Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Lesbumi NU Surabaya Beri Penghargaan Kepada Seniman

    Admin: Duta Islam → Kamis, 31 Maret 2016
    Seni Budaya - Ada banyak cara untuk ikut uri-uri kabudayan, merawat, melestarikan serta menjaga budaya. Seperti yang dilakukan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya.

    Bersamaan Hari Lahir (Harlah) ke-54, Lesbumi PCNU Surabaya memberikan apresiasi sekaligus menggandeng sejumlah tokoh kesenian asli Surabaya. Kartolo, seniman ludruk dan kidungan Surabaya, adalah salah satunya.


    Selain penghargaan, Lesbumi yang lahir 28 Maret 1962, dan 28 Maret 2016 genap berusia 54 tahun ini juga akan menggandeng pelaku seni melaksanakan banyak program. Targetnya sama, menjaga seni budaya. Bukan saja Surabaya, namun juga Nusantara.

    "Lesbumi PBNU bersamaan harlahnya ke-54, akhir Mei 2016 akan memberikan apresiasi pada pelaku seni dan orang yang dinilai berjasa terhadap Nahdlatul Ulama. Kalaupun sudah almarhum, apresiasi kita berikan pada ahli warisnya," tutur Hasyim Asyari saat di rumah seniman ludruk dan kidungan Kartolo, Jalan Kupang Jaya I/12, Kelurahan Sonokwijenan, Kecamatan Sukomanunggal Surabaya, Senin (28/03/2016).

    Menurut rencana, akhir Mei penghargaan akan diberikan ke ahli waris alm. KH. Ridwan Abdullah, pelukis yang menciptakan lambang Nahdlatul Ulama. Gus Udin adalah ahli warisnya, sekarang tinggal di Bubutan.

    Keluarga alm. KH Muntawi menjadi ahli waris berikutnya yang akan menerima penghargaan. Alm. KH Muntawi semasa hidupnya mengarang syi'iran sebagai media dakwah. (Baca juga: Teater Sumeh: Jangan Mudah Mengafirkan)

    Sedangkan seniman lainnya adalah Kartolo serta Ida Laila. Kartolo kemarin lebih dulu menerima kopyah sekaligus pin Lesbumi sebagai bentuk apresiasi. Akhir Mei mendatang dijadwalkan apresiasi dari Lesbumi PBNU melalui gawe bertajuk Nderes Budaya, dengan acara inti berupa Anugerah Sapta Wikrama.

    "Sosok yang kami sebutkan tadi punya peran besar. Termasuk kiprahnya dalam menjaga kesenian dan kebudayaan," sebut Cak Hasyim, sapaan Hasyim Asyari. (Baca: Islam Memberikan Energi dan Motivasi)

    Lesbumi akan roadshow ke sekolah-sekolah maarif maupun lembaga pendidikan non formal, mengenalkan berikut mengajarkan kesenian. Ludruk, kidungan, jula-juli, pencaan jidor, kaligrafi, hadrah ishari adalah kesenian yang akan diajarkan. Seniman yang digandeng, termasuk Kartolo, didapuk sebagai mentor alias pelatih. Keberadaannya juga untuk menyuntikan semangat berkesenian pada yang muda. [dutaislam.com/ab]
  • Membumikan Gusjigang Untuk Kemandirian Bangsa

    Admin: Duta Islam →
    Oleh Dr Abdul Jalil

    Kudus itu unik. Di awal abad ke-16, dimana rend dunia ditandai dengan perebutan kekuasaan atas nama keturunan raja atau agama, Kudus justru dibangun di atas fondasi kebersamaan, multi etnis dan multi religi. Di seantero jagad Nusantara tidak ditemukan sebuah situs purbakala yang secara vulgar mengusung pluralisme dan semangat toleransi, sebagaimana di Kudus.

    Tokoh Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq, sebagai mantan panglima perang yang menaklukkan Majapahit, memimpin ekspansi kerajaan Demak dari Madura sampai Cirebon, tentu mengetahui benar geopolitik dan arah peradaban baru. Sebagai seorang mantan hakim agung (Qadli), Sayyid Ja’far Shadiq juga merasakan betapa pentingnya rasa keadilan dan kedamaian bangsa.

    Ketika tiga agama besar di Timur Tengah sana memperebutkan Yerussalem atas nama agama, dimana kaum Kristiani merasa berhak karena di sanalah terdapat Gereja Makam Kudus, umat Muslim merasa berhak karena ada Masjid al-Aqsha dan Dome of the Rock (batu yang diijak Nabi Muhammad ketika Isra’ Mi’raj), dan umat Yahudi tidak mau kalah karena ada tembok ratapan yang merupakan bagian dari Bait Suci, maka, sekali lagi, atas nama agama, Yerussalem ditaklukan, dihancurkan dan dibangun kembali dengan meninggalkan bagian yang berbeda. Fenomena inilah yang dijawab Ja’far Shadiq. Dia mendirikan sebuah kota suci, tapi tidak atas nama fundamentalisme, melainkan pluralisme.

    Pada saat yang sama, ketika kerajaan Demak juga sedang dilanda konflik internal karena persoalan siapa yang lebih berhak menggantikan Sultan Trenggono, maka Sayyid Ja’far Shadiq menanggalkan seluruh jabatannya di kerajaan Demak dan memilih berhijrah ke arah utara menuju sebuah Pulau berbukit yang di kemudian hari diberi nama Muria. (Baca: KH Ma'ruf Irsyad Kudus Rela Sowan untuk Tamunya)

    Sebagai sebuah laku dengan misi besar, tentu info intelejen semasa menjadi panglima menjadi signifikan. Maka, untuk membangun pulau tersebut, Sayyid Ja’far Shadiq belajar, berdiskusi, dan menyusun master plan bersama seseorang yang dianggap handal dan telah lebih dulu menetap. Dia adalah The Ling Sing, Nakhoda panglima Cheng Hoo dalam ekspedisinya ke Nusantara.

    Bersama The Ling Sing, Sayyid Ja’far Shadiq ingin membangun sebuah wilayah yang merdeka, tidak terikat dengan kerajaan tertentu dan tidak dimonopoli oleh suku atau agama tertentu. Kota ini dibangun atas dasar kebersamaan, multi etnis (Arab-China-Jawa), multi religi (Islam-Hindu-Budha) dan bertumpu pada sektor perdagangan dan industri. 


    Untuk memulai langkah besar itu, wilayah Loram menjadi pilihan. Wilayah ini dipilih karena subur dan dekat dengan jalur transportasi. The Ling Sing yang memiliki keahlian mengukir (sungging) menularkan ilmunya kepada warga lokal. Hingga kini, jejak ukiran dan semangat bisnisnya masih nampak. Sementara Sayyid Ja’far Shadiq yang berlatar belakang militer dan ahli agama mencoba merangkul masyarakat untuk bersatu, ber-tepaselira dan menghargai perbedaan suku, agama dan ras. Semua pihak mesti merevolusi perilaku, meningkatkan spiritualitas dan menata basis ekonominya. Semangat ini secara tutur tinular dikenal masyarakat dengan istilah Gusjigang (Bagus, Kaji, Dagang). 

    Untuk bisa disebut sebagai wong Kudus, seseorang harus memiliki perilaku dan penampilan yang bagus, bagus rupa dan bagus laku. Begitu seseorang buruk lakunya, tentu akan berakibat panjang, paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain terhadap dirinya, dan pada gilirannya akan merugikan usaha dagangnya. 

    Orang yang bagus perilakunya disebut saleh. Kesalehan seseorang disimbolisasikan dengan kaji. Mengapa kaji? Karena haji adalah simbol spiritualitas seseorang yang sudah melewati berbagai tahapan sebelumnya, seperti syahadat, shalat, puasa dan zakat. Dan tentu saja secara ekonomi seorang kaji sudah masuk kategori mampu, karena ongkos naik haji terbilang tidak murah, sehingga status kaji identik dengan identitas pengusaha. 

    Sementara dagang merupakan karakter khas yang hendak dibangun oleh Sayyid Ja’far Shadiq. Bisnis perdagangan yang hendak ditradisikan oleh Sayyid Ja’far Shadiq adalah perdagangan yang jujur: jika berbicara tidak bohong, jika berjanji tidak mengingkari, jika dipercaya tidak berkhianat, jika membeli tidak mencela, jika menjual tidak memuji, jika berhutang tidak lalai, dan jika punya piutang tidak mempersulit.


    Setelah penanaman fondasi kemandirian dalam kebersamaan sudah dirasa cukup, akhirnya Ja’far Shadiq dan The Ling Sing mulai memasuki jantung utama sebuah kota. Di Wilayah yang bernama Tajug, didirikan sebuah Menara untuk mengumandangkan adzan. Dengan tetap menghormati tradisi Hindu, bangunan Menara dibuat menghadap ke barat dan bentuknya menyerupai bangunan candi yang terbagi atas tiga bagian, yaitu: bagian kaki, tubuh, dan puncak. Para peneliti sepakat  bahwa Menara ini jelas bercorak mirip bangunan candi atau menara kul-kul Bali. Beberapa peneliti menghubungkan bentuk Menara itu dengan candi Jago, terutama jika dilihat dari arsitektur dan kesamaan ragam hias tumpalnya. Ada pula yang menyamakan Menara Kudus ini dengan candi di Singosari. 

    Di sebelah halaman, terdapat tempat wudlu. Menariknya, pada lubang pancurannya ada ornament berbentuk kepala arca yang berjumlah delapan. Delapan pancoran ini mengandung filosofi Astasanghikanarga dalam agama Budha, yakni pengetahuan, keputusan, perkataan, perbuatan, penghidupan, daya usaha, meditasi dan kontemplasi. 

    Sampai di sini lengkaplah sudah fondasi sebuah kota. Idealitas sebuah wilayah yang multi etnik multi religi sudah berdiri. Masalahnya tinggal penamaan. Sebagai sebuah pesan perdamaian dunia, di mana pusaran konflik saat itu berada di Yerussalem, maka Sayyid Ja’far Shadiq menamai masjidnya dengan “Masjid al-Aqsha”, kota yang damai itu diberi nama al-Quds (Kudus), dan Gunung yang menjulang tinggi di sebelah utara diberi nama Muria. 

    Penamaan Muria yang di lerengnya berdiri Kota Suci (Kudus) dan berdiri Masjid al-Aqsha memunculkan aroma “Yerussalem van Java” karena Yerussalem berdiri di bukit Moria. Kata Yerussalem sendiri adalah bahasa Ibrani yang dalam bahasa arabnya berarti al-Quds (Suci). Sementara kata Moria terdapat dalam Injil Perjanjian Lama Kitab Kejadian pasal 22:2. 

    Dalam Bahasa Ibrani, bukit itu disebut מוֹרִיָּה,  bahasa Arab: مروة, dan dalam bahasa Inggris Moriah yang berarti tempat pengajaran, tempat kegentaran, tanah ibadah dan tanah penglihatan. Di sisi sebelah timur bukit moria terdapat dataran tinggi golan (bahasa Arab: مرتفعات الجولان , bahasa Ibrani: רמת הגולן), dan di sebelah timur Kudus-pun ditemukan sebuah wilayah yang bernama Desa Golan. Tentu fenomena “Yerussalem Van Java” ini bukan sesuatu kebetulan, tapi untuk menjawab apa yang sesungguhnya terjadi masih membutuhkan kajian tersendiri. (Baca: Kunci Ngaji Al-Qur'an KH Arwani Amin Kudus)

    Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berada di lingkungan Menara dan didirikan oleh KHR. Asnawi, cucu Sayyid Ja’far Shodiq, Qudsiyyah ingin menyegarkan kembali semangat membangun kota Kudus dengan tradisi Gusjigang di atas pondasi pluralisme (multi etnis-multi religi). Semangat itu dikemas dalam peringatan  Satu Abad Qudsiyyah dengan tema besar “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”. [dutaislam.com/ab]
  • LTN NU Jatim Dukung Revisi UU Terorisme

    Admin: Duta Islam →
    UU Terorisme - Pertemuan Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) se-Jawa Timur
    1. Mendukung pemerintah dalam revisi UU No.15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme untuk menindak tegas organisasi atau kelompok yang anti NKRI dan Pancasila. 
    2. Menolak politisasi agama atau menjadikan agama sebagai propaganda untuk kepentingan politik.
    3. LTNNU Jatim mendeklarasikan berdirinya Nusantara Media Watch (Samawat), lembaga yang fokus dalam memantau media dari pelanggaran, penyimpangan dan penyalahgunaan.
    Malang, 27 Maret 2016

  • Dies Natalis, Pimpinan UIN Walisongo Ziarah Makam Wali Songo

    Admin: Duta Islam →
    Makam Wali Songo - Salah satu agenda dies natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo ke 46 diadakan kegiatan ziarah ke makam sembilan wali di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat ditambah Sultan Demak Raden Fatah. Ziarah ini diikuti oleh Rektor, Wakil Rektor, Kepala Lembaga, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Subbagian dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa (PPIJ). 

    “Ada yang khusus dan tentu saja baru dalam kegiatan menyambut dies natalis kali ini, yakni ziarah ke makam para wali yang jumlahnya sembilan yang dikenal dengan wali songo” kata Prof Dr H Muhibbin MAg di sela-sela ziarah di Makam Sunan Muria Kudus (29/3/2013). (Baca: Ustadz Sholeh Hadzrami ini Akhirya Percaya Walisongo)

    Nama wali songo tersebut  kemudian telah kita abadikan sebagai nama lembaga yang penulisannya tidak dipisah, melainkan dijadikan satu, yakni Walisongo. “Tentu tradisi ziarah tersebut perlu kita lestarikan di masa mendatang untuk sekedar mengenang sepak terjang mereka, sehingga kita akan mampu  mewarisi kehebatan mereka” tegasnya. Sebagaimana kita tahu bahwa  para wali yang menyiarkan agama di tanah Jawa begitu terkenal, sehingga gaungnya pun tidak cuma berada di sekitar tanah air, melainkan juga sampai dikenal oleh dunia. Para peneliti dan tokoh Barat sangat heran dengan kiprah para wali tersebut, yang dianggap  spektakuler dalam menyiarkan  Islam di Jawa.

    Dari kiri: Prof. AHmad Rofiq, Prof Muhibbin Noer sedang ziarah ke makam Sunan Muria Kudus (29/03). Foto: Rikza
    “Ziarah mempunyai maksud mengingat kematian, hal itu yang dikatakan oleh Nabi. Akan tetapi kalau ziarahnya khusus seperti ke Walisongo, tentu mempunyai maksud untuk mengingat jasa, sikap dan warisan mereka yang sangat mulia,” imbuh Guru Besar Ilmu Hadis ini. (Baca: Kata Wahabi, Walisongo Itu Fiktif)

    Kesantunan dan kasih sayang Walisongo kepada siapapun, termasuk yang berbeda keyakinan, lanjut Muhibbin, menjadi hal sangat penting ditiru. Mereka tidak pernah menyinggung pihak lain, apalagi menyakitinya. “Nah itu yang ingin kita warisi dari mereka dengan aktifitas ziarah ini. Kita ingin keluarga besar UIN Walisongo dapat mengamalkan nilai-nilai yang diwariskan oleh para wali tersebut” katanya.

    Justru menurut Muhibbin, yang terpenting ialah bagaimana kita sebagai warga UIN Walisongo dapat memberikan kontribusi nyata dalam memajukan lembaga serta mengisinya dengan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat. Dan itu sudah rutin dijalankan dalam tugas tridharma, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Salah satu kegiatan penting lainnya dalam dies natalis kali ini ialah dzikir bersama untuk keselamatan seluruh warga dan UIN Walisongo dalam mengemban amanah mencerdaskan anak bangsa dan sekaligus membekali meereka dengan ilmu dan akhlak mulia.

    Ziarah Makam Wali Songo

    Kita yakin bahwa kekuatan doa dan dzikir itu sangat dahsyat, meskipun masih banyak pihak yang meragukan hal tersebut. “UIN Walisongo dibangun juga dengan kekuatan doa tersebut. Prestasi yang sampai saat ini sudah diraih, tentu bukan semata-mata usaha jasmani semata, melainkan juga didorong oleh do’a yang dimohonkan oleh seluruh warga, terutama para pimpinannya.  Bahkan  kita sangat yakin jika bukan karena  kekuatan do’a dan keputusan Allah, maka  UIN Walsiongo masih dalam angan-angan semata.

    Rangkaian dies natalis nantinya juga sebagaimana biasa akan menyelenggarakan dzikir bersama dan sekaligus juga penendatanganan MoU dengan Majelis Dzikir Al-Khidmah. Dan pada  saat puncak peringatan dies natalis nanti seperti biasanya, akan menyelenggarakan rapat senat dengan agenda penyampaikan laporan tahunan Rektor dan orasi ilmiah.

    Saat memimpin do’a ziarah wali songo, Direktur Pascasarjana, Prof H Ahmad Rofiq MAg memohon keberkahan untuk kampus tercinta, berkah untuk semua civitas akademika dan manfaat untuk umat dalam 46 tahun mengabdi. Tetesan dan linangan air mata saat berada di depan makam Wali 9 menjadi penanda bahwa kehadiran hamba yang dlaifhanya mampu meminta dan memohon pada Allah. “Rasa haru dan malu kepada para wali yang diziarahi itu ada, karena kita belum bisa seperti beliau para Walisongo yang gigih dan getol dalam memperjuangkan Islam di tanah Jawa dan Nusantara” tegas Rofiq.

    Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Dr H Sholihan MAg menyatakan bahwa agenda ziarah Walisongo semacam ini perlu diagendakan secara rutin menjelang dies natalis. “Kami berharap tahun depan sudah bisa menjadi agenda rutin dan semua civitas akademika bisa bersama-sama ziarah ke makam wali yang namanya dijadikan identitas kampus kita,” tegas Sholihan.

    Dan UIN Walisongo sudah menjalin kerjasama dengan pimpinan makam para wali yang tergabung dalam Paguyuban Pemangku Makam Auliya’ (PPMA) se-Jawa. Ketua PPMA KH Drs Nadjib Hassan turut serta menerima rombongan ziarah pimpinan UIN Walisongo ini saat berziarah ke makam Sunan Kudus. “Kami menyambut baik, iktikad baik Rektor UIN yang membuat agenda ziarah sebagai program rutin dies natalis,” tegas Nadjib yang juga Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. [rikza/dutaislam.com/ab]
  • Teguran untuk Kelompok Garis Lurus dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan

    Admin: Duta Islam → Rabu, 30 Maret 2016
    Untuk ikhwani yang menamakan diri "NU Garis Lurus" hafidzokumullah...
    أوصيكم وإيايا بتقوى الله

    Sebagai salah seorang nahdhiy, saya sangat yakin antum semua adalah pecinta NU sebagai jam'iyyah mubarakah diinan wajtima'an. Dan karena didorong oleh ghiroh dakwah yang tinggi, antum selama ini gigih mengkritisi pemikiran dan pemahaman yang menurut antum menyimpang dari manhaj assalafusshalih. Terutama akhir-akhir ini pemikiran-pemikiran DR KH Said Aqil Siradj.

    Namun demikian, atas dasar kecintaan kita terhadap NU, akan lebih baik jika ketidaksepakatan dengan pemangku jabatan di NU tersebut dituangkan dalam kritik dengan bahasa yang lebih santun dan elegan tanpa membawa-bawa NU secara jam'iyyah atau lembaga. (Baca: Berita Hoax NU Garis Lurus dan PKS Piyungan)

    Menamakan diri sebagai NUGL dan membuat logo NU dengan penambahan NUGL, menambah nama dan logo jam'iyyah yang kita cintai ini dari yang sudah disepakati oleh ulama'ana almutaqoddimin. Padahal, untuk membuat nama dan logo NU itu mereka sepakati dengan hasil istikharah dan isyaroh robbaniyyah. Karena mereka, Syaikhona Kholil, KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah wa man fi thobaqotihim bukan ulama sembarangan. Keilmuan, kewara'an serta keihlasan perjuangan mereka untuk umat sudah teruji. Mereka orang-orang yang tsiqoh, yang tak akan kita jumpai dari generasi saat ini. رضي الله عنهم وجزاهم عن الأمة خير ماجزى به عباده الصالحين.

    Disamping itu, ini bisa menimbulkan faksi dalam tubuh NU serta membuka peluang yang lain akan membuat istilah-istilah baru dengan membawa-bawa nama NU. Tidak tertutup kemungkinan nanti akan ada yang bikin istilah NU Garis Miring, NU Garis Netral sampai NU Tanpa Garis dan seterusnya. (Contoh NU Bergaris: Diancam Alisa Wahid, Fanpage Kistara Palsu Nonaktif)

    Jika ini terjadi, maka ini sama sekali tidak menguntungkan NU, nahdhiyyin dan kelompok aswaja. Yang diuntungkan justru kelompok-kelompok di luar NU, seperti wahhabiyyah wa khulafaaihim. (Baca juga: Surat Cinta untuk Imam Besar NUGL)

    Silahkan mengkritik, tapi tetaplah santun. Tanpa menyerang person dengan umpatan dan caci maki. Jangan gunakan cara-cara orang di luar NU dan tanpa membuat istilah NU yang baru (tanpa bikin bid'ah).

    Manfaatkan NU semaksimal mungkin untuk memberikan manfaat kepada umat dan menjaga aqidah mereka dari ahlul bid'ah waddhalalah. Mari kita teladani cara-cara ulama salaf dalam ber-ikhtilaf. Dan mari kita berusaha menjadi khoiru kholaf likhoiri salaf.

    وما توفيقي إلا با الله. عليه توكلت وإليه أنيب

    Ttd,

    Abu Bakar Hasan Assegaf
    Wakil Rais Syuriah PCNU Kab. Pasuruan


    Sumber Foto: Muslimedianews
  • Mengingkari Tabarruk Itu Bid'ah dan Ciri Khawarij

    Admin: Duta Islam → Selasa, 29 Maret 2016
    Tabarruk atau keberkahan, sudah jadi tradisi di kalangan umat Islam sejak zaman dahulu. Arti barokah sangat penting untuk umat Islam dan itu bagian dari tawassul. Sayangnya, ada sebagain orang yang kemudian menuduh hal itu sebagai syirik dan bid'ah. Mereka tidak tahu kalau pengkingkaran kepada tabbaruk itu sebetulnya justru bid'ah. 


    Perkataan Imam Dzahabi di bawah ini sangat gamblang dan tidak membutuhkan penjelasan lagi. Dalam kitab Al-‘Ilal wa Ma’rifatir-Rijal 2/429, No: 3243, Cet Maktab al-Islami menulis:

    سألته عن الرجل يمس منبر النبي صلى الله عليه وسلم ويتبرك بمسه ويقبله ويفعل بالقبر مثل ذلك أو نحو هذا يريد بذلك التقرب إلى الله عز وجل فقال لا بأس بذلك

    "Saya bertanya kepadanya (Ahmad bin Hanbal) tentang orang yang menyentuh podium Nabi saw, dan mencari berkah dengan menyentuh dan menciumnya, dan melakukan hal yang sama ke kuburan beliau, atau hal seperti itu, dengan tujuan mendekatkan diri dan mencari berkah dari Allah, ia (Ahmad) mengatakan: "Tidak apa-apa dengan hal itu".

    Ad dzahabi membenarkan pendapat Imam Ahmad dan menyatakan bahwa yang mengingkarinya adalah khowarij dan ahlu bidah. (Baca juga: Manfaat Tahlilan Menurut Islam)

    Addzahabi berkata:

    قال عبد الله بن أحمد : رأيت أبي يأخذ شعرة من شعر النبي ، صلى الله عليه وسلم ، فيضعها على فيه يقبلها . وأحسب أني رأيته يضعها على عينه ، ويغمسها في الماء ويشربه يستشفي به . ورأيته أخذ قصعة النبي ، صلى الله عليه وسلم فغسلها في حب الماء ، ثم شرب فيها ورأيته يشرب من ماء زمزم يستشفي به ، ويمسح به يديه ووجهه . قلت : أين المتنطع المنكر على أحمد ، وقد ثبت أن عبد الله سأل أباه عمن يلمس رمانة منبر النبي ، صلى الله عليه وسلم ، ويمس الحجرة النبوية ، فقال : لا أرى بذلك بأسا . أعاذنا الله وإياكم من رأي الخوارج ومن البدع

    Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata “Aku telah melihat ayahku mengambil sehelai rambut Nabi Saw kemudian meletakkannya dimulutnya dan menciuminya. Aku juga melihatnya meletakkan rambut itu di tengah-tengah kedua matanya kemudian beliau mencelupkannya ke dalam air dan meminum airnya untuk dijadikan obat dengannya. Aku juga pernah melihat ayahku mengambil wadah berisi rambut Nabi SAW lalu ayahku mencucinya di dalam kantong air kemudian meminum dengannya. Aku juga melihat ayahku minum air zamzam berharap sembuh dengannya dan mengusapkannya ke kedua tangan dan wajahnya. Aku (imam Adz-Dzahabi) katakan “ Adakah orang berlebihan yang memungkiri imam Ahmad? sungguh telah tetap bahwasanya Abdullah telah bertanya pada ayahnya (imam Ahmad) tentang orang yang menyentuh pegangan mimbar Nabi Saw dan juga menyentuh kamar Nabi Saw, maka ayahku menjawab “yang demikian itu tidak apa-apa,". Semoga kami dan kalian dilindungi Allah dari ro'yu (pendapat) khowarij dan dari ro'yu ahlul bid'ah". (Siyar A’lam an-Nubala: 11/212 Cetakan Muasasah ar-Risalah Bairut, Tahqiq Shalih as Samr

    Wallahu A'lam.

    Ini adalah praktik orang-orang wahabi yang mencari berkah di kuburan rajanya saat sesaat setelah meninggal. Sumber foto: rosulurrohmah
  • Lebih Baik Punya Budaya Antri daripada Pintar Matematika

    Admin: Duta Islam →
    Budaya antri lebih penting dari matematika. Adakah guru yang lebih khawatir muridnya tidak bisa antri daripada matematika? Ini adalah cerita nyata dari negara-negara Barat yang ternyata lebih was was siswanya tidak punya kedisiplinan mengantre. 

    “Kami tidak terlalu khawatir anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri,” kata seorang guru di Australia.

    "Kenapa begitu?” (Baca juga: Kearifan Lokal dalam Islam)

    Ia menjawab: 1) Karena kita hanya perlu melatih anak tiga bulan saja secara intensif untuk bisa matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga dua belas tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran dibalik proses mengantri. 2) Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali tambah, kali, kurang dan bagi. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dan sebagainya. 3) Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran etika moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak

    Inilah manfaat budaya antri atau antrian:
    1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. (Baca: Salah Kaprah Meluruskan Barisan Sholat)
    2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang.
    3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal.
    4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.
    5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat menunggu antrian)
    6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.
    7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
    8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
    9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain
    10. Anak belajar memiliki rasa malu, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
    11. Dan masih banyak pelajaran lainnya.

    Fakta di Indonesia
    Banyak orang tua justru menanamkan budaya antri sebagai berikut:
    1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata: "Sudah cuek saja, pura-pura nggak tahu aja !!"
    2. Ada orang tua yang memarahi dengan menyebut ”Dasar Penakut,” karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
    3. Ada orang tua yang memakai taktik/alasan agar dia/anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu.
    4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu mengajak berkelahi si penegur.
    5. Dan berbagai kasus lain.
    Silakan share pesan ini ke teman-teman lain agar mereka paham bahwa budaya antri itu lebih penting daripada matematika dan ilmu eksak lainnya. Pintar matematika tapi tidak punya budaya antri, disiplin, dan bertanggungjawab akan melahirkan sosok yang angkuh dan suka mengambil hak orang lain. [dutaislam.com/ab]
  • 5000 Santri Ikuti Lomba Kitab Kuning Ihya Ulumuddin

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com - Semarang

    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelorakan revolusi mental Presiden Jokowi melalui kajian kitab klasik atau biasa disebut kitab kuning karya ulama Imam al-Ghazali. Kajian kitab ini kemas dalam sebauh kegiatan lomba membaca kitab kuning (Musabaqoh Kitab Kuning) tingkat nasional. (Baca: Imam Syafii Pun Dimanipulasi)

    “Ihya Ulumuddin adalah masterpiece karya Imam Al Ghazali, yang saat ini sedang dibutuhkan bangsa Indonesia. Bagaimana orang mengendalikan nafsu, emosi, mengelola hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Ini sebenarnya sejalan dengan apa yang namanya Revolusi Mentalnya Presiden Jokowi,” kata Ketua DPW PKB Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), di kantor DPW PKB Jateng, Rabu (23/3/2016).

    Dikatakannya, Musabaqoh Kitab Kuning dilaksanakan serentak diseluruh Indonesia, di Jawa Tengah ditargetkan akan diikuti 5.000 santri. Di Jawa Tengah akan dibagi menjadi empat zona, zona 1 di PP ALFadlu wal Fadilah, Kendal diselenggarakan 2 April 2016, diikuti para santri dari Kota/Kabupaten Semarang, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Grobogan dan Rembang. Zona 2 di Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampak Brebes, 9 April 2016, yang akan diikuti santri dari Batang, Pekalongan, Kota/Kabupaten Tegal, Brebes dan Pemalang.

    Musabaqoh Kitab Ihya Ulumuddin


    Sedangkan Zona 3 diselenggarakan di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang 9 April 2016, sedianya diikuti para santri dari Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Wonosobo, Kabupaten/Kota Magelang, Purworejo, Temanggung, Sragen, Karanganyar. Sementara, Zona 4 diselenggarakan di Pondok Pesantrek Al Ikhya Ulumuddin Cilacap 7 April 2016, diikuti santri dari Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purbalingga dan Banjarnegara.

    Gus Yusuf menjelaskan, persyaratan peserta, adalah santri yang masih menempuh pendidikan di pondok pesantren dengan usia antara 17-25 tahun. Pendaftaran dapat dilakukan mulai 20 Maret hingga proses pelaksanaan lomba di DPC PKB Kabupaten/Kota, DPW PKB, dan di pesantren yang dijadikan pusat zona masing-masing daerah.

    Gus Yusuf mengungkapkan, untuk teknis perlombaan nantinya peserta wajib membaca Kitab Ihya Ulumuddin di depan dewan juri. Terdapat waktu 15 menit, lima menit pertama membaca kitab, lima menit berikutnya menjelaskan maksudnya, dan lima menit terakhir sesi tanya jawab.


    “Untuk dewan juri, kita menggandeng para pengasuh pesantren setempat juga menghadirkan Lembaga Bahsul Masail (LBM) PWNU dan PC NU sekitar zona perlombaan. Sebagai penyemangat, pihaknya menyediakan hadiah total senilai Rp 200 juta untuk pemenang berupa beasiswa pendidikan dan umroh,''ujarnya.

    Dikatakannya, PKB lahir dari pesantren dan NU maka sudah seharusnya memacu generasi muda untuk lebih bisa memahami keilmuan dari para ulama salaf. Mengingat pada perkembangan zaman saat ini anak muda sudah enggan memperdalam kitab salaf. 

    Dampak dari menurunnya masyarakat untuk membaca kitab-kitab klasik ini, banyak muncul pemahaman ajaran Islam yang dangkal dan muncul faham-faham radikalisme. (Baca: Semakin Banyak Isi Kitab Kuning yang Dipalsukan). Diharapkan kompetisi ini mampu membangkitkan kembali khasanah karya ulama salaf yang lebih elegan.

    “Kita berharap ini bisa membangkitkan kembali semangat mempelajari khasanah karya ulama salaf yang jelas sudah rahmatan lil alamin. Maka kita selenggarakan musabaqoh tingkat nasional di pesantren-pesantren,” jelasnya. [sholahuddin/dutaislam.com/ab
  • Gerakan Nusantara Mengaji, Khatamkan Al-Qur'an 300 Ribu Kali

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com - Surat Publik

    Assalamualaikum Wr Wb
    Saudaraku, kaum muslimin wal muslimat di seluruh penjuru Tanah Air.
    Sendi-sendi kehidupan kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan kita masih mengalami berbagai macam ujian dan cobaan yang tidaklah ringan.

    Ancaman radikalisme, terorisme, kesenjangan ekonomi dan sosial, memudarnya nilai-nilai keagamaan, menjamurnya pergaulan bebas, maraknya penggunaan narkoba, LGBT, serta perilaku mau menangnya sendiri semakin menambah berat perjuangan kita semua untuk mewujudkan baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Negara sejahtera yang masyarakatnya makmur lahir dan batin.

    Kita tidak boleh menyerah dengan kondisi ini, dan kita tidak boleh berpangkutangan membiarkan semua ketidak beresan ini terus terjadi. Mari kita terus benahi bersama-sama segala keruwetan, dan masalah bangsa ini dengan kerja keras, berikhtiar dan berjibaku mengerahkan segala daya upaya yang kita miliki. (Ingat ini? Sikap Ansor Soal Terompet Bersampul Qur'an)

    Lebih dari itu, sebagai anak bangsa, sudah sepatutnya kita bersama-sama mengangkat kedua belah tangan memanjatkan doa dan permohonan kepada Allah SWT untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.

    Saya mengajak seluruh saudaraku kaum muslimin wal muslimat seantero nusantara untuk bersama-sama melakukan riyadlah bermunajat kepada Allah dengan cara mengkhatamkan Al-Qur'an 300 ribu kali secara serentak dalam waktu bersamaan sehari-semalam dari mulai Sabang hingga Merauke.

    Saya mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk turut serta bergabung dan berpartisipasi membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an 300 ribu kali melalui kegiatan Nusantara Mengaji untuk keselamatan dan Keberkahan Bangsa Indonesia yang akan diselenggarakan nanti pada tanggal 7-8 Mei 2016. (Baca trik: Mengetahui Juz Al-Quran Tanpa Pusing)

    Nusantara Mengaji ini adalah upaya kita bermunajat meminta pertolongan kepada Allah agar Bangsa ini dijauhkan dari segala bala' dan cobaan serta diberi kekuatan untuk Mampu mengatasi seberat apapun persoalan yang dihadapi Indonesia. 

    Mari bergabung bersama saya dan para hafidz, kyai, santri serta pecinta Al-Qur'an bersama-sama membaca dan mengkhatamkan 300 ribu kali Al-Quran melalui Gerakan Nusantara Mengaji. (Baca juga: Al-Qur'an Audio Tanpa Download)

    Semoga langkah ini mendapatkan ridlo dan pertolongan Allah SWT.

    Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thoriq
    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

    (Muhaimin Iskandar)

    [sholahudin/dutaislam.com/ab]

  • Keberadaan ISIS Mengancam Keutuhan NKRI, Harus Dilawan!

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Munculnya Islamic State of Iraq and Sham/Syria (ISIS) atau dalam bahasa Arab disebut al-Dawlah al-Islamiyah fi al-Iraq wa al-Syam (Daisy) adalah gerakan ekstremis lain yang mengatasnamakan Islam. Dampaknya, wajah Islam tampak hanya kemarahan dan kebiadaban. Di Indonesia, individu-individu yang berperan mewujudkan visi global ISIS adalah orang-orang yang tidak mengerti geopolitik Arab, khususnya Irak dan Suriah. 

    Hal tersebut didiskusikan dalam Seminar Sehari yang bertajuk "Mengantisipasi ISIS, Mencegah Kekerasan atas Nama Agama" di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Jati Bandung, Selasa (28/03/2016).

    Menurut salah satu pembicara, Dr. Setia Gumilar (Akademisi dan Dekan Fakultas Adab UIN Sunan Gunung Djati Bandung), pergerakan ini masuk Indonesia memanfaatkan jejaring sosial dan sejumlah situs. "Bagi Indonesia yang merupakan negara dengan muslim terbanyak di dunia, keberadaan ISIS dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia bertentangan dengan ideologi Pancasila dan semangat ukhuwah islamiyah yang selama ini menjadi ciri khas beragama masyarakat Indonesia yang dipandang toleran dan inklusif," ungkap Setia.

    Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Salah satu masalah berkaitan dengan kemajemukan bangsa Indonesia adalah dalam hal kehidupan beragama. Kerukunan hidup antar atau internal umat beragama di Indonesia sangat penting karena agama bagi masyarakat Indonesia adalah sistem acuan nilai (system of referenced values) yang menjadi dasar dalam bersikap dan bertindak bagi para pemeluknya. (Baca juga: Meredam Radikalisme dengan Sufisme)

    Sedangkan pembicara lain, Wawan Gunawan, MA (peneliti dan penggiat Jaringan Kerukunan Antar Umat Beragama | JAKATARUB) lebih melihat dalam perspektif sosial budaya. Menurutnya, agama tidak terlepas dari masyarakat tempat para pemeluk agama yang bersangkutan berada. Agama berfungsi sebagai sistem pengetahuan dan keyakinan untuk menjalani kehidupan di dunia dan kesiapan untuk memasuki kehidupan di akhirat. 

    Karena fungsi agama seperti itulah, maka agama dianggap sebagai roh dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, agama dapat menjadi perekat kedamaian, tetapi agama juga dapat menimbulkan ketegangan dan kekerasan sosial tuturnya.

    Masalah yang berlatar belakang agama antara lain dipicu oleh konflik atau kekerasan antar atau internal umat beragama karena perbedaan keyakinan atau akidah, pendirian tempat ibadah, perebutan tempat ibadah dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu sehingga menimbulkan reaksi atau penolakan serta perlawanan dari kelompok yang lain.

    Konflik antar dan internal umat beragama masih terjadi di Indonesia. Kekerasan sosial seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama apapun yang dianut oleh para pelaku kekerasan sosial itu sendiri. Selain itu, kekerasan sosial juga menunjukkan dangkalnya pemahaman para pelaku kekerasan terhadap ajaran agama dan hancur-leburnya ketaatan hukum masyarakat pelaku kerusuhan sosial.
     
    Perwakilan dari Departemen Dakwah dan Pembinaan Masyarakat MUI Jabar, Dr. Ajid Thohir khawatir apabila fenomena kekerasan sosial yang berlatar belakang agama tidak segera diatasi, maka akan berdampak negatif terhadap ketahanan nasional yang akhirnya akan berpengaruh pada tegak dan utuhnya NKRI.

    "Kami dari departemen dakwah dan pembinaan MUI Jabar lebih mengutamakan pendekatan pembinaan ideologi," papar Ajid, dosen yang juga menekuni sejarah ini. (Baca juga: Awas, Ideologi Radikal Kuasai Politik Kampus)

    Keberagaman bagi bangsa Indonesia adalah rahmat dan karena itu harus disyukuri sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Namun jika bangsa Indonesia gagal mengelola kebhinnekaan itu, maka yang terjadi adalah disintegrasi bangsa. "Seluruh komponen bangsa harus bersatu padu menjaga kebhinnekaan itu sebagai kekayaan dan modal dasar dalam pencapaian tujuan nasional," tegasnya.

    Indonesia bukan negara agama tetapi juga bukan negara sekuler. Keunikan ini memiliki kelebihan dan kekurangan karena agama-agama dapat hidup dan berkembang dengan baik dijamin oleh undang-undang. Keanekaragaman tersebut apabila tidak dikelola dengan baik mengandung potensi konflik dan konflik itu akan mengganggu terwujudnya kerukunan hidup beragama di Indonesia.

    Dalam kehidupan beragama, ada peningkatan daya kritis umat dan pada saat yang sama ada kebebasan masuknya ideologi baru yang disebut gerakan transnasional. Implikasinya, ketegangan sering muncul, sehingga diperlukan upaya sistematis berjangka panjang dan berkesinambungan.

    Kegiatan seminar yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Tarbiyah  ini dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan saling pengertian dan saling membantu antar kelompok Islam dalam hal mencegah ISIS berkembang di Indonesia serta mencegah generasi muda masuk dalam kelompok ISIS baik dalam skala kecil maupun besar. (Penting dibaca: Anak Muda Indonesia Kian Radikal)

    Anstusiame  dalam mengikuti seminar ini sangat besar dengan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan staf akademik kampus UIN SGD Bandung. Mereka merasa memiliki tanggungjawan untuk menjaga keutuhan NKRI agar tercapai misi kemanusiaan dalam agama dan menjaga budaya dan kearifan lokal sebagai penyangga kerukunan dan perdamaian di bumi Indonesia. [dutaislam.com/ ridho/ ab]

  • Mereka Teriak Kami Mayoritas, NU Ketawa Saja

    Admin: Duta Islam →
    Oleh Denny Siregar

    Apa yang sulit bagi Nahdlatul Ulama sekarang ini dalam menguasai NKRI ? Hampir tidak ada. Dengan umat yang diperkirakan berjumlah 50 juta orang (bahkan ada yang mengatakan 80 juta), NU bisa melakukan apa saja, termasuk makar. 

    Dalam bidang ekonomi, NU sangat mungkin merebut "pasar" MUI dalam mengeluarkan fatwa halal dan haram. MUI hanyalah sebuah organisasi saja, dan jika dibandingkan dengan organisasi NU bagaikan bumi "dan langit".

    Tetapi NU tidak melakukan itu. Mereka tidak mencari uang dengan cara-cara seperti itu. Padahal, ketika mereka membentuk badan fatwa sertifikasi halal banyak yang akan beralih ke NU. Siapa yang melarang emangnya? NU bisa saja berdalih bahwa ini khusus untuk umatnya. Dan ketika NU mau melakukan itu, habis sudah pendapatan MUI yang terbesar dan kering kerontanglah mereka seperti unta kehausan di padang.

    NU dan HTI itu Beda


    NU juga bisa saja membuat fatwa-fatwa bahwa aliran A sesat, aliran B menyimpang dan sebagainya. Dan berkillah lagi, ini untuk warga NU saja. Lalu siapa yang bisa melarang? NU tidak begitu. Mereka membiarkan semua berjalan apa adanya, tidak takut akidah umatnya tergerus apalagi cuma dengan mie instan. Malah kalau ada nonmuslim yang membagi-bagikan mie instan, mereka akan dengan senang hati datang. Kapan lagi dapat gratisan?

    NU sebagai pembela NKRI bisa saja membenturkan dirinya dengan HTI, Majelis Mujahidin dan organisasi-organisasi Islam gurem lainnya yang menguasai khilafah. GP Ansor dan Banser punya kemampuan untuk itu. Tapi untuk apa? NU tetap berjalan pada koridor hukum dan undang-undang. Mereka melawan dengan cara yang sangat soft dan smart, membuat Islam Nusantara sebagai tandingan dari Islam Radikal yang diusung para pecinta khilafah.


    Siapa yang bisa menjaga gereja-gereja dan perayaan hari besar umat non muslim, selain NU? Tanpa ada NU, mungkin sudah banyak bom berletusan yang menjadikan gesekan besar antar umat beragama. Kita bisa seperti Suriah, Afghanistan dan Irak. Bahkan salah seorang anggotanya syahid ketika melindungi sebuah gereja dari bom.

    NU-lah pelopor gerakan pluralisme dengan berdakwah, menunjukkan wajah Islam yang penuh rahmat di gereja-gereja. Tidak ada rasa takut bahwa automurtad seperti propaganda bodoh yang terus dilancarkan. NU pula-lah yang menjaga budaya asli Islam Indonesia sehingga tidak terkontaminasi budaya arab. (Baca juga: Menjadi Indonesia tidak Harus Menjadi Arab)

    Begitu kuat dan tenangnya NU bergerak, sehingga langkahnya terasa tidak terdengar. NU seperti singa yang tidak perlu mengaum, ketika dirasa tidak ada bahaya. Beda dengan anjing yang selalu menggonggong, bahkan ketika orang sekedar lewat saja.

    Karena itu temanku, kalau mau melihat bagaimana Islam di Indonesia, lihatlah NU (dan Muhammadiyah). Masih selamatnya kita di Indonesia ini tidak lepas dari besarnya peran mereka menjaga kita tetap utuh.

    Jangan lihat yang organisasi-organisasi gurem itu. Mereka harus teriak keras-teriak supaya diperhatikan NU. Mereka berteriak, "Kami umat Islam..", padahal mereka kecil saja. Mereka teriak, "Kami mayoritas!", NU ketawa saja. Elu? Mayoritas? Emak lu robot.

    Sayang, NU tidak tertarik dengan teriakan-teriakan minta perhatian  mereka. Bahkan cenderung menyindir-nyindir kebodohan mereka dalam beragama dengan gaya yang masih santun, sarungan, kopiyahan  dan cangkrukan sambil ngudut dan ngopi. (Baca juga: Gus Dur dan Teologi Keindonesiaan)

    Mari kita angkat secangkir kopi untuk NU. Mereka layak mendapatkan itu. [dutaislam.com/ab]
  • NU Surabaya Minta Tata Ulang Taman Bungkul

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com - Surabaya

    Problem Taman Surabaya 


    Komisi Rekomendasi Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) NU Kota Surabaya  merekomendasikan agar pemerintah menata ulang Taman Bungkul agar menjadi ruang terbuka hijau bernuansa religi.

    Ketua PCNU Surabaya, Dr Muhibbin Zuhri mengaku sangat bangga dengan keberadaan Taman Bungkul seperti sekarang ini. Tamannya rindang dan lebih tertata rapi. Hingga mendapat penghargaan kelas dunia sebagai salah satu taman kota terbaik. Hanya saja, dia mengingatkan kalau di dekat Taman Bungkul ada makam Aulia yang sangat dihormati oleh warga Nahdliyin.

    "Peziarah merasa terganggu dengan acara-acara yang diadakan di Taman Bungkul. Sound system ribuan watt mengusik kekhusukan peziarah yang sedang berdoa, berzikir dan membaca Al-Quran di Taman Bungkul," terang Muhibbin yang memimpin NU Surabaya dengan tagline NU Urban ini, Senin (28/3/2016).

      

    Dia meminta polisi tidak memberikan izin keramaian untuk acara yang menggunakan pengeras suara yang memekakkan telinga di Taman Bungkul. Selain itu, Taman Bungkul juga masih jadi tempat jujugan muda mudi untuk pacaran yang cenderung ke perbuatan maksiat.

    "Dulu Bu Risma juga pernah mengatakan akan meminta bantuan tim dari ITS untuk membuat design Taman Bungkul dengan nuansa religi. Kami ingin tahu sejauh mana progress-nya," kata Ketua PCNU Surabaya, Dr Muhibbin Zuhri.

    Baca juga:
    NU Harus Kontrol Pengajian Liar

    Muskercab NU Surabaya digelar mulai 26-27 Maret 2016 di salah satu hotel di Trawas dibuka oleh Sekretaris PWNU Jatim Prof Dr Muzakki dan dihadiri sejumlah kiai NU. Di antaranya KH Asep Syaifuddin Chalim, KH Mas Sulaiman, dan KH Mas Yusuf Muhajir, KH. Mas Mahfudz.

    Sekitar 170 peserta dari 24 pengurus MWC (Majelis Wakil Cabang), lembaga dan badan otonom (Banom) NU Surabaya mengikuti  Muskercab. Mereka sangat antusias membahas program-program untuk masa khidmat selama 5 tahun ke depan. Mulai dari Komisi Pengembangan Dakwah dan Budaya, Komisi Pengembangan Pendidikan, Komisi Pengembangan Perekonomian, Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan  Umat, Komisi Pengembangan Sumber Daya Manusia, Komisi Pengembangan paham Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah), Komisi  Advokasi dan Optimalisasi Aset, hingga Komisi Rekomendasi. [ab]
  • Gus Dur dalam Kisah dan Ramalan Ahok Basuki

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com - Esai

    Ahok Basuki Gubernur


    Oleh Munawir Aziz

    Sembilan tahun lalu, paruh pertama tahun 2007, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendoakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur. Ketika itu, jalan terjal sedang menghadang Ahok. Tepat ketika ia maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung berpasangan dengan Dr. Ir Eko Cahyono. Pada awalnya, dalam perhitungan suara sementara, 22 Februari 2007, Ahok melesat jauh meninggalkan pesaingnya. Namun, di tikungan terakhir, konon ia dicurangi lawan politiknya.

    Ahok tidak terima, ia mengadu ke Mahkamah Agung (MA). Usahanya buntu, Ahok gagal jadi Gubernur Bangka Belitung. Pada waktu itu, Gus Dur dengan gigih membela Ahok. Gus Dur bahkan ikut kampanye dan mendukung Ahok dalam proses akhir penyelesaian di pengadilan. Ketika Ahok hampir putus asa, Gus Dur mendoakan Ahok jadi gubernur, bahkan presiden.

    Dukungan Gus Dur ini menjadi kisah menarik, karena belum banyak warga Tionghoa yang maju sebagai politisi dan kepala daerah. Meski Ahok tidak berhasil menjadi Gubernur Bangka Belitung, akan tetapi ia selalu ingat petuah dari Gus Dur. Menurut Ahok, Gus Dur pernah meramalkan dirinya akan menjadi Gubenur bahkan pemimpin bangsa.

    “Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi Gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa!” ungkap Ahok menirukan perkataan Gus Dur. Ahok mengulang ucapan ini, dalam testimoni pada Haul ke-4 Gus Dur di Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Desember 2013.

    Nyatanya, Joko Widodo (Jokowi) berpasangan dengan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Dua tahun kemudian, Jokowi terpilih sebagai presiden pada pemilu 2014, berpasangan dengan Wapres Jusuf Kalla (JK). Ahok yang sebelumnya menjadi Wakil Gubernur, ditetapkan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

    Kenapa Dukung Ahok?

    Dukungan Gus Dur terhadap kelompok minoritas tidak hanya berhenti pada perbicangan dan wilayah konseptual semata. Untuk mendukung warga Tionghoa agar mendapat hak politiknya, Gus Dur ‘turun gunung’ melakukan pembelaan. Ketika menjabat sebagai presiden, Gus Dur menerapkan kebijakan menghapus diskriminasi orang Tionghoa mencabut Inpres No 14/1967 dan meneken Keppres No 6 Tahun 2001. Intinya, Gus Dur menjadikan warga Tionghoa mendapatkan hak politik dan sosialnya. Orang-orang Tionghoa Indonesia sangat berterima kasih pada Gus Dur, dengan menyebutnya sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia”.

    Dukungan Gus Dur terhadap Ahok merupakan konsekuensi dari sikap konsisten Gus Dur dalam membela minoritas. Ahok juga sangat berterima kasih kepada Gus Dur, karena dukungan Gus Dur tidak hanya dimaknai sebagai dukungan politik, namun juga dukungan moral untuk memberi ruang bagi kaum minoritas tampil sebagai eksekutif di wilayah politik. Gus Dur lah yang mendukung Ahok agar terus berjuang sebagai politisi, yang mampu memberikan kontribusi positif bagi warga negeri ini. Dukungan Gus Dur kepada Ahok bukan tanpa alasan.

    Pada orasi kampanye di Bangka Belitung, Gus Dur menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus siap menjadi bangsa yang besar, dengan memberi ruang pada minoritas. Gus Dur menekankan bahwa mendukung Ahok karena cinta.

    Gus Dur menyitir ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berupa laki-laki dan perempuan, untuk berpasang-pasangan. Juga, dengan berbangsa dan suku bangsa, agar saling mengetahui, saling mengenal. Kalau sudah mengenal, akan menjadi cinta. “Kenapa memilih Ahok? Karena cinta! Kita semua akan memilih Ahok karena cinta,” ungkap Gus Dur.

    Selain itu, Gus Dur memperjuangkan minoritas karena cita-cita kebangsaan. Inilah nilai-nilai keindonesia yang menjadi prinsip dasar, sebagai pencarian harmoni. Sejauh yang dipahami Gus Dur, yang paling Indonesia diantara semua nilai yang diikuti oleh warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau.


    “Kita dapat menamainya sebagai pencarian harmoni, walaupun dengan begitu bersikap tidak adil pada pencarian besar dengan peranan dinamisnya dalam pengembangan cara hidup bangsa dan menyalurkannnya ke jalan baru tanpa menghancurkan jalan lama, semuanya dalam proses yang berurutan” (Abdurrahman Wahid, 2007: 163).

    Pernah suatu kali, ketika sedang berkompetisi sebagai calon Gubernur Bangka, tim sukses Ahok menyarankan agar dia berpindah agama menjadi mualaf. Namun, Gus Dur mengatakan sebaliknya. “Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar dapat suara banyak. Tapi Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau contoh yang tidak pernah menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik,” ungkap Ahok, sebagaimana arsip media (Kompas, 29/12/2013).

    Selain itu, ungkapan-ungkapan Gus Dur juga memotivasi Ahok untuk konsisten dalam melayani kepentingan rakyat, meski banyak kritik dan penolakan dari mereka yang berpandangan sempit. Hal ini terjadi ketika Ahok ditolak masuk ke sebuah mesjid di Jakarta.

    “Kalo kata Gus Dur, orang yang menolak itu adalah orang yang pengalaman Islamnya sempit. ‘Udah biaran saja, nggak ngerti mereka. Jadi banyak orang nggak ngerti ajaran sebetulnya. Karena Islam itu kan rahmatan lil ‘alamin, rahmat buat seluruh ummat,” ungkap Ahok menirukan petuah Gus Dur.

    Visi Gus Dur, Misi Ahok?
    Kini, menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017, karir politik Ahok sedang dipertaruhkan. Ia nekad memilih jalur perseorangan dengan menggandeng Heru Budi Hartono (Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah DKI Jakarta). Relawan Teman Ahok dengan gigih mendukung pasangan ini, dengan menggalang simpati dan mengumpulan KTP. 

    Menjelang 2017, Ahok sedang dalam pertaruhan politik. Beberapa parpol masih dalam perhitungan antara mendukung Ahok atau mengusung calon lain.

    Sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok memperjuangkan gagasan-gagasan Sang Kiai? Jika menganggap dirinya sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok meneruskan perjuangan Gus Dur yang belum tuntas? Bagaimana ramalan Gus Dur tentang Ahok sebagai Presiden? Saya kira, kelak, sejarah yang akan menjawabnya.

    Munawir Aziz, peneliti dan editor penerbitan. 
    Alumnus Pascasarjana UGM. Bisa ditemui di @MunawirAziz
  • Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab

    Admin: Duta Islam →
     
    DutaIslam.Com - Ini adalah jawaban bagi mereka yang mengaku sebagai anti madzhab dan tidak mengikuti salah satu madzhab sebagaimana NU dan Nahdliyyin sejak berdiri 1926.

    Pertanyaan:
    Assalamualaikum. 

    Mohon izin bertanya terkait dengan mazhab-mazhab, ustadz. Sebenarnya mazhab itu apa sih? Dan mengapa kita harus bermazhab, bukankah sudah cukup kita berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah? Bukankah mazhab itu hanya pendapat dan perkataan manusia yang bisa benar dan bisa salah. Kenapa harus dipegang dan dirujuk? Mohon maaf kalau redaksi saya agak kurang baik dalam bertanya. Sebelumnya terima kasih atas penjelasan ustadz.

    Wassalam

    Jawaban:
    Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Sebelum kita bahas pertanyaan ini lebih lanjut, ada baiknya kita sepakati terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan 'mazhab' dan istilah 'bermazhab'. Sebab jangan-jangan kita tidak sepakat tentang pengertiannya, tetapi sudah terlanjur perang opini.

    A. Mazhab adalah penjelasan paling sah atas isi Al-Quran dan as-Sunnah
    Yang kita sepakati dari istilah mazhab adalah penjelasan yang asli, otentik, baku dan ilmiyah tentang kandungan hukum Allah yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ternyata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita warisi dari Rasulullah SAW itu masih harus dijelaskan dulu sebelum kita laksanakan. 

    Kenapa harus ada penjelasan? Bukankah Al-Quran dan hadits itu sendiri sudah merupakan penjelasan buat orang yang bertaqwa?

    Pertanyaan agak-agak lugu tapi polos ini mungkin sering kita dengar dari mulut saudara-saudara kita yang sedang belajar ilmu agama. Tidak apa-apa, namanya saja masih belajar. Wajarlah kalau pertanyaannya agak polos.

    Jawabannya adalah bahwa orang-orang terbaik dari generasi terbaik saja masih bermazhab dan tidak sok tahu menafsir-nafsirkan ayat-ayat Allah SWT dengan akal pikiran dan nalar mereka sendiri. Mereka masih tetap bertanya tentang Al-Quran, as-Sunnah dan hukum-hukum syariah kepada Rasulullah SAW.

    1. Shahabat masih harus minta penjelasan Al-Quran dari Rasulullah SAW
    Pertanyaannya, mereke orang sekelas shahabat itu masih harus bertanya tentang Al-Quran, padahal mereka mengalami turunnya Al-Quran. Dan bahkan Al-Quran turun dalam bahasa mereka, yaitu bahasa Arab?

    a. Kendala Bahasa dan Istilah
    Memang benar ayat-ayat Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang khas di masa Nabi SAW. Namun yang harus diketahui dengan kualitas level bahasa yang teramat tinggi sastranya. Sehingga terkadang tidak semua shahabat mampu memahami kata per kata, kalimat per kalimat serta redaksi-redaksi di ayat Al-Quran itu sendiri.

    Seringkali mereka harus bertanya lagi kepada Rasulullah SAW tentang apa maksud suatu ayat. Jadi Al-Quran itu tidak otomatis jelas dan mudah dipahami, bahkan oleh mereka yang selevel para shahabat sekalipun. Tetap saja mereka masih harus mendapatkan penjelasan dulu dari Rasulullah SAW.

    Bayangkan kalau sekelas shahabat saja masih harus bertanya tentang isi Al-Quran dan kandungan hukumnya, bagaimana mungkin orang di masa kini 15 abad setelah turunnya Al-Quran, tidak paham bahasa Arab, tidak tahu asal muasal turunnya ayat, tidak tahu jeluntrungannya, tiba-tiba mereka berhak untuk menafsirkan sendiri? Lalu bikin fatwa aneh-aneh sambil melarang orang bertanya kepada sumber rujukan aslinya, yaitu para shahabat? Sungguh aneh dan tidak masuk akal, bukan?

    b. Nasikh Wal Mansukh
    Syariat Islam di dalam Al-Quran tidak turun sekaligus, tetapi berproses. Berproses di sini bukan sekedar ayat turun satu persatu, tetapi lebih dari itu, kadang ada proses perubahan hukum seiring dengan semakin banyaknya turun ayat.

    Hukum yang sudah ditetapkan pada satu ayat bisa saja dianulir dan diubah menjadi hukum yang lain oleh ayat yang turun kemudian. Keharaman yang dibawa oleh suatu ayat bisa diubah menjadi kehalalan oleh turunnya ayat berikutnya. Sebaliknya, kehalalan yang didasarkan pada satu ayat, kemudian diharamkan oleh ayat yang turun kemudian.

    Banyak sekali orang awam di masa kini yang sama sekali tidak tahu adanya ayat yang dinasakh atau dibatalkan hukumnya. Dengan segala keluguannya mereka mengira semua ayat itu berlaku hukumnya sama rata. Mereka tentu harus bertanya dulu kepada sumber rujukan utama yaitu para shahabat. Tidak boleh asal main keluarkan fatwa dan hukum seenaknya.

    c. Tidak semua shahabat merupakan ahli hukum
    Satu hal lagi yang harus dicatat juga bahwa tidak semua shahabat itu ahli dalam hukum agama, meskipun mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in (إعلام الموقعين) memperkirakan hanya sekitar 130-an orang saja dari para shahabat yang punya kapasitas dalam mengistimbath hukum.

    Padahal kita tahu bahwa jumlah shahabat itu mencapai angka 124 ribu orang. Dibandingkan yang ahli dalam istinbath hukum, ternyata jauh lebih banyak mereka yang bukan ahlinya.

    Oleh karena itu, tidak bisa kita pungkiri bahwa sesungguhnya para shahabat itu meski bisa bahasa Arab, mengalami proses turunnya Al-Quran, bahkan menjadi tokoh langsung di dalam ayat yang diturunkan, namun tetap tetap saja mereka harus bertanya kepada Rasulullah SAW atau kepada shahabat senior yang sudah berlevel ahli istimbath hukum. Maksudnya tetap harus bertanya kepada ahlinya tentang isi kandungan hukum di dalam Al-Quran. Dan proses bertanya itu yang kita sebut bermazhab.

    Mereka yang hidup bersama Rasulullah SAW saja masih harus bermazhab, bagaimana mungkin orang di zaman sekarang merasa sudah pintar dan mereka berhak menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran seenaknya? Apakah mereka merasa lebih pintar dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat?

    2. Para shahabat mendapat legalisasi dari Rasulullah SAW untuk berfatwa
    Menarik untuk dicermati, para sebagian shahabat yang memang telah mendapatkan pendididukan khusus untuk menjadi ahli istimbath hukum ini kemudian mendapatkan legalitas dari Rasulullah SAW. Tentu tidak semua mereka mendapatkannya, melainkan hanya yang sudah mencapai derajat ilmunya. Rasulullah SAW bersabda:

    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

    Wajiblah atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para penggantiku yang lurus. Pegang erat sunnah itu dan gigitlah dengan geraham. (HR. Ahmad)

    Dengan hadits ini maka para shahabat ahli istimbath hukum itu telah menjadi juru fatwa resmi yang telah menandatangani 'kontrak' sebagai wakil Allah di muka bumi. Jabatannya tentu bukan sebagai pembawa wahyu tetapi sebagai juru tafsir resmi dari Al-Quran dan As-Sunnah.

    Siapa saja yang mencoba menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran ataupun sunnah Rasulullah SAW semata-mata hanya lewat akalnya sendiri, maka sudah dipastikan sesat, keliru dan tidak bisa diterima.
    Anehnya di zaman sekarang bisa-bisanya ada orang yang tidak mengerti Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malah  mengaku-ngaku sebagai ahli fatwa, lalu bikin fatwa seenaknya. Lucunya sampai bilang begini:

    "Tinggalkan semua perkataan manusia dan cukup Al-Quran dan As-Sunnah saja yang kita pegang. Tidak usah merujuk kepada shahabat, tabi'in atau fuqaha, karena mereka manusia dan sangat mungkin mengalami kesalahan".


    Ungkapan ini kelihatannya benar, tetapi sekaligus juga banyak pesan menyesatkan tersirat di dalamnya. Di antarnya kesesatannya adalah sebagai berikut:

    a. Sama saja mendustai kenabian Muhammad SAW
    Dengan mencoret peran para shahabat, tabi'in dan para fuqaha, otomatis kita menutup penjelasan, ilmu dan pesan-pesan penting dari Rasulullah SAW yang dititipkan kepada mereka. Dan itu berarti sama saja kita mendustakan kenabian Muhammad SAW.

    b. Bikin agama baru mendompleng agama Islam
    Bila kita perpegang pada Al-Quran dan Sunnah, lalu kita tafsiri sendiri semua isi kandungannya, seenak kita dan sesuai dengan selera kita sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan agama baru. Agama itu sama sekali bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi kita cuma mendompleng saja, sementara isi dan ajarannya 100% buatan akal kita sendiri.

    3. Para Shahabat Boleh Berbeda Pendapat
    Dan yang sangat menarik adalah meski sudah sah menjadi juru tafsir resmi Al-Quran dan As-Sunnah oleh Rasulullah SAW, namun para shahabat ahli istimbath hukum tetap diberi 'kebebasan' untuk saling berbeda pendapat.

    Dan sudah pasti bahwa perbedaan pendapat di tengah para shahabat tentu tidak datang dari hawa nafsu pribadi, atau kepentingan kelompok tertentu, atau motivasi uang, jabatan, kekayaan, popularitas dan hal-hal rendah lainnya. Tentu saja mereka suci dari semua tuduhan itu.
    Sebab Allah SWT menjamin bahwa mereka itu mendapat ridha dari Allah SWT dan dalam hadits yang shahih mereka 100% dipastikan masuk surga.

    عَشْرَةٌ فيِ الجَنَّة : أَبُو بَكْر فيِ الجَنَّةِ وَعُمَر فيِ الجَنَّةِ وَعُثْمَان فيِ الجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فيِ الجَنَّةِ وَطَلْحَة فيِ الجَنَّةِ َوالزُّبَيْر فيِ الجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَن بنِ عَوْفٍ فيِ الجَنَّةِ وَسَعِيدُ بْنُ مَالِكٍ فيِ الجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَة بْنُ الجَرَّاحِ فيِ الجَنَّةِ - وَسَكَتَ عَنِ العَاشِـرِ ، قَالُوا : وَمَنْ هُوَ العَاشِر ؟ فَقَالَ : " سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ " – يعني نفسه

    Dari Said bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Ada sepuluh orang di dalam surga : Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam surga, Az-Zubair di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga, Said bin Malik di dalam surga, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah di dalam surga, kemudian Said terdiam. Orang-orang bertanya,”Siapa yang kesepuluh?”. Said menjawab,”Said bin Zaid”- yaitu dirinya sendiri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

    4. Boleh memilih mazhab shahabat yang mana saja
    Ketika para shahabat yang sudah menjadi derajat ahli istimbath hukum ini punya pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka para shahabat yang lain boleh memilih pendapat yang mana saja dari mereka. Rasulullah SAW telah bersabda:

    إِنَّ أَصْحَابِي بِمَنْزِلَةِ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ فَأَيُّمَا أَخَذْتُمْ بِهِ اهْتَدَيْتُمْ وَاخْتِلاَفُ أَصْحَابِي لَكُمْ رَحْمَةٌ

    Para shahabatku bagaikan gemintang di langit. Pendapat siapapun yang kamu ambil tetap dapat petunjuk. Perbedaan pendapat mereka jadi rahmat bagi kamu. (HR. Al-Baihaqi)

    Dalam kenyataannya ada mazhab Abu Bakar, mazhab Umar, mazhab Ustman, mazhab Ali, mazhab Ibnu Abbas, mazhab Ibnu Umar, mazhab Ibnu Mas'ud, mazhab Aisyah, mazhab Ummu Salamah dan lainnya. Mereka bisa saja berbeda pendapatnya, namun semuanya berada di dalam wilayah kebenaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

    Maka kepada pendapat, fatwa serta mazhab para shahabat itulah kita wajib berpegang-teguh. Sebab pada hakikatnya kita sedang kembali kepada Al-Quran. [dutaislam.com/ ab]

  • Ini Silsilah Gus Dur Hingga Rasullullah

    Admin: Duta Islam → Selasa, 22 Maret 2016
    DutaIslam.Com - Gus Dur

    Silsilah Gus Dur


    Oleh Harun Abul Kasaf Al Warid

    Memang benar, pendapat yang menyatakan Gus Dur adalah keturunan Rasulullah SAW. Runtutan silsilah itu terbaca dalam kitab Talkish, karya Abdullah bin Umar Assathiri.

    KH. Abdurrahmad Wahid (Gus Dur), presiden keempat Indonesia, ternyata memiliki silsilah keluarga yang berpangkal pada Nabi Muhammad SAW. Dalam kitab Talkhish, karya Abdullah bin Umar Assathiri, dijelaskan bahwa Gus Dur merupakan keturunan ke-34, dari Rasulullah.

    Garis keturunan Gus Dur bersambung ke atas dari ayah kakeknya. Adapun rincian selengkapnya sebagai berikut: KH. Abdurrohman Wahid anak dari KH. Abdul Wahid Hasyim, mantan menteri Agama RI. Sedangkan KH. Abdul Wahid Hasyim anak dari KH. Hasyim Asy'ari. Pendiri NU. KH. Hasyim Asy'ari sendiri anak dari Asy'ari yang berada di Jombang.

    Sementara itu, berturut-turut dari Asy'ari ke atas hingga ke Nabi Muhammad SAW, garis keturunan Gus Dur diterangkan dalam kitab tersebut begini: Asy'ari anak dari Anu Sar'wan, Anu Sar'wan anak dari Abdul Wahid, anak dari Abdul Halim, Abdul Halim anak dari Abdurrohman yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sambud Bagda, Abdurrahman anak dari Abdul Halim, anak dari Abdurrahman yang dikenal dengan Julukan Jaka Tingkir.

    Abdurrahman anak dari Ainul Yaqin yang terkenal dengan nama Sunan Giri, Ainul Yaqin anak dari Maulan Ishak, Maulana Ishak anak dari Ibrahim Asmura, sedangkan Ibrahim Asmura anak dari Jamaluddin Khusen, anak dari Ahmad Syah Jalal.

    Seperti diketahui, Rosulullah mempunyai seorang puteri yang bernama Sayyidah Fathimah Az-Zahra'. dari pasangan Fathimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib lahirlah Husein bin Ali. Kemudian, berturut-turut kebawah dari Husein bin Ali adalah sbb: Ali Zainal Abidin Muhammad Al-Baqir-Jafar Shadiq-Ali Al-Uraidi-Muhammad An-Naqib-Isa Ar-Rumi-Ahmad Al-Muhajirilallah-Ubaidillah-Alawi-Muhammad-Alawi Muhammad-Ali Choli Qosam-Muhammad Shahibu Mirbat-Alawi-Amir Abdul Malik-Abdullah Khain.

    Nah, dari Abdullah Khain ini lahirlah seorang anak yang bernama Ahmad Syah Jalal. Akhirnya jika dihitung dari Rosulullah hingga ke KH. Abdurrahman Wahid, silsilah Gus Dur jatuh pada keturunan yang ke-34.


    Diakui Para Habib
    Tentang kebenaran silsilah Gus Dur yang sampai ke garis keturunan Rasulullah dibenarkan juga oleh Habib Husein Syafe'i Al-Muhdhar dan Habib Assad Shihab. menurut Habib Husein, salah seorang cucu Habib Muhammad Al-Muhdhar (Habib Kramat) Bondowoso, bahwa dirinya juga telah melakukan penelitian atas kitab-kitab tentang silsilah para Habaib.

    Habib Husein mengungkapkan, tentang silsilah KH. Hasyim Asy'ari memang ditemukan kalau dia berasal dari salah satu garis keturunan Nabi Muhammad SAW. "Kitab-kitab yang berisi tentang silsilah memang banyak tidak diminati orang. Sebab, membaca rentetan kalimat yang terdiri dari nama-nama orang sungguh-sungguh menjenuhkan," tutur Habib Husein kepada Duta.

    "Oleh karena itu, jangan heran jika kebenaran adanya silsilah Gus Dur pun menjadi tidak populer ditengah-tengah masyarakat kita, "tandasnya kemudian.

    Demikian pula dengan Habib Assad Shihab, kakek mertuanya Alwi Shihab (Menlu). Mengutip penuturan Habib Husein, diapun membenarkan tentang silsilah Gus Dur tersebut. Dan hasil Study beberapa kitab silsiahnya, Habib Assad juga menemukan asal-muasal kakek-kakeknya KH. Hasyim Asy'ari. Menurutnya, garis keturunan Kia Pendiri NU tersebut memang sampai Rasulullah.

    Beliau adalah anak dari Asy'ari lahir di Jombang tahun 1871. Lima tahun dalam asuhan neneknya di Pondok Gedang, kemudian dibawa ayahnya ke desa Kras sebelah selatan kota Jombang.

    Selain mendapat didikan dari ayahnya ia juga pernah belajar agama di beberapa tempat. yaitu di Probolinggo, kemudian ia pergi ke Makkah, salah satu dari kebiasaannya disana ialah setiap hari sabtu ia uzlah ke Goa Hira' (tempat Nabi Muhammad SAW bersholawat dan menerima wahyu), dibawanya kesana kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab Alhussunnah wal jama'ah untuk ditahsihan.

    Setelah delapan tahun di Mekkah ia pun ketempat kediamannya, Jombang. disingsingannya lengan bajunya untuk mengembangkan ilmu pada penduduk negeri, namanya makin lama makin masyhur dalam perkumpulan NU beliau Saihuna Akbarnya, NU menjadi besar dan semarak atas usaha dan pengaruhnya.

    Setelah kembali dari tanah suci Hasyim Asy'ari dan para ulama sangat sedih dan terkejut melihat gencarnya model dan produk baru dalam perkembangan Islam, seperti apa yang dikatakan "SNOUCK HORGRONJE" (Gubernur penjajah Belanda): "Untuk menghancurkan ulama dan umat Islam di Indonesia harus dilakukan dari dalam". Akibatnya banyak bermunculan dan merajalelanya Islam pesanan stock baru.

    Oleh karena itu, para ulama di Nusantara berhimpun untuk membendung dan melindungi umat agar tetap bersatu, akhirnya dengan izin Allah SWT terbentuklah Jami'ah "Nahdlatul Ulama". Ahlus Sunnah Wal jama'ah dengan Ro'is Akbarnya KH. Hasyim Asy'ari. Beliau wafat pada 25 Juli 1947, setelah berjuang menegakkan agama dan mendorong umat islam kemedan kemajuan.

    Baca juga:

    NABI MUHAMMAD SAW
    1. SAYYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRA (Isteri Sayyidina Ali Bin Abi Thalib) 
    2. HUSEIN BIN ALI 
    3. ALI ZAINAL ABIDIN 
    4. MUHAMMAD AL BAQIR 
    5. JA'FAR SODIQ 
    6. ALI AL URAIDI 
    7. MUHAMMAD ANNAQIB 
    8. ISA ARRUMI 
    9. AHMAD AL MUHAJIR ILALLOH (AL HADRAMI) 
    10. UBAIDILLAH 
    11. ALAWI 
    12. MUHAMMAD 
    13. ALAWI 
    14. MUHAMMAD 
    15. ALI HOLIL QOSAM 
    16. MUHAMMAD SOHIBUL MIRBAT 
    17. ALAWI 
    18. AMIR ABDUL MALIK 
    19. ABDULLOH KHAIN 
    20. AHMAD SYAH JALAL 
    21. JAMALUDIN HUSEN (JAMALUDIN AKBAR) 
    22. MAULANA IBRAHIM ASMORO 
    23. MAULANA ISHA' (SYEH AWALUL ISLAM, ACEH) 
    24. AINUL YAKIN (SUNAN GIRI, GRESIK) 
    25. ABDURROHMAN (JAKA TINGKIR) 
    26. ABDUL HALIM ( PANGERAN BENOWO) 
    27. ABDURROHMAN (PANGERAN SAMBUD BAGDA) 
    28. KH. ABDUL HALIM 
    29. KH. ABDUL WAHID 
    30. H. ANU SARWAN 
    31. KH. ASY'ARI 
    32. KH. HASYIM ASY'ARI (PENDIRI NU) 
    33. KH. ABDUL WAHID HASYIM (MENTERI AGAMA) 
    34. GUS DUR (KH. SAYYID ABDUR ROHMAN WAHID)

    Sumber: 
    Kitab Talkhish, karya Abdulloh bin Umar Assathir 

    Source: p-bee
  • Si Kecil Ini Datang ke PCNU Karanganyar Ingin Jadi Banser

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com - Karanganyar

    Jaga Pengajian Akbar


    Gedung PCNU Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah kedatangan tamu istimewa pada Senin (21 Maret 2016). Namanya Panji. Siswa MTs Negeri Karanganyar kelas VIII D itu sengaja datang ke markas Banser Ansor karena ini mendaftar jadi anggota. Dia datang masih mengenakan seragam. 

    Menurut orang tua yang siang itu ikut mendampingi dan mengantar, Panji datang ke PCNU atas kemauan sendiri. Ternyata, Panji adalah sosok anak yang cinta sholawat Nabi. Bahkan, ketika ia mendengar ada majelis shalawat digelar sekitar Karanganyar, bisa dipastikan dia hadir walau tanpa undangan dan hidangan.  

    Anggota Banser Karanganyar bernama Arif bertanya kepada Panji soal minat jadi Banser. Anak lugu ini dengan lirih menjawab jika minatnya ingin jadi banser karena ingin mengamankan pengajian. Panji juga menjelaskan dirinya mengenal Banser dari pengajian-pengajian yang biasa ia hadiri. 

    Awalnya, anggota Banser Karanganyar yang menemui Panji dan ibunya di markas menganggap guyon apa yang dikatakan Panji. Namun setelah melihat keteguhan Panji, mereka gemetar dan hampir meneteskan air mata karena haru. Anak seusia itu sudah punya semangat cinta shalawat dan majelis ilmu. Bahkan ingin mengamankan jalannya pengajian. Masyaallah.

    Baca juga:
    Sementara itu, untuk menjawab keinginnan Panji, mereka diberikan informasi soal IPNU, CBP dan BPUN. Itulah yang barangkali cocok untuk Panji sebagai wadah ekspresi anak seusianya dan sekaligus sebagai media belajar bersama. 

    Sebelum pulang, Panji berbisik kepada anggota Banser di sisinya. Ia berkata, "Pak, saya minta bendera NU dua yah, buat saya kibarkan di tengah-tengah jamaah pengajian akbar shalawatan suatu saat nanti," pintanya. 

    Panji pulang bersama ibunya membawa bendera NU. Dan, dia siap berjuang untuk Nahdlatul Ulama Karanganyar, tempat dia tinggal dan cinta bershalawat. Selamat berjuang ya Panji! [Romadhon/ab]

    Foto Panji, Banser Cilik dan Bendera NU
  • Presiden Fiqih Itu Bernama Gus Dur

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com - Opini

    Oleh: Muhammad Sulton Fatoni

    Pernah mendengar kata  abenomics? Sebuah neologisme yang merujuk kepada Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe yang mengambil kebijakan saat mengatasi krisis ekonomi di negerinya. Begitu juga reaganomic yang merujuk kepada Amerika Serikat, Presiden Ronald Reagan yang berangkat dari teori supply side economics berupaya menekan inflasi dan angka pengangguran di Amerika Serikat. 

    Di Indonesia, media juga sempat mengutip istilah SBYnomic untuk  menggambarkan istilah lainnya, keep buying strategy yang diucapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sewaktu mengantarkan RAPBN 2014 pada 16 Agustus 2013 lalu.

    Setiap orang berkecenderungan terhadap hal tertentu meskipun pikirannya diselimuti berjuta persoalan. Kecenderungan tersebut tak lepas dari karakter orang-orang sekelilingnya saat ia tumbuh, lingkungan, kognitif dan latar budaya. Lalu kecenderungan apa yang bisa diperhatikan dari sosok Abdurrahman Wahid, satu-satunya “gus” di dunia yang ditakdirkan menjadi Presiden? Tak terhitung “gelar” yang disematkan kepada Gus Dur, dari yang serius seperti Guru Bangsa, Tokoh Pluralisme, Bapak Tionghoa; hingga yang bernada guyonan, seperti Presiden Republik Akhirat, Presiden Dunia Akhirat, dan lainnya. 

    Gelar mengalir begitu deras dari kelompok-kelompok masyarakat yang merasa mendapatkan sentuhan dari Gus Dur, begitu beliau akrab disapa. Saya pun menggelari Gus Dur sebagai Presiden Fiqh Indonesia. Tentu gelar ini saya sematkan dengan beberapa alasan dan bukti.


    Pertama, Gus Dur termasuk satu-satunya Presiden Indonesia yang rajin bicara tentang keislaman dan keindonesiaan. Banyak peristiwa yang Gus Dur kaitkan dengan keislaman, baik Islam dalam bentuk nilai maupun norma yang mentradisi. Catatan saya, sejak Oktober 1999 hingga Juli 2001 hampir seluruh babak-babak pernyataan Presiden Gus Dur bermuatan nilai-nilai keislaman. Bicara tentang Pemerintahan, penegakan hukum, sosial, politik, ekonomi, pertahanan-keamanan dan lainnya hampir selalu Gus Dur kaitkan dengan keislaman. Seperti pemerintahan yang jujur, teknologi berbasis moral, berdoa untuk Indonesia, pemimpin negara harus sabar, konflik karena tidak adil, sidang MPR tidak sah, TNI-Polri wajib membela konstitusi, pemerintahan bersih, deklarasi HAM PBB beda dengan fiqh, salat ghaib untuk Baharuddin Lopa, Pak Harto Taubat Nasuha, dan masih banyak yang lainnya.

    Kedua, Gus Dur termasuk satu-satunya Presiden Indonesia yang rajin melontarkan gagasan keislaman dan keindonesiaan. Pemikiran kontroversi Gus Dur ternyata tidak berhenti meskipun beliau menjadi Presiden. Beberapa kasus saya sampaikan di sini. Misalnya, saat Perayaan Natal tanggal 27 Desember 1999, dalam sambutannya, Presiden Gus Dur mengkritik umat Islam Indonesia yang tidak konsisten dengan agamanya. Menurut Gus Dur, ketika umat Islam konsekuen dengan refleksi atas Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad saw. maka umat Islam juga harus konsekuen dengan realitas perayaan Natal (kelahiran) Jesus Kristus di kalangan umat Kristiani.

    Pada tanggal 4 Juli 2001 dalam sebuah acara, Presiden Gus Dur juga menggagas perlunya perubahan terhadap susunan hukum Islam. Presiden Gus Dur merujuk pada kasus perbedaan pandangan antara Deklarasi HAM PBB dan fiqh tentang perpindahan agama, terutama perpindahan orang Islam ke agama lain (murtad). Presiden Gus Dur saat itu mengatakan:

    "Kita harus renungkan kembali apakah kita tak perlu melakukan perubahan pada susunan hukum kita? Apalagi dalam ushul fiqh dikenal kaidah الحكم يدور مع علته وجودا وعدما , bahwa hukum bisa berubah sesuai dengan sebabnya ada atau tidak adanya hukum itu sendiri. Prinsip hukum Islam itu tidak mengenal stratifikasi. Artinya, hukum secara praksis harus dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia, bukan dengan keadaan zaman."

    Di kesempatan yang lain, tepatnya pada 17 Mei 2001, juga di hadapan publik, Presiden Gus Dur mendorong umat Islam agar cerdas mengaitkan syariat Islam dengan hukum nasional. Presiden Gus Dur menggulirkan ide konfederasi agar tidak terjadi benturan antara syariat Islam dengan konstitusi Indonesia. Presiden Gus Dur mengatakan:

    "Gagasan konfederasi dalam konteks ini penting sekali, yaitu boleh berbeda bentuk dan beragam namun isinya satu. Salah satu terpenting sebagai bangsa, kita tidak boleh melanggar konstitusi. Kewajiban kita menegakkan konstitusi karena ini pegangan kita bersama dalam hidup di kawasan ini."

    Ketiga, Gus Dur satu-satunya Presiden yang memberikan arahan kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat-pendapat ulama fiqh. Dari Istana Presiden, Gus Dur sering melontarkan pandangan ulama fiqh untuk mengingatkan masyarakat atas kasus-kasus tertentu yang perlu mendapatkan perhatian. Contoh, pada pada tanggal 24 Oktoober 1999 Presiden Gus Dur mengatakan bahwa semua umat beragama diharamkan konflik di antara mereka. Presiden Gus Dur berpendapat:

    "Kita tidak layak berperang karena agama. Sampai sekarang masih sering terjadi kesalahpahaman tentang umat Islam. Terutama tentang kelompok yang menyebut dirinya fundamentalis. Mereka memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kita menggunakan secara salah istilah fundamentalis."

    Kasus lain yang menarik dari Presiden Gus Dur adalah saat menghadapi mantan Presiden Soeharto. Menurut Gus Dur, Soeharto harus diadili dan jika pengadilan memutuskan salah, Pemerintah bisa memberikan pengampunan. Keunikan fiqh Gus Dur tampak dari alur penanganannya. Gus Dur mengatakan:

    "Sekarang sudah tampak bahwa hukum itu tegak. Bukti paling kuat adalah terjadi pemeriksaan intensif terhadap keluarga mantan Presiden Soeharto. Kalau nggak sanggup diadili di pengadilan karena tim kedokteran menyatakan sakit, oke diadili saja di Cendana. Kalau tidak bisa juga, ya diadili di Pengadilan tanpa kehadiran dia. Kalau nggak bisa ya dengan cara lain lagi. Kita nggak boleh putus asa dalam hal ini."

    Kasus penanganan mantan Presiden Soeharto ini cukup menarik. Nalar fiqh Presiden Gus Dur sangat kuat dengan model penyelesaian yang optional. Mungkin praktisi hukum belum familiar dengan langkah optional Gus Dur di atas. Namun bagi masyarakat pesantren yang mengenal fiqh iftiradhi (hipotetis/teoritis), langkah Gus Dur yang optional itu tidak mengejutkan. Bahkan Gus mempraktikkan nalar fiqh iftiradhi hingga pada tahapan yang hampir mustahil terjadi, yang tercermin dalam kalimat terakhir dari pernyataannya, “kalau nggak bisa ya dengan cara lain lagi. Kita nggak boleh putus asa dalam hal ini.”

    Keempat, Gus Dur satu-satu Presiden Indonesia yang paling rajin mengajak umat Islam untuk beribadah. Beberapa momentum penting yang terjadi di tengah masyarakat direspons Gus Dur dengan mengajak masyarakat mempraktikkan fiqh, meskipun dalam bentuk yang paling sederhana. Misalnya, pada tanggal 4 Juli 2001 saat Jaksa Agung RI Baharuddin Lopa meninggal dunia, Presiden Gus Dur berseru, “secara khusus saya menghimbau umat Islam untuk menunaikan salat gaib.”

    Kasus lain saat MPR mulai kencang mempersoalkan, pada tanggal 29 Oktober 2000 Presiden merespons dari Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, “saya terkesan nasehat Kiai Abdul Ghofur agar sebagai pemimpin negara senantiasa bersabar dalam menghadapi cobaan.”

    Sejak Indonesia merdeka, Islam di negara ini diposisikan sebagai sebuah agama yang terlepas dari negara. Islam diterima sebagai nilai, tidak lebih dari itu. Namun di era Presiden Gus Dur, umat Islam didorong untuk melakukan langkah cerdas agar berkontribusi dalam proses pembangunan hukum positif. Gus Dur mematahkan tesis sebelumnya bahwa negara hanya mengakomodasi hukum perdata Islam. Ide konfederasi yang digulirkan Presiden Gus Dur adalah langkah progresif untuk melakukan penguatan hukum Islam di Indonesia tanpa menimbulkan resistensi.