Rabu, 23 Desember 2015

Pesan Maulud Sang Nabi Dunia

Oleh M. Rikza Chamami (Dosen dan Mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo)

Sudut Kota dan perumahan di sepanjang jalur Simpang Lima Semarang hingga Kecamatan Ngaliyan tak lepas dari iringan shalawat. Suara merdu dan lantunan Al Barzanji, Dziba', Simtud Duror bersenandung tanpa henti.

Seakan benar bahwa kehadiran Nabi Muhammad 1445 tahun yang telah berlalu terulang kembali. Benar sekali bahwa kelahiran Sang Nabi Dunia sudah lewati 14 abad, tapi menghormatinya selalu rutin ada.

Bukan minta dihormati tapi ia hanya ingin agama Islam berlanjut. Bahkan tegas bahwa beliau sangat tidak ingin mendapat kehormatan itu. Justru dengan itu umat semakin menghormatinya.

Sudah tidak bisa dibayangkan lagi bahwa kemuliaan yang dimiliki bukan menjadi ajang untuk sombong. Justru dengan kemuliaannya itu menjadikannya alim, santun dan dekat dengan umatnya.

Itulah Nabi dan itu pula Rasul yang dipilih untuk menjadi pemimpin, bukan menjadi pemimpi. Sebab Nabi Muhammad selalu memimpin dengan cara mengabdi.

Impian-impian yang ada selalu ingin diwujudkan dengan kerja nyata. Bangunan agama ditata rapi baik ukhuwah bainan muslimin (kerukunan antar umat Islam) dan ukhuwah al-adyan (kerukunan lintas agama). Pola pertahanan, hukum, ekonomi, pendidikan dan aspek lain juga digarap oleh Rasullah.

Kehadirannya di muka bumi hingga sampai sekarang selalu diperingati dengan upacara Maulud Nabi. Tegas bahwa itu tidak hanya ritual, tetapi mengandung banyak kesan holistik.

Paling tidak terdapat empat pesan yang ada dalam mengambil pesan Maulud Nabi yang sangat bermakna untuk kehidupan masa kini.

Pertama, pesan Islam sebagai agama penyempurna perlu ditegaskan kembali. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad benar-benar konsisten menjaga identitas syariah.

Kedua, pesan sosiologis dalam konteks dakwah Islam dengan pola pendekatan keramahan. Dakwah dengan cara-cara yang galak dan serem perlu ditata karena Nabi mengajarkan dakwah dengan etika sosial yang tinggi.

Ketiga, pesan pemberdayaan masyarakat. Lahirnya Nabi dengan Islam tentunya membuat suasana yang berbeda dan tentunya itu adalah sesuai kaidah-kaidah sesuai syariat Islam. Sehingga bicara soal Maulud Nabi pada hakikatnya bicara tentang kerukunan di NTB.

Dan keempat, pesan moral tentang penataan akhlak. Ini hal yang paling pokok dalam skema hidup. Jadi moralitas ini menjadi hal yang sangat penting untuk membentengi kekuatan yang melenceng.

Dengan pola mengenang Maulud Nabi Muhammad ini akan didapatkan intisari hidup bahwa orang meninggal itu masih bisa hidup dengan jasa-jasanya.*)

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini