Senin, 15 Februari 2016

Adakah Manusia Suci?

DutaIslam.Com - Esai

Oleh Ichwan DS

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Al insanu mahallul kathok wal kemejan, eh,.. al insanu mahalul khotho' wan nisyan. Selain Kanjeng Nabi Muhammad SAW, memang tidak ada orang yang ma'shum, terjaga dari dosa.

Namun saya berkali-kali menemui manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbuat dosa. Kesaksian saya maupun warga desa saya, orang itu tidak pernah terdengar menyalahi tetangga, tak pernah merugikan orang lain, tak pernah dirasani keburukannya.

Yang ada padanya hanya kebaikan. Selalu berbuat baik. Ajek dalam kebenaran. Kepada siapa saja menghormati, kepada siapa saja memberi, kepada siapa saja ia berusaha membahagiakan.
Sosok-sosok itu begitu agung, begitu mulia, begitu sempurna untuk diteladani akhlaknya. Jangankan meninggalkan kewajiban agama, beribadah sunnah saja tak pernah dia lalaikan. Jangankan memakan barang haram, mendekati hal yang syubhat saja tidak pernah. Bahkan kepada yang halal saja masih pilih-pilih, tidak asal ambil dan gunakan.

Sungguh kita patut kagum pada orang-orang yang jauh dari kotoran dan noda kehidupan itu. Sungguh kita patut ngiri pada manusia yang terjaga dari dosa sosial macam itu.

Jika ada sebutan manusia suci, sesungguhnya memang ada di dunia ini. Ada. Saya berani bersaksi atas keberadaannya. Al-insanul kamil itu ada. Manusia adipurna itu ada. Adimanusia itu ada. Bukan Santo dalam lembaga resmi gereja, bukan resi suci dalam kuil dan wihara, tetapi ada di antara rakyat jelata.

Lik Sumindar misalnya, orang "miskin" dari pelosok desa di sebuah kecamatan di Tenggara Kabupaten Rembang, sejak masih kecil saya selalu mendengar famili saya mengagumi kebaikan akhlaknya. Para guru dan kyai juga selalu saya dengar menyebut kesan baik jika membicarakan Lik Sumindar itu.

Saat kanak-kanak saya diajak naik dokar oleh bapak saya bersama gurunya bapak saya, seorang kyai yang terkenal sangat pendiam, berkunjung ke desa dimana Lik Mindar tinggal.  Saya mendengar beliau berkata kepada bapak saya (saya salin dalam Bahasa Indonesia): "Sumindar dulurmu cilik itu orang sholeh. Dia itu seumur hidupnya tak pernah ngerasani tetangga. Apabila ada orang ngerasani orang, dia segera lari menjauh agar telinganya tidak pernah mendengar hal buruk tentang seseorang".

Kyai gurunya bapak saya itu sudah belasan tahun lalu wafat, dan sebelum wafatnya saya dengar beliau punya cita-cita ingin menghadap Allah seperti Lik Sumindar yang menurutnya tanpa beban dosa.

Paman saya itu, Lik Sumindar, sampai kini masih hidup. Dan seiring usia dewasa saya, apa yang saya dengar dari simbah dan orang-orang lain tentang beliau, semakin nyata saya saksikan sendiri.
Orangnya memang sangat ikhlas, rajin sekali silaturahim. Rajin sekali mengunjungi keluarga saya dan sedulur lainnya. Setiap ada famili yang punya gawe, Lik Sumindar mengajak istri dan anak-anaknya untuk datang menginap berhari-hari di rumah famili yang punya gawe itu. Tanpa diminta tolong, beliau sekeluarga melakukan apa saja dan sangat cekatan.

Membersihkan rumah, mencuci piring, mengisi bak mandi dengan ngangsu (menimba di sumur), dan segalanya. Beliau selalu ada "di dapur" dan "bagian belakang" karena hanya ingin menyumbangkan tenaganya. Tak mau jagongan dengan para tamu atau berkumpul sanak famili di ruang keluarga, karena merasa dirinya "wong cilik dan tidak pantas ikut bicara."

Kerjanya cekatan luar biasa. Sampai keluarga saya tidak berani memanggil orang upahan karena beliau selalu meminta agar semua pekerjaan dikerjakan sendiri. Setiap dipersilakan makan, selalu hanya bilang "inggih" tapi tak saya lihat beliau mengambil piring lalu nasi dan lauknya. Baru tidur ketika semua orang yang terlibat dalam gawe telah terlelap semua.

Hidupnya sepertinya hanya digunakan untuk mengabdi dan memberi. Membantu dan menolong. Berusaha meringankan  beban orang lain tanpa pernah berpikir untuk dirinya sendiri. Berhari-hari membantu tenaga di rumah famili yang punya acara, itulah kebiasaan beliau semenjak muda hingga tuanya kini.

Dan di usia tuanya sekarang, beliau masih tampak sangat sehat, kulitnya masih kencang, ototnya masih sangat padat. Tak  ada uban, tak ada keriput, tak ada rabun. Matanya masih bening tanpa kacamata, tuturan lisannya masih lembut dan sangat sedikit bicara.

Saya yakin, beliau selalu berdzikir dalam diamnya. Apalagi kopyah hitam yang selalu bertengger di kepalanya, tampak sangat berhasil membuat sang kepala selalu menunduk demi menjaga pandangan dan menghormati orang lain. Juga menjaga telinganya hanya mendengar kebaikan dan menutup dari keburukan.

Belum pernah saya melihat beliau mendongakkan kepala meski sekedar melamun atau memandangi langit. Kepalanya selalu tampak menunduk, seperti menunjukkan bahwa beliau menganggap semua orang lebih baik dari dirinya, lebih mulia dari dirinya.

Subhanallah. Alhamdulillah. Orang-orang seperti Lik Mindar masih banyak. Masih sering saya jumpai. Baik yang jadi tokoh panutan maupun orang biasa yang tidak "terpandang" di antara manusia. Bakan ada pada sesosok orang gila buruk rupa di dalam pasar yang katanya tempat terburuk bejibun setan. [ab]

Ichwan DS, 
pengurus PW LTN NU Jawa Tengah










Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini