Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Kunci Ngaji Al-Qur'an Menurut Kyai Arwani

    Admin: Duta Islam → Senin, 30 November 2015
    DutaIslam.Com - KH Arwani Amin Kudus Rahimahullah pernah memberikan wejangan kepada santri-santrinya. Berikut pesan KH. Arwani Amin:

    Kuncine Ngaji Al Qur'an iku ono telu:
    1. Ojo nyawang sopo gurune (Jangan melihat siapa gurunya)
    2. Ora usah isin karo umur (Jangan malu karena umur)
    3. Suwe waktune (lama waktu tempuhnya)

    ------------------
    Ora gelem ngaji Al Qur'an mergo pangkat/kedudukan gurune luwih rendah? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad Saw iku muride malaikat Jibril As ing babakan Wacan Al Qur'an. Beliau ora isin ngaji Al Qur'an (musyafahah) marang Malaikat Jibril senajan secara pangkat derajat/kedudukan malaikat Jibril as iku luwih rendah.

    Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena kedudukan guru lebih rendah. Nabi Muhammad saw saja tidak malu mengaji alquran kepada malaikat jibril walaupun derajat Rasululloh jauh diatas malaikat Jibril.
    KH Arwani Amin Kudus (Sarung putih) diapit oleh KH. Rofiq Hadziq alm (kanan)
    dan KH. Ahmad Manshur alam (kiri). Dok. Madrasah TBS Kudus

    Males ngaji Al Qur'an mergo umur wis Tua? Gusti kanjeng Nabi Muhammad Saw iku mulai ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as umur 40 tahun.

    Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji Al Qur'an karena umur sudah tua. Nabi Muhammad saja mulai belajar al Qur'an kepada malaikatJibril pada umur 40 tahun.

    Isin ngaji Al Qur'an mergo suwe waktune? Kanjeng Nabi Saw ora pernah ngrasa isin (minder) ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as awit beliau Saw umur 40 tahun tekane 63 tahun (wafat).

    Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena waktunya lama. Nabi Muhammad saja menerima wahyu al Qur'an 23 tahun lamanya. [dutaislam.com/ ab]


  • Ada Kyai Anti Air (Merokok Menghidupkanmu, Tidak Membunuhmu)

    Admin: Duta Islam →
    Mbah Mahrus Lirboyo
    DutaIslam.Com - KH Mahrus Aly Lirboyo pernah bersama mobilnya jatuh dan tenggelam di tengah Bengawan Solo, Tuban. Rombongan yang ada dibelakangnya tentu bingung dan panik, termasuk Bupati Gresik ketika itu. Bagaimana nasib beliau?

    Akhirnya (mereka) berinisiatif mendatangkan derek dari Surabaya. Padahal perjalanan derek menuju lokasi memakan waktu beberapa jam. Setelah derek sampai, ditariklah mobil yang tenggelam ke atas. Sampai di atas, pintu mobil dibuka. 

    "Mbah Mahrus malah sedang merokok! Ternyata merokok menghidupkanmu, tidak membunuhmu," canda KH Chalwani Berjan, shohibul hikayat.

    Sedikit pun tidak ada air yang masuk ke dalam mobil Mbah Mahrus, semuanya segar bugar. Sampai-sampai dimuat di Jawa Pos dan Surabaya Pos dengan judul "Ada Kyai Anti Air".  

    Itulah karomah Mbah Mahrus Lirboyo, luar biasa. Al-Fatihah. [dutaislam.com/ ab]

  • Nashiruddin Albani Menghina Imam As-Suyuthi

    Admin: Duta Islam →
    Bukan rahasia lagi apabila orang-orang dari sekte Wahhabiyyah gemar mencaci-maki dan menghina orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Kami sajikan sebuah fakta dimana ulama kaum Wahhabiyyah bernama "Nashiruddin Albani" melakukan penghinaan terhadap seorang ulama Ahlussunnah Waljama’ah, Imam as-Suyuthi Rahimahullaah.

    Silakan lihat fakta di screenshoot bawah ini:

    1. Kami tulis ulang kalimat yang bergaris bawah warna merah:
    وجعجع حوله السيوطي في اللالي
    “Dan as-Suyuthi bersuara seperti unta yang sedang berkumpul di sekitarnya di dalam al-Laali”

    2. Imam Suyuthi disebut tidak punya rasa malu.
    قلت: فيا عجبأ السيوطي كيف لم يخجل من تسويد كتابه ( الجمع الصغير ) بهذالحديث ؟؟!.   

    :Arti dari kalimat yang bergaris garis merah dibawah
    Aku (al-Albani) katakan: “Sungguh mengherankan as-Suyuthi ini, dia tidak punya rasa malu menyertakan hadits buruk seperti ini di dalam kitabnya al-Jami’ as-Shaghir”.

    Pertanyaannya:
    Apakah demikian akhlaq seseorang yang dianggap sebagai “muhaddits oleh pengikutnya”? Apakah layak seorang imam sekelas Imam as-Suyuthi rahimahullaah direndahkan dengan perkataan tak berakhlaq seperti ini? 

    Jika imam muhaddzitsnya akhlaqnya kurangajar seperti ini, wajar jika para pengikutnya banyak yang tidak menggunakan tatakrama dan tata sosial dalam menyampaikan pesan-pesan moral profetik dari Nabi. Imamnya ngawur pengikutnya ya tambah ngawur. (www.dutaislam.com)

    Berikut screenshoot teks tulisan Albani:
    Tuduhan Albani kepada Imam Suyuthi soal Kitab Jami' Shoghir

    Imam Suyuthi disebut Albani bersuara seperti unta
  • Jika Tidak Ada Pesantren, Indonesia Runtuh

    Admin: Duta Islam →
    Mursyid Thariqoh, Diponegoro
    DutaIslam.Com - Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat (thariqah). Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. 

    Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

    Di daerah eks Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.

    Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830. Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri. M. Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pangeran Diponegoro.

    Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.  Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong. Maka jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peningalan Diponegoro: Al-Quran, tasbih dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).

    Kenapa Al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi'i. Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan (lapangan).

    Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka tiga tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.

    Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi. Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita. Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justru bergabung dengan pergerakan bangsa kita.

    Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.
    Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya: “Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”

    Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren. Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: "Hanya biar pondok pesantren laku." Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.

    Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri. Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa. Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.  Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

    Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai.  Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh. Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.

    Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis. Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur. Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur. Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:

    Dari yakinku teguh
    Hati ikhlasku penuh
    Akan karuniaMu
    Tanah air pusaka
    Indonesia merdeka
    Syukur aku sembahkan
    Ke hadiratMu tuhan.

    Itu yang menyusun cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga. Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik. Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat.

    Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua. Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur. Sampai pada kalimat hayya 'alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.

    Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:

    17 Agustus tahun 45
    Itulah hari kemerdekaan kita
    Hari merdeka Nusa dan Bangsa
    Hari lahirnya Bangsa Indonesia
    Merdeka
    Sekali merdeka tertap merdeka
    Selama hayat masih dikandung badan
    Kita tetap setia, tetap setia
    Mempertahankan Indonesia
    Kita tetap setia, tetap setia
    Membela Negara kita.

    Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa. Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren. Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai. Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau? H. Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

    Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi. Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah. Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh Allah Swt. 

    Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama. Pesan Penting Bagi Santri, Belajar dari Mbah Mahrus Aly. Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda di pondok-pesantren. Santri-santri An-Nawawi di tempat saya, saya nasehati begini: 

    “Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah."

    Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafalkan nadzaman kitab dan shalat jamaah. Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan. Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah. Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu.

    Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip. Perlu putra-putri Anda dalam menuntut ilmu, berpisah dengan orangtua.

    KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh: “Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.” (Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa). Maka masukkanlah ke pesantren, biar cepat dewasa pikirannya.  Itu yang ngendiko (berkata) Kyai Mahrus Lirboyo, Kediri. [dutaislam.com/ ab]

    Source:
    Ceramah KH. Chalwani Nawawi, Berjan, Purworejo, dialihtulisankan oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun, pengelola situs ahmadnaufa.wordpress.com dan santrinusantara.com
  • Inilah Filosofi Jawa Sunan Kalijaga

    Admin: Duta Islam → Minggu, 29 November 2015
    Filosofi Jawa, yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga:

    1. Urip Iku Urup
    (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)

    2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
    (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

    3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
    (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dgn sikap bijak, lembut hati dan sabar)

    4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
    (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

    5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
    (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

    6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
    (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

    7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
    (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

    8. Ojo Keminter Mundak Keblinger, ojo Cidra Mundak Cilaka
    (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).

    9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
    (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).

    10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
    (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

  • HTI Akhirnya Mengakui Pancasila Harga Mati

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 28 November 2015
    DutaIslam.Com –Pemerintah Kabupaten Banyumas mengundang warga setempat dari berbagai ormas daerah untuk melakukan mediasi kasus protes yang dilayangkan kepada Dewan Pimpinan Daerah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Banyumas.

    Mediasi ini dilakukan di Aula Markas Kodim 0701 Banyumas dan dihadiri oleh Pemerintah Daerah, TNI, Polri, MUI, FKUB, NU, Ansor, Banser, Pemuda Pancasila, Laskar Merah Putih, PMII, dan Muhammadiyah.

    Pada pertemuan ini, perwakilan ormas yang hadir memberikan pernyataan-pernyataan berkeberatan terhadap aktivitas pengajian HTI. Pasalnya, HTI dianggap telah melakukan “makar halus” seperti menyebarkan paham yang menganggap Pancasila sebagai syirik. Selain itu, HTI juga mengharamkan penghormatan kepada bendera merah putih dan menuding pemerintah sebagai toghut (pemberontak).

    Surat Pengakuan HTI mengakui Pancasila
    Hardiman, salah satu komandan Banser Purwokerto Utara menyatakan, “Secara legal formal HTI memang sah sesuai undang-undang keormasan. Namun dalam aktivitas dan pengajian-pengajian yang sering dilakukan para dai mereka kerap melakukan pernyataan illegal dan bernada makar. Isu khilafah yang mereka wacanakan sering menabrak pilar-pilar kebangsaan.”

    Di akhir mediasi ini, secara kompak semua ormas yang hadir meminta agar HTI Banyumas setidaknya dibatasi ruang geraknya, hanya diperbolehkan melakukan aktivitas yang bersifat internal di kantor organisasi.

    Selain itu, mewajibkan HTI agar memasang simbol-simbol negara seperti Foto Presiden dan Wakil Presiden, Garuda Pancasila, dan Bendera Merah Putih yang sebelumnya tidak pernah dipasang. Padahal sebelumnya semua ormas menuntut HTI Banyumas dibekukan.

    “Jika dalam perjalanan di kemudian HTI melakukan Aktivitas di luar sekretariat mereka, bisa dihentikan secara paksa. Apabila mereka ngotot, kami semua ormas akan turun tangan dengan didampingi oleh aparat dan struktur pemerintahan terkait.” tegas Hardiman (ageng.selo)

    Source: satuislam.org
  • Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

    Admin: Duta Islam → Kamis, 26 November 2015
    KH. Maimun Zubair
    DutaIslam.Com - Berikut ini adalah nasihat bijak kepada guru dari KH. Maimun Zubair yang bisa Anda renungkan dan juga bisa disebarkan kepada para guru sebagai pengingat sekaligus menata niat ketika mengajar kepada para murid:
    “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus penerus agar muridnya mendapat hidayah.”

    Selain yang telah dipesankan oleh Kiai Maimoen di atas, pesan bijak berikut juga patut direnungkan untuk para guru:

    “Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

    Selamat berjuang wahai para pahlawan ilmu. Semoga dari tanganmu akan lahir generasi tangguh, berilmu dan berakhlak. Aamiin. [dutaislam.com/ ed]

  • Gus Maksum Pagar Nusa, Pendekar Tiada Tanding yang Penuh Karomah

    Admin: Duta Islam →
    Foto Gus Maksum
    DutaIslam.Com - KH Maksum Djauhari alias Gus Maksum adalah salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Kediri ini tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (Pagarnya NU dan Bangsa). Gus Maksum yang juga cucu pendiri Ponpes Lirboyo Kediri, KH Abdul Karim ini, adalah pendiri Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa.

    Pria kelahiran Kanigoro, Kediri 8 Agustus 1944 lalu  sejak kecil telah memiliki kelebihan dan karomah, diantaranya mampu melompat melayang dari satu tiang ke tiang yang lainnya di Masjid Kanigoro. Dia juga mampu berputar cepat di atas piring tanpa pecah laksana gangsing, padahal waktu itu dia belum mahir ilmu silat.

    Sejak kecil Gus Maksum sudah gemar lelaku batin dan belajar pencak silat sehingga ketika beranjak dewasa dia lalu melanglang buana ke beberapa daerah di pulau Jawa untuk berguru ilmu silat dan kanuragan. Selain menguasai banyak aliran silat dengan sempurna, dia juga memiliki banyak kemampuan linuwih lainnya. Sehingga namanya identik dengan dunia persilatan, tenaga dalam, dan pengobatan.

    Konon, Gus Maksum juga pernah melempar seekor kuda seperti melempar sandal, padahal waktu itu bobot angkatan beliau tidak lebih dari 20 kilogram. Kisahnya terjadi saat Gus Maksum masih remaja, saat itu dia membantu salah seorang familinya untuk memasang sapi bajakannya. Ketika hendak memasang tiba-tiba sapi itu mengamuk dan dengan cepat dan kuat menerjang kearah dada Gus Maksum.Dengan refleks dia menangkis sehingga apa yang terjadi membuat semua orang yang melihatnya heran karena sapi itu terpelanting beberapa meter jauhnya.

    Saat kecil, dia belajar agama pada orangtuanya, KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Masuk SD Kanigoro (1957), lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya banyak diisi dengan pengajian-pengajian di Pesantren Lirboyo. Namanya juga sempat terdengar ke seluruh pelosok daerah ketika menjabat Komando Penumpasan PKI dan antek-anteknya di wilayah Kediri dan sekitarnya.

    Salah satu kisah yang menunjukan karomah Gus Maksum adalah ketika bentrok dengan orang-orang PKI di alun-alun Kediri. Gus Maksum yang waktu itu sangat muda usianya mampu mengalahkan belasan orang-orang PKI sendirian. Setiap bacokan dan tebasan senjata tidak pernah bisa mengenai tubuh dia. Bahkan senjata lawan selalu berhenti jarak satu kilan dari tubuhnya. Kalaupun ada yang sampai mengenai tubuh dia, senjata-senjata itu tak ada satupun yang melukainya.

    Dalam pertarungan itu, Gus Maksum bukan hanya menggunakan olah kanuragan tapi juga dengan olah batinnya. Gus Maksum juga dikenal dengan penampilan nyentriknya karena berambut gondrong, jenggot dan kumis panjang. (Baca: Inilah Para Penggila Nabi Muhammad Saw)

    Dia juga bersarung setinggi lutut, memakai bakiyak, berpakaian seadanya, dan tidak makan nasi. Sikapnya tegas. Karena itulah namanya banyak digandrungi anak-anak muda NU. Penampilan Gus Maksum dengan rambut gondrongnya bukan sekedar gaya atau hobi semata. Tetapi rambut gondrongnya itu merupakan sebuah ijazah yang didapat dari gurunya yaitu Habib Baharun Mrican Kediri, hasil dari pengamalan itu sering terjadi keanehan-keanehan terkait dengan rambutnya.

    Di antaranya rambut Gus Maksum bisa berdiri, bisa mengeluarkan api, serta tidak mempan dipotong. Bukti daripada itu adalah, pada dekade 1970-an dia pernah terjaring razia rambut panjang. Namun terjadi keanehan, setiap kali aparat menggunting rambutnya, rambut itu tidak terpotong. Bahkan setiap gunting yang tajam beradu dengan rambut beliau selalu mengeluarkan percikan api.

    Menanggapi kejadian tersebut dalam berbagai kesempatan Gus Maksum hanya berkata semua hanyalah kebetulan saja dan berkat pertolongan Allah SWT. Sebelum mendirikan Pagar Nusa, kelebihan dan karomah Gus Maksum muda teruji ketika diundang menghadiri pertandingan silat di Kediri Timur. Saat itu, dia bertarung melawan pendekar silat dari berbagai macam aliran silat yang sudah berkumpul di situ.

    Karena telah memiliki bekal dan kemampuan yang terlatih sejak kecil Gus Maksum mampu mengalahkan puluhan pesilat sendirian. Bahkan lawan terakhir berhasil dikalahkan dengan sangat mudah. Peristiwa ini terjadi saat dia berusia 16 Tahun.

    Gus Maksum juga terkenal dengan kemampuan olah batinnya. Mampu mengalahkan jin. Salah satu raja jin yang berdiam di tubuh salah seorang yang kesurupan. Raja jin tersebut bernama Jin Dempul. Orang kesurupan tersebut berhasil disembuhkan Gus Maksum setelah Jin Dempul yang bersemayam di dalam tubuh orang itu berhasil ditaklukkan.

    Gus Maksum pernah kedatangan tamu dari Semarang yang mengeluhkan kelakuan putranya yang suka mabuk-mabukan dan sering pergi ke lokalisasi. Bahkan putranya sering mengancam akan membunuh orang tuanya. Karena sudah tak tahan melihat kelakuan putranya itu, dia pergi ke rumah Gus Maksum di Kediri, dengan harapan mendapat obat untuk mengobati prilaku anaknya. Tapi yang diharapkan tidak dipenuhi Gus Maksum, dia hanya membuatkan sepucuk surat untuk dibawa pulang agar dibacakan kepada anaknya.

    Walaupun orang tua itu bingung karena obat yang diharapkannya tidak diberi, dia tetap melakukan apa yang diperintahkan Gus Maksum dengan menyampaikan surat itu kepada anaknya. Dan, begitulah, setelah surat itu dibacakan kepada anaknya, dalam waktu singkat kelakuan anaknya yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan perlahan berubah. Singkatnya kelakuan anak itu tidak lagi nakal seperti dulu.

    Kelebihan lainnya dari Gus Maksum adalah saat NU masih menjadi partai sering bentrok dengan massa LDII yang dulu bernama Darul Hadits. Waktu itu termasuk underbow dari Golkar.

    Suatu ketika, massa LDII/Golkar berkonvoi melewati jalan depan Pesantren Lirboyo. Saat itu Gus Maksum sedang menerima tamu. Ketika arak-arakan itu sampai depan ndalem Gus Maksum, beliau langsung keluar karena mendengar bising suara knalpot dan klakson kendaraan yang memekakan telinga. Melihat gelagat yang kurang baik ini secara reflek Gus Maksum mengacungkan jari telunjuknya ke arah mereka.

    Keajaiban pun terjadi. Dengan serta merta seluruh ban kendaraan yang mereka tumpangi bocor secara serentak. Karena bannya bocor rombongan konvoi itu tidak bisa melanjutkan arak-arakan. Akhirnya terpaksa mereka pulang dengan mendorong kendaraannya masing-masing.

    Kelebihan ini juga terbukti ketika dia diundang pengajian di daerah Sragen Jawa Tengah pada 1999.
    Waktu itu tanpa ada sebab yang jelas, tiba-tiba ada orang yang menikamnya. Untungnya Gus Maksum tidak terluka sedikitpun, hanya pakaian yang dipakai robek kena tikaman. Lalu pakaian itupun beliau simpan karena pemberian dari salah seorang sahabatnya.

    Gus Maksum juga disebut sebut kebal terhadap santet. Sudah tidak terhitung banyaknya dukun santet yang pernah dihadapi. Sejak kecil Gus Maksum sudah terbiasa menghadapi berbagai macam-macam aliran ilmu santet. Beliau juga tidak segan-segan untuk menantang para dukun santet secara terang-terangan. Hal itu dilakukan karena santet menurut Gus Maksum termasuk kemungkaran yang harus dilawan. Kekebalan Gus Maksum terhadap santet juga sudah pembawaan sejak lahir, karena dia masih keturunan Kiai Hasan Besari (Ponorogo).

    Menurut Gus Maksum, sebagai muslim tidak perlu khawatir terhadap santet,karena santet hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kufur atau murtad. Yang penting seorang muslim haruslah selalu ingat kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya.

    Diantara pengalaman Gus Maksum mengenai santet adalah ketika menginap di Desa Wilayu, Genteng, Banyuwangi, sekitar jam setengah dua malam, saat hendak istirahat, tiba-tiba dari arah kegelapan muncul bola api sebesar telur terbang menuju ke arah pahanya. Dengan santai Gus Maksum membiarkan bola api itu mendekatinya. Ketika bola api itu sampai ke paha, dia cuma tanya. ”Banyol tha (mau bercanda ya?)." Seketika itu juga bola api itu melesat pergi d itengah kegelapan malam.

    Satu lagi kejadian yang pernah dialaminya, ketika bermalam di Desa Kraton, Ranggeh saat Gus Maksum beristirahat, dia didatangi kera jadi-jadian yang berusaha mencekiknya. Tapi usaha itu dibiarkannya saja, setelah beberapa lama baru ditanya Gus Maksum. “Mau main-main ya," langsung saja kera itu lari menghindar dari Gus Maksum.

    Sebagai pentolan utama NU, Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik NU, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan bergabung dengan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium.

    Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. [dutaislam.com/ ed]

  • ISIS Buatan Amerika Tapi Anggotanya Muslim

    Admin: Duta Islam → Senin, 23 November 2015
    Dua jari Hillary Clinton
    Oleh Dina Yoelianti Sulaeman

    DutaIslam.Com - ISIS buatan Amerika? Ya, ISIS adalah “keturunan” Al Qaida, dan mantan Menlu AS Hillary Clinton sudah mengakui Amerika-lah dulu mendanai berdirinya Al Qaida (pengakuan sudah ada video yang banyak disahre di Yete). (Baca: Keberadaan ISIS Mengancam NKRI. Harus Dilawan)

    Untuk yang kurang paham Bahasa Inggris, ini terjemahan kata-kata Hillary: "Ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan, kita memiliki ide brilian, kita datang ke Pakistan dan membentuk mujahidin untuk memerangi Soviet. Dan kita sukses, Soviet pergi dari Afghanistan, dan kita berkata "Selamat Tinggal", kita tinggalkan orang-orang fanatik di Afghanistan dan Pakistan, dengan persenjataan lengkap, dan menciptakan kekacauan yang saat itu tidak kita prediksikan. Kita terlalu senang Soviet bisa dikalahkan. Jadi orang-orang yang kita perangi hari ini adalah mereka yang kita support dulu."

    Pertanyaan besarnya, yang jadi anggota Al Qaida dan ISIS itu siapa? Muslim atau bukan? Mungkin saja pentolannya bukan muslim (ini belum terbukti, masih "katanya"). Tapi yang mati bunuh diri dengan bom, jelas muslim, yang berkeyakinan akan mati syahid. Yang berbondong-bondong jihad ke Suriah (termasuk orang Indonesia) pun adalah muslim.

    Lalu bagaimana bisa kita bilang "Jangan kaitkan ISIS dengan Islam"? Justru di sini titik krusialnya. Anggota ISIS itu muslim, tapi memiliki ideologi yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Ideologi ini bernama wahabisme. Wahabisme sangat mudah menjatuhkan vonis kafir pada orang lain, sesama Muslim (apalagi yang jelas non muslim).

    Sangat mungkin ideologi ini menyebar di tengah kita tanpa nama, atau dengan berbagai nama lain. Tapi ciri-cirinya jelas, yakni mudah mengafirkan orang lain, menumpuk kebencian kepada orang kafir, dan menganggap pembunuhan terhadap orang kafir sebagai jihad.

    Lalu melawannya bagaimana? Mulai dari diri sendiri. Stop mengkafir-kafirkan orang lain. Jangan menyebar fitnah dan hasutan. Anda mungkin baik hati dan tidak akan membunuh siapapun. Tapi, jangan kira kebencian yang Anda sebarkan itu tidak memunculkan efek pada anak-anak muda yang labil, yang kemudian dibutakan oleh kebencian dan melakukan aksi-aksi nekad atas nama Islam.

    Puluhan ribu muslimin dari 80-an negara sudah berdatangan untuk jihad ke Suriah, sebagai hasil kebencian yang disebarluaskan melalui internet. Bayangkan kalau target mereka berikutnya adalah jihad di Indonesia.

    Mudah-mudahan kali ini jelas. Sungguh tak mudah menjelaskan konflik Timteng dalam kalimat yang singkat. [dutaislam.com/ ab]
  • ISIS Akan Serang Indonesia? Kapan?

    Admin: Duta Islam → Minggu, 22 November 2015

    DutaIslam.Com - Kelompok afiliasi peretas, Anonymous, OpParisIntel, baru-baru ini menemukan rencana penyerangan ISIS ke Indonesia. Dalam rencana itu, terungkap ISIS juga akan menyerang beberapa negara lain, yaitu Prancis, Amerika Serikat, Italia, dan Lebanon.

    Penyerangan itu kabarnya akan dimulai pada hari ini, Minggu, 22 November 2015. Pada serangannya ke Indonesia, ISIS berencana menyerang komunitas Al-Jihad dan One Day One Juz. (Baca: Panglima ISIS Indonesia Bentuk Pusat Ruqyah)

    Menurut sebuah komunitas di Reddit, Al-Jihad adalah sebuah masjid di Karawang, Jawa Barat. Sedangkan, One Day One Juz adalah komunitas pengajian online yang menyemangati anggotanya untuk membaca Quran.

    Dilansir dari IBTimes, selain Indonesia, lokasi lain yang menjadi target serangan ISIS adalah acara konser di Italia, perayaan Kristus Raja di gereja-gereja Katolik seluruh dunia yang tahun ini jatuh pada 22 November.

    Sementara di Lebanon, ISIS berencana menyerang Universitas Pastoral. Dan di Amerika Serikat mereka menargetkan sebuah acara olahraga gulat di Atlanta. "Tujuan kami beberkan rencana ISIS agar semua orang bersiap dan siaga, agar mereka membatalkan rencana," tulis peretas Anonymous.

    Anonymous dan kelompok siber yang dimiliki ISIS telah melakukan perang dunia maya semenjak kelompok teroris tersebut menyerang Paris pada 13 November 2015 lalu. Grup peretas mengatakan mereka telah berhasil membekukan 5.000 akun Twitter milik ISIS.

    Semenjak insiden majalah Charlie Hebdo pada Januari 2015, 'perang' serupa juga berlangsung. Anonymous mengklaim berhasil menutup 149 website, 101.000 akun Twitter dan mengapus 5.900 video propaganda milik ISIS. [dutaislam.com/ ab]

  • Apakah Maulid Nabi Muhammad Menyerupai Orang Kafir?

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Wahabi mengharamkan maulid Nabi Muhammad karena, salah satunya, menyebut tradisi maulid sebagai amalan bidah yang sesat. Maulid Nabi serupa dengan natal. Inilah dialog imajinernya, berdasarkan media wahabi yang ada.

    Wahabi: “Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah.”

    Tanggapan: Orang Nasrani dalam Natal tidak merayakan kelahiran Nabi melainkan merayakan kelahiran Tuhan. Sedangkan Maulid Nabi Muhammad untuk merayakan kelahiran Nabi. Apa kalian anggap merayakan kelahiran nabi dan kelahiran tuhan adalah dua hal yang sama? 

    Wahabi: keduanya sama-sama merayakan kelahiran.

    Tanggapan: Monyet punya mata, hidung, telinga. Syeikh Al-Bani juga punya mata, hidung, telinga. Apakah kalian akan bilang: "oooo Syekh Albani serupa dengan monyet?"

    ===============

    Larangan menyerupai orang kafir adalah menyerupai sesuatu yang menjadi ciri husus orang kafir. Jika sesuatu itu telah umum dilaksakan oleh umat Islam, maka tidak bisa disebut sebagai tasyabbuh bilkuffar (menyerupai dengan orang-orang kafir). Salah satu web wahabi almanhaj.or.id menukil jawaban Utsaimin ketika ditanya tentang apa standarnya sehingga sebuah tindakan disebut menyerupai orang-orang kafir.

    Jawabannya:
    Standar tasyabbuh (penyerupaan) adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang diserupainya. Menyerupai orang-orang kafir artinya, seorang Muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas mereka.

    Adapun jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai) sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut, kecuali jika hal itu haram bila dilihat dari sisi lain. Inilah yang kami maksud dengan relatifitas maksud kalimat.

    =================

    Penulis buku Al-Fath (pada juz 10 hal. 272) menyebutkan : "Sebagian salaf tidak menyukai pemakaian 'burnus' karena merupakan aksesories para pendeta. Imam Malik pernah ditanya mengenai hal ini, beliau mengatakan ; 'Tidak apa-apa', 'Lalu dikatakan, bahwa itu pakaian orang-orang nashrani', Beliau menjawab, 'Dulu itu dipakai disini'.

    Web lain milik wahabi muslim.or.id menukil fatwa ulama wahhabi Muhammad Umar Salim Bazmul. Pada point ke-enam tertulis "keenam: maksud menyerupai orang kafir yaitu menyerupai dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka. Apabila suatu perkara bukan menjadi suatu ciri khusus mereka, maka kita disyariatkan untuk menyelisihi sifatnya saja".

    Maulid Nabi Muhammad dan Natal
    Kesamaan antara maulid dan natal hanya satu yaitu keduanya sama-sama memperingati hari kelahiran. Merayakan hari kelahiran bukan ciri khusus orang kristen. Sebab Nabi Muhammad SAW juga merayakan hari kelahiran Beliau. Maka Maulid Nabi tidak bisa disebut menyerupai orang kafir.
    Meskipun maulid nabi dan natal sama-sama merayakan hari lahir, namun sifat keduanya berbeda. Dalam peringatan maulid nabi dibacakan al-Quran, sholawat dan kisah nabi. Sedangkan dalam natal tidak.

    Di samping itu, maulid nabi telah umum dilaksanakan oleh umat Islam, maka kata Utsaimin jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai) sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut.

    Jadi Peringatan Maulid Nabi Muhammad tidak menyerupai Natal. Analognya: moyet punya mata, hidung, telinga. Syeikh Al-Bani juga punya mata, hidung, telinga. Apakah kalian akan bilang: O, Syekh Albani serupa dengan monyet? [dutaislam.com/ ab]

  • Pendusta Itu Bernama Nasiruddin Al-Albani

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 21 November 2015
    Tradisi dusta wahabi dan para pengikutnya memang sudah mendarah daging. Dan diantara kebohongan mereka tercermin pada sosok Nasirrudin al-Albani, Pendusta Akbar, yang mereka sebut ulama ahli hadist.
    1. Ketika menyampaikan hadist tentang firasat orang yang beriman (wali, orang shaleh), al-Albani berusaha membohongi umat Islam salah satunya disebut dalam bukunya, "As-silsilah Adl-dlaifah" Jilid 4 hlm: 302. Dalam buku tersebut, Albani menyalahkan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Hafizh as-Suyuti, Imam al-Munawi, Abu Fadhal al-Ghimari dan al-Qal'aji. Mereka semua menshahihkan hadist tentang firasat org beriman, wali, orang-orang shalih. Tapi Albani justru mendha'ifkan hadist-hadits tersebut dengan alasan bahwa dalam hadits ada perowi bernama Abdullah ibnu Shalih. Albani menyebut kalau Abdullah ibnu Shalih adalah orang yang memiliki banyak kesalahan dan pelupa. Namun dalam suatu kitabnya yang lain, Albani justru mengatakan Abdullah ibnu Shalih sebagai seorang perawi yang dapat di percaya dan semua hadist yang diriwayatkannya baik.
    2. Dalam bukunya juga "As-Silsilah Ash-Shahihah" Jilid 3 halaman 481, Albani mengatakan Perawi bernama Qanan ibnu Abdullah aN-Nahmi dapat dipercaya/ tsiqah. Tapi dalam kitabnya "As-Silsilah Ash-Shahihah" jlid 4 halaman 282, Albani berbalik menyebut Qanan ibnu Abdullah aN-Nahmi adalah orang yang lemah atau dhaif.
    3. Nasiruddin Albani
    4. Dalam karangan lain, "Irwa al-Ghalil" Jilid 3 halaman 242, Albani juga linglung menempatkan status perowi hadits, dia berkata perowi Maja'ah Az-Zubair adalah orang yang lemah. Namun dalam "As-Silsilah Ash-Shahihah"-nya ia mengatakan orang yang dapat dipercaya.

    Ini sudah jadi bukti kacaunya pemikiran Albani. Kelihatan kebodohannya dalam menyembunyikan kebohongan-kebohongan hadits. Dia hanya mengucap berdasarkan hawa nafsu. Kelihatan daya serap dan daya hafalnya lemah. Tidak layak diikuti. 

    Jaga anak, cucu, keluarga kita jangan sampai terjangkit dari faham sekte wahabi!
  • KH Ma'ruf Irsyad Rela Sowan Untuk Tamunya

    Admin: Duta Islam →
    Suatu hari, guru kita KH. Ma'ruf Irsyad (Allah Yarhamhu), disowani (didatangi) seseorang, untuk keperluan menanyakan perihal hukum. Kepada Kyai Ma'ruf, sang tamu menjelaskan pertanyaannya, begini dan begitu.

    "Jenengan tunggu di sini, saya tanyakan dulu kepada kyai yang lebih alim dalam masalah ini," kata kyai Ma'ruf.

    KH. Ma'ruf Irsyad Kudus
    Kyai Ma'ruf kemudian mengambil sepeda unta miliknya, yang bisa beliau gunakan mengajar di Madrasah TBS Kudus dan Qudsiyah. Dikayuhnya sepeda butut tersebut ke arah Utara. Ternyata, beliau pergi ke ndalem (rumah) KH. Arifin Fanani, Kwanaran, kyai pakar ilmu fiqih di Kudus.

    Kyai Ma'ruf mengetuk pintu. Dibukalah pintu itu oleh KH Arifin sendiri. Kebetulan tidak sedang tindakan (bepergian). Kepada Kyai Arifin, Kyai Ma'ruf menjelaskan maksud kedatangannya; menanyakan perihal hukum yang termaksud. Mendengar itu, Kyai Arifin terkejut. Kepada Kyai Ma'ruf yang usianya lebih sepuh puluhan tahun, Kyai Arifin bertanya: 

    "Panjenengan kok dibela-belain datang ke sini, menaiki sepeda sendirian. Alangkah baik umpama cukup lewat telepon saja, yi," 

    "Ilmu itu didatangi, dan dia tidak (patut) mendatangi," kata Kyai Ma'ruf. 

    Source: Tub Ya Waladie
  • Klaim Logo NU untuk Annas, KH Athian Ali Ditegur

    Admin: Duta Islam →
    Acara Pengukuhan dan Pelatihan Pengurus Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS) yang akan digelar pada Ahad, 22 November 2015, di Aula KONI Gelanggang Olahraga Kota Bogor dirundung masalah. Sebab di dalam undangan tersebut mencantumkan logo organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU). Membaca berita tersebut, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat (PWNU-Jabar) H. Ki Agus Zaenal Mubarok langsung angkat bicara.

    “Saya melihat pada brosur yang beredar di media online itu tercantum logo Nahdlatul Ulama tanpa menyertakan nama daerah tertentu. Ini bisa menjadi masalah karena dengan begitu muncul seakan-akan itu organisasi NU secara nasional. Kedua, PCNU setempat (Kota Bogor-Red) juga tidak mengetahui apalagi terlibat dalam acara tersebut,” ujarnya kepada Katakini.com, Jumat 20/11/2015.

    Tokoh NU Jabar yang biasa dipanggil Pak Deden tersebut berpesan kepada panitia acara, terutama kepada KH. Athian Ali (Ketua ANNAS-Red) agar tidak mengklaim organisasi NU untuk kepentingan gerakannya. Apalagi gerakan itu tidak sejalan dengan PBNU.

    Pengajar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran itu memberi pandangan, untuk menjadi besar dan mendapat tempat di masyarakat NU dan Muhammadiyah itu tidak sebatas memakai acara gelar deklarasi dan penggalangan seperti acara politik melainkan tumbuh berkembang dari rahim pendidikan, sosial dan kultural. 

    “Besarnya NU selain karena para aktivisnya, para kiai-kiai itu mendidik masyarakat dari pesantren dan madrasah. Selain itu NU juga lekat dengan kegiatan sosial dan gerakan kultural. Dan lebih penting lagi Pak Kiai Athian Ali harus paham, NU besar karena sikap sabar, bukan karena sikap emosional apalagi memakai tindakan barbar seperti teror dan kekerasan."

    Deden menambahkan, Organisasi NU juga tidak besar karena sering publikasi di media apalagi hanya publikasi aliansi dengan deklarasi. Menurutnya, Bangsa Indonesia itu terwujud dan besar bukan karena acara proklamasi 17 Agustusnya, melainkan perjuangannya pemimpin dan rakyatnya dalam masa panjang melalui dan yang lebih penting lagi adalah kontribusi kepada bangsa dan negara. 

    “Itulah mengapa NU tetap menarik masyarakat karena NU dengan Islam Nusantara-nya lebih menekankan pentingnya Islam yang partisipatif ketimbang Islam yang aspiratif. Islam partisipatif itu memberi, sedangkan Islam aspiratif itu meminta atau menuntut. Apakah kita orang Islam itu kerjaannya hanya meminta dan menutut saja tanpa mau memberi?,” terangnya memberikan masukan kepada kelompok yang oleh Kiagus disebut sebagai kelompok Islam skriptual dan simplistis itu.

    Kepada kelompok KH.Athian Ali itu Kiagus berharap agar mereka segera melakukan klarifikasi secara terbuka. “Jika tidak, itu berarti memang ada kesengajaan untuk memanfaatkan NU. Dan itu akan menjadi masalah besar di masyarakat, ”pungkasnya. [Viv/Rahmat].

    - Source: http://www.katakini.com
  • Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan

    Admin: Duta Islam →
    Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil, dan petakwilan orang-orang yang bodoh."

    Di kalangan dunia penuntut ilmu di pondok-pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan masyhur di kalangan mereka karena sebagian besar sanad keilmuan para ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia dan Pathani) bersambung kepada ulama besar ini. Beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menentang faham Wahabi, sehingga ulama besar ini sangat dibenci dan amat dimusuhi oleh golongan wahabi. Maka, banyak fitnah yang ditaburkan terhadap beliau. Tujuannya tidak lain agar umat Islam yang tidak tahu yang sebenarnya, menjauh.

    Menurut riwayat, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lahir di Makkah pada 1232H /1816M. Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, ia lantas dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi'i, merangkap “Syeikhul Harom”, suatu pangkat ulama tertinggi saat itu yang mengajar di Masjidil Harom yang diangkat oleh Syeikhul Islam yang berkedudukan di Istanbul, Turki.

    Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Kholilurrohman al-Kironawi al-Hindi al-Utsmani ( lahir 1226H /1811M, riwayat lain lahir Jumadil Awwal 1233H /9 Maret 1818M, wafat malam Jum`at, 22 Ramadan 1308H /2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan beliau memperkenalkannya kepada pemerintah Makkah. Sehingga Syeikh Rahmatullah mendapat izin untuk membuka Madrasah Shoulatiyah.

    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan merupakan seorang Syeikhul Islam, Mufti Haromain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari keturunan yang mulia, ahlul bait Rosulullah Saw. Silsilah beliau bersambung kepada Sayyidina Hasan, cucu kesayangan Rasulullah SAW. Berdasarkan kitab Taajul-A`raas, Juz 2, halaman 702 karya al-Imam al-A`llaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib A`li bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja`far al-A`ththoos disebutkan urutan nasabnya  seperti berikut:
    1. Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi S.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad
    2. bin Zaini Dahlan
    3. bin Ahmad Dahlan
    4. bin ‘Utsman Dahlan
    5. bin Ni’matUllah
    6. bin ‘Abdur Rahman
    7. bin Muhammad
    8. bin ‘Abdullah
    9. bin ‘Utsman
    10. bin ‘Athoya
    11. bin Faaris
    12. bin Musthofa
    13. bin Muhammad
    14. bin Ahmad
    15. bin Zaini
    16. bin Qaadir
    17. bin ‘Abdul Wahhaab
    18. bin Muhammad
    19. bin ‘Abdur Razzaaq
    20. bin ‘Ali
    21. bin Ahmad
    22. bin Ahmad (Mutsanna)
    23. bin Muhammad
    24. bin Zakariyya
    25. bin Yahya
    26. bin Muhammad
    27. bin Abi ‘Abdillah
    28. bin al-Hasan
    29. bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya
    30. bin Abi Sholeh
    31. bin Musa
    32. bin Janki Dausat Haq
    33. bin Yahya az-Zaahid
    34. bin Muhammad
    35. bin Daud
    36. bin Muusa al-Juun
    37. bin ‘Abdullah al-Mahd
    38. bin al-Hasan al-Mutsanna
    39. bin al-Hasan as-Sibth
    40. bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul rodliyallahu ‘anhuma wa `anhum ajma`in.

    Murid-muridnya:
    Diantara murid-murid beliau yang terkenal ialah Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, pengarang “I’anathuth-Tholibin Syarh Fath al-Mu’in karya al-Malibary” yang masyhur, Sayyidil Quthub al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas, Sayyid Abdullah az-Zawawi Mufti Syafi`iyyah, Mekah. Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi telah mengarang kitab bernama “Nafahatur Rohman” yang merupakan manaqib atau biografi kebesaran gurunya Sayyid Ahmad.

    Adapun ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah:-
    1. Syeikh Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani (Jawa  Barat)
    2. Syeikh Abdul Hamid Kudus (Jawa Timur)
    3. Syeikh Muhammad Khalil al-Maduri (Jawa Timur)
    4. Syeikh Muhammad Saleh bin Umar, Darat (Semarang)
    5. Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi (Sumatra Barat)
    6. Syeikh Hasyim Asy’ari Jombang (Jawa Timur)
    7. Sayyid Utsman bin ‘aqil bin Yahya Betawi (DKI Jakarta)
    8. Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani (Jawa Barat)
    9. Tuan guru Kisa-i Minankabawi [atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Satu, putra beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Kedua, cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
    10. Syeikh Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi
    11. Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni
    12. Tuan Hussin Kedah (Malaysia)
    13. Syeikh Ahmad Yunus Lingga,
    14. Datuk Hj Ahmad (Ulama Brunei Dar as-Salam)
    15. Tok Wan Din, nama lengkapnya Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,
    16. Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni (Tok Bendang Daya II),
    17. Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,
    18. Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh `Abdul Qadir bin `Abdur Rahman bin `Utsman al-Fathoni
    19. Sayyid `Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh)
    20. Syeikh `Utsman Sarawak
    21. Syeikh Abdul Wahab Rokan

    Dan lain-lain.

    Para ulama banyak memberikan gelar kepada beliau antara lain sebagai al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syaikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi SAW wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi SAW. dan Bintang-bintang langitnya), Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin (Tumpuan para murid dan Pendidik para salik), dan lain-lain.

    Inilah orang yang difitnah dan dituduh oleh gembong-gembong wahabi sebagai tukang fitnah. Ketahuilah bahwa orang yang pertama kali memfitnah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah Rasyid Ridha murid Muhammad Abduh yang mengarang “Tafsir al-Manar” rujukan kaum Wahabi. Tujuan mereka memfitnah Sayyid Ahmad adalah untuk memusnahkan ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya, agar kebatilan mereka diterima. Sesungguhnya Sayyid Ahmad bersih dari tuduhan musuh-musuhnya tersebut, beliau adalah ulama yang tsiqat (yang bisa dipercaya).

    Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam “Nafahatur Rohman” antara lain menulis:- “Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan r.a. hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an (Qiroatus Sab`ah). Beliau juga hafal kitab “asy-Syaathibiyyah” dan “al-Jazariyyah”, dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiroah sab`ah. Karena cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qori untuk mengajar ilmu ini, beliau kawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajarkan terus.”

    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany kembali ke rahmatullah pada tahun 1304 H /1886 M setelah menghabiskan usianya di jalan Allah berkhidmat untuk agama-Nya. Beliau dimaqamkan di Madinah al-Munawwarah. Sangat amat besar jasa ulama ini dalam mempertahankan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah sehingga beliau dijadikan tempat gembong-gembong wahabi ahlul bughoh melepas geram dengan berbagai fitnah dan cacian.

    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang ulama yang produktif. Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan karangan yang sangat banyak, diantaranya adalah:
    1. Al-Futuhatul Islamiyyah;
    2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;
    3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;
    4. Al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;
    5. Ad-Durarus Saniyyah fi raddi ‘alal Wahhabiyyah;
    6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;
    7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul ‘Abidin;
    8. Hasyiah Matan Samarqandi;
    9. Risalah al-Isti`araat;
    10. Risalah I’raab Ja-a Zaidun;
    11. Risalah al-Bayyinaat;
    12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;
    13. Shirathun Nabawiyyah;
    14. Syarah Ajrumiyyah;
    15. Fathul Jawad al-Mannan;
    16. Al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;
    17. Manhalul ‘Athsyaan; dll.

    ad-Durarus Saniyyah fir raddi alal Wahhabiyyah” (Mutiara-mutiara yang amat berharga untuk menolak faham Wahhabi). Inilah diantara kitab karangan Panutan kita Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasany. Kitab inilah yang menyebabkan gerombolan wahabi marah dan murka dengan Sayyid Ahmad. Diantara isi kitab ini ialah penjelasan mengenai hukum ziarah ke maqbaroh Nabi Muhammad SAW, hukum tawassul, hukum istighotsah, hukum tabarruk (ngalap berkah), kesesatan wahabi, penolakan ulama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab dan sejarah muncul dan perlakuan Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya.

    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: "Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitu juga dengan al-Syaikh Sulaiman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulaiman, keduanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Keduanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad. [ tuqilan Sayyid Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hlm. 357].

    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
    Dalam keterangan beliau yang lain dikatakan bahwa bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulaiman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam diri Muhammad yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap banyak persoalan agama. [Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hlm. 357].

    Dari Kitab ad-Durarus Saniyyah fir raddi alal Wahhabiyyah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’i menulis: "Diantara sifat-sifat wahabi yang tercela ialah kebusukan dan kekejiannya dalam melarang orang berziarah ke makam dan membaca sholawat atas Nabi SAW, bahkan dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) sampai menyakiti orang yang hanya sekedar mendengarkan bacaan sholawat dan yang membacanya di malam Jum’at serta yang mengeraskan bacaannya di atas menara-menara dengan siksaan yang amat pedih.

    Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia, setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:
    Perempuan-perempuan yang berzina di rumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara-menara dengan membaca shalawat atas Nabi. Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid (kayaknya orang ini maniak atau menderita sindrom tertentu -red). Maka betapa kejinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya ( mirip revolusi komunisme -red)."

    Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalailul Khairat (Kitab ini yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet/Rusia, namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab itu -red.) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membacanya ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.

    Muhammad bin Abdul Wahhab juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tersebut, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi biadab dan masing-masing menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuil-pun dari ayat Al Qur’an yang dihafalnya. 

    Lalu ada seseorang dari mereka berkata kepada seseorang: “Bacalah ayat Al Qur’an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintahkan kepada mereka untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya di atas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.

    Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlussunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan di lain waktu dia mengatakan bahwa syari’at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan empat madzhab. Ini adalah kitab Allah dan sunnah Rasul, kami tidak akan beramal kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hambaliyyah dan lainnya dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.

    Dan, dialah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah SAW atas dasar memelihara kemurnian tauhid. Dia mengatakan bahwa Nabi SAW itu tak ubahnya :”Thorisy”. Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi SAW itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti “Thorisy” yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling (atau tak ubahnya seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur’an sebagian dan sebagian dia tinggalkan).

    Diantara cara dia mengurangi ke-agungan Rasulullah SAW, ia pernah mengatakan : “AKU MELIHAT KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH, MAKA AKU DAPATI SEMESTINYA BEGINI DAN BEGINI”, dengan maksud menghina dan mendustakan Nabi SAW (seolah-olah mereka tahu waktu Nabi SAW membuat perjanjian itu –pen.) dan seterusnya masih banyak lagi nada-nada yang serupa yang dia ucapkan, sehingga para pengikutnya pun melakukan seperti apa yang dilakukannya dan berkata seperti apa yang diucapkannya itu. 

    Sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata :
    “SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA’ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU”.

    Sebagian ulama’ yang menyusun buku guna menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah “KUFUR” menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.

    Peringatan
    Berhati-hatilah dengan fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang Wahabi kepada al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Mereka menuduh al-`Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sebagai tukang buat fitnah, rafidhi dan lain-lain lagi. Na’udzubillah. Apa yang mereka lakukan merupakan jarum halus musuh untuk menghancurkan kebenaran. Tujuan mereka menghembuskan fitnah atas Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany adalah semata-mata untuk meruntuhkan sanad keilmuan dan pengetahuan para ulama kita bahkan ulama seluruh dunia, agar kebathilan mereka [Wahabi] diterima. 

    Apakah terbesit kita mengatakan para ulama kita seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, syeikh Hasyim Asy’ari, Syeikh Muhammad Kholil (Mbah Khalil), Sayyid Utsman bin Yahya, Syeikh Utsman Sarawak, Syeikh Abdul Wahab Rokan, Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni Syeikh Ahmad al-Fathoni, dan lain-lainnya itu berguru kepada seorang tukang fitnah?

    Ingatlah dan renungkan dalam hati sanubari kita, apa jasa Muhammad bin Abdul Wahhab dengan kita atau dengan nenek datuk kita dibandingkan dengan jasa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan para ulama Nusantara kita terdahulu.

    Katakan TIDAK kepada Wahabi.!!!!


  • Wahabi dan Sejarah Kekejaman

    Admin: Duta Islam →
    Betapa kejamnya mereka terhadap saudara muslim kami. Saya hanya mengingatkan kembali sebelum Anda mengikuti sebuah golongan dalam Islam yang banyak bermunculan akhir akhir ini. Ada baiknya Anda mengenal sejarahnya.

    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menceritakan bagaimana kejamnya faham Wahabi terhadap penduduk Thaif: “Ketika orang-orang wahabi masuk Thaif mereka benar-benar membunuh manusia secara sadis dan membantai orang tua, anak-anak kecil, rakyat dan gubernur, yang berpangkat, dan yang hina, bahkan mereka menyembelih bayi yang masih menyusu di hadapan ibunya. Mereka masuk ke rumah-rumah penduduk, mengeluarkan penghuni rumah dan membunuhnya.
    "Kemudian mereka mendapatkan sekelompok orang yang sedang belajar al-Qur’an maka mereka membunuh seluruhnya dan bahkan mereka menyelinap setiap kedai dan masjid untuk membunuh setiap orang yang berada di dalamnya.

    "Mereka juga membunuh seorang laki-laki yang sedang rukuk atau sujud di dalam masjid sehingga mereka semua binasa. Semoga adzab penguasa langit menimpa mereka.” 

    Kemudian beliau mengatakan:
    “Kemudian mereka juga merampok harta, barang dagangan, perkakas rumah dan lain-lainnya, kemudian mereka kumpulkan hingga barang-barang yang mereka rampas terlihat menggunung di perkemahan mereka. Semuanya mereka kumpulkan kecuali kitab. Mereka biarkan kitab-kitab tersebut berserakan di jalanan, lorong-lorong jalan dan pasar-pasar. Kitab-kitab tersebut diterbangkan angin. Padahal diantara kitab-kitab tersebut ada mushaf-mushaf dan ribuan kitab-kitab dari naskah al Bukhari, Muslim dan kitab-kitab hadits, fiqih, nahwu dan lainnya dari semua disiplin keilmuan. Selama berhari-hari kitab-kitab tersebut berserakan terinjak-injak oleh kaki mereka dan tak seorangpun yang mampu mengangkat satu kertaspun darinya."

    Inilah pernyataan yang di kutip dari perkataan Syeikh Zaini Dahlan yang membongkar kejahatan yang diperbuat oleh tangan-tangan Wahabi ketika itu.

    Biografi Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Rahimahullah bisa anda lihat di sini:

  • Mbah Sahal Bilang "Aku Moh Nganggo Duite NU"

    Admin: Duta Islam →
    KH. Ahmad Sahal Mahfudz (Alm.)
    DutaIslam.Com - Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP. Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra'is Amm PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yang lebih.

    Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yang ditempati Kyai Sahal, beliau bilang: "Ndak usah, aku jek duwe duet dewe," (Tidak, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir. 

    Panitia pun masih merayu Kyai sahal agar mau dibayari oleh panitia. Mbah Kyai Sahal tetap bilang "Ndak usah" sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya.

    Setelah itu panitia masih berkata, "Mana bon-nya yai, biar kami ganti." 

    Mbah Sahal dawuh, "Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU." (Tidak, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU).


    Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra'is Amm seperti mbah sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. [dutaislam.com/ ab]

  • Dusta Wahabi Kepada Imam Hanafi

    Admin: Duta Islam →
    Wahabi menyandarkan aqidah sesatnya pada perkataan Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam syarah Fiqh Al-Akbar hlm. 197-198 (Pensyarah: Mula Ali Al-Qori). Berikut perkataannya:

    Diriwayatkan dari Abi Muthi’ Al Balkhi, sesungguhnya ia bertanya pada Imam Abu Hanifah RA tentang orang yang berkata:

    "Aku tidak mengetahui apakah Tuhanku di langit atau di bumi? Maka beliau menjawab: Orang tersebut telah Kafir karena Allah SWT berfirman "Allah yang Maha Rohman Istawa di atas 'Arsy (QS. At-Thaha). Dan, Arasnya di atas tujuh langit-Nya. Bagaimana kalau ia bertanya: Allah di atas Arsy-Nya tapi aku tidak tahu apakah 'Arsy-Nya di langit atau di bumi? Maka Beliau menjawab lagi: Orang itu telah kafir karena ia ingkar akan adanya Allah di langit, sebab Allah di atas illiyiin." (Abu Hanifah).

    PENJELASAN:

    Riwayat ini dusta dan batil dan seolah menyatakan haqiqat Dzat Allah di atas langit, dan ini dibuat- buat atas nama Imam Abu Hanifah.

    A L A S A N:
    1. Riwayat tersebut tidak ada dalam matan Fiqhul Akbar (karya Abu Hanifah), tetapi termasuk dalam masalah yang dicantumkan oleh pensyarah kitab tersebut, yaitu Mula Ali Al-Qori.
    2. Dan perawinya yaitu Abu Muthi’ Al-Balkhi sebagaimana dikatakan dlaif oleh Ibnu Abi Al Izzi bin Abdissalam di dalam syarah At-Thohawi Juz 2 halaman 480 menukil perkataan dari Ibnu Katsir sebagai berikut: "Adapun Abu Muthi yaitu Al-Hakam bin Abdillah bin Maslamah Al-Balkhi telah didloifkan oleh Imam Ahmad bin Hambal". Yahya bin Ma’in berkata: "Tidak ada apa-apanya orang itu." Al Bukhori berkata: "Dia dhoif dengan pemikirannya, juga didoifkan oleh Hatim Ar-Razin, Muhamad bin Hiban, Ibnu Adi dan Daruqutni, juga oleh yang lainnya."

    Syekh Musthofa Abu Saif Al-Hamami menulis dalam kitabnya (Ghautsul Ibad Bibayanir Rosyad, hlm. 341-342):
    1. Riwayat ini tidak ada dalam Kitab Fiqhul Akbar Imam Abu Hanifah, tetapi hanya dinukil oleh penukilnya dengan mengatasnamakan Abu Hanifah dengan menyandarkan pada kitab beliau Fiqhul Akbar, dan itu kebohongan dan bid’ah aqidah.
    2. Perowinya dicela karena pemalsu qaul ulama'. Maka tidak halal bersandar dengan riwayatnya dalam hukum furu', apalagi hukum usul. Mengambil riwayatnya adalah hiyanat.
    3. Perowi ini telah divonis berdusta atas nama Abu Hanifah RA oleh Imam Izuddin Abdussalam, seorang ulama yang tsiqoh (kredibel).

    Syaikh Imam Izzuddin bin Abdussalam dalam Kitab Hillur Rumuz seperti dinukilkan oleh Imam Ali Qori dalam syarahnya Fiqhul Akbar hlm. 271, berkata: 

    “Bahwa orang yang berkata ‘saya tidak tahu apakah Tuhan di langit atau dibumi dihukumi kafir’, karena ucapan tersebut memberi prasangka bahwa Allah SWT bertempat dan berarah. Barang siapa berfikiran seperti itu, maka ia adalah musyabbih (yang menyerupakan Allah dengan Mahkluk)." []

    Ini teks yang diselewengkan wahabi dari Abu Hanifah
    Sudah dijelaskan Syaikhul Izzi bin Abdissalam
  • Ketika Habib Baharun Diajak Memancing

    Admin: Duta Islam →
    Di pertengahan keheningan malam, Ustadz Segaf Baharun dibangunkan oleh ayahanda beliau Habib Hasan Bin Ahmad Baharun.

    “Segaf, ikut Abi, kita jalan-jalan,”
    “Pertengahan malam ini kita jalan-jalan? Ngapain?”
    “Kita mancing, ayo ikut aja Abi,”
    “Mancing? Mancing apa tengah malam?”
    “Kita mancing uang!!”

    Ustadz Segaf Baharun bangkit dari ranjang menaati perintah, namun mimik wajah heran. Ustadz Segaf Baharun menemani ayahanda. Beliau jalan-jalan di tengah malam gelap menuju Pasar Bangil. Di pasar Bangil nampak jelas sejauh mata memandang di samping setiap beberapa bangunan, ada para fakir miskin tertidur, tukang becak lelap pulas dalam posisi duduk dan pemulung dengan karung-karung bawaannya. 

    Habib Hasan Baharun mengeluarkan lembaran-lembaran uang lima ribuan yang keseluruhannya berjumlah Rp. 200.000. Masing-masing lembaran lima ribuan diselipkan di saku para fakir miskin, tukang becak, pemulung, yang terlelap pulas di setiap sudut pasar itu. Namun ternyata uang yang dibagikan belum habis. Beliau masih mencari mereka yang tidur pulas di Pasar Bangil hingga uang Rp. 200.000 seluruhnya dibagikan. Tentunya lembaran lima ribuan nilai yang sangat besar ketika itu.

    Keesokan harinya, Habib Hasan Baharun memberikan kabar gembira kepada Ustad Segaf Baharun. Beliau menceritakan hasil “mancing uang” di Pasar Bangil semalam. Ternyata hari itu uang Rp. 200.000 digantikan Allah dengan rezeki dari berbagai penjuru. Jumlah keseluruhannya tidak kurang dari Rp. 20.000.000 yang keseluruhannya sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan pesantren dan para santri. 

    Acara “mancing uang” Habib Hasan Baharun tentunya adalah ketulusan beliau untuk peduli pada mereka yang membutuhkan dan keteguhan keyakinan beliau pada Ayat Allah:

    مثل الذين ينفق أموالهم فى سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل فى كل سنبلة مائة حبة, و الله يضاعف لمن يشاء و الله واسع علي


    Habib Hasan bin Ahmad Baharun, Bangil
  • Saya Harus Membunuh Gus Dur

    Admin: Duta Islam → Jumat, 20 November 2015

    DutaIslam.Com - Urusan penistaan dan penodaan agama selalu muncul dan berulang dari zaman ke zaman. Salah satu yang cukup menghebohkan era 90-an adalah ketika Tabloid Monitor yang dipimpin oleh Aswendo Atmowiloto menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan ke-11 sebagai tokoh yang dikagumi publik, kalah populer dengan artis-artis seronok asal Hollywood.

    Umat Islam merasa terhina dan sejumlah organisasi pemuda turun ke lapangan dan mengobrak-abrik kantor tabloid tersebut. Diantara yang ikut dalam rombongan pendemo tersebut seorang remaja tanggung usia SMP asal Priok, Abi, yang memiliki semangat besar membela Islam.

    Bukan hanya di jalanan, Abi juga mengikuti berbagai pertemuan dan diskusi yang digelar membahas kasus tersebut. Semuanya dilakukan atas nama membela martabat Islam. Salah satu yang dihadiri adalah kajian Paramadina di hotel Kartika Chandra Jakarta. Abi menyaksikan perdebatan sengit antara Nurcholis Madjid dan Djalaluddin Rahmat dengan peserta bernama Hasan Dalil, yang dengan berapi-api menggugat sikap kedua tokoh tersebut yang dianggapnya membela Wendo. (Doa Ibu Lebih Mulia dari Wali Besar Mana Pun)

    Hasan Dalil memanaskan situasi dengan berkali-kali meneriakkan kalimat takbir. Abi pun merasa terprovokasi dan semakin gemas ingin menyeret Aswendo. Informasi lain, Abi juga mendengarkan selentingan dari kiri dan kanan bahwa Gus Dur di majalah Tempo menuliskan pandangannya dan pembelaannya atas apa yang dilakukan Aswendo, sebuah pemikiran yang tidak populer di kalangan aktifis yang pada saat itu umumnya sangat geram.

    Ia sendiri mengaku tidak membaca tulisan tersebut, maklum masih SMP, hanya diceritakan oleh seorang novelis populer yang dikaguminya dan terlibat dalam aksi massa menentang Aswendo. Di kediaman penulis tersebut di bilangan Utan Kayu Jakarta, malam tersebut, mereka berbincang tentang kasus tabloid tersebut dan rencana kelanjutan aksinya, termasuk membahas pembelaan Gus Dur terhadap Aswendo. Satu kata-kata yang diingat dari sahibul bait adalah “tokoh zionis yang wajib dibunuh itu bernama Gus Dur!" Sejak saat itulah tertanam kebencian di lubuk Abi pada sosok bernama Gus Dur, dan berbisik dalam hati, "Saya harus membunuhnya!"

    Setelah satu tahun kira-kira setelah kejadian itu, di kediaman duta besar Iran, diselenggarakan acara Majelis Ta'ziyah Syahadah Al Husain. Ia merupakan salah satu pesertanya karena sedang bergelora mempelajari ajaran ahlul bait. Ketika sedang menunggu pintu utama dibuka, seseorang turun dari mobil dan berjalan mendekatinya, persis di sebelah kanannya, berkacamata tebal dengan rambut belah pinggir, gemuk, berkemeja lengan pendek, Gus Dur!

    Ia merasa bergetar, salah tingkah, “Bukankah orang ini yang ingin saya bunuh?” bisiknya dalam hati. Konyolnya, ia malah menunduk ta'ziem dan menarik telapak tangan kanan Gus Dur, seraya menciumnya dengan penuh rasa hormat. Dan, hawa benci yang sempat tertanam itu rontok menjadi rasa kagum dan penuh penyesalan, apalagi di dalam Majelis Asyuro yang hanya dihadiri kurang lebih 50 orang itu, ia duduk persis di sebelah Gus Dur. 

    Ia tidak dapat mengikuti majelis dengan khusyu' karena perhatian hati dan pikirannya terampas oleh sosok di sebelahnya yang khusyu' mendendangkan shalawat Nabi.

    “Bagaimana mungkin orang yang sebegitu mencintai Nabi bisa saya benci?”
    Pada hari itu pula, ia merasa terberkati, selain berada di majelis do'a, tapi juga karena hingga tuntas majelis itu, ia berada di sisi ulama yang banyak disalahfahami orang, juga begitu banyak dicintai umat, sungguh sebuah perkenalan yang indah. Apalagi setelah mendalami tasawwuf, ia semakin menghormati Gus Dur dan menganggapnya sebagai orang yang alim dan mulia, yang tidak bisa dilihat dengan kaca mata biasa. 

    Ia beberapa kali datang ke kediaman Gus Dur di Ciganjur dan dibantu dalam menyelenggarakan acara pengajian. “Gus Dur orang yang tabarruki.” [dutaislam.com/ ed]

  • Rasulullah Hadir dalam Pemakaman Sayyid Muhammad Al-Maliki

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Membaca kisah kisah karomah para kekasih Allah SWT itu memang sungguh menambah iman dan sangat banyak faidahnya, diantaranya adalah turunnya rahmat serta bertambahnya kecintaan kita kepada Allah dan para kekasih-kekasihnya. Sehingga tergugah hati kita untuk senantiasa meneladaninya, selalu ingat mati dan makin giat beribadah kepada Allah Swt.

    Diantara karomah Prof DR. Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani ra, ketika beliau akan dikebumikan di Ma'la, Makkah al-Mukarramah (Beliau wafat pada hari Jum'at, 15 Ramadhan 1425 H/ 29 Oktober 2004 M). (Baca: Ini Karomah Mbah Kholil Bangkalan)

    Ada beberapa orang dari keluarga beliau yang ikut turun ke liang kubur dalam proses pemakaman. Antara lain adalah Sayyid Ahmad, Sayyid Muhammad Alaydrus, Syech Ahmad Musa, dan juga Habib Ali al-Jufri (Hadramaut), dll.

    Ketika Habib Ali al-Jufri ini hendak membuka kain kafan Abuya, ia jatuh pingsan hingga tak sadarkan diri dan sambil. Namun, tidak lama kemudian ia siuman. Setelah proses pemakan selesai dan para jemaah yang melayat pun mulai meninggalkan tempat, ada salah seorang jama'ah bertanya kepada Habib Ali Ali al-Jufri tersebut terkait dengan kejadian pingsannya tersebut. 

    Habib Ali al-Jufri menjawab. "Ketika saya hendak membuka kafan Abuya dari sisi wajah, tiba-tiba saya melihat Rasulullah SAW di depan saya, lalu beliau SAW bersabda kepada saya: 'Ali, tinggalkan ini, biar saya yang mengurusnya'. Saya terharu dengan kejadian itu dan akhirnya saya pingsan tak sadarkan diri,".Subhanallah. [dutaislam.com/ ab]

    Sorce: Al-Injaz fi Karoomati Fakhril Hijaz.