Dutaislam.com mengapresiasi batalnya Permendikbud 23/2017 dan Mengutuk Keras Situs Adudomba Milik Kader Muhammadiyah Sangpencerah.id!

  • Adab Menuntut Ilmu Terhadap Guru

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 05 Maret 2016
    A- A+
    DutaIslam.Com - Akhlaq

    Adab Terhadap Guru


    Oleh KH Zainurahman 

    Kesuksesan murid (peserta didik) dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, metode mengajar guru, atau sarana prasarana fisik dalam belajar, tapi yang paling dominan justru ditentukan oleh akhlak murid (peserta didik) kepada guru (pendidik).

    Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, "Ya Allah, tutuplah dariku dari kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah: 155).

    Dalam kitab At Tahdzibnya, Imam Nawani mengatakan:

    عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة
     Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusny ".

    Al Habib Abdullah al Haddad mengatakan: "Paling bahayanya bagi seorang murid adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari Timur dan Barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ". (Adaab Suluk al Murid: 54)

    Al Habib Abdullah al Haddad juga berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, "perintahkan aku ini, berikan aku ini!", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya". (Ghoyah al Qashd wa al Murad: 2/177).

    Hargai Guru: Adab kepada guru
    Dikisahkan bahwa seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir. Maka Nabi Khidhir berkata: 

    "Tidakkah kau mengenalku? Murid itu menjawab, 'ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir'".

    "Kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku?"

    "Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi: 78)

    Para ulama ahli hikmah mengatakan, "Barangsiapa yang mengatakan "kenapa?" kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah: 56)
    Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan:

    ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب، على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذالك المقدار عند الله من غير شك
    " Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)

    Para ulama ahli haqiqat mengatakan: "Mayoritas ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan baik antara murid dengan gurunya".

    KH. Zainurahman, 
    Ponpes al-Mukri Prenduan Sumenep Madura
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: