Selasa, 29 Maret 2016

Mereka Teriak Kami Mayoritas, NU Ketawa Saja

Oleh Denny Siregar

Apa yang sulit bagi Nahdlatul Ulama sekarang ini dalam menguasai NKRI ? Hampir tidak ada. Dengan umat yang diperkirakan berjumlah 50 juta orang (bahkan ada yang mengatakan 80 juta), NU bisa melakukan apa saja, termasuk makar. 

Dalam bidang ekonomi, NU sangat mungkin merebut "pasar" MUI dalam mengeluarkan fatwa halal dan haram. MUI hanyalah sebuah organisasi saja, dan jika dibandingkan dengan organisasi NU bagaikan bumi "dan langit".

Tetapi NU tidak melakukan itu. Mereka tidak mencari uang dengan cara-cara seperti itu. Padahal, ketika mereka membentuk badan fatwa sertifikasi halal banyak yang akan beralih ke NU. Siapa yang melarang emangnya? NU bisa saja berdalih bahwa ini khusus untuk umatnya. Dan ketika NU mau melakukan itu, habis sudah pendapatan MUI yang terbesar dan kering kerontanglah mereka seperti unta kehausan di padang.

NU dan HTI itu Beda


NU juga bisa saja membuat fatwa-fatwa bahwa aliran A sesat, aliran B menyimpang dan sebagainya. Dan berkillah lagi, ini untuk warga NU saja. Lalu siapa yang bisa melarang? NU tidak begitu. Mereka membiarkan semua berjalan apa adanya, tidak takut akidah umatnya tergerus apalagi cuma dengan mie instan. Malah kalau ada nonmuslim yang membagi-bagikan mie instan, mereka akan dengan senang hati datang. Kapan lagi dapat gratisan?

NU sebagai pembela NKRI bisa saja membenturkan dirinya dengan HTI, Majelis Mujahidin dan organisasi-organisasi Islam gurem lainnya yang menguasai khilafah. GP Ansor dan Banser punya kemampuan untuk itu. Tapi untuk apa? NU tetap berjalan pada koridor hukum dan undang-undang. Mereka melawan dengan cara yang sangat soft dan smart, membuat Islam Nusantara sebagai tandingan dari Islam Radikal yang diusung para pecinta khilafah.


Siapa yang bisa menjaga gereja-gereja dan perayaan hari besar umat non muslim, selain NU? Tanpa ada NU, mungkin sudah banyak bom berletusan yang menjadikan gesekan besar antar umat beragama. Kita bisa seperti Suriah, Afghanistan dan Irak. Bahkan salah seorang anggotanya syahid ketika melindungi sebuah gereja dari bom.

NU-lah pelopor gerakan pluralisme dengan berdakwah, menunjukkan wajah Islam yang penuh rahmat di gereja-gereja. Tidak ada rasa takut bahwa automurtad seperti propaganda bodoh yang terus dilancarkan. NU pula-lah yang menjaga budaya asli Islam Indonesia sehingga tidak terkontaminasi budaya arab. (Baca juga: Menjadi Indonesia tidak Harus Menjadi Arab)

Begitu kuat dan tenangnya NU bergerak, sehingga langkahnya terasa tidak terdengar. NU seperti singa yang tidak perlu mengaum, ketika dirasa tidak ada bahaya. Beda dengan anjing yang selalu menggonggong, bahkan ketika orang sekedar lewat saja.

Karena itu temanku, kalau mau melihat bagaimana Islam di Indonesia, lihatlah NU (dan Muhammadiyah). Masih selamatnya kita di Indonesia ini tidak lepas dari besarnya peran mereka menjaga kita tetap utuh.

Jangan lihat yang organisasi-organisasi gurem itu. Mereka harus teriak keras-teriak supaya diperhatikan NU. Mereka berteriak, "Kami umat Islam..", padahal mereka kecil saja. Mereka teriak, "Kami mayoritas!", NU ketawa saja. Elu? Mayoritas? Emak lu robot.

Sayang, NU tidak tertarik dengan teriakan-teriakan minta perhatian  mereka. Bahkan cenderung menyindir-nyindir kebodohan mereka dalam beragama dengan gaya yang masih santun, sarungan, kopiyahan  dan cangkrukan sambil ngudut dan ngopi. (Baca juga: Gus Dur dan Teologi Keindonesiaan)

Mari kita angkat secangkir kopi untuk NU. Mereka layak mendapatkan itu. [dutaislam.com/ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini