Kamis, 25 Februari 2016

Ketika MUI Ditunggangi Irfan Helmi Wahabi

grand syeikh al azhar mesir
Grand Syeikh Al azhar, Ahmad Thayyib
Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Grand Syeikh Unversitas Al-Azhar Cairo Mesir, Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ath-Thayyib, jadi rebutan legitimasi kalangan Islam garis keras (harus dibedakan dengan garis lurus, red) ketika datang ke Indonesia untuk mengisi ceramah umum di Kantor MUI Pusat pada Senin (22/2/2016).

Adalah Irfan Helmi, seorang pegawai MUI yang memanfaatkan ceramah Prof. Ahmad Thayyib untuk membuat fitnah dan propaganda. Dari situs pribadinya, ia menyebut ceramah Syeikh Al-Azhar tersebut sebagai tasykik (mengaburkan substansi masalah) dan terkesan simplikasi (menyederhanakan masalah).

Pria kelahiran 1970 asli Jogjakarta tersebut dengan percaya diri dan tanpa kikuk menyebut “Pimpinan MUI tidak sependapat jika dikatakan Syiah dan Sunni adalah Bersaudara.” Irfan yang mengatasnamakan Pimpinan MUI itu menyatakan tidak relevan lagi jika membedakan Syiah sebelah mana yang harus disebut keluar dari Islam.

Akhirnya, pemuda lulusan PP. Al-Irsyad, Tengaran, Salatiga ini mengajak khalayak untuk tetap menyesatkan Syiah dengan lima ajarannya, yakni mengutuk shahabat, terbebasnya imam dari dosa, tidak mengakui khulafa’ur rasyidin, tahrif Al-Qur’an serta nikah mut’ah. Baginya, semua Syiah berkeyakinan seperti itu. Padahal, Grand Syeikh Al-Azhar yang datang ke MUI itu mengatakan “Tidak bisa semuanya dikafirkan. Karena memang tidak mudah kita mengafirkan orang.”

Prof. Dr. Ahmad Thayyib juga menyatakan jika ada yang mencela dan mencaci sahabat Rasul seperti Abu Bakar, Umar, dan lainnya, maka itu bukan ajaran yang benar dan merupakan kebodohan. Ini yang hendak diserang oleh Irfan Helmi yang namanya tidak tercantum pada jajaran Pengurus Hasil Munas 2015 di website resmi MUI www.mui.or.id. Isi ceramah Grand Syeikh bisa Anda lihat di Ceramah Grand Syeikh Al-Azhar di MUI.

Namanya saja tidak tercantum di website resmi, apalagi fatwa provokatifnya itu. Jika saat ini (25 Februari 2016) Anda mengetik nama Irfan Helmi di kotak search situs MUI, tentu kecewa. Tidak akan ketemu. Justru Anda akan mendapatkan link klarifikasi atas broadcastnya yang “menyimpang.”

Dosa Fitnah
Kalau saja pernyataan ustadz wahabi yang, konon, penasehat acara Khazanah TransTv itu tidak disebarkan, dia terbebas dari dosa fitnah dan hoax. Masalahnya, itu sudah menjadi viral di Facebook dan WhatsApp. Ini salah satu link di Facebook. Rangkuman Irfan.

Artinya, kebohongan dia sudah diulang-ulang hingga seakan berubah jadi kebenaran. Kuantitas penyebaran pesan melalui media online sekarang ini sudah melebihi virus komputer dan kanker otak. Yang benar bisa bisa jadi salah, begitu juga sebaliknya.

Hanya membuat konten tulisan provokatif, Irfan Helmi bisa mempropaganda atas ribuan pikiran pengguna media sosial dalam waktu singkat tanpa biaya. Media-media berhaluan radikal pun rebutan memuat berita yang mempertanyakan misi Grand Syeikh itu. 

Selain Portal Piyungan (dulunya PksPiyungan), situs Ar-Rahma [dot] com juga tak terlewat memuat judul “Syeikh al-Azhar Datang ke Indonesia Membawa Misi Islam atau Syiah”. Situs rujukan jihadis radikal itu mewawancarai narasumber bernama Irfan S Awwas, dari Majelis Mujahidin, yang dalam komentarnya memberikan tugas kepada alumni Timur Tengah untuk tetap mengafirkan Syiah tanpa takut berbeda pendapat dengan Syeikh-nya. Inikah yang disebut dakwah? Inikah yang disebut adab? Mengajak murid menantang gurunya?

Tentu banyak yang tersengat telinga atas ceramah Grand Syeikh Ahmad Thayyib. Sebab, kedudukan Grand Syeikh di Mesir setara dengan perdana menteri yang punya pengaruh besar di dunia. Lihat tulisan Kedudukan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir

Statemen kedua Irfan di atas (Majelis Ulama dan Mejelis Mujahidin) sudah banyak direpost dan direblog ke Blog, Facebook dan media sosial lainnya. Tujuannya hanya ingin menggelembungkan suara “Syiah Bukan Islam”. Jika masih terus ada di MUI, Irfan Helmi akan leluasa memprogandakan Syiah sebagai musuh bersama. 

Pada 7 Juni 2013, Fajr Muchtar, seorang Kompasaner pernah menulis ulah Irfan Helmi yang meresahkan. Dalam tulisan Menyoal Surat Dukungan ke MUI Tentang Syiah, Muchtar mempertanyakan pencatutan nama MUI karena terkesan memperkeruh kerukunan Sunni-Syiah di Indonesia.

Muchtar gelisah sejak wall Facebooknya mendapatkan link pesan berantai bahwa akan ada kelompok Syiah yang menggugat Fatwa Penyesatan MUI dengan tuntutan kerugian 1 milyar setiap hari sejak fatwa tersebut beredar. Karena masalah peradilan itulah, MUI minta dukungan masyarakat dengan megirimkan petisi ke email irfanh70@gmail.com. Padahal, itu adalah hoax yang dibuat-buat Irfan Helmi. Penelusuran Muchtar berbuah kecewa karena di situs MUI pun tidak ada permintaan dukungan kepada masyarakat.  

Orang-orang seperti Irfan bukan hanya satu. Ada banyak. Dan tanpa sungkan memutarbalikkan fakta. Bid’ah gagal digarap, Syiah tidak berhasil meluas, fitnah lah yang digunakan. MUI giliran kena sasaran. Kerjaan khas muslim garis keras Wahabi. Saya masih menyebutnya muslim.

Alhamdulillah, situs-situs pedukung MUI masih ada semacam muslimedianews.comarrahmah.co.id, salafynews.com, dutaislam.com, elhooda.net, dan lainnya yang tidak mudah mengafirkan golongan lain.

Hati-hati dengan nama dua Irfan di atas. Pemikiran Grand Syeikh Al-Azhar saja diputarbalikkan, apalagi pemikiran anak kuliahan. Cek saja kebohongan Irfan Helmi dengan mencari pernyataan asli target fitnah yang hendak ia gulirkan kembali, esok hari, kalau dia masih ada di MUI. Pemikiran Prof. Dr. Ahmad Thoyyib tentang Syiah bisa Anda lacak dengan mudah di Youtube. Silakan klik video di atas untuk mengetahui salah satu pemikiran beliau. [dutaislam.com/ab]

M Abdullah Badri,
Pengurus PCNU LTN Jepara


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini