Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Dialog Kyai NU dan Pemuda Aliran Wahabi

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 03 Maret 2016
    A- A+
    DutaIslam - Carita

    Wahabi Tobat di Tangan Kyai


    Suatu hari, datang seorang pemuda ke sebuah pesantren NU di Indonesia bertujuan untuk bertemu dengan Kyai di Pesantren tersebut. Maka berlakulah dialog di antara pemuda dan Kyai di ruang tamu rumah Kyai itu.

    Pak Kyai: Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu?

    Pemuda: Terima kasih Pak Kyai. Nama saya Abdullah dan saya berasal dari Kampung Seberang.

    Pak Kyai: Jauh kamu bertandang ke sini, sudah tentu kamu punya hajat yang sangat besar. Apa hajatnya mana tahu mungkin saya boleh menolongmu?

    Pemuda tersebut diam sebentar sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
    Pemuda: Begini Pak Kyai, saya datang ke sini bertujuan ingin berbincang beberapa permasalahan dengan Pak Kyai. Pendeknya, permasalahan umat Islam sekarang. Saya ingin bertanya, mengapa Kyai-Kyai di kebanyakan pesantren di Indonesia, dan Tuan-Tuan Guru di Malaysia serta Pattani dan Asia umumnya sering kali mengajar murid-murid mereka dengan lebih suka mengambil kalam-kalam atau pandangan para ulama? Seringkali saya mendengar mereka akan menyebut: “Kata al-Imam al-Syafii, kata al-Imam Ibn Atho’illah al-Sakandari, Kata al-Imam Syaikhul Islam Zakaria al-Ansori dan lain-lain”

    Mengapa tidak terus mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah? Bukankah lebih enak kalau kita mendengar seseorang tersebut menyebutkan “Firman Allah taala di dalam al-Quran, Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis itu dan ini?”

    Ulama-ulama itu juga punya kesalahan dan kekurangan. Maka mereka juga tidak lari daripada melakukan kesilapan. Maka sebaiknya kita mengambil terus daripada kalam al-Ma’sum iaitu al-Quran dan al-Sunnah.

    Pak Kyai mendengar segala hujah yang disampaikan oleh pemuda tersebut dengan penuh perhatian. Sedikit pun beliau tidak mencelah malah memberikan peluang bagi pemuda tersebut berbicara sepuas-puasnya. Sambil senyuman terukir di bibir Pak Kyai, beliau bertanya kepada pemuda tersebut,

    Pak Kyai: Masih ada lagi apa yang ingin kamu persoalkan wahai Abdullah?

    Pemuda: Sementara ini, itu saja yang ingin saya sampaikan Pak Kiyai.

    Pak Kyai: Sebelum berbicara lebih lanjut, eloknya kita minum dahulu ya. Tiga perkara yang sepatutnya disegerakan adalah hidangan kepada tetamu, wanita yang dilamar oleh orang yang baik maka disegerakan perkawinan mereka dan yang ketiga, si mati yang harus disegerakan urusan pengkebumiannya. Betulkan Abdullah?

    Pemuda: Benar sekali Pak Kyai .

    Pak Kiyai lalu memanggil isterinya bagi menyediakan minuman pada mereka berdua. Maka beberapa detik selepas itu minuman pun sampai di hadapan mereka.

    Pak Kyai: Silakan minum Abdullah.

    Setelah dipersilahkan oleh Pak Kyai, maka Abdullah pun terus mengambil bekas air tersebut lalu menuangkan perlahan-lahan ke dalam cawan yang tersedia.

    Pak Kyai terus bertanya: Abdullah, kenapa kamu tidak terus minum daripada bekasnya saja? Kenapa perlu dituang di dalam cawan?

    Pemuda: Pak Kyai, mana bisa saya minum terus daripada bekasnya. Bekasnya besar sekali. Maka saya tuang ke dalam cawan agar memudahkan saya meminumnya.

    Pak Kyai: Abdullah, itulah jawaban terhadap apa yang kamu persoalkan sebentar tadi. Mengapa kami tidak mengambil langsung dari Al-Quran dan aS-Sunnah? Terlalu besar untuk kami terus minum daripadanya. Maka kami mengambil apa yang telah dituang di dalam cawan para ulama. Maka ini memudahkan bagi kami untuk mengambil dan memanfaatkannya.

    Benar kamu katakan bahawa mengapa tidak terus mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah. Cuma persoalan kembali ingin saya lontarkan kepada kamu. Adakah kamu ingin mengatakan bahawa al-Imam al-Syafii dan para ulama yang kamu sebutkan tadi mengambil hukum selain dari Al-Quran dan Sunnah? Adakah mereka mengambil daripada kitab Talmud atau Bible?

    Pemuda: Sudah tentu mereka juga mengambil dari Al-Quran dan Sunnah.

    Pak Kyai: Kalau begitu, maka sumber pengambilan kita juga adalah Al-Quran dan Sunnah cuma dengan paham para ulama.

    Pak Kyai: Satu lagi gambaran yang ingin saya terangkan kepada kamu. Saya dan kamu membaca Al-Quran, al-Imam al-Syafii juga membaca Al-Quran bukan?

    Pemuda: Sudah tentu Pak Kyai.

    Pak Kyai: Baik, kalau kita membaca sudah tentu kita ada memahami ayat-ayat di dalam Al-Quran tersebut bukan? Al-Imam al-Syafii juga memahami ayat yang kita bacakan. Maka persoalannya, pemahaman siapa yang ingin didahulukan? Pemahaman saya dan kamu atau pemahaman al-Imam al-Syafii terhadap ayat tersebut?

    Pemuda: Sudah tentu pemahaman al-Imam al-Syafii karena beliau lebih memahami bahasa berbanding orang zaman sekarang.

    Pak Kyai: Nah, sekarang saya rasa kamu sudah jelas bukan? Hakikatnya kita semua mengambil daripada sumber yang satu iaitu al-Quran dan Sunnah. Tiada seorang pun yang mengambil selain dari keduanya. Cuma bedanya, kita mengambil dari pemahaman al-Quran dan Sunnah tersebut dari siapa?
    Sudah tentu kita akan mengambil dari orang yang lebih dalam ilmunya. Ini kerana mereka lebih wara’ dan berjaga-jaga ketika mengeluarkan ilmu.

    film sang kyai

    Kamu tahu Abdullah, al-Imam al-Syafii pernah ditanya oleh seseorang ketika beliau sedang menaiki keledai, berapakah kaki keledai yang Imam tunggangi?

    Maka al-Imam al-Syafii turun dari keldai tersebut dan menghitung kaki keledai tersebut. Selesai menghitung, barulah al-Imam menjawab: “Kaki keledai yang aku tunggangi ada empat”.

    Orang yang bertanya tersebut merasa heran lalu berkata “Wahai Imam, bukankah kaki keldai itu memang empat, mengapa engkau tidak langsung menjawabnya?”

    Al-Imam al-Syafii menjawab: “Aku bimbang, jika aku menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu, tiba-tiba Allah Ta'ala hilangkan salah satu kakinya maka aku sudah dikira tidak amanah di dalam memberikan jawaban”

    Cuba kamu perhatikan Abdullah, betapa wara’nya al-Imam al-Syafii ketika menjawab persoalan berkaitan dunia. Apalagi kalau berkaitan dengan agamanya?

    Al-Imam Malik pernah didatangi oleh seorang pemuda di dalam majlisnya di Madinah al-Munawwarah. Pemuda tersebut mengatakan bahwa dia datang dari negeri yang jauhnya 6 bulan perjalanan daripada Madinah. Pemuda itu datang untuk bertanya satu masalah yang ada di lokasinya.

    Al-Imam Malik, mengatakan bahawa “Maaf, aku tidak pandai untuk menyelesaikannya”

    Pemuda tersebut heran dengan jawaban Imam Malik, dan dia bertanya: “Bagaimana aku akan menjawab nanti bilamana ditanya oleh penduduk tempatku?”

    Maka kata al-Imam Malik: “Katakan kepada mereka bahwa Malik juga tidak mengetahui bagaimana untuk menyelesaikannya”

    Allah. Coba kamu lihat Abdullah betapa amanahnya mereka dengan ilmu. Berbeda dengan manusia zaman sekarang yang baru setahun jagung di dalam ilmu sudah menepuk dada mengaku bahwa seolah-olah mereka mengetahui segalanya.

    Pemuda: Masya Allah, terima kasih Pak Kyai atas penjelasan yang sangat memuaskan. Saya memohon maaf atas kekasaran dan keterlanjuran bicara saya .

    Pak Kyai: Sama-sama Abdullah. Semoga kamu akan menjadi seorang yang akan membawa panji agama kelak dengan ajaran yang benar Insyaallah. [beberapa sumber/ab]
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: