Sabtu, 20 Februari 2016

Sulthanah: Robi'ah dari Hadramaut

Duta Islam.Com - Figur

Teladan Robiah Adawiyah Hadramaut


Para menulis sejarah menjuluki Syaikhah Sulthonah sebagai Rabi’ahnya Hadramaut.
Gelar tersebut terasa memang sesuai dengan hal (keadaan) dan maqamnya. Sejak kecil ia mulai menulusuri jalan tasawuf. Dari segi itu, ia seakan menggungguli Rabiah al-Adawiyah, yang disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam. 

Sebagaimana yang disebutkan oleh Habib Muhammad bin Ahmad Assyatiri dalam kitabnya Al-Adwar, “Ia mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil sudah mulai meniti tangga dan maqam-maqam tasawuf ".

Syaikhah Sulthonah lahir di perkampungan al-Urro, sebuah dataran yang membentang dari sebelah Timur kampung Maryamah hingga ujung Hauthah, yang sekarang dikenal dengan “Hauthoh Shulthonah", sekitar tiga mil dari kota Seiwun. Perkampungan tersebut dihuni oleh kabilah Az-Zubaidi, salah satu dari kabilah-kabilah al-Kindiyah, yang terkenal dengan senjata, kekuatan serta keberaniannya.

Dalam usia dini Sulthonah sudah mulai melangkahkan kaki menelusuri jalan tasawuf, dan ia menemukan jalan ke sana di setiap tempat di lembah Hadramaut. Tak jarang para ulama’ dari Tarim, Seiwun, Ghurfah, Syibam, dan lainnya datang ke perkampungan Badui itu guna berdakwah menyampaikan petunjuk agama.

Keadaan itu semakin hari semakin memberikan kesempatan bagi Shulthonah yang secara diam-diam selalu mengikuti dan mendengarkan petuah dan penjelasaan dari para alim ulama’ yang sengaja mendatangi perkampungannya untuk menyampaikan dakwah Islam. Tekun mengikuti dan mendengarkan pelajaran dari para ulama’ serta memilih untuk menelusuri jalan tasawuf. 

Itulah kepribadian shulthonah yang dikenal orang-orang dimasanya. Lisannya tak pernah berhenti membaca sholawat, sampai-sampai dikatakan, tiada aktifitas lain selain sholawat, kecuali di saat sholat.

Kepribadiannya semakin tampak menakjubkan terutama bila ditilik lingkungan dan tabiat masyarakat yang ia diami. Masyarakat adat Badui yang akrab dengan senjata dan kekerasan dan jauh dari dunia keilmuan tidak membuat Shulthonah patah semangat. Sebaliknya, tantangan yang berat tersebut membuatnya semakin menggugah semangatnya dalam menelusuri jalan menuju Allah. Semangatnya membuat kagum para kerabat dan kabilahnya, juga kaum masyayikh (guru-guru) pada zaman itu, hingga para guru tersebut memberikan perhatian khusus kepadanya.

Seiring berjalannya waktu, berkat semua itu, nama Sulthanah semakin dikenal di hampir seluruh lembah Hadramaut. Dari kecil ia anak yang baik dan taat serta giat mengerjakan pekerjaan rumah. Sebagai anak perempuan dalam keluarga, ia menenun, menjahit, beternak ayam, memasak untuk keluarganya dan pekerjaan rumah lainnya yang biasa dikerjakan oleh remaja putri seusianya.

Di samping itu, ia juga seorang yang bertaqwa, penyabar, sufi, gemar menunjukkan kepada orang lain ke jalan yang benar. Ia juga seorang gadis yang mempunyai nama baik, menjaga harga diri, dan dibesarkan di lingkungan keluarga berakhlak mulia yang merupakan warisan turun temurun dari kabilahnya.

Syaikhoh Shulthanah memiliki hubungan yang erat dengan keluarga Alawiyyin, khususnya dengan Habib Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah, dan keluarganya. Gambaran kecintaan dan penghormatannya kepada dzurriyah Rosulullah terlihat jelas dalam kitab-kitab sejarah Hadramaut yang memuat hubungan antara dirinya dan sejumlah tokoh alawiyyin. Nampak juga dari maqolah yang ditulis Syaikhoh Sulthanah tentang betapa ia mengagungkan dan menghormati keturunan Rosulullah dengan tulus dan ikhlas, dan itu bukan suatu hal yang dibuat-buat atau dipaksakan.

Syaikhoh Sulthanah adalah gambaran seorang wanita Hadramaut yang sholihah, bertaqwa, dalam dirinya menyatu ilmu dan amal, disamping peranannya dalam kehidupan sosial masyarakat yang lurus, memenuhi hak-hak sesama, terlebih lagi hak-hak Tuhannya, Allah Subhaanahuu Wata’aalaa.

Ia telah mampu membuktikan bahwa ajaran tasawuf di Hadramaut bukanlah ajaran yang mengajak untuk mengucilkan diri serta terputrus dari kehidupan dunia. Tasawuf adalah ajaran yang mengajak manusia menuju kemuliaan dan kesucian diri serta mengajak manusia untuk berperan aktif dalam menyebarkan ajaran Islam dan mengakkan syariat dalam kehidupan nyata dimasyarakat. Itu bukan hanya terbuka untuk laki-laki saja, tetapi perempuan pun semestinya punya peran penting dalam hal ini, sebagaimana yang telah ia jalani.

Syaikhoh Sulthanah wafat pada tahun 843 H/ 1439 M. Jenazahnya dimakamkan di kampungnya dengan iringan para pelayat yang tak terhingga jumlahnya. Sampai sekarang makamnya masih terjaga dan ramai diziharahi. Wallaahu a’lam. [Yasmin Vi/ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini