Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • 21 April, Mengapa Harus Kartini?

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 20 April 2016
    A- A+

    Oleh Amirul Ulum

    DutaIslam.Com - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari nasional, Hari Kartini. Hari Kartini semakin semarak ketika Presiden Soekarno ( 2 Mei 1964) memberi anugerah Kartini sebagai Pahlawan Nasional. Bagi Bung Karno, Kartini layak mendapatkan gelar tersebut sebab jasanya yang mengentaskan perempuan nusantara dari kungkuman  keterbelakangan pendidikan.

    Dalam menilai Kartini, ada dua kubu yang berbeda pendapat. Sebagian melolak Kartini sebab ia tidak lain adalah didikan Belanda, yang menindas bangsa Indonesia. Sebagian lagi menerima tanpa mempermasalahkan siapa itu Kartini secara mendalam. Mereka hanya melihat jasa besar yang ditorehkan Kartini dalam emansipasi wanita, terlebih dunia pendidikan.

    Orang yang tidak setuju dengan adanya Kartini membandingkan dengan pahlawan perempuan yang berjasa untuk bangsa Indonesia semisal Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, Rohana Kudus, Dewi Sartika, Fatimah binti Abdus Shomad, dan Fatimah binti Abdul Wahhab Bugis. Semua perempuan ini berjasa terhadap bangsanya, bukan hanya dalam upaya melawan penjajah, akan tetapi dunia pendidikan pun dijalaninya.

    Mengkaji kebesaran nama Kartini memang tidak bisa dipisahkan dari peran Belanda. Mereka sangat berjasa memfasilitasi Kartini dan mengenalkan Kartini, hingga karyanya (dalam kumpulan surat-suratnya berbahasa Belanda) diterjemah dalam berbagai bahasa,  Inggris, Perancis, Indonesia, Jawa, Arab, dan Jerman. Belanda ingin membuktikan bahwa selain menjajah mereka juga berbuat jasa mencerdaskan kehiudupan pribumi dengan politik etisnya setelah lama digencarkan rodi-rodi dan tanam paksa. Mereka ingin membuktikan bahwa jasanya lebih besar dibanding dengan penderitaan yang ditumpahkan.

    Tanpa menelisik kekurangan-kekurangan Kartini sebagai manusia biasa, ada kelebihan yang tidak diimiliki oleh perempuan lain, baik pendahulunya, maupun perempuan di masa mendatang. Kartini adalah sosok yang cerdas, putri bangsawan, dan mempunyai pemikiran besar yang dituangkan dalam karya tulis, yang senantiasa menginspirasi generasi setelahnya. 

    Ia sangat gigih melawan ketidak adilan pemerintah Hindia Belanda dan memperjuangkan hak perempuan untuk menerima pendidikan sebagaimana laki-laki. Hak pendidikan perempuan yang didengunkan Kartini bukan untuk menyaingi laki-laki, akan tetapi agar perempuan bisa memenuhi kuwajibannya sebagai ibu, orang yang pertama akan pendidik manusia. Jika seorang ibu sudah terbelakangkan pendidikannya, maka bagaimana dengan anaknya. Kartini sangat mewanti-wanti masalah tersebut. Pendidikan yang digagasnya bukan hanya diperuntukkan kaum bangsawan, namun semebar untuk semua kalangan. Ia tidak menyukai pengkotakan yang tidak memanusiakan manusia.

    Bukan hanya membela bangsanya, melalui penanya, ia membela agamanya (Islam). Ia berkata, “Usahakan zending itu, tetapi tidak dengan menashranikan orang!” Dengan teguh ia membela agamanya. Bahkan dengan lantang ia menyuarakan gelar yang diidamkan selama hidupnya, yaitu menjadi “Hamba Allah”, sebuah sematan yang diburu para nabi, rasul, ulama, dan ahli ibdah untuk mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah.

    Atas jasa besar yang ditorehkan Kartini, banyak orang yang terinsiprasi darinya. Setelah terbitnya Door Duisternis Tot Licht ini (1911), berbondong-bondong lembaga pendidikan perempuan berdiri, semisal sekolah Kartini di Semarang  (1912), Pondok Pesantren Putri Denanyar asuhan Kiai Bisry Syansuri, dan Pondok Pesantren Putri Sablak (1921) asuhan Ibu Nyai Khairiyah. Karena pengaruh kuat Kartini, ada salah satu pengasuh perempuan yang dijuluki “Kartini dari Jombang”, yaitu Ibu Nyai Abidah, putri Ibu Nyai Khairiyah.

    Pengaruh Kartini atas emansipasi pendidikan perempuan telah menginspirasi Ibu Nyai Khairiyah untuk mengusulkan agar di Dar al-Ulum Makkah al-Mukarramah (Saudi Arabia) dibuat lembaga pendidikan untuk perempuan disamping lembaga pendidikan laki. Usul itu diterima oleh suaminya, Syaikh Muhaimin al-Lasemi (Rektor Dar al-Ulum). Karena jasa Ibu Nyai Khairiyah dalam memproklamirkan pendidikan perempuan pertama di Saudi Arabia, namanya diabadikan menjadi sebuah perguruan tinggi, Universitas Khairiyah. [dutaislam.com/ab]

    Amirul Ulum, sejarawan muslim, penulis buku “Kartini Nyantri”

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: