Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Klarifikasi MoU PBNU dan Iran

    Admin: Duta Islam → Minggu, 31 Januari 2016
    DutaIslam.Com-Sehubungan dengan acara seminar di pesantren Sidogiri tanggal 24 Januari 2016 yang menyinggung-nyinggung masalah kerjasama Jami’ah al-Musthafa QUM Iran dan PBNU, maka saya (A. Muhaimin Zen, Ketum PP JQH NU) merasa terpanggil untuk mengklarifikasikan.

    Sebenarnya, masalah kerjasama Iran dan PBNU itu program dari Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PP JQH NU), bukan Program PBNU. Ketua umum PP JQH merasa berkewajiban membina anggotanya di bidang Qori’-Qori’ah, atas permintaan komunitas Qori’ Qori’ah, Ketum diminta  untuk meningkatkan pembinaan Qori’-Qori’ah di lingkungan JQH NU.
    Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembinaan tersebut langkah pertama tahun 2010 Ketum mengadakan kunjungan ke Mesir bersama Qori'-Qori’ah JQH NU. 

    Alhamdulillah, selama 20 hari di Mesir difasilitasi oleh Bapak Fakhir, Dubes Indonesia untuk Mesir. Untuk mengadakan penelitian ke Qori’-Qori’ kenamaan antara lain Syekh Herbawi. Di sinilah para Qori’-Qori’ah JQH mendapat pengalaman yang sangat luas antara lain; bahwa seni baca al-Qur’an yang di lombakan di Indonesia itu bersumber dari tujuh lagu بحصر جسد :
    ب  Bayati
    ح Husaini
    ص Soba
    ر Rost
    ج Jiharka
    س Sika
    د Nahawand

    Menurut Syekh Herbawi diantara 7 lagu ini banyak yang bersumberkan dari Persia (Iran). Maka atas informasi tersebut kami dari tim peneliti JQH NU menindaklanjuti penelitian ke Iran.
    Tahap berikutnya tahun 2011 tim peneliti 12 orang yang di ketuai oleh Prof. Dr. Ahmad Mubarak, MA atas izin wakil rois ‘Am, Gus Mus untuk menelusuri ke Iran. Tim tersebut berjumlah 12 orang, yaitu:

    • Prof. DR. Ahmad Mubarak (Ketua Delegasi)
    • Prof. KH. Dr. Said Agil Siraj, MA (Ketum PBNU/Anggota Delegasi)
    • Dr. H. A. Muhaimin Zen, MA (Ketum JQH/Anggota Delegasi) (Masing-masing beserta istri)
    • PW JQH Sumatra Utara, bersama 4 orang Qori’ Qori’ah
    • PW JQH Jawa Timur  dan pengurus lainnya


    Dalam penelitian ini, diterima oleh Rektor Jami’ah al-Musthafa Prof. Dr. Ali Reza Aarafi QOM Iran, yang selanjutnya dipertemukan dengan beberapa Qori’ Internasional di Iran yang kenamaan. Maka untuk langkah selanjutnya, pertemuan ini ditindaklanjuti dengan MOU yang isinya kerjasama sebatas pengembangan seni baca Al-Qur’an, ulumul Qur’an dan lain-lain. 

    KH Ma'ruf Amin
    MoU ini seharusnya ditanda tangani oleh Ketua Umum PP JQH dan Rektor Jami’ah al-Musthafa Iran karena PP JQH ini statusnya badan Otonom di bawah PBNU yang tidak selevel dengan Rektor Jami’ah al-Musthafa QOM maka Rektor Jami’ah al-Musthafa meminta yang tanda tangan selevel dengan beliau yaitu Ketum PBNU dalam hal ini, Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj. Akan tetapi, MoU ini belum sempat action maka tanggal 14 desember 2011 ketum PP JQH di sidang oleh Katib Syuriah NU untuk di mintai pertanggung jawaban atas MoU tersebut dan kemudian MoU itu DIBATALKAN oleh Syuriah NU.

    Terkait dengan pengiriman mahasiswa ke Iran setahu saya (Ketum PP JQH NU) itu dilakukan pada era periode ke pemimpinan PBNU Gus Dur, bukan Periode KH. Hasyim Muzadi dan bukan pula periode Kiyai Said Agil Siraj. Kebijakan yang di lakukan oleh Gus Dur saat itu adalah demi untuk menjaga hubungan baik dengan Iran dan tidak sampai mensyiahkan warga NU, maka dikirimlah calon-calon mahasiswa di luar NU dari Persis dan warga yang memang sudah menjadi Syiah di Indonesia.

    Jakarta, 27 Januari 2016
    Ketum PP JQH NU
  • Refleksi 90 Tahun NU Ku

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com- Opini

    Oleh Mohammad Khoiron

    Mungkin salah satu metode dalam membaca NU dengan beragam kiprah keumatan dan kebangsaannya adalah dengan menggunakan analisis sejarah sebagai sebuah pendekatan dalam menganalisa perjalanan panjang Jam’iyah Ijtima’iyah wa Diniyyah terbesar di Indonesia tersebut. 

    Kuntowijoyo di dalam salah satu tulisannya pernah menyatakan bahwa sejarah sebagai sebuah ilmu, merupakan epistemologi yang bersifat diakronis. Artinya sejarah mampu memanjang dalam waktu tetapi dalam ruang yang sempit. Berangkat dari pernyataan itulah refleksi mengenai hari lahir (harlah) NU dengan ilustrasi yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo tersebut dimulai.

    Eksistensi NU dari sejak lahir sampai kepada kiprahnya sebagai sebuah organisasi yang menjaga nilai-nilai aswaja telah membuka ruang aktualisasi di tengah gempuran hegemoni koloniasme dan imprealisme penjajah di masa pra kemerdekaan. Tidak hanya itu, pasca kemerdekaan pun, ruang aktualisasi NU dalam mengawal NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara dari rongrongan kelompok sempalan sparatis yang ingin mengubah kemapanan ideologi bangsa dengan beragam sistem ke-tata-negara-an yang belum tentu cocok dengan masyarakat Indonesia yang multikultural. Hal itu telah membuka mata kita bahwa NU tidak hanya memperjuangkan nilai-nilai keislaman semata, lebih jauh ia juga memperjuangkan nilai-nilai nasionalisme demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indoensia.

    Secara historis, kelahiran NU sebenarnya berangkat dari kegelisahan para ulama tradisional yang kala itu melihat banyaknya paham reformis yang menggerogoti nilai-nilai ahlusunnah wal jamaah yang sudah mapan dengan konsep yang telah dibangun sedemikian indahnya oleh para ulama salaf. Di sini dapat diartikan bahwa reaksi defensif yang dilakukan oleh para founding fathers NU tidak lain untuk menyelamatkan ideologi keempat Madzhab Fiqih yang sudah mulai terkikis oleh slogan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, serta mensosialisasikan madzhab Asy’ari dan al-Maturudi sebagai dua madzhab teologi yang moderat. 

    Pilihan dalam memilih teologi As’ari dan al-Maturidi sebagai ideologi teologis umat muslim di Indonesia setidaknya berangkat dari titik moderatisme yang diusung oleh pendiri madzhab, dan itu cocok dengan watak umat Islam di Nusantara yang dalam hal karekteristik mengedepankan nilai-nilai adat istiadat dan budaya, serta andep asor dan ramah. Walhasil pada tanggal 31 Januari 1926, bertempat di Surabaya lewat rapat yang sangat sederhana diputuskanlah bahwa NU sebagai sebuah organisasi keagamaan atau Jam’iyah Diniyah, dan organisasi kemasyarakatan atau  Jam’iyah Ijtima’iyah adalah representasi dari Islam Ahlusunnah wal Jamaah.

    Kemudian timbul pertanyaan, apakah kelahiran NU erat kaitannya dengan dinamika politik saat itu? Dengan tegas saya katakan bahwa dalam sejarah lahirnya suatu organisasi, institusi, atau bahkan mungkin agama sekalipun, dinamika politik memang akan dan selalu dipertautkan. Hanya saja saya membatasi istilah politik dalam konteks ini dalam dua frame, yakni politik praktis dan ideologi politik. Ini yang perlu sama-sama kita pahami dengan baik. 

    Jika merujuk pada hasil penelitian Martin Van Bruinessen, wacana mengenai identitas NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang menyangkut dua dimensi yaitu sosio-kultural dan politik, maka NU sendiri merupakan wadah perjuangan Ulama Tradisionalis untuk tetap menguatkan eksistensinya dalam berpolitik sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Islam di tengah maraknya gejolak politik dan pembaharuan agama yang terjadi saat itu.

    Walaupun belakangan, ilustrasi yang dikemukakan oleh Van Bruinessen terkait ulama tradisionalis selalu dikaitkan dengan para kyai NU, saya sendiri kurang begitu setuju karena sudah tidak lagi relevan dengan cara pandang kyai-kyai NU saat ini yang cenderung dinamis dan moderat. Perubahan cara pandang para kyai NU dari konservatif sebagaimana dipahami oleh Van Bruinessen ke arah yang lebih dinamis, sejauh analisa saya dipengaruhi oleh jejak rekam pendidikan para kyai yang bersangkutan. Tidak hanya itu, ragam dan kualitas bacaan mereka pun juga mempunyai peran andil atas perubahan cara pandang itu. 

    Meminjam istilah Radhar Panca Dahana dalam Agama Dalam Kearifan Bahari, dewasa ini NU telah berhasil mencairkan kebekuan tradisionalisme atau konservatisme yang mana sebelum ini selalu identik dengan organisasi para ulama ini. Banyak para pakar, peneliti, dan ilmuwan bergelar master, doktor, dan profesor yang mempunyai background NU di mana dalam tataran ide dan praksis telah berhasil mendobrak kejumudan yang selalu disematkan kepadanya. Bahkan belakangan, NU dianggap sebagai organisasi yang telah melaju dengan cepat dalam konteks pemikiran melampaui organisasi kodern yang berlandaskan pada slogan pembaharuan.

    Rais Syuriah simbol tertinggi NU
    Dalam kaitannya sebagai pengawal NKRI pasca kemerdekaan, NU menjadi tulang punggung negara dalam menjaga eksistensi pancasilah sebagai ideologi bangsa. Setidaknya semboyan Hubbul Wathan Minal Iman yang digagas oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah telah memberikan doktrin kuat kepada para pemuda NU sebagai kader penerus perjuangan. Di mana dalam penafsiran saya, semboyan tersebut tidak hanya dalam konteks kecintaan terhadap negara saja, namun juga berimplikasi pada ranah keimanana seseorang. 

    Tidaklah sempurna keimanan seseorang jika ia belum mampu mencintai tanah air Indonesia dengan cara menjaganya dari unsur-unsur yang dapat merongrong wibawa bangsa yang baru-baru ini dilakukan oleh kelompok sempalan ekstrimis yang melakukan aksi saparatis, baik gerakan masif atau dengan cara doktrinasi ideologi anti pancasila. Memang, tantangan NU ke depan sangat banyak dengan pelbagai problematika yang semakin kompleks. Sebenarnya ini merupakan tantangan bagi kader muda untuk menghadapi problematika tersebut dengan kesiapan dan persiapan yang matang.

    Akhirnya, di usianya yang kini sudah cukup dewasa yakni ke-90 tahun untuk ukuran organisasi, NU diharapkan mampu menjadi benteng ideologi bangsa Indonesia demi mewujudkan Indonesia yang bermartabat, aman, sejahtera, jauh dari konflik sara, dan menjadi tonggak peradaban Islam di dunia. Selamat hari lahir jam’iyah-ku dan selamat hari lahir, NU-ku.

    Jakarta, 31 Desember 2016
    Mohammad Khoiron
    Wakil Ketua IPNU DKI Jakarta

  • Awas Mengikuti Dauroh Salafi Wahabi (Anda Bisa Jadi Beringas Mendadak)

    Admin: Duta Islam → Jumat, 29 Januari 2016
    Ojo Gumuman
    Oleh Irwan Winardi

    DutaIslam.Com - Yang saya sampaikan ini adalah pengalaman pribadi, bukan karangan yang mengada-ada. Semuanya ada dan nyata. Beberapa istri teman teman saya, sesudah ikut pengajian tiba-tiba berubah menjadi beringas dan radikal merasa diri paling suci dan paling Islam, menjadi hakim atas keimanan seseorang dan bahkan menjadi Tuhan yang menentukan surga dan neraka.

    Istri seorang teman meminta untuk diceraikan karena teman saya sudah dianggap kafir karena katanya suaminya tersebut bukan ihwan. Teman saya yang lain kehilangan anak istrinya dan juga assetnya. Istrinya kabur membawa anaknya setelah menjual semua asetnya mulai dari rumah beserta isinya serta mobil. Dikabarkan, istrinya kabur ke Suriah dengan membawa anaknya untuk bergabung dengan ISIS. Kedua teman saya tersebut ikut pengajian dauroh salafi wahabi.

    Istri saya yang pernah ikut pengajian macam begitu pernah menganggap dirinya Asiyah istri Fir’aun. Ini diajarkan jika suami tidak ikut dauroh, sang istri yang ikut pengajian disuruh bersabar seperti Asiyah yang shalehah menghadapi suaminya Firaun yang kafir dan semua suami yang menolak ajakan istrinya jadilah Firaun. Autofiraun

    Perempuan yang ikut pengajian Hizbut Tahrir akan disuruh ustadz-ustadz berdemo ke jalanan dengan membawa anak-anak dan bayinya sebagai tanda kesholehan, demi katanya, menjalankan perintah Allah untuk Daulah Khilafah.

    Mereka rela berpanas-panas dan mengeluarkan biaya yang katanya berjihad membela Palestina, rakyat Libya, melawan firaun Khadafi, Yahudi dan lain sebagainya, yang berada jauh di sana. Tapi saat diminta menyisihkan uangnya untuk tetangga yang sakit dan lapar malah berkilah. Keadaan itu disebut karena pemerintah thagut, sambil memberi solusi dengan Daulah Khilafah Minhaj Nubuwah yang akan berdiri.

    Untuk para istri, hati-hati dengan pengajian-pengajian, terutama untuk Anda yang sedang ingin belajar Islam. Anda diberi akal untuk mencerna semua hal, dan bukan menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya.

    Untuk para suami, waspadai Pengajian Dauroh Salafi dan Hizbut Tahrir. Istri anda akan dicuci otak untuk nusyuz. Polanya demikian: ustadz mereka akan bilang: "Belajar agama adalah wajib. suami anda wajib mengajarkan itu kepada istrinya." Jika sang suami awam agama, ini makin memperkuat indoktrinasi tersebut. Jika suaminya bukan awam, sang istri akan dihasut bahwa suaminya tidak menjalankan secara kaffah atau ahlul bid’ah atau bukan Islam atau antek thogut, dll. 

    Jika suaminya melarang sang istri meneruskan Dauroh Salafi atau melarang istrinya berdemo bersama Hizbut Tahrir, istri yang sudah terlanjur tercuci otak bertanya kepada ustadznya dan ustadz Dauroh Salafi akan bertanya: Apa hukum belajar agama? Sang istri menjawab wajib. Lalu ustadz salapi bilang perintah suami melanggar aturan Allah. Sementara ustadz Hizbut Tahrir akan berkata mendemo mereka adalah dalam rangka mendirikan Daulah Khilafah, dan mendirikan daulah adalah kewajiban. Suami yang melarang demo, artinya melawan Allah.

    Tips Mencari Guru atau Ustadz
    Untuk suami dan istri dan seluruh keluarga, sebelum ikut pengajian apapun, tanyakanlah sanad keilmuan ustadz atau kiai pengajarnya, yang kedua, ijazah sanad tersebut.


    Sanad adalah silsilah keilmuan. Tanyakan gurunya, kemudian guru dari gurunya dan seterusnya. Biasanya, ustadz yang bukan golongan teroris akan bisa menyebutkannya hingga ke Nabi, tapi minimal 4 turunan sudah cukup. Jangan sampai dalam sanadnya ada Snouck Hurgronje, Hemper, Nicholson atau islamist orientalis.

    Sanad adalah tradisi yang sangat dijaga di dalam ajaran Islam yang benar. Ijazah di sini bukan seperti ijazah akademis, tapi untuk keabsahan dari sanad tersebut bahwa keilmuannya adalah dari hasil berguru, bukan dari buku atau google.

    Sebagai analoginya, seseorang yang membeli buku tentang pembedahan jantung, kemudian dia mempelajarinya sendiri lalu mengklaim diri sudah ahli dan membuka praktek bedah jantung, apakah anda akan mempercayainya? Sebagai orang waras tentu anda pun akan bertanya sanad dan ijasahnya. Jika orang tersebut mengaku dokter lulusan ITB apakah anda akan tetap percaya? [dutaislam.com/ ab]

    Irwan Winardi, seorang Facebooker, 
    berdasar pengalaman pribadi

    Source: www.islam-intitute.com

  • Snouck Hugronje dalam Narasi Islam Nusantara

    Admin: Duta Islam →
    Oleh Munawir Aziz

    Kajian tentang sejarah Islam di kawasan Nusantara, saat ini menjadi bagian penting untuk memahami alur, formasi dan spektrum Islam di negeri ini. Pemahaman tentang masuknya Islam di negeri ini, menjadi penting untuk memahami tentang nilai-nilai Islam di Nusantara, pada masa lalu, kini dan mendatang. Memahami sejarah ini menjadi penting, ketika saat ini terjadi kegagalan dalam memahami nilai dan wajah Islam khas Indonesia. Kampanye-kampanye dari sebagian kelompok ormas radikal yang menginginkan bangkitknya khilafah Islamiyyah, merupakan sebagian dari narasi kegagalan membayangkan masa lalu, bagi muslim di Indonesia.

    Lalu, bagaimana memahami sejarah Islam di Nusantara? Karya penting Professor Michael Laffan, dalam buku “Sejarah Islam di Nusantara” menjadi rujukan penting untuk memami Islam di masa lalu, kini dan bahkan mendatang. Buku ini, merupakan terjemahan dari karya risetnya, “The Making of Indonesian Islam”, yang berisi argumentasi tentang bagaimana nilai-nilai Islam Indonesia dibentuk. Sebelumnya, Laffan telah menulis beberapa karya pentingnya, semisal “Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The Umma Below the Wind”, dan beberapa karya lainnya.

    Karya Laffan dapat dibaca sebagai rangkaian narasi tentang sejarah besar masuknya Islam di kawasan Nusantara. Selain Laffan, riset Azyumardi Azra dapat menjadi pembandingnya: The Transmision of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle-Eastern and Malay Indonesian (1992).

    Karya Azra menganalisis secara mendalam jaringan ulama Nusantara dan Hijaz pada abad 17 dan 18. Sedangkan, Laffan secara tekun mengkaji era kolonial sebagai spektrum utama karyanya, dengan melibatkan isu modernisme, globalisasi dan agama.

    Buku ini membahas beberapa rumusan penting, yang beranjak dari pertanyaan-pertanyaan ini: Apa yang dianggap sebagai unsur-unsur Islam Indonesia? Siapa yang telah membuatnya? Buku ini dimaksudkan untuk mendorong tantangan bahwa membaca kolonialisme bukan hanya sebagai kisah bangkitnya modernitas, melainkan sebagai perjumpaan-perjumpaan konsep tentang bangsa, modern, dan agama agar lebih memiliki makna. Sebelumnya, dalam karya-karya risetnya, Laffan telah menunjukkan bahwa Islam memiliki kontribusi penting dalam proses terbentuknya Indonesia. Dalam karya ini, Laffan menyelediki bagaimana Islam dibentuk dan ditafsirkan oleh beragam aktor, termasuk orang-orang Kristen di negeri ini.

    Menulis Sejarah: Snouck dan Geertz
    Dalam buku ini, Laffan mengisahkan dua tokoh penting yang menjadi figur utama narasi Islam di Nusantara: Snouck Hugronje dan Clifford Geertz. Dalam catatan Laffan, Clifford Geertz telah menjelajah Jawa dan Bali untuk mengkaji tentang dinamika Islam di negeri ini. Ia menulis beberapa karya penting, semisal Agricultural Involution (1963), Islam Observed (1968), Negara (1980), serta masterpiecenya berupa Religion of Java, yang berpengaruh sejak 1960.

    Sedangkan, Snouck Hugronje merupakan sosok yang penting sekaligus unik. Christian Snouck Hugronje (1857-1936) merupakan orientalis Belanda, barisan penasihat pemerintah Hindia Belanda.  Ia lahir di Oosterhout pada 8 Februari 1857, meninggal di Leiden pada 15 Juni 1936. Snouck dibesarkan dari keluarga pendeta Protestan yang sangat konvensional dan ortodok. Pada masa belajar, situasi akademik di Belanda sudah sangat liberal, dengan perbandingan agama dan sejarah yang kental. Pada waktu itu, studi sejarah agama dipengaruhi oleh teori-teori Darwin yang menyajikan hipotesis bahwa kebudayaan Eropa dan agama Kristen merupakan titik puncak dari proses perkembangan kebudayaan dunia.

    Pada 1984, Snouck mendapatkan tugas dari kementrian Urusan Jajahan negeri Belanda untuk belajar bahasa Melayu ke kawasan Asia. Karena hambatan politis, Snouck kemudian belajar bahasa Melayu kepada orang-orang Nusantara yang sedang naik Haji. Selama enam bulan di Arab, Snouck dengan gigih belajar bahasa Melayu. Ia dekat dengan salah satu putra pribumi yang berasal dari Priangan, Raden Aboe Bakar Djajadiningrat. Snouck mengubah namanya menjadi Abdul Ghafar, ketika melakukan riset di Makkah. Di kota ini, Snouck berusaha menjalin kontak dengan ulama-ulama Hijaz, juga kepada orang-orang Nusantara yang berada di Makkah. Snouck mengaji beberapa kitab penting, yang menjadi rujukan orang-orang Islam di kawasan Nusantara.

    Kemudian, pada 1885, Snouck menuju kawasan Nusantara. Tugas pertama, ditempatkan di Serambi Makkah, yakni Nangroe Aceh Darussalam.  Di Aceh, Snouck berkawan dengan beberapa ulama yang dekat dengan istana, semisal Habib Abdurrahman az-Zahir. Selang beberapa tahun, Snouck bertugas di Jawa. Ia menjadi salah satu penasehat penting pemerintah Hindia Belanda, yang dengan rajin memberikan nasihat-nasihat tertulis dan riset-riset ilmiah.

    Laffan mencatat, “dalam perannya sebagai mufti tidak resmi bagi Hindia Belanda yang tidak dapat disangkal keislamannya, Snouck dipandang sebagai pelayan bagi negara dan Islam sekaligus. Pelayan semacam itu, membuat jengkel para misionaris yang semula memberikan data etnografis dan sambutan hangat kepada cendekiawan itu. Para misionaris menganggap Snouck sedang mengislamkan Jawa, sementara sebagian orang Arab khawatir bahwa Snouck menjadi juru dakwah untuk melempangkan ajaran Kristen” (hlm. 200)

    Membaca sejarah Islam di Nusantara menjadi petualangan untuk mengkaji spektrum luas tentang beragam kisah, ideologi, mazhab dan ritual muslim di negeri ini. Buku Laffan, dengan argumentasi yang kuat, mengisahkan sejarah Islam Nusantara sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi kolonial. Bahwa, sejarah kolonialisme turut mewarnai terbentuknya nilai-nilai Islam di Nusantara. [ab]

    Penulis          : Prof. Michael Laffan|
    Judul             : Sejarah Islam di Nusantara|
    Penerbit        : Bentang, September 2015
    ISBN             : 978-602-291-058-9 |
    IDR               : 89.000
    Peresensi      : Munawir Aziz, penulis buku dan editor                                              di www.islami.co                           
    Twitter          : @MunawirAziz
  • Menyelami Islam Cinta Ibn ‘Arabi

    Admin: Duta Islam →


    Oleh Munawir Aziz

    DutaIslam.Com - Selama ini, pemikiran Ibn ‘Arabi sering disalah tafsirkan dalam perdebatan tentang khazanah Islam klasik, khususnya di Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab, tetapi karena minimnya informasi yang tepat dan akurat terhadap pemikiran Syaikh al-Akbar ini. Ibn ‘Arabi dikenal sebagai salah satu ulama terbesar dalam khazanah pengetahuan Islam, yang menulis ratusan karya dengan pemahaman mendalam atas sufisme dan filsafat.

    Ibn ‘Arabi, bernama asli Muhammad Ali Ibn Muhammad ibn ‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi. Ia lahir pada 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165, di Mursia, Spanyol bagian Tenggara. Pemikiran Ibn ‘Arabi yang luas dan mendalam dengan pendekatan filsafat dan serta sufisme, menjadikan pemikirannya sering disalahpahami. Perdebatan tentang pemikiran Ibn ‘Arabi seolah menjadi selubung untuk menutup cahaya-cahaya pemikiran dari Syaikh al-Akbar. 

    Dalam catatan Azam Bahtiar (2015), ada 125 judul karya yang memuat perdebatan pemikiran tentang Ibn ‘Arabi. Sebanyak 114 karya menjadi pendukung Syaikh Akbar, 81 sebagai syarahnya, selebihnya sebagai pembelaan sang murid. Sedangkan, hanya 11 karya yang berseberangan terhadap pemikiran Ibn ‘Arabi. Dengan demikian, tidak sah kiranya hanya melihat kontroversi Ibn ‘Arabi sebagai alat  untuk merajamkan kekafiran atas dirinya.

    Sejauh ini, belum ada satu buku lengkap yang ditulis oleh cendekiawan Indonesia yang menjadi pengantar atas pemikiran Ibn Arabi. Sebagian besar, wacana tentang Ibn Arabi disarikan dari intelektual Timur Tengah dan sarjana-sarjana Barat, semisal William Chittick, Toshihiko Isutzu dan beberapa pemikir lainnya. Buku “Semesta Cinta: Pengantar Kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi” merupakan buah karya Dr. Haidar Bagir, untuk mengenalkan sosok Syaikh al-Akbar dalam narasi  yang mudah dipahami.   

    Dalam pandangan Haidar Bagir, irfan merupakan suatu bentuk tasawuf yang bersifat filosofis, atau disebut sebagai filsafat sufistik. Sebagai filsafat, ia mensyaratkan pemahaman filosofis atas subject matter-nya. Sebagai tasawuf, ia mensyaratkan pemahaman tentang tata laku sebagai wahana peraihan pengetahuan yang hendak dikuasai. Irfan mencakup pemerian filosofis pengalaman sufistik, sebagai sebuah metamistisisme yang mewacanakan laku tasawuf.

    Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk mengenal Tuhan. Dengan kata lain, ibadah adalah sarana makhluk untuk mengenal Sang Penciptanya. Pengenalan ini disebut sebagai ma’rifah. Sedangkan, wacana atau ilmu tentang peraihan ma’rifah ini disebut sebagai ‘irfan. Karya-karya Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi menjadi referensi dari tradisi ‘irfan dalam pengetahuan Islam.

    Pemikiran Ibn ‘Arabi, dalam beberapa karya pentingnya, dikenal sulit dipahami. Lapisan-lapisan konstruksi pemikiran Ibn ‘Arabi, membutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk dapat masuk dalam inti terdalam dari korpus pengetahuannya. Tercatat Ibn ‘Arabi menulis tak kurang dari 363 buku dan risalah. Di antara karya-karya utamanya, yakni al-Futuhat al-Makiyyah (Penyingkapan-penyingkapan di Makkah) dan Fushush al-Hikam (Permata-permata kebijaksanaan). Al-Futuhat al-Makiyyah adalah karya ensiklopedis yang merangkum kekayaan pemikiran irfani. Edisi kritis paling baru atas karya ini, meliputi tak kurang dari 17.000 halaman. 

    Bagi orang awam, bahasa-bahasa metaforik Ibn ‘Arabi jika tidak direnungkan dengan khusyu’, akan mendorong kesalahpahaman. Menurut Ibn ‘Arabi, al-Futuhat al-Makiyyah bukanlah karya pemikirannya, akan tetapi langsung dari Allah. Dalam pengakuan Ibn ‘Arabi, Allah menggerakkan tangannya untuk menulis. Sedangkan, karya Fushush al-Hikam, meskipun hanya satu jilid, akan tetapi menjadi karya yang paling sulit dipahami karena merupakan saripati samudra yang amat luas dan dalam dari pemikiran Ibn ‘Arabi, yang disusun secara sistematik yang berdasarkan hikmah-hikmah dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Karya lainnya, yakni Tarjuman al-Asywaq, buku kumpulan syair cinta spiritual. Serta, Syajarah al-Kaun, karya kosmologi yang menerangkan tentang khazanah simbolisme dalam al-Qur’an (hlm. 95-6)

    Islam Cinta
    Menurut Haidar Bagir, narasi terpenting dari pemikiran Ibn ‘Arabi adalah menghadirkan pesan cinta dalam memahami Islam. Aspek kebenaran dan kebaikan baru sempurna dengan keindahan. Dalam pemahaman Islam, menurut ‘Irfan, kebenaran dan kebaikan tidak terpisahkan dari keindahan. Ringkasnya, sesuatu  dapat disebut kebaikan dan kebenaran jika pada saat yang sama ia indah, memiliki daya pesona yang melahirkan rasa cinta dan kerinduan untuk mengalaminya.
    Keindahan  pada hakikatnya merupakan aspek keilahiahan. Manunia memang membutuhkan ilmu yang mengurusi benar salah, tentu juga moral yang mengurusi baik buruk. Tapi, suatu kehidupan yang membahagiakan hanya bisa dikembangkan jika tabiat manusia yang cinta dan rindu pada keindahan bisa terpuasi (hlm. 322-3). 

    Pemusatan perhatian pada Ibn ‘Arabi dan madzhab pemikirannya, dalam setiap pembahasan tentang Irfan didasarkan pada kenyataan bahwa Ibn ‘Arabi adalah benar-benar memformulasikan pahamnya secara filosofis dalam puluhan ribu halaman yang ditulis dalam bahasa analitik prosais, sedangkan para sufi sealiran umumnya mengungkapkan pada puisi-puisi ringkas. Ibn ‘Arabi juga perintis dan pengembang doktrin wahdah al-wujud, atau tawhid maujudi, yang memberikan pengaruh besar dalam peradaban dan tradisi pengetahuan Islam.

    Dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, jadilah seluruh kehidupan manusia dan makluk-Nya di muka bumi sebagai sepenuhnya cerita cinta, dan tidak ada satupun di dalamnya yang dapat dipahami dengan tepat sekaligus benar, tanpa menggunakan perspektif cinta (hlm.30-31).

    Buku karya Haidar Bagir ini, seakan menuntun kita untuk menelusuri lorong-lorong panjang pemikiran Ibn ‘Arabi dengan lentera cinta. Ia menghadirkan narasi cinta untuk memahami Islam. Dengan demikian, Islam yang dipahami adalah Islam yang membawa rahmat, Islam yang menghadirkan kerahaman, bukan kemarahan. [dutaislam.com/ab]

    Info Buku:
    Penulis: Dr. Haidar Bagir
    Judul: Semesta Cinta: Pengantar Kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi
    Penerbit: Noura Mizan
    Cetakan: I, November 2015
    ISBN: 978-602-385-039-6

    Munawir Aziz, Alumnus Pascasarjana UGM, Jaringan Gus Durian

  • Dialog Sunni vs Wahabi Magang

    Admin: Duta Islam → Kamis, 28 Januari 2016
    DutaIslam- Dialog Imajiner

    WAHABI: “Apa dalil yang Anda gunakan dalam Tahlilan, sehingga komposisi bacaannya beragam atau campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an, sholawat dan lain-lain?”

    SUNNI: “Mengapa Anda menanyakan dalil? Apa pentingnya dalil bagi Anda, sedang Anda tidak mau Tahlilan?”

    WAHABI: “Kalau Tahlilan tidak ada dalilnya berarti bid’ah donk. Jangan Anda lakukan!”

    SUNNI: “Sekarang saya balik tanya, adakah dalil yang melarang bacaan campuran seperti Tahlilan?”

    WAHABI: “Ya tidak ada.”

    SUNNI: “Kalau tidak ada dalil yang melarang, berarti pendapat Anda yang membid’ahkan Tahlilan jelas bid’ah. Melarang amal shaleh yang tidak dilarang dalam agama.

    Kalau Anda tidak setuju dengan komposisi bacaan dalam Tahlilan, sekarang saya tanya kepada Anda, bacaan dalam sholat itu satu macam atau campuran?”

    WAHABI: “Ya, campuran dan lengkap.”

    SUNNI: “Berarti bacaan campuran itu ada contohnya dalam agama, yaitu sholat. Kalau begitu mengapa Anda masih tidak mau Tahlilan?”

    WAHABI: “Kalau sholat kan memang ada tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau campuran dalam Tahlilan kan tidak ada tuntunan?”

    SUNNI: “Itu artinya, agama tidak menafikan dan tidak melarang dzikir dengan komposisi campuran seperti Tahlilan, dan dicontohkan dengan sholat. Sedangkan pernyataan Anda, bahwa dzikir campuran di luar sholat seperti Tahlilan, tidak ada dalilnya, itu karena Anda baru belajar ilmu agama. Coba perhatikan hadits ini:

    عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ للهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ وَحَفُّوْا بِهِمْ ثُمَّ بَعَثُوْا رَائِدَهُمْ إِلىَ السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا أَتَيْنَا عَلىَ عِبَادٍ مِنْ عِبَادِكَ يُعَظِّمُوْنَ آَلاَءَكَ وَيَتْلُوْنَ كِتَابَكَ وَيُصَلُّوْنَ عَلىَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَيَسْأَلُوْنَكَ لآَخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِيْ فَيَقُوْلُوْنَ : يَا رَبِّ إِنَّ فِيْهِمْ فُلاَناً الْخَطَّاءَ إِنَّمَا اعْتَنَقَهُمْ اِعْتِنَاقًا فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِيْ فَهُمُ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ . (رواه البزار قال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد: إسناده حسن، والحديث صحيح أو حسن عند الحافظ ابن حجر، كما ذكره في فتح الباري 11/212)
    “Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu mengadakan perjalanan mencari majelis-majelis dzikir. Apabila para malaikat itu mendatangi orang-orang yang sedang berdzikir dan mengelilingi mereka, maka mereka mengutus pemimpin mereka ke langit menuju Tuhan Maha Agung – Yang Maha Suci dan Maha Luhur. Para malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami, kami telah mendatangi hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, menbaca kitab-Mu, bershalawat kepada nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohon kepada-Mu akhirat dan dunia mereka.” Lalu Allah menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku.” Lalu para malaikat itu berkata: “Di antara mereka terdapat si fulan yang banyak dosanya, ia hanya kebetulan lewat lalu mendatangi mereka.” Lalu Allah – Yang Maha Suci dan Maha Luhur - menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku, mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. al-Bazzar. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid [16769, juz 10, hal. 77]: “Sanad hadits ini hasan.” Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, hadits ini shahih atau hasan).

    Hadits di atas menjadi dalil keutamaan dzikir berjamaah, dan isi bacaannya juga campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat.”

    WAHABI: “Owh, iya ya.”

    SUNNI: “Makanya, jangan suka usil. Belajar dulu yang rajin kepada para Kyai dan ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Jangan belajar kepada kaum Wahabi yang sedikit-sedikit bilang bid’ah dan syirik.”

    WAHABI: “Terima kasih”.

    SUNNI: “Menurut Anda, Syaikh Ibnu Taimiyah itu bagaimana?”

    dialog sunni wahabi

    WAHABI: “Beliau Syaikhul-Islam di kalangan kami yang Anda sebut Wahabi. Pendapat beliau pasti kami ikuti.”

    SUNNI: “Syaikh Ibnu Taimiyah justru menganjurkan Tahlilan dalam fatwanya. Beliau berkata:

    وَسُئِلَ: عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؟" فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : ( إنَّ للهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ ) وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ ( وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك )... وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْرُ ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا. (مجموع فتاوى ابن تيمية، ٢٢/٥٢٠).
    “Ibnu Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendoakan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaa billaah) dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.?” Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520).

    Pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah di atas memberikan kesimpulan bahwa dzikir berjamaah dengan komposisi bacaan yang beragam antara ayat al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, shalawat dan lain-lain seperti yang terdapat dalam tradisi tahlilan adalah amal shaleh dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu.

    WAHABI: “Lho, ternyata beliau juga menganjurkan Tahlilan ya. Owh terima kasih kalau begitu. Sejak saat ini, saya akan ikut jamaah Yasinan dan Tahlilan. Ternyata ajaran Wahabi tidak punya dalil, kecuali hawa nafsu yang selalu mereka ikuti.”

    [ab]
  • Kyai Said Aqil Siraj Disambut Di Sidogiri

    Admin: Duta Islam → Senin, 25 Januari 2016
    DutaIslam.Com - Rilis

    Oleh Sulthon

    Saya diajak KH Said Aqil Siroj berkunjung ke Ponpes Sidogiri untuk silaturahmi dengan KH A. Nawawi Abdul Jalil dan menghadiri seminar. Sudah kuduga, pertemuan Kyai Said Aqil dengan Kyai Nawawi berlangsung sarat makna dan penuh keakraban.Tentu yang kutunggu pun terjadi: dua kyai berdiskusi tentang keislaman, terutama soal tauhid dan tasawuf. Ini pertemuan kedua yang saya ikuti setelah sebelumnya di Kantor PBNU juga terjadi diskusi cukup gayeng. Banyak tema yang didiskusikan dua kyai saya ini, seperti tentang Keesaan Allah, kekuasaan Allah, angan-angan orang-orang saat shalat yang berbeda-beda terhadap Allah, tentang Ahmadiyah, Syiah, Wahabi, Jawlah, termasuk yang ringan-ringan.

    Saya dan sekitar tujuh tamu yang lain asik mendengarkan. Termasuk ada mas Ahmad Sa’dulloh, putra Kyai Abdul Alim yang oleh Kyai Nawawi dikenalkan sebagai menantu Gus An’im Mahrus dari Ponpes Lirboyo, “Lah, ini saudara saya,” kata Kyai Said Aqil yang memang masih famili KH Mahrus Ali Lirboyo.  

    Selesai diskusi gayeng, rombongan Kyai Said dipersilahkan untuk makan pagi di kediaman beliau. Selepas Sarapan pagi, Kyai Said Aqil minta ijazah wirid kepada Kyai Nawawi yang langsung dikabulkan, “Ini wirid dari Kyai Cholil Nawawi.” Kata beliau setelah menulis dalam secarik kertas. Tak terasa hampir satu jam kedua kyai saya ini bercengkerama. Lalu Kyai Nawawi pun mengajak Kyai Said Aqil dalam satu mobil menuju lokasi seminar.

    Di lokasi Seminar, ratusan undangan terdiri dari kyai, ustadz, habaib sudah berkumpul. Terdapat KH Miftahul Achyar, KH Kafabihi Mahrus, Habib Taufiq, dll., termasuk narasumber Buya Yahya dan Syaikh Abu Bakar al-Adny. Sesi pertama Kyai Said Aqil menyampaikan materi tentang Islam Nusantara yang hingga saat ini menjadi kajian menarik berbagai kalangan.

    Setelah break makan siang, seminar memasuki sesi dialog. Sesi ini berlangsung cukup hidup. Habib Taufiq memberi pengantar  bahwa sesi tanya jawab harus dilandasi dengan pikiran jernih untuk menemukan kebenaran. Sesi dialog cukup hidup, hingga Kyai Said Aqil minta saya untuk mengundurkan waktu penerbangan kembali ke Jakarta dari semula pukul 16.00 menjadi pukul 18.00 WIB.

    Akhirnya, waktu dialog dikonsentrasikan dengan Kyai Said Aqil. Pada pukul 15.45 WIB dialog selesai dan dilanjutkan dialog dengan Syaikh Abu Bakar al-Adny. Sedangkan Buya Yahya pulang terlebih dahulu sehingga tidak mengikuti sesi dialog.

    Kyai Said Aqil menuju ke Lt. 1 menemui Kyai Nawawi Abdul Jalil. Sempat foto-foto di teras dengan para undangan yang banyak juga para dari mereka pengurus PCNU dan MWCNU. Setelah berbincang sebentar dengan Kyai Nawawi, akhirnya Kyai Said Aqil pun kembali ke Jakarta. [ab]



    Kyai Ma'ruf Amin sedianya diundang oleh keluarga besar Sidogiri namun berhalangan hadir karena harus ke Doha Qatar memenuhi undangan Menteri Wakaf Qatar. Akhirnya digantikan oleh Buya Yahya yang tidak bisa mengikuti acara hingga selesai karena harus ke Brebes dan Jakarta.
  • Cinta Bangsa Menurut Mustofa Al Ghulayaini

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 23 Januari 2016

    Oleh M Rikza Chamami, MSI

    DutaIslam.Com - Para santri pasti tidak asing dengan Kitab Kuning Idzatun Nasyi'in. Sebuah kitab visioner yang ditulis oleh ulama dan wartawan asal Bairut Lebanon. Pengarangnya bernama Syaikh Musthofa Al Ghulayaini yang lahir di Bairut pada tahun 1886 dan wafat 17 Februari 1944. Usianya yang hanya 58 tahun banyak menghasilkan karya dengan bekal keilmuan belajar di Al Azhar Mesir.

    Satu nasehat yang dia sebut dalam bab “Al Wathaniyah” perlu menjadikan renungan kita bersama di saat kondisi bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kebangsaan akibat ulah kelompok sparatis-radikalis. Ada harapan besar dari santri untuk kembali merenungi nasehat dari Syaikh Musthofa yang sudah sekian lamanya tidak kita buka kembali.

    Menjadi heran memang jika ada orang yang hidup dalam sebuah negara tapi tidak mencintai negaranya dengan alasan yang sangat tidak rasional. Negara dibangun dengan semangat perjuangan dan pengorbanan oleh para pejuang pendahulu. Sedangkan generasi penerus tinggal menikmati kemerdekaan dengan nguri-nguri budaya setempat.

    Negeri berdiri tegak ditebus dengan darah dan harta. Maka tugas menjaga kemerdekaan dari segala serangan imperialisme itu menjadi sebuah keharusan. Bahkan seruan untuk mewujudkan rasa kebangsaan itu tidak boleh berjalan sebagai seruan, tapi harus menjadi aksi kebangsaan. Cara mencintai bangsanya adalah dengan mewujudkan kesejahteraan, kemuliaan, kerendahan jiwa, kemerdekaan sejati, kejuangan, konsistensi menjaga kedamaian dan lainnya.

    Maka barang siapa yang hendak mencerai beraikan bangsa dan jauh dari perilaku itu, berarti tidak merasa memiliki bangsanya dan dialah yang merusak bangsa itu. Biasanya para perusak bangsa ini akan membela diri dengan lantang menyerukan bahwa justeru dialah yang cinta bangsa sejati. Padahal cinta bangsa yang sejati adalah cinta memperbaiki negara dan berusaha melayani masyarakat tanpa pamrih. Dan orang yang paling besar rasa kebangsaannya adalah orang yang bersedia mati untuk mensejahterakan negaranya dan bersedia sakit untuk menyehatkan masyarakat.

    Itulah penegasan-penegasan Syaikh Musthofa yang sepintas nampak mudah dijalani dan tidak mudah direalisasikan. Artinya bahwa mempertahankan kebangsaan yang hanya menikmati itu tidak perlu aneh-aneh. Tapi yang terjadi malah generasi sekarang ingin menjadi pejuang baru dan keluar dari nilai perjuangan para pendahulunya.

    Yang perlu dipahami bahwa negara memiliki hak atas anak-anaknya. Maka ketika ada anak yang tidak patuh pada negara, tidak layak disebut sebagai “anak sejati” akibat tidak mampu menjalani kewajibannya. Anak itu juga menjadi anak yang tidak berbakti dan akan menanggung beban berat dalam mencari bantuan, menolak gangguan dan mencegah tipuan dari pihak yang benci negara.

    Hadirnya cinta kebangsaan ini tidak akan lepas dari upaya bersosialisasi dengan masyarakat. Dan tentunya yang dapat menggugah semangat kebangsaan hadir dengan mudah dari kalangan terpelajar, orang yang berakhlak mulia dan orang yang tertanam kata bijak: “cinta tanah air adalah sebagian dari iman”.

    Bagi santri, kalimat hubbul wathan minal iman itu sudah sejak kecil dipelajari dan terus diingat hingga dewasa. Maka sudah dapat dipastikan bahwa yang tidak cinta kebangsaan adalah mereka yang bukan santri dan tidak berakhlak mulia. [dutaislam.com/ ab]

    Rikza Chamami, alumnus MA Qudsiyyah 
    dan Dosen UIN Walisongo
  • Ketika KH Hamid Pasuruan Menghilang

    Admin: Duta Islam →
    DutaIslam.Com- Karomah

    Suatu ketika seorang habib dari Kota Malang, ketika masih muda, yaitu Habib Baqir Mauladdawilah (sekarang beliau masih hidup), diijazahi sebuah doa oleh al-Ustadzul Imam al-Habr al-Quthb al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih, Habib Abdulqadir Bilfaqih berpesan kepada Habib Baqir untuk membaca do'a tersebut ketika akan menemui seseorang agar tahu sejatinya orang tersebut siapa, orang atau bukan.

    Suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui seorang waliyullah di daerah Pasuruan, Jawa Timur, yang mashur dengan nama Mbah Hamid Pasuruan. Ketika itu, di tempat Mbah Hamid banyak sekali orang yang sowan kepada beliau, meminta doa atau keperluan yang lain.

    Setelah membaca doa yang diijazahkan, Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti Mbah Hamid sejatinya bukan Mbah Hamid. Beliau mengatakan: “Ini bukan Mbah Hamid, ini adalah khodamnya. Mbah Hamid tidak ada di sini.” Kemudian Habib Baqir mencari di mana Mbah Hamid berada.

    “Kyai, Kyai jangan begitu,” Habib Bagir menegur.
    “Ada apa, Bib?”
    “Kasihan orang-orang yang meminta doa, itu doa bukan dari panjenengan, yang mendoakan itu khodam. Panjenengan di mana waktu itu?”

    Mbah Hamid tidak menjawab, hanya diam. Namun Mbah Hamid pernah menceritakan masalah ini kepada seorang habib sepuh. 

    “Kyai Hamid, waktu banyak orang-orang meminta doa kepada njenengan, yang memberikan doa bukan njenengan, njenengan di mana. Kok tidak ada?” Tanya habib sepuh.
    “Hehehee.. ke sana sebentar”
    “Ke sana ke mana, Kyai?”
    “Kalau njenengan pengen tahu, datanglah ke sini lagi.”

    Habib sepuh tersebut kembali menemui Mbah Hamid, ingin tahu di mana tempat persembunyian beliau. Setelah bertemu, Mbah Hamid tidak langsung menjawab, tapi memegang habib sepuh tadi. Seketika itu, sang habib tadi, melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan Masjid yang sangat megah.

    “Di mana ini Kyai?” Habib keget.
    “Monggo njenengan pirsani piyambek niki teng pundi/ silakan habib lihat sendiri ini di mana)" jawab Mbah Hamid.

    Subhanallah, ternyata Habib sepuh tadi dibawa oleh Mbah Hamid mendatangi Masjidil Haram.
    Habib sepuh kembali bertanya kepada Kyai Hamid:

    “Kenapa njenengan memakai doa?”

    “Saya sudah terlanjur terkenal, saya tidak ingin terkenal, tidak ingin muncul, hanya ingin asyik sendirian dengan Allah, saya sudah berusaha bersembunyi, bersembunyi di mana saja, tapi orang-orang selalu ramai datang kepadaku. Kemudian saya ikhtiar menggunakan doa ini, itu yang saya taruh di sana bukanlah khodam dari jin, melainkan malakul ardhi, malaikat yang ada di bumi. Berkat doa ini, Allah Ta’ala menyerupakan malaikatNya dengan rupaku.”

    Habib sepuh yang menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut, sampai meninggalnya merahasiakan apa yang pernah dialaminya bersama Mbah Hamid, hanya sedikit yang diceritakan kepada keluarganya.
    KH Hamid Pasuruan

    ------------------------------------
    Mbah Hamid Pasuruan Titip Salam

    Lain waktu, ada tamu dari Kendal sowan kepada Mbah Hamid. Lantas Mbah Hamid menitipkan salam untuk si fulan bin fulan yang kesehariannya berada di Pasar Kendal, menitipkan salam untuk seorang yang dianggap gila oleh masyarakat sekitar Kendal. Fulan bin fulan kesehariannya berada di sekitar pasar dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila, namun tidak pernah mengganggu orang-orang di sekitarnya.

    Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid sampai menitip salam untuk orang yang dianggap gila oleh dirinya.

    “Bukankah orang tersebut adalah orang gila, Kyai?” sang tamu penasaran.
    “Beliau adalah wali besar yang menjaga Kendal, rahmat Allah turun, bencana ditangkis, itu berkat beliau, sampaikan salamku.”

    Kemudian setelah si tamu pulang ke Kendal, menunggu keadaan pasar sepi, dihampirilah “orang yang dianggap gila tersebut” yang ternyata Shohibul Wilayah Kendal.

    “Assalamu’alaikum…” Sapa si tamu.

    Wali tersebut memandang dengan tampang menakutkan layaknya orang gila sungguhan, kemudian keluarlah seuntai kata dari bibirnya dengan nada sangar: 

    Wa’alaikumussalam.. ada apa..!!!”

    Dengan badan agak gemetar, si tamu memberanikan diri. Berkatalah ia: “Panjenengan dapat salam dari Kyai Hamid Pasuruan, Assalamu’alaikum…”

    Tak beberapa lama, wali tersebut berkata: “Wa’alaikumussalam” dan berteriak dengan nada keras: 

    “Kurang ajar si Hamid, aku berusaha bersembunyi dari manusia, agar tidak diketahui manusia, kok malah dibocor-bocorkan. Ya Allah, aku tidak sanggup, kini telah ada yang tahu siapa aku, aku mau pulang saja, gak sanggup aku hidup di dunia.”

    Kemudian wali tersebut membaca sebuah doa, dan bibirnya mengucap: “Laa Ilaaha Illallah Muhammadun Rasulullah…

    Seketika itu langsung meninggallah sang Wali di hadapan orang yang diutus Mbah Hamid.

    Subhanallah… begitulah para walinya Allah, saking inginnya berasyik-asyikkan hanya dengan Allah sampai berusaha bersembunyi dari keduniawian, tak ingin ibadahnya diganggu oleh orang-orang ahli dunia. Mereka bersembunyi memakai cara masing-masing. Oleh karena itu, janganlah kita su’udzon terhadap orang-orang di sekitar kita.

    Jadi ingat nasihat Maha Guru Al-Quthb Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih: 
    “Jadikanlah dirimu mendapat tempat di hati seorang Auliya.”

    Semoga nama kita tertanam di hati para kekasih Allah, sehingga kita selalu mendapat nadzrah dari guru-guru kita, dibimbing ruh kita sampai terakhir kita menghirup udara dunia ini, Aamiin. [ab]

    Sumber cerita: KH. Achmad Sa’idi bin KH. Sa’id, pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Tegal.
  • Ini Situs-Situs Radikal yang Harus Ditutup

    Admin: Duta Islam → Jumat, 22 Januari 2016

    DutaIslam.ComAssalamu'alaikum, mohon bantuannya untuk melakukan penyebaran banner ini di web dulur masing-masin, disebarkan banner ini melalui social media dan messaging seperti whatsapp, telegram, dll, ikut serta melaporkan situs-situs yang menurut dulur sekalian termasuk situs radikal.

    Pelaporan ditujukan ke Kemenkominfo dan PBNU melalui email, selanjutnya tim PBNU akan merekap data email yang masuk untuk selanjutnya PBNU akan turut mengawal ke Kemenkominfo.

    Ini cara melaporkan situs radikal yang berpotens memcah belah kesatuan Republik Indonesia. Ciri situs radikal bisa dengan mudah Anda temukan. Menurut redaksi, ini ciri-ciri situs radikal yang harus diblokir:
    1. Gampang mengkafirkan orang lain.
    2. Sekonyong-konyong membid'ahkan amalan Ahlussunnah wal Jama'ah.
    3. Mudah menyesat-nyesatkan kepada yang tidak sepaham dengan dia.
    4. Mempropagandakan Khilafah. Ini biasanya dikampanyekan oleh Hizbut Tahrir.
    5. Sering mengkritik pemerintah sah Indonesia bukan dengan akal, namun kebencian. Contohnya: Jonru. 
    6. Menyebut Pemerintah Indonesia dengan sebutan Thaghut.
    7. Menyebut Polisi, TNI, Banser dengan nama murtad atau lebih sadis menyebut dengan babi-babi.
    8. Mengajak berjihad di jalan Allah dengan tafsirnya dia, yaitu ikut perang membantu ISIS.
    9. Menyebut para teroris seperti Bahrun Ni'am dengan jihadis, jundu khilafah, mujahid, dll.
    10. Mengadu domba dan selalu membenturkan antara Sunni-Syiah.
    11. Menganggap perang di Suriah bukan perang politik tapi perang agama.
    12. Yang tidak sepaham dengan dia, mudah dikambing hitamkan dengan sebutan yang sangat berseberang sejak dari maknanya. Disebut liberalis, antek Yahudi, Syiah, dan lainnya. Sebutannya bukan berdasarkan ilmu tapi atas dasar kebencian. 
    Inilah situs-situs radikal yang belum diblokir pemerintah:

    Arrahmah
    http://www.arrahmah.com/

    Voa Islam
    https://www.voa-islam.com/

    Al Hisbah
    http://www.al-hisbah.com/

    Panji Mas
    http://panjimas.com/

    Kiblat
    http://www.kiblat.net/news/

    BumiSyam
    http://www.bumisyam.com/

    An Najah
    https://www.an-najah.net/

    Abdullah7
    https://abdulloh7.wordpress.com/

    NahiMunkar
    https://www.nahimunkar.com/

    Insya ALlah Syahid
    https://insyaallahsyahed.wordpress.com/

    Lasdipo
    http://m.lasdipo.co/

    Al Azzam
    http://www.azzam.in/

    IslamPos
    https://www.islampos.com/

    Kirimkan email dengan judul: Pelaporan Situs Radikal. Email yang Anda kirim adalah 1). aduankonten@mail.kominfo.go.id, 2). situs-radikal@nu.or.id/ situs.radikal@nu.or.id

    Isikan situs-situs di atas di bagian konten email Anda agar segera ditutup karena berpotensi menumbuhkan benih-benih terorisme. Sebutkan alasannya, jika ada sekalian screenshoot konten situs radikal terlapor. [dutaislam.com/ ab]

  • Ini Sikap FKUB Kalbar Soal Gafatar

    Admin: Duta Islam → Kamis, 21 Januari 2016
    DutaIslam.Com - Rilis

    Pernyataan Sikaf Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat mengenai GAFATAR

    Menyikapi perkembangan pengikut GAFATAR di Kalimantan Barat yang diindikasikan salah satu pahamnya ialah menyatukan agama Yahudi, Kristen, dan Islam dan pengikutnya terdiri dari berbagai agama, maka FKUB Kalimantan Barat yang terwakili semua agama menyampaikan keterangan pers yang diliput oleh Kompas TV dan Pontianak Post di Kantor FKUB Kalbar.
    1. FKUB Menolak kehadiran GAFATAR sebagai organisasi apabila fahamnya menyatukan semua agama, karena merusak kerukunan umat beragama.
    2. Masalah sesat atau tidaknya paham GAFATAR diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI).
    3. Penanganan pengikut GAFATAR diserahkan kepada pihak yabg berwajib/pemerintah.
    4. Semua pihak dihimbau untuk tidak bertindak anarkis terhadap mereka.
    5. Menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dan percaya kepada aliran dan organisasi yang belum jelas.
    6. Menghimbau kepada pemerintah setempat dari RT, RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan hingga Provinsi agar meningkatkan akurasi pendataan identitas para pendatang baik yang tergabung dalam organisasi maupun perorangan.

    Pembacaan rilis FKUB Kalimantan Barat

    Pontianak, 21 Januari 2016
    1. Dr. H. Wajidi Sayadi, M. Ag. (Ketua/Muslim).
    2. Drs. Ignatius Lyong, MM. (Wakil Ketua I/Katolik).
    3. Ir. Putu Dupa Bandem (Wakil Ketua II/Hindu).
    4. Pdt. Daniel Alpius, M.Th. (Sekretaris/Kristen).
    5. Sutadi, SH. (Wakil Sekretaris/Kongkhucu).
    6. Pandita Edy Tansuri (Bendahara/Budha)

  • Makam Pengarang Yasin Fadhilah Pun Dihajar Wahabi

    Admin: Duta Islam → Senin, 18 Januari 2016
    Makam pengarang Yasin Fadilah
    DutaIslam.Com - Memang dari awalnya saja mereka telah menaruh kebencian kepada muslimin yang berbeda dengannya, jangankan kepada Syi'ah tapi kepada kaum Asy'ariah dan Sufiah sebagai pengikutnya Ahlussunnah Waljamaah juga mereka hinakan bahkan mereka kafirkan. Seakan lslam dan surga hanya milik Wahabi, hanya mereka-lah yang benar selainnya semua salah dan ahli neraka.
    Buktinya pun telah banyak. Kita bisa melihat fakta di Mekah dan sebagainya. Sejak awal berdiri negara Wahabi saja sudah banyak menghancurkan kuburan dan makam serta situs-situs lslam di wilayah kekuasaannya.

    Sementara penghancuran atau perusakan makam pengarang kitab Yasin Fadhilah ini kemungkinan besar terjadi pasca masuknya tentara Wahabi dari Arab Saudi saat konflik Yaman vs Arab Saudi.
    Maraknya kelompok Islam radikal yang menghancurkan makam-makam Ulama, bahkan makam nabi-nabi sekalipun seperti Nabiyullah Yunus alaihissalam telah dihancurkan oleh Wahabi radikal (ISIS), hanya dengan alasan mencegah kemusyirkan. Padahal, untuk mencegah kemusyrikan cukup melarang orang atau membenteng kuburan dari pelaku musyrik. Akan tetapi apa yang dilakukan Wahabi di sini justru menghancurkan kuburannya. Sungguh betapa bodoh dan tidak berakhlaqnya mereka yang tidak menghormati orang-orang yang sedang tidur di dalamnya.

    Dan baru-baru ini dikabarkan makam Imam Al-Faqih Muqaddam, yaitu pengarang Yasin Fadhilah pun telah dirusak oleh Wahabi. Berita ini sempat membuat heboh di media sosial. Berita dan foto diunggah oleh seorang pada Selasa (29/12) kemarin itu terlihat berantakan, dengan isi berita "Astaghfirullah, Maqam Imam Al-Faqih Muqaddam dihancurkan Wahabi".

    Meski informasi masih simpang siur apa penyebab sebenarnya kerusakan makam mulia itu, sebaiknya kita selalu harus hati-hati dalam menjaga dan membina generasi dari kelompok Islam radikal yang sengaja menghancurkan makam-makam keramat dengan beracam alasan sampah.

    Siapa Imam Al-Faqih Muqaddam?
    Beliau adalah al-’arif billah, seorang ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri tauladan bagi al-’arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, seorang qutub yang agung, cucu baginda Sayyidina Rasulullah Saw, imam bagi Thariqah Alawiyyah, seorang yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah yang luar biasa, seorang yang mempunyai jiwa yang bersih dan perjalanan hidupnya terukir dengan indah.

    Beliau adalah seorang yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT, sehingga dia mampu menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Ditambah lagi Allah memberikannya kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik yang dhohir ataupun yang bathin.

    Beliau dilahirkan pada tahun 574 H. Mengambil ilmu dari para ulama besar di jamannya. Di antaranya adalah Al-Imam Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami At-Tarimi. Al-Imam Abul Hasan ini adalah seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di kota Tarim. 

    Selain itu, dia (Al-Faqih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl dan Al-Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid (pengarang kitab Al-Ikmal Ala At-Tanbih). Gurunya itu, yakni Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman, tidak memulai pelajaran kecuali kalau Al-Faqih Al-Muqaddam sudah hadir.

    Selain itu Al-Faqih Al-Muqaddam juga mengambil ilmu dari beberapa ulama besar lainnya, diantaranya Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayyid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayyid Al-Imam Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, Asy-Syeikh As-Sayyid Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath (paman dia) dan masih banyak lagi.

    Dalam mengambil sanad keilmuan dan thariqahnya, dia mengambil dari dua jalur sekaligus. Jalur pertama adalah dia mengambil dari orang tua dan pamannya, orang tua dan pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.
    Adapun jalur yang kedua, dia mengambil dari seorang ulama besar dan pemuka ahli sufi, yaitu Sayyidina Asy-Syeikh Abu Madyan Syu’aib, melalui dua orang murid Asy-Syeikh Abu Madyan, yaitu Abdurrahman Al-Maq’ad Al-Maghrobi dan Abdullah Ash-Sholeh Al-Maghrobi. Kemudian Asy-Syeikh Abu Madyan mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari gurunya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.

    Beliau wafat pada tahun 653 H, akhir dari Bulan Dzulhijjah. Jasadnya disemayamkan di pekuburan Zanbal, di kota Tarim. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun menghadiri prosesi pemakaman dia. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu syeikh Alwi, Syeikh Abdullah, Syeikh Abdurrahman, Syeikh  Ahmad dan Syeikh Ali.

    Kita hanya mengharapkan kepada Allah semoga memberikan hidayah kepada orang-orang yang takabbur, pendengki dan tak bermoral kepada kubur (tempat tidur) ambiya dan ulama dan bila mereka tidak bertaubat dari kesalahannya agar Allah berikan kelak balasannya yang setimpal. [dutaislam.com/ ab]
  • Bom dan Hakikat Agama Tuhan

    Admin: Duta Islam →

    Oleh M Rikza Chamami
    (Dosen UIN Walisongo)

    Pascaledakan bom Thamrin Jakarta, banyak yang bertanya mengenai hakikat agama Tuhan. Salah satu pertanyaan yang sangat sulit dijawab adalah seputar kenapa agama ikut serta melegitimasi kekerasan (perang?).

    Patut untuk diluruskan bahwa agama adalah aturan hidup yang dikendalikan oleh Tuhan lewat kitab sucinya. Dalam Islam dikenal konsep teologi keesaan Allah dan mandatori ajaranny  lewat Al Qur'an. Teknis beragama Islam juga dijabarkan oleh Nabi Muhammad dalam hadisnya.

    Pasca Nabi wafat dilanjutkan oleh para sahabat-sahabatnya dan kemudian dilanjutkan oleh para ulama. Maka dikenal al-ulama waratsatul al-anbiya', ulama adalah pewaris para Nabi. Di titik inilah agama itu berkembang dan menunjukkan identitasnya sebagai norma kehidupan.

    Sehingga beragama sama dengan hidup dengan aturan agamanya dengan menjalani perintah Tuhan dan Nabi sesuai petunjuk para ulama. Pada titik ini muncul ikhtilaf, perbedaan dalam melihat dan menjakankan perintah agama. Dan hampir semua agama mengalami hal yang sama. Maka sebaiknya umat beragam diajari sejak awal arti perbedaan beragama.

    Dalam menjalankan intisari agama yang palinh dikedepankan adalah soal ibadah, yaitu penghambaan umat pada Tuhan. Teknis ibadah juga sudah detail diatur. Jadi beragama adalah sama dengan beribadah.

    Beragam dan beribadah tidaklah cukup. Tapi agama mengenalkan adanya sedekah, mendarmabaktikan tenaga, waktu dan harta untuk untuk lain dengan saling berbagi. Islam mengenalkan adanya zakat, infaq dan shadaqah yang tiada lain inti dari beragama, beribadah dan bersedekah.

    Dibalik perintah sedekah itulah lahir esensi bersaudara. Dimana orang yang beragama juga didorong untuk saling mengenal, menghargai dan memahami segala macam perbedaan.

    Jadi agama bukan sekedar slogan bertuhan dan berkitab suci. Tapi agama adalah keyakinan ketuhanan dengan panduan kitab suci yang mendorong lahirnya hamba yang betul-betul beragama: ibadah, sedekah dan memperbanyak saudara.*)

  • 9 Konsensus Halaqah Ulama Dunia 2016

    Admin: Duta Islam → Minggu, 17 Januari 2016

    DutaIslam.Com - “Kalau kita kehilangan emas, kita bisa medapatkan emas di pasar emas. Kalau kita kehilangan kekasih, tahun depan kita bisa bertemu kekasih. Tapi kalau kita kehilangan tanah air, di mana kita bisa mendapatkan tanah air?” -Syair dari Negara Iraq-
    9 Konsensus Bela Negara hasil Konferensi Internasional Ulama Thariqah Bela Negara 2016

    1. Negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

    2. Bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

    3. Bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukanya.

    4. Bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

    5. Bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

    6. Bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

    7. Bela negara menolak adanya terorisme,radikalisme dan ekstrimisme yang mengataasnamakan agama.

    8. Untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

    9. Menjadi Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari islam rahmatan lil alamin.

    Ditandatangani oleh:
    1. Habib Muhamnad Lutfi bin Yahya. (Indonesia)
    2. Dr. Syekh Muhammad Adnan al-Afiyuni.(Suriah)
    3. Dr. Syekh Aziz al-Idrisi. (Maroko)
    4. Prof. Dr. Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani. (Turki)
    5. Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya. (Yaman)
    6. Dr. Syaikh Aziz Abidin. (USA)
    7. Syekh 'Aun Mu'in al-Quddumi. (Yordania)

    Ditetapkan di Pekalongan, 16 Januari 2016
  • Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 16 Januari 2016
    DUTAISLAM.COM-Pasca bom Sarinah, sebuah telegram langsung dari pemimpin tertinggi ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi, secara rahasia berhasil dibongkar. Telegram itu ditujukan kepada Abu Wardah yang dikenal dengan nama Santoso, cabang ISIS di Poso.

    Kami berhasil menterjemahkan surat tersebut dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Gerakan teror yang dilancarkan di Jakarta sebagai pemanasan untuk mengembangkan khilafah Daulah Islamiyah ternyata gagal di awal.

    Saya meminta pada kelompok di Indonesia untuk menata ulang pola serangan dengan baik, supaya kesuksesan Daulah Islamiyah di Indonesia berhasil setahap demi setahap.

    Saya tidak tahu apa penyebab kegagalan itu. Tetapi dari media sosial yang saya dapatkan ternyata orang Indonesia tidak takut dengan ISIS. Malah mereka mengejek kita dengan memanggil Sis.  Memangnya kita dagang online apa?  "Sis, cek harga di inbox... PM, ya say...."

    Saya tahu itu, karena dulu saya jualan online. Malah re-seller saya sudah 12 orang. Ah, maaf saya ngelantur. Terkadang memori lama memang mengasyikkan.

    Kembali pada pokok permasalahan. Data yang masuk kepada kami kurang akurat. Indonesia ternyata bukan Perancis. Kami melihat orang Indonesia tidak ada takutnya. Malah ketika tembak-tembakan, masih ada yang jual sate segala. Ini teror apa pasar kaget? Coba di teliti ulang.

    Data yang masuk kepada kami di pusat, orang Indonesia hanya takut pada satu hal, yaitu emak-emak naik motor matic karena sein-nya ke kanan, dia-nya kekiri. Ini bisa menjadi masukan bagus. Strategi berikutnya kita akan menyamar jadi emak-emak naik motor matic. Coba telusuri bagaimana caranya dan infokan ke kami.

    Kegagalan kemarin sangat mengecewakan. Kenapa kalian tidak mampu membunuh banyak orang? Saya sempat mau kirimkan Boko Haram menggantikan posisi kalian. Hanya ada staf saya yang mengingatkan, di Indonesia harus dapat sertifikat dari MUI dulu baru halal. Ini maksudnya apaan? Masak namanya berubah jadi Boko Halal?

    Kami memang salah mengira bahwa Indonesia mudah ditaklukkan. Ketika sedang santai, saya membaca lagi komik Asterix. Ternyata Indonesia itu mirip desa Galia. Sejarahnya memang bangsa Indonesia keturunan dari kerajaan Majapahit atau dulu dikenal dengan nama Majapahitix.

    Di sana pasti ada ramuan ajaib. Mereka meminum ramuan yang dulu dibuat dukun Panoramix. Coba teliti lagi, saya dengar disana ada beberapa orang yang perlu diwaspadai. Data yang saya dapat, namanya Fadli Zonix, Fahri Hamzahix dan Nikita Mirzanix. Yang terakhir itu wanita. Dia sekali operasi mahal bayarannya, sekitar 60 juta. Dekati dia dan tawar, bisa tidak diskon 20%, ini sudah dekat mau lebaran.

    Saya juga mendapat surat cinta dari yang bernama Denny Siregar. Dia sebut-sebut dalam suratnya Sumber Kencono, Kopaja dan Metromini. Kedengarannya menakutkan sekali. Mereka terbiasa diteror dengan itu sampai sudah tidak takut lagi. Saya tidak bisa menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa arab "Rapat belakang.. Tareeek..." Tolong saya dibantu menterjemahkan. Siapa tahu itu senjata rahasia.

    Yang berikut saya akan pakai bahasa sandi supaya telegram ini tidak bocor: 

    [Santoso.. So... Aku Suroto, so.. Nang arab ae jenengku Abu Bakar Al Baghdadi. Aku iki wong Jowo, podo karo awakmu so.. Yak opo kabare Birin? Sek ngangon kambing? Gabung ae karo awakmu, So.. Lumayan, de'e oleh penghasilan. Sakno, so... Emak'e wis mati..]

    Semoga bahasa sandi itu tidak bisa diterjemahkan semisal telegram ini bocor.

    Saya lanjutkan kembali,
    Susun kembali pola serangan dengan baik. Kemarin itu polanya 4-3-3. Coba 3-6-1 atau 3-5-2. Kurangi bek-nya, perkuat pertahanan di tengah. Gelandang kiri jangan selalu kosong. Tolong kode ini dipahami dengan baik.

    Saya rasa cukup telegram ini dan kalau sudah selesai dibaca, telegram ini akan hancur sendiri. Iya, saya niru film Mission Impossible. Kalau gak hancur, bisa dibakar pake korek api.
    Tetap semangat berjuang saudaraku. Semoga cepat terlaksana janji Tuhan untuk memberikan kita 72 bidadari. Tegakkan khilafah! Tegakkan khilafah!

    Big Hug and Love,
    Abu Bakar Al Baghdadi
    NB: So, awakmu isok ngguyu karo split? Aku kok ora isok ya, so? Bokongku suwek. [ed]

    #KamiTidakTakutTeroris
    #KamiLawanTeroris
  • Bekas Sujud atau Bekas Karpet?

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Wajah para sahabat itu bercahaya, ini yang dinamakan min atsaris sujud, jadi bukan jidatnya yang hitam itu sebagai bekas sujud, kalau yang cuma jidatnya hitam itu lebih tepat disebut min atsaril karpet, bekasnya karpet.

    Para waliyullah itu takut kalau jidatnya hitam, takut itu menjadikan riya’. Adapun sahabat itu wajahnya bercahaya sangat berkilauan, dan ketika bangkit dari alam kubur wajahnya terang seperti bulan purnama.

    Itu semua diawali dari wudhu para sahabat yang mencapai ke hati. Wudhu bukan hanya melaksanakan syarat dan rukun wudhu. Kalau cahaya wudhu sampai hati, maka timbul sifat tawadhu’ (rendah hati), dan tubuh tidak mau digunakan untuk maksiat. Jangankan digunakan maksiat, semisal kita melihat keburukan, mata ini tidak betah, pengennya pergi atau memejamkan mata.

    Tidak mau membuka aib atau melihat aib saudara sesama muslim dan sesama anak bangsa. Kalau melihat perempuan membuka auratnya, tidak mau melihatnya, karena menganggap itu aib saudaranya. Begitu juga dalam kehidupan berbangsa. Kalau kita menutupi aib saudara kita sebangsa, atau pejabat kita, atau Negara kita, maka bangsa lain pun tidak berani memojokkan bangsa kita. Bangsa lain memojokkan bangsa kita, tidak menghormati bangsa kita karena kita sendiri yang membuka aib bangsa kita.

    Selain itu, contoh lain dari min atsaril wudhu’ adalah tutur kata kita bagus dan sopan. Orang jadi berwibawa karena tutur kata yang sopan. Salamatul insan fii hifzhillisan, selamatnya seseorang karena menjaga lisannya dari tutur kata yang tidak baik. Apa yang kita, orang dewasa, ucapkan itu akan ditiru juga oleh anak-anak. Jadi, yang tua harus memberi contoh yang baik pada yang muda, pada anak-anak.

    Janganlah kita membuka aib seseorang di atas podium, walaupun kita tidak cocok terhadap seseorang. Allah ta’ala saja dalam al Quran memakai ada ketika mengingatkan, yaitu dengan kalimat yaa-ayyuhal ladziina aamanuu, yaa ayyuhan naas, tidak menyebut nama langsung, tapi wahai orang-orang beriman, wahai manusia, bukan wahai fulan bin fulan.

    Kalau lisan kita terbiasa berdzikir maka buahnya adalah tutur kata yang baik. Berdzikir itu dilakukan karena kita perlu dan butuh pada Allah, dan juga kan mencari pahala itu tidak hanya dalam shalat.

    Selain itu, berdzikir itu untuk melatih dan membimbing lisan dan hati agar terbiasa ingat Allah. Oleh karena tidak ada yang melebihi sakitnya sakaratul maut, maka lisan dan hati harus dilatih dengan dzikir, apalagi dalam thariqah. Apa yang menjadi kebiasaan lisan kita itu yang akan muncul secara refleks saat sakaratul maut.

    Semisal, kalau lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah, kemudian kita berjalan tanpa sengaja terpeleset atau tersandung, maka biasanya reflex mengucapkan alhamdulillah. Tapi kalau yang biasa dilatih dan diucapkan kata kotor atau nama hewan, maka saat terpeleset atau tersandung batu ya kalimat nama hewan itu yang keluar dari lisannya.

    Badan kita atau baju kita, tiga hari saja tidak dicuci maka baunya bikin orang lain tidak nyaman, bahkan kita sendiri pun tidak nyaman. Kalau badan kotor kita mudah membersihkannya, tinggal mandi. Tapi kalau hati kita yang kotor? Dalam sehari, berapa kali kita mencuci hati kita?
    Allah ta’ala berfirman, alaa bidzikrillah tathma-innul quluub. Itulah cara kita mencuci hati kita yaitu dengan berdzikir. Karena penyakit hati itu harus dibersihkan agar jauh dari sifat tercela seperti ujub, sombong, riya’, hasud (iri hati), dan lain-lain.


    Adapun membersihkan hati itu dengan kalimat dzikir laa ilaaha illAllah. Kalau dalam membaca laa ilaaha illAllah ditata dengan baik dan diresapi dalam hati, maka kalimat laa ilaaha illAllah bisa membersihkan hati kita, sehingga hati penuh dengan laa ilaaha illAllah.

    Kita ini dalam masuk thariqah jangan kayak anak SD yang suka pamer fadhail (keutamaan).
    Anak-anak kan kalau hari lebaran biasa pakai baju baru, biasanya itu saling pamer bagus-bagusan baju baru. kata si A, bagusan bajuku gambarnya pesawat, si B nggak mau kalah, si C juga nggak mau kalah. Semua rebutan bagus-bagusan baju baru lebaran.

    Masuk thariqah itu untuk wushul kepada Allah, bukan untuk fadhail. Kalau kita masuk thariqah kayak anak SD, maka thariqah dan dzikir kita hanya menghiasi lisan. Padahal, kalau thariqah sudah menghiasi bathin kita, maka saya jamin dunia damai.

    Seminggu sebelum wafat, Sayyidi Syekh Al Imam Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At Tijani keliling silaturrahim ke Ulama, memohon doa kepada para Ulama agar Husnul Khatimah, padahal sekelas al Imam Ahmad at Tijani itu wali Quthub, tapi masih mau bersilaturrahim dan memohon doa ke Ulama lain. Itu bentuk betapa tawadhu’nya al Imam As Syaikh Ahmad at Tijani.

    Jangan kita bikin malu Imam Thariqah kita dengan cara kita berakhlak yang baik, tawadhu’, cinta Rasulullah dan Ulama. Sehingga kompak, saling tawadhu, dan saling mengangkat. Orang Qadiriy memuji orang Tijani, orang Syathari mengangkat orang Naqsybandiy, dan seterusnya, jadi sesama ahli thariqah, meskipun berbeda thariqah tapi saling memuji dan saling mengangkat.

    Ini harus saya sampaikan karena saya sebagai Rais ‘Aam Ahli Thariqah Mu’tabarah yang mana akan saya pertanggungjawabkan di dunia dan kelak di akhirat di hadapan Allah Ta’ala. Tunjukkan bahwa kita ini adalah bagian dari ahli Laa ilaaha illAllah. [dutaislam.com/ ab]

    Source: ceramah Maulana Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, 15 Januri 2016