluhur Kartini dan Kyai Umar dikenal sangat akrab dalam memperjuangkan Islam dan melawan kolonialisme. Dan Mbah Sholeh Darat juga sering diundang mengaji oleh paman Kartini yang menjadi Bupati Demak.

    Itulah yang menegaskan bahwa umara' walaupun hidup di jaman penjajahan, namun masih dekat dengan ulama nusantara dalam menyusun visi kemerdekaan. Dan Kartini adalah potret santriwati nusantara yang sangat cerdas dalam berdiplomasi dan beragama dalam lingkungan politik etis. Lalu bagaimana kisah pertemuannya Kartini dengan Mbah Sholeh Darat? [dutaislam.com/ab]

    Bersambung (link di bawah ini).....

    Oleh M. Rikza Chamami,
    dosen & mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo

    Rubrik:

    opini
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: