Sabtu, 05 Maret 2016

Diancam Alisa Wahid, Fanpage Kistara Palsu Nonaktif

DutaIslam.Com - Islam Nusantara adalah wacana lama yang sudah berkembang di Indonesia. Tidak ada masalah dengan wacana yang mengkaji tradisi Islam Nusantara dan kerajaan Islam Nusantara. Namun, sejak dijadikan tema Mukamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015 silam, muncul sekelompok orang berpaham ekstrem yang menyebut Islam Nusantara adalah proyek liberal dari Jaringan Islam Liberal (JIL) yang gagal total. 

Parahnya lagi, ada yang menyebut Islam Nusantara itu proyek Syiah untuk mensuriahkan Indonesia. Islam Nusantara akhirnya disebut sebagai aliran sesat, agama baru, paham pluralisme menyamakan, yang kemudian disingkat dengan stigma kasar sebagai Anus (Aliran Islam Nusantara) atau JIN (Jaringan Islam Nusantara). 

Para pembenci itu acapkali menyerang membabi buta tanpa menggunakan data ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Alih-alih dialog, mereka justru sering mengeluarkan hinaan, caci maki, dan sebutan-sebutan yang memang dari ucapannya saja sudah didasari benci dari hati, bukan kritik, apalagi semangat kasih dan sayang. 

Sayangnya, ketika menyerang Islam Nusantara, yang mereka hantam membabi buta bukan pemikiran dan wacana besarnya, melainkan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang selama ini populer dengan toleransi beragamanya. Gus Dur, Gus Mus, KH. Said Aqil Siraj, Habib Luthfi, bahkan KH. As'ad Syamsul Arifin pun diserang tanpa malu.

Logo Komunitas Islam Nusantara
Pada 29 Februari 2016, Alisa Wahid, putri Gus Dur gerah dengan kehadiran akun abal-abal itu. Dalam tweetnya, Alisa menulis "NU sedang menurunkan tim untuk menyelidiki pembuat akun FB NU Garis Konslets & Generasi Muda NU 2. Kalau ada tuips yg punya info, bantu ya". Ini tweetnya:


Pada hari tanggal yang sama, Fanpage Komunitas Islam Nusantara juga mengajak pembacanya yang berjumlah 25.000 liker untuk melaporkan akun penghina para kyai itu. Ini screenshoot ajakan pemilik akun Komunitas Islam Nusantara yang sering mengkritik tajam orang-orang anti NKRI, Menolak Nasionalisme dan menghardik Aswaja tersebut: 


Pasca dilaporkan ramai-ramai itulah, pada malam harinya, akun NU Garis Konslets yang beralamat di "https://facebook.com/NU-Garis-Konslets-806343029491738/" hilang tanpa sisa. Esok harinya, muncul akun cloningan Fanpage Komunitas Islam Nusantara, yang isinya sama persis di NU Garis Konslets. Dari segi konten, pemilik akun ini sah dianggap sama. 

Dulunya, nama akun itu adalah Generasi Muda NU 2. Namun, setelah Fanpage Komunitas Islam Nusantara memposting status berjudul "Mari Kita Laporkan Fanpage NU Garis Konslets", dia akhirnya mengubah nama fanpagenya persis seperti akun Komunitas Islam Nusantara beserta logo dan akronimnya (Kistara). Link aslinya di sini:


Kesimpulan bahwa pemilik akun tersebut sama karena id Facebook antara Generasi Muda NU 2 dan Komunitas Islam Nusantara sama. Ini id yang ada di link url kedua akun tersebut: 815080865268181. Alamat Fanpage kedunya masih bisa Anda buka: 


Silakan cek kembali, nomor id-nya sama bukan? Bahkan, jika kini Anda klik kedua url tersebut masih bisa, nama Fanpagenya diubah kembali jadi Generasi Muda NU 2. Fanpage ini sudah mengalami reinkarnasi dari Generasi Muda NU 2 (awalnya ada juga Generasi Muda NU Palsu), lalu Komunitas Islam Nusantara (dengan mengubah link sehingga mirip yang asli), lalu berubah kembali ke Generasi Muda NU 2. Isinya sama. Menghina semua. Ini beberapa screenshoot yang terdokumentasikan ketika akun itu belum menghapus semua postingan sejak dibuat pada 14 Februari 2016. 

Menggundul-gundulkan kyai NU yang dhormati
Ansor NU disebut Thogut
Gus Dur dihina dengan sebutan Ghoost Door
NU distigma agama klenik
Ini status yang sama dengan Fanpage Kistara Palsu
Saat mengubah nama menjadi Kistara
Menyebut NU dengan Nahdlatul Unggas

Kalau saja pemilik kedua akun itu menggunakan metode kritik yang elegan, tentu dia bisa berkilah di pengadilan nantinya. Tapi jika menggunakan bahasa-bahasa yang sudah menghina, dia tidak akan mampu beralasan lagi. Itu sudah masuk pelanggaran UU ITE yang sekarang ini mulai digerakkan kembali untuk menghentikan provokasi tidak waras di dunia maya. 

Disebut penghinaan karena menyebut NU, Gus Dur, dan ajaran NU dengan label yang tidak semestinya. Wajar jika Alisa Wahid mengancam pidana penjara bagi pelaku. Kelakuan-kelakuan islam wahabi atau sunni ekstrim belum mau berubah dari fitnah ke dialog berbasis tabayyun. 

Islam Nusantara itu bukanlah proyek orang-orang liberal. Kalau ia proyek liberal, tidak mungkinlah dilirik dunia sebagai inspirasi peradaban. Beritanya ada di sini: Islam Nusantara Dilirik Dunia. Itulah yang menjadikan NU punya pengecualian dari jamiyyah Islam lainnya: Kekecualian NU. [duta/luqman]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini