Rabu, 27 April 2016

KH Muhammad Hudun, Pengembara Ilmu Tanpa Kenal Waktu

DutaIslam.Com - Lahir di Jambu, Mlonggo, Jepara (1934) dari pasangan KH. Abdul Ghani dan Kiswati, Kyai Hudun muda mengembara hingga Makkah setelah nyantri di Ngagel, Kajen (Pati), Sarang (Rembang), Mranggen (Demak) dan Buntet (Cirebon). Tidak banyak santri yang baru menghentikan pengembaraan ilmu pada usia 50 tahun (1983).

Ya, KH. Muhammad Hudun Abdul Ghani Umar AS baru menikah dengan Nyai Mahbubah binti Kiai Hafidhon Sumber Pancur Kepung Kediri setelah pulang dari Makkah, berguru kepada Syaikh Muhammad Alwy al-Maliki, dan lainnya. Sejak itu, Kyai Hudun menetap di Mantingan.

Soal ilmu, tidak usah diragukan. Selain Hafidz al-Qur’an –talaqqi kepada Syeikh Abdul Wahab Al Misra (Makkah),- sanad keilmuan beliau meliputi pelbagai disiplin ilmu. Bahkan kutubul hikmah pun bersambung dari Syeikh Sirajuddin Trenggalek (Makkah) hingga muallif (pengarang). Jarang ada kyai yang memiliki sanad Jaljalut Kubro, kitab yang menurut wahabi haram diajarkan.

mbah hudun jepara
Foto Mbah Hudun Mantingan Jepara
Walaupun sudah senja, Mbah Hudun punya tekad kuat untuk  mengembangan ilmu dengan mendirikan lembaga pendidikan bernama Pondok Pesantren Modern Nurul Huda. Dulu, sebelum punya lahan dan bangunan, Mbah Hudun meminjam gedung NU Mantingan sebagai kelas mengajar. Waktu itu, gedung tersebut adalah bangunan Pondok Pesantren Darul Ulum.

Setelah lima tahun mengajar di sana, sejak 1987, Mbah Hudun mengelola pesantren Nurul Huda yang hingga kini beralamat di Jl. Jepara-Bugel Km. 03 Mantingan RT. 18 / RW. 06, Dukuh Pengladenan, Tahunan, Jepara. Semuanya dimulai dari nol. Tiada lain hanya karena ingin khidmah kepada guru-guru beliau yang berwasiat agar tetap istiqomah di Mantingan, dekat makam waliyullah Nyai Ratu Kalinyamat.

Dalam catatan sejarahnya, Kyai Hudun adalah tipe kyai pengabdi kepada ilmu dan pendidikan. Pasalnya, selama nyantri di Ponpes MUS Sarang Rembang, ia juga mengajar di Madrasah Ghazaliyah. Selain itu, Kyai Hudun tercatat sebagai perintis Madrasah Ahlussunnah wal Jamaah di Waru Paciran Lamongan dan Madrasah Darun Najah di Ngemplak Margoyoso Pati.

Mbah Hudun wafat pada usia 81 tahun, Ahad Pahing, (7 Jumadil Ula 1435 H / 9 Maret 2014 M), meninggalkan 5 orang anak, 4 putri dan satu putra; Gus Sholahuddin. Putra kedua Mbah Hudun inilah yang kini mengasuh pesantren Nurul Huda, Mantingan, Jepara. AyoMondok!  [dutaislam.com/ab]

Ini video pemakaman Mbah Hudun Abdul Ghani, Mantingan, Jepara: 


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini