Jumat, 19 Februari 2016

Merantai Rezim Broadcast Peteng Ati

DutaIslam.Com - Esai

Pesan Kata Tanpa Kesan


Oleh M Abdullah Badri

Begitu dishare, paket dakwah otomatis muncul di grup WhatApp, Broad Cast BBM, Channel Telegram, Grup Facebook, hingga Fanpage dan ke bilik-biik inbox kita. Tanpa pikir panjang pesan itu akan kena kepada siapa, -broadcaster yang sering membaca lompat-lompat,- konten akhirnya potensial dibaca oleh orang-orang yang sebetulnya tidak membutuhkan.

Satu sisi, laku mudah melempar pesan di rezim komunikasi berbasis smarphone ini memudahkan kita untuk, sebutlah, syiar dakwah. Namun, di sisi lain, pesan tidak berkesan sebagaimana kita mencatat dawuh kyai secara tatap muka. Pesan broadcast dakwah yang sudah jadi viral, bagi saya, tidak selalu dalam sub bab “al ilmu fis sudur” selama tidak diabadikan “fis sutur”. Bicara sanad, broadcast jelas tanpa mursyid.

Masih lumrah jika kegelisahan Anda sebatas itu saja. Yang membuat saya menulis esai ini karena di beberapa grup media personal, utamanya WhatsApp, Telegram dan Grup Facebook, ada propaganda terbungkus kalimat tanpa logika. Laku nyebar massage yang hari ini mudah dilakukan nampaknya memang sesuai dengan hakikat propaganda, yang dalam bahasa Latin diterjemahkan sebagai “mengembangkan atau memekarkan.”

Ironisnya, ada pesan jahat yang ingin membelokkan pembaca dari fakta ke persepsi, menjurus kepada tindakan (mengikuti ajarannya dan membagikan statusnya). Dan, pembaca enjoy saja meyakini kalau sanad konten broadcast pasti sah dan penuh kebenaran. Niat menyebarkan ke sembarang orang “bi niyyatin sholihatin,” padahal “La”.

Saya ambilkan contoh [1]: “Indonesia mayoritas Islam, tapi yang disudutkan muslim/ lebih serem yang pakai cadar, daripada rok mini/ lebih serem yang berjenggot, daripada yang tatoan/ pakai baju tauhid ditangkep, pakai baju PKI gapapa/ lebih mentolelir aliran sesat daripada syariat/ yang majlis ta’lim pekanan, fanatik, yang ke bioskop harian, gaul/ yang hafal 30 juz, militan, yang hafal banyak musik, hebat/ yang anaknya dijilbabin, keterlaluan melangar HAM, yang anaknya pakai rok mini, imutnya/ yang pakai baju koko, sok alim, yang ga pakai baju, jantan/ yang hariannya bicara Islam, sok ustadz, yang hariannya ghibah, up to date/ media islam, radikal, media porno kebutuhan/ dan seterusnya hingga pada kalimat Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing (HR. Muslim No. 208).”

Saya kutip lain lagi [2]: “Kalau mengaku toleran, mengapa ketika ada orang memakai busana menutup aurat meradang? Kalau mengaku toleran, mengapa antipati terhadap dengan orang yang tidak tahlilan? Dengan logika bodoh saja, orang Nasrani, Budha, Hindu Konghucu juga tidak tahlilan. Bukankahkah tahlilan juga bagian dari keberagaman  yang selama ini digembar-gemborkan? Lantas mengapa harus membawa-bawa nama Pancasila untuk urusan tahlilan? Siapa yang bodoh dan siapa yang diragukan Pancasilanya?”

Tambah satu lagi biar afdlol [3]: “Daftar Obat: sering sakit =  silakan puasa/ wajah gelap = sholat tahajud/ hati sempit = baca al-qur’an/ susah bahagia = sholat tepat waktu/ emosi melulu = wudlu dan istighfar/ gelisah = banyak do’a/ tertekan = baca la haula wala quwwata illa billah/ miskin melulu = bersedekah/ bingung berbuat baik = bagikan status ini pada sahabat, orang terkasih.”

Karena menganggap bingung pembaca, perintah yang datang, bagikanlah! Begitu. Padahal, jika kita mau menyimak,  logika perbandingan yang dipakai, payah. Dan fakta sebenarnya, tenggelam karena logika perbandingan yang tersengal ingin mencari legitimasi absah binti benar. Dalam broadcast di atas, posisi biner digunakan. Untuk mendapatkan kebenaran, harus dihadapkan dengan musuhnya, yakni kesalahan. Yang yang mengalir begini: [ jika berjenggot benar, tatoan salah/ yang hafal 30 juz benar, yang hafal musik, salah.], [Kalau mengaku toleran, benarkanlah yang menggunakan pakaian menutup aurat/ Kalau mengaku toleran, benarkan yang anti tahlilan].

Membenarkan yang satu, menyalahkan lainnya, itu kerjaan orang banyak alasan dan tidak berdaya membangun. Spirit bangkit dari kesalahan mungkin akan terjadi. Tapi setelah label kebenaran dalam genggaman, orang lain akan mudah disalahkan.

Dalam broadcast tersebut, propaganda bahwa situs porno sebagai kebutuhan adalah kepicikan tak terperi yang dituduhkan kepada pemerintah. Ingin menyerang PKI, pembuat broadcast memuja pakaian tauhid yang entah bagaimana bentuk busananya. Kok bisanya juga penghafal al-Qur’an disebut militan? Fakta darimana? Lha wong di ponpes al-Qur’an saya dulu penghafal al-Qur’an tidak disebut demikian.

Untuk mendapatkan legitimasi tidak tahlilan dengan menyebut orang di luar Islam saja tidak tahlilan, bagi saya, itu juga propaganda murahan. Dari keberagaman, status itu ingin seragam. Dari kesalahan dan kegelisahan, broadcast di atas ingin memaksakan kehendaknya. Linglung.

Isu Simbol Digunakan
Intinya, broadcast tersebut jika tidak dirantai, akan melahirkan logika menyalahkan orang lain. Alasannya simpel, yang digunakan dalil pembenaran selalu bersifat simbolik: cadar, jenggot, baju tauhid, jilbab, baju koko. Pembenarannya menggunakan isu: toleransi dan keberagaman. Namun, perlu dicatat, dalam broadcast itu tidak ada ajakan kontrol diri. Isinya mengajak sholeh tapi tetap hiper-reaktif terhadap liyan. Ngajak adem tapi tetap panas. Itu bisa Anda lihat di sampel pesan kata broadcast yang ketiga. Di sana menyediakan daftar obat spiritual berbasis akhlaq namun tidak menyediakan daftar obat hati berbasis kasih dan sayang. Kontrol diri terhadap orang lain digarap, tapi kontrol diri sendiri, sepi.

Biasanya, status seperti di atas menegaskan bahwa Islam akan muncul kembali dalam keadaan terasing. Dan, oleh karena itu, maju terus hiraukan orang yang tidak sepaham, kembalilah kepada Al-Qur’an dan Hadits, sebagaimana pemuda-pemuda ISIS edaran video Telegram Kabar Khilafah yang tidak lupa selalu menyebut kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Jika pesan broadcast itu tidak segera dirantai, stop share it, maka, generasi-generasi pemilik rezim smarphone ini akan terus digelayuti kebenaran diri sendiri, kesholehan pribadi tapi minus kontrol terhadap diri sendiri dan kasih sayang kepada orang lain. Saya mengamini jika Anda meyebut sumber viral broadcast bukan dari penggandrung Syi’ir Tanpa Waton atau Syi’ir Tombo Ati, tapi dari muqollid wahabi salafi. Mereka tidak akan paham broadcastnya Habib Syekh bin Abdul Qadir yang selalu didengungkan Syekher Mania, ini:

“Papali Ki Ageng Selo Amberkahi/ Ojo Gawe Angkuh, Ojo Ladak Lan Ojo Jahil/ Ojo Ati Serakah lan Ojo Celimut/ Ojo Buru Aleman, Lan Ojo Ladak/ Wong Ladak Pan Gelis Mati lan Ojo Ati Ngiwo.”     

Broadcast itu tidak bicara simbol, tapi bicara laku, noto laku, njejekke laku, menghargai diri sendiri dan orang lain. Lebih mengayomi. Lebih menusuk ke relung hati. Tidak membikin panas di hati. Semoga kita tidak tergolong seperti keturunan Dzul Khuwaishiroh, yang menghardik Nabi Muhammad SAW itu. Amin. [ab]

M Abdullah Badri,
alumnus Madrasah TBS Kudus, Ketua MATAN Jepara
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini