Senin, 11 April 2016

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya


DutaIslam.Com - Awal Ramadhan, empat tahun yang lalu ceramah malam pertama tarawih diberikan oleh Mohammad Mahfud Md., yang waktu itu masih Ketua MK. Ia bercerita mengenai sejumlah hal, namun yang paling mengesankan adalah cerita ini:

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yang sanggup menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil bagi tukang becak untuk bisa mengantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yang mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak-anak?" Kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu. (Baca Duta Islam: Amalan Asyuro Bukan Bid'ah)

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yang disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu-malu, akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran. (Baca Duta Islam: Kisah Pemandu Amalan Tarekat Para Sufi)

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan. (Baca Duta Islam: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi)

Mahfud Md. kontan tercenung. Sebagai lulusan pondok, ia tahu bahwa yang dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan hauqalah, yang aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah". Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yang lain, semampu yang didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Dan memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya? Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?

Tapi kita, yang fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati, terbebas dari riya, sombong).

Sadarlah Allah di atas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal ibadah. Yang tidak sesuai di mata kita belum tentu tidak sesuai di mata Allah. Bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, baiknya kita lebih was was apakah amalan yang Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum daripada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. [dutaislam.com/ab]

Source: Para Pecinta Ulama Habaib Was Sholihin
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini