Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Jawaban Bagi Wahabi yang Sombong Menanyakan Imam Tahlil Rasul Wafat

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 15 Maret 2016
    A- A+
    Oleh Jefri Nofendi

    Dutaislam.Com - Assalamu'alaikum, Kemarin kemarin salafi wahabi banyak heboh mengupload gambar yang saya lampirkan, seolah-olah mereka ada di jalan yang benar dan menganggap bagi yang tak mampu menjawabnya dianggap tidak memahami Islam menurut mereka.

    Isi gambar itu adalah:
    ===========================
    Bismillah ..
    Afwan .. saya mau bertanya ..

    1. Siapakah yang memimpin tahlilan pada saat Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam wafat?
    2. Siapakah yang memimpin tahlilan pada saat Imam Syafii wafat?

    NB. Demi Allah, kalau ada yang bisa jawab pertanyaan saya maka saya akan belajar Islam kepada yang bisa menjawabnya.
    ===========================

    Baiklah, saya Jefri Nofendi akan menjawabnya dan sesuai kesepakatan dalam catatan kecil (NB), bila pertanyaan itu mampu dijawab, maka seluruh kaum salafi wahabi bersedia belajar Islam dengan saya. 

    Jawaban saya:
    1. Tidak ada yang memimpin tahlilan saat Nabi Muhammad SAW wafat. Alasannya, karena Nabi Muhammad SAW adalah maksum ,dan beliau sudah dijamin dengan rahmat Allah SWT masuk surga. Kalau saat Rasulullah SAW wafat diadakan tahlilan, itu artinya menganggap dan menuduh Nabi tidak maksum. Tahlilan hanya berlaku bagi mereka yang tidak maksum dan tidak mendapat jaminan rahmat masuk surga. Karena Rasulullah SAW adalah maksum, maka tidak ada tahlilan untuk beliau. Karena tidak ada tahlilan, tidak ada seorangpun yang memimpin tahlilan.
    2. Yang memimpin tahlilan ketika Imam Syafi'i wafat adalah seorang wali (penguasa) bernama Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam. Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam adalah seorang yang diwasiatkan oleh Imam Syafi'i; apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam. Mulai dari memandikan, memimpin sholat jenazah, menguburkan, mendo'akan serta tahlilan bersama jama'ah lain yang hadir saat Imam Syafi'i wafat. Kisah detik detik wafatnya Imam Syafi'i dan wasiatnya tertulis dalam tarikh sejarah, dan bahkan wikipedia juga ada kok menuliskan ini. Berikut cuplikan kisah wafatnya Imam Syafi'i:
    -------------------------------------------------------
    Pada suatu hari, Imam Syafi'i terkena wasir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya terus mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya. Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun. Ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu, ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji, baik siang maupun malam.

    Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, "Bagaimana kondisi Anda, wahai guru?" Imam Syafi'i menjawab, "Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung".

    Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, "Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku," lalu sepupunya berkata, "Kami akan turun sebentar untuk salat." Imam menjawab, "Pergilah dan setelah itu duduklah di sini menunggu keluarnya ruhku." Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, sang Imam bertanya, "Apakah engkau sudah salat?" lalu mereka menjawab, "Sudah", lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, "Biar kami campur dengan air hangat," ia berkata, "Jangan, sebaiknya dengan air safarjal". Setelah itu ia wafat. Imam Syafi'i wafat pada malam Jum'at menjelang Subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah di usia 52 tahun.


    Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga. Mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka. Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.

    Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, "Apakah Imam meninggalkan hutang?", "Benar!" jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu, wali Mesir memandikan jasad sang Imam.

    Jenazah Imam Syafi'i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya. Setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, "Semoga Allah merahmati asy-Syafi'i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik."

    Jenazah kemudian dibawa sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam. Disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi'i sampai hari ini. Dan disana pula dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Asy-Syafi'i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.
    -------------------------------------------------------

    Nah, saya sudah menjawabnya dengan penjelasan yang disertai bukti dan argumen. Sesuai kesepakatan, harap kaum salafi wahabi yang mengupload gambar tersebur segera belajar Islam dengan saya, Jefri Nofendi. Dan bila kalian ingin belajar Islam dengan saya, harap kalian, di hadapan saya, mengucap kembali dua kalimah syahadat.

    Tapi kalau kalian salafi wahabi enggan dan mengingkari kesepakatan, silakan jilat lagi ludah kalian yang mengatasnamakan sumpah "Demi Allah" itu. 

    "Bersumpah Palsu adalah dosa besar yang pelakunya sudah pasti diganjar masuk neraka kecuali dirinya bertobat!"

    Tertanda,
    Jefri Nofendi, Aswaja Bidang IT

    NB: Silakan copas dan share seluas luasnya bagi teman teman yang lain bila dikirimkan gambar tersebut atau dihadapkan pertanyaan seperti gambar tersebut. Buat kaum salafi-wahabi yang tidak merasa gengsi mengupload gambar tersebut, saya tunggu keberaniannya untuk bersedia belajar Islam. [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    3 komentar

    Maksain dalil,ziarah di samain tahlilan :p

    selama 40 hari pezarah emang ngapain mas,...mosok makan minum sambil dengerin lagu umi kulsum,...hehheheh ya pasti berdoa,. ikiran tahlil tahmid takbir ngaji...bahlul dasar wahabi

    Hehe.. mantap yulia arief 👌