Minggu, 31 Januari 2016

Refleksi 90 Tahun NU Ku

DutaIslam.Com- Opini

Oleh Mohammad Khoiron

Mungkin salah satu metode dalam membaca NU dengan beragam kiprah keumatan dan kebangsaannya adalah dengan menggunakan analisis sejarah sebagai sebuah pendekatan dalam menganalisa perjalanan panjang Jam’iyah Ijtima’iyah wa Diniyyah terbesar di Indonesia tersebut. 

Kuntowijoyo di dalam salah satu tulisannya pernah menyatakan bahwa sejarah sebagai sebuah ilmu, merupakan epistemologi yang bersifat diakronis. Artinya sejarah mampu memanjang dalam waktu tetapi dalam ruang yang sempit. Berangkat dari pernyataan itulah refleksi mengenai hari lahir (harlah) NU dengan ilustrasi yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo tersebut dimulai.

Eksistensi NU dari sejak lahir sampai kepada kiprahnya sebagai sebuah organisasi yang menjaga nilai-nilai aswaja telah membuka ruang aktualisasi di tengah gempuran hegemoni koloniasme dan imprealisme penjajah di masa pra kemerdekaan. Tidak hanya itu, pasca kemerdekaan pun, ruang aktualisasi NU dalam mengawal NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara dari rongrongan kelompok sempalan sparatis yang ingin mengubah kemapanan ideologi bangsa dengan beragam sistem ke-tata-negara-an yang belum tentu cocok dengan masyarakat Indonesia yang multikultural. Hal itu telah membuka mata kita bahwa NU tidak hanya memperjuangkan nilai-nilai keislaman semata, lebih jauh ia juga memperjuangkan nilai-nilai nasionalisme demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indoensia.

Secara historis, kelahiran NU sebenarnya berangkat dari kegelisahan para ulama tradisional yang kala itu melihat banyaknya paham reformis yang menggerogoti nilai-nilai ahlusunnah wal jamaah yang sudah mapan dengan konsep yang telah dibangun sedemikian indahnya oleh para ulama salaf. Di sini dapat diartikan bahwa reaksi defensif yang dilakukan oleh para founding fathers NU tidak lain untuk menyelamatkan ideologi keempat Madzhab Fiqih yang sudah mulai terkikis oleh slogan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, serta mensosialisasikan madzhab Asy’ari dan al-Maturudi sebagai dua madzhab teologi yang moderat. 

Pilihan dalam memilih teologi As’ari dan al-Maturidi sebagai ideologi teologis umat muslim di Indonesia setidaknya berangkat dari titik moderatisme yang diusung oleh pendiri madzhab, dan itu cocok dengan watak umat Islam di Nusantara yang dalam hal karekteristik mengedepankan nilai-nilai adat istiadat dan budaya, serta andep asor dan ramah. Walhasil pada tanggal 31 Januari 1926, bertempat di Surabaya lewat rapat yang sangat sederhana diputuskanlah bahwa NU sebagai sebuah organisasi keagamaan atau Jam’iyah Diniyah, dan organisasi kemasyarakatan atau  Jam’iyah Ijtima’iyah adalah representasi dari Islam Ahlusunnah wal Jamaah.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah kelahiran NU erat kaitannya dengan dinamika politik saat itu? Dengan tegas saya katakan bahwa dalam sejarah lahirnya suatu organisasi, institusi, atau bahkan mungkin agama sekalipun, dinamika politik memang akan dan selalu dipertautkan. Hanya saja saya membatasi istilah politik dalam konteks ini dalam dua frame, yakni politik praktis dan ideologi politik. Ini yang perlu sama-sama kita pahami dengan baik. 

Jika merujuk pada hasil penelitian Martin Van Bruinessen, wacana mengenai identitas NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang menyangkut dua dimensi yaitu sosio-kultural dan politik, maka NU sendiri merupakan wadah perjuangan Ulama Tradisionalis untuk tetap menguatkan eksistensinya dalam berpolitik sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Islam di tengah maraknya gejolak politik dan pembaharuan agama yang terjadi saat itu.

Walaupun belakangan, ilustrasi yang dikemukakan oleh Van Bruinessen terkait ulama tradisionalis selalu dikaitkan dengan para kyai NU, saya sendiri kurang begitu setuju karena sudah tidak lagi relevan dengan cara pandang kyai-kyai NU saat ini yang cenderung dinamis dan moderat. Perubahan cara pandang para kyai NU dari konservatif sebagaimana dipahami oleh Van Bruinessen ke arah yang lebih dinamis, sejauh analisa saya dipengaruhi oleh jejak rekam pendidikan para kyai yang bersangkutan. Tidak hanya itu, ragam dan kualitas bacaan mereka pun juga mempunyai peran andil atas perubahan cara pandang itu. 

Meminjam istilah Radhar Panca Dahana dalam Agama Dalam Kearifan Bahari, dewasa ini NU telah berhasil mencairkan kebekuan tradisionalisme atau konservatisme yang mana sebelum ini selalu identik dengan organisasi para ulama ini. Banyak para pakar, peneliti, dan ilmuwan bergelar master, doktor, dan profesor yang mempunyai background NU di mana dalam tataran ide dan praksis telah berhasil mendobrak kejumudan yang selalu disematkan kepadanya. Bahkan belakangan, NU dianggap sebagai organisasi yang telah melaju dengan cepat dalam konteks pemikiran melampaui organisasi kodern yang berlandaskan pada slogan pembaharuan.

Rais Syuriah simbol tertinggi NU
Dalam kaitannya sebagai pengawal NKRI pasca kemerdekaan, NU menjadi tulang punggung negara dalam menjaga eksistensi pancasilah sebagai ideologi bangsa. Setidaknya semboyan Hubbul Wathan Minal Iman yang digagas oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah telah memberikan doktrin kuat kepada para pemuda NU sebagai kader penerus perjuangan. Di mana dalam penafsiran saya, semboyan tersebut tidak hanya dalam konteks kecintaan terhadap negara saja, namun juga berimplikasi pada ranah keimanana seseorang. 

Tidaklah sempurna keimanan seseorang jika ia belum mampu mencintai tanah air Indonesia dengan cara menjaganya dari unsur-unsur yang dapat merongrong wibawa bangsa yang baru-baru ini dilakukan oleh kelompok sempalan ekstrimis yang melakukan aksi saparatis, baik gerakan masif atau dengan cara doktrinasi ideologi anti pancasila. Memang, tantangan NU ke depan sangat banyak dengan pelbagai problematika yang semakin kompleks. Sebenarnya ini merupakan tantangan bagi kader muda untuk menghadapi problematika tersebut dengan kesiapan dan persiapan yang matang.

Akhirnya, di usianya yang kini sudah cukup dewasa yakni ke-90 tahun untuk ukuran organisasi, NU diharapkan mampu menjadi benteng ideologi bangsa Indonesia demi mewujudkan Indonesia yang bermartabat, aman, sejahtera, jauh dari konflik sara, dan menjadi tonggak peradaban Islam di dunia. Selamat hari lahir jam’iyah-ku dan selamat hari lahir, NU-ku.

Jakarta, 31 Desember 2016
Mohammad Khoiron
Wakil Ketua IPNU DKI Jakarta

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini