Selasa, 29 Maret 2016

Lebih Baik Punya Budaya Antri daripada Pintar Matematika

Budaya antri lebih penting dari matematika. Adakah guru yang lebih khawatir muridnya tidak bisa antri daripada matematika? Ini adalah cerita nyata dari negara-negara Barat yang ternyata lebih was was siswanya tidak punya kedisiplinan mengantre. 

“Kami tidak terlalu khawatir anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri,” kata seorang guru di Australia.

"Kenapa begitu?” (Baca juga: Kearifan Lokal dalam Islam)

Ia menjawab: 1) Karena kita hanya perlu melatih anak tiga bulan saja secara intensif untuk bisa matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga dua belas tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran dibalik proses mengantri. 2) Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali tambah, kali, kurang dan bagi. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dan sebagainya. 3) Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran etika moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak

Inilah manfaat budaya antri atau antrian:
  1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. (Baca: Salah Kaprah Meluruskan Barisan Sholat)
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal.
  4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat menunggu antrian)
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain
  10. Anak belajar memiliki rasa malu, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  11. Dan masih banyak pelajaran lainnya.

Fakta di Indonesia
Banyak orang tua justru menanamkan budaya antri sebagai berikut:
  1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata: "Sudah cuek saja, pura-pura nggak tahu aja !!"
  2. Ada orang tua yang memarahi dengan menyebut ”Dasar Penakut,” karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
  3. Ada orang tua yang memakai taktik/alasan agar dia/anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu.
  4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu mengajak berkelahi si penegur.
  5. Dan berbagai kasus lain.
Silakan share pesan ini ke teman-teman lain agar mereka paham bahwa budaya antri itu lebih penting daripada matematika dan ilmu eksak lainnya. Pintar matematika tapi tidak punya budaya antri, disiplin, dan bertanggungjawab akan melahirkan sosok yang angkuh dan suka mengambil hak orang lain. [dutaislam.com/ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini